[EMAIL PROTECTED] wrote:          


        Wisnu Wijanarko/DSWUW/BUT/ID/BAYER   01/24/2007 07:26 AM 
            To
  Misiman/BPA/SG/[EMAIL PROTECTED], Hary Susilo/BPA/SG/[EMAIL PROTECTED], I 
Nyoman Tanaya/BPA/SG/[EMAIL PROTECTED], Yuniman Khamardani/BPA/SG/[EMAIL 
PROTECTED], Yusuf Benyamin Salean/DSYBS/BUT/ID/[EMAIL PROTECTED], Halil 
Muhammad/BPA/SG/[EMAIL PROTECTED], Djaelani Susjanthi/BPA/SG/[EMAIL PROTECTED], 
Naga Cugita/DSNAC/BUT/ID/[EMAIL PROTECTED], Lili Solihin/BPA/SG/[EMAIL 
PROTECTED], Tabiin/BPA/SG/[EMAIL PROTECTED], Hasmi Effendi/BPA/SG/[EMAIL 
PROTECTED]       cc
        Subject
  Fw: [mudika_cina] FW: [OOT] Adam air tidak meledak diudara ..pendapat luar 
biasa dari orang biasa
          



----- Forwarded by Wisnu Wijanarko/DSWUW/BUT/ID/BAYER on 01/24/2007 07:28 AM 
----- 
        "nina" <[EMAIL PROTECTED]>   01/23/2007 03:27 PM 
            To
  <[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>, "Sigit" <[EMAIL PROTECTED]>, "mbk 
vivi" <[EMAIL PROTECTED]>, "mas heru" <[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>, 
"huda" <[EMAIL PROTECTED]>, "firdaus" <[EMAIL PROTECTED]>, "danang" <[EMAIL 
PROTECTED]>       cc
        Subject
  Fw: Fwd: [mudika_cina] FW: [OOT] Adam air tidak meledak diudara ..pendapat 
luar biasa dari orang biasa
          



  
----- Original Message ----- 
From: Diana Effendi 
To: Anita ; Wandi 
Cc: Yuli ; Yiyin ; Ferra ; Abun Lesmana ; Peni ; [EMAIL PROTECTED] ; Nina ; 
Dian 
Sent: Tuesday, January 23, 2007 1:15 PM 
Subject: Fw: Fwd: [mudika_cina] FW: [OOT] Adam air tidak meledak diudara 
..pendapat luar biasa dari orang biasa 



----- Forwarded Message ----
From: nia ameli <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, 23 January 2007 12:48:28
Subject: Fwd: [mudika_cina] FW: [OOT] Adam air tidak meledak diudara ..pendapat 
luar biasa dari orang biasa



Note: forwarded message attached.     
---------------------------------
  TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV. 
FYI
---------- Forwarded message ----------
From: Agung Suparto <[EMAIL PROTECTED] co.id>
Date: Jan 19, 2007 4:24 PM 
Subject: [bukitgolfcibubur] [OOT] Adam air tidak meledak diudara
To: bgriverside2@ yahoogroups. com, bukitgolfcibubur@ yahoogroups. com , [EMAIL 
PROTECTED] .com, [EMAIL PROTECTED] com 
Dapat dari temen, ada yang jago fisika matematika dll?? Mungkin bisa dijadikan 
salah-satu alternatif pencerahan soal Adam Air... 
Oleh:      Canny Watae   warga biasa tinggal di Makassar   Saya tergerak untuk 
beranalisis mengingat semua analisis yang terpublikasi sejak kasus Adam Air ini 
terjadi belum ada yang menyertakan detil geografis, dalam artian mencocokkan 
informasi-informasi koordinat  Lintang dan Bujur dengan kondisi alam yang 
mendekati riil di lapangan. Juga, belum ada yang berusaha memasukkan 
kesaksian-kesaksian warga secara runut. Saya masih percaya kalau warga pedesaan 
kita cukup jujur. Orang-orang yang kelewat pintar saja yang salah mengambil 
kesimpulan dari kesaksian mereka.   Penemuan Tail Horizontal Stabilizer oleh 
nelayan Bakri di pantai Mallusetasi  Kab. Barru memang penemuan yang sangat 
penting. Tetapi, sejauh ini belum ada yang berteriak "Eureka!", seperti yang 
dilakukan Archimedes beberapa ribu tahun yang lalu ketika menemukan hukum berat 
jenis benda.  Bagi saya, yang iseng-iseng "mencari " pesawat nahas dengan nomor 
penerbangan KI-574  via layar komputer, temuan Pak Bakri memacu
 urat spontan saya berteriak Eureka !   Cross-wind 74 knot (130 km/jam) yang 
menimpa KI-574 seperti yang disampaikan Menhub Hatta Radjasa (Fajar, 5/1), plus 
kecepatan jelajah pesawat (Cruising Speed)  600-700 km/jam  menghasilkan 
resultan gaya yang cukup besar. Jika arah KI-574 adalah jam 12, maka Cross-wind 
ini datang dari arah jam 3 (menuju jam 9). Terjadi resultan sebesar antara akar 
kuadrat dari 600 kuadrat plus 130 kuadrat ( 613 km/jam) dan 700 kuadrat plus 
130 kuadrat ( 712 km/jam)  dengan arah vektor sekitar jam 11. Arah pesawat 
bergeser. Fakta menunjukkan pesawat bergeser, Kokpit Adam Air KI-574 sempat 
meminta ATC Makassar memandunya karena pesawat berubah arah akibat dorongan 
angin. Dari posisi heading timur-laut, bergeser ke utara. Kemudian oleh ATC 
Makassar pesawat diminta kembali ke heading semula. Ketika pilot kembali 
heading timur laut dari posisi heading utara, pesawat bukan lagi kena 
cross-wind melainkan parallel-wind arah berlawanan. Arah vektor kecepatan
 pesawat nyaris berlawanan dengan arah angin. Resultan kecepatan pesawat 
terhadap angin adalah minimal 600 +  130 = 730 km/jam, dan maksimal 700 + 130 = 
830 km/jam! Pengecekan saya pada alamat web http://uk.flyasiana 
.com/travelplann er/travelplanner _aircrafts. asp menunjukkan bahwa kecepatan 
jelajah maksimum B737-400 adalah 790 km/jam! My God,.... besar kemungkinan 
gerak relatif KI-574 terhadap angin lebih besar dari pada kecepatan maksimum 
yang diizinkan.   Tail Horizontal Stabilizer bisa saja menjadi komponen yang 
paling bekerja keras ketika KI-574 mencapai kecepatan jelajah maksimumnya. Apa 
tah lagi kondisi udara yang ditembus tidak karu-karuan. Mengapa Tail Horizontal 
Stabilizer kanan yang lepas? Karena dia-lah yang mengalami masa papar 
cross-wind hingga parallel-wind terlama. Angin cross sebelumnya datang dari 
arah kanan. Komponen ini terpental ke arah kiri, ke arah badan pesawat, yang 
memungkinkan badan pesawat sobek lalu berlubang. Perbedaan tekanan antara kabin
 dan atmosfer pada ketinggian di atas 30.000 kaki  menimbulkan efek hisap yang 
sangat kuat. Tatakan meja, sandaran jok, life-vest (pelampung), fiber penutup 
bagasi kabin, isi bagasi kabin, tas, bungkusan makanan, video-monitor di kabin 
penumpang, semuanya tersedot keluar. Fakta menunjukkan barang-barang tersebut 
sudah ditemukan para nelayan di perairan Barru dan Pangkep. Penumpang saya 
perkirakan sedang memakai seat-belt karena sedari awal cuaca jelek. Tidak ada 
penumpang yang tersedot ke atmosfer! Bakalan tidak ada pula jenazah yang 
ditemukan di perairan yang membentang sepanjang jazirah Sulawesi Selatan 
(Pinrang, Parepare, Barru, Pangep, Maros, dan Makassar ). Fakta menunjukkan 
belum ada jenazah dari Adam Air KI-574 yang ditemukan di perairan ini.   Karena 
kebocoran kabin, pilot berusaha menurunkan ketinggian pesawat sesegera mungkin. 
Demi penumpang, ia berusaha terbang pada ketinggian yang memungkinkan penumpang 
bernapas tanpa alat bantu. Penurunan ketinggian yang
 mendadak ini menimbulkan efek sentakan pada bodi pesawat, mungkin mencapai 
minus 3G yang memicu trigger ELBA . Penurunan ketinggian ini juga membuat 
KI-574 tidak bisa terpantau radar. Fakta menunjukkan KI-574 hilang dari 
pantauan radar ATC Makassar.   Dalam kondisi terbang rendah, sekitar 8000 kaki  
atau di bawahnya,  pesawat terus berusaha mengarah ke Manado (timur-laut) . 
Pesawat melintasi perairan Pinrang/Polewali? Majene, lalu daratan Enrekang, 
kemudian sampai di atas Tana Toraja. Fakta menunjukkan Saul Palulungan (57 
tahun) mendengar suara pesawat (Fajar, 5/1). Di Tana Toraja pilot melakukan 
manuver tajam ke kiri. Di kiri pesawat ada Bandara Pongtiku, kawasan Rante 
Tayo, kurang lebih 10 Km dari Makale. Sementara di kanan pesawat adalah Bulu 
(Gunung) Rante Kombala dan Bulu Rante Mario. Dalam keadaan kehilangan Tail 
Horizontal Stabilizer (belakangan juga beberapa bagian sayap kanan yang 
ditemukan di perairan Pinrang, mungkin Aileron yang bertanggung jawab pada gaya
 angkat pesawat), manuver pesawat sangat berat dan menimbulkan hentakan. 
Hentakan ini men-trig aktivasi sinyal ELBA . Fakta menunjukkan RCC Singapura 
sempat menangkap sinyal ELBA pada lokasi ini (Fajar, 3/1).   Usaha mendarat 
darurat di Bandara Pongtiku gagal. Pesawat susah dikendalikan untuk 
manuver-manuver halus mengingat salah satu Tail Stabilizer Horizontal, 
belakangan juga sayap kanan,  rusak. Ces-pleng, Bandara Pongtiku berada di 
daerah perbukitan sebagaimana lazimnya kontur Tana Toraja.   Pilot memutuskan 
untuk lurus, sebab pada arah lurus ini ada bandara Tampa Padang , Mamuju, 
Sulawesi Barat.   Dalam lintasan menuju Bandara Tampa Padang, KI-574 harus 
bermanuver melewati pegunungan, termasuk kawasan Matangnga. Banyak kesaksian 
warga yang menyatakan mendengar suara gemuruh dan ledakan sepanjang lintasan 
Toraja – Mamuju ini. Termasuk di antaranya Abu Haris yang kemudian di-cap 
berbohong. Padahal, ia sendiri tidak pernah menyatakan ada pesawat jatuh. 
Pernyataannya
 adalah "ada suara pesawat".   Di lepas pantai Mamuju, nelayan Baharuddin 
bersaksi pada Danlantamal VI Makassar bahwa ia melihat pesawat berbadan  biru 
laut melintas dari arah bandara Tampa Padang. Fakta menunjukkan bahwa warna 
pesawat Adam Air KI-574 bukanlah Oranye seperti lazimnya dalam display-display 
promosi Adam Air. Warnanya putih (Fajar, foto headline, 12/1). Warna biru laut 
yang dilihat Baharuddin sangat mungkin akibat pantulan air laut. Pesawat 
lagi-lagi tak berhasil mendarat di bandara alternatif. Tepat di atas kepala 
Baharuddin, pesawat belok kiri ke arah daratan Sulawesi . Jika kita 
memperhatikan peta rupa bumi, tampak bahwa daratan Sulawesi di depan KI-574 
adalah pegunungan. Masuk akal ketika Baharuddin mengatakan pesawat kembali ke 
arah laut. Pesawat menghindari tabrakan dengan gunung. Pilot memilih ditching 
(mendarat di laut).   Posisi deteksi sonar KRI Fatahillah adalah 02.35.18 LS, 
118.48.36 BT. Jarak antara Saksi Baharuddin dan posisi Sonar ini kurang
 lebih 12,5 KM. Artinya dengan asumsi tinggi mata saksi dari permukaan laut 2m, 
maka posisi di mana KRI Fatahillah mendeteksi adanya logam bulat, sudah tidak 
terjangkau lagi oleh Baharuddin. Posisi itu tertutup garis horizon jika 
dipandang dari tempat saksi berdiri. Saksi sendiri mengaku tidak melihat apakah 
pesawat tersebut jatuh atau tidak. Yang ada hanya terdengarnya suara gemuruh 
dan bunyi ledakan. Karena kecepatan suara adalah 340 m/detik, maka ledakan itu 
terjadi  12.500 / 340 = 37 detik sebelumnya. Antara posisi Saksi dan saat 
pesawat berbalik arah ke laut jaraknya 3 nm, dan dari posisi balik arah ini ke 
Sonar KRI Fatahillah 10 nm. Total lintasan pesawat dari Saksi hingga Sonar 
adalah 13 nm atau 25 km. Waktu tempuh jarak 25 km itu oleh pesawat dengan 
kecepatan 700 km/jam adalah 25/700 jam = 0,036 jam atau 128,5 detik. Jadi 
antara pesawat melintasi posisi saksi hingga saksi mendengar ledakan adalah 
128,5 + 37 = 165,5 detik. Antara 2 hingga 3 menit. Persis seperti
 kesaksian Baharuddin pada Danlantamal VI Makassar. Secara ilmiah-matematis 
kesaksian Baharuddin bisa dipertanggungjawabk an.   Pesawat, menurut saya, 
ditching di lepas pantai Mamuju. Pilot Revri A. Widodo dan Co-Pilot Yoga 
berusaha maksimal. Namun, tanpa Tail Stabilizer Horizontal dan sayap kanan yang 
rusak, ditching tidak mulus. Pesawat turun  ke laut dengan sudut elevasi yang 
cukup besar. Mungkin saja 45 derajat.   Kesimpulan: 
1.        Adam Air KI-574 jatuh di perairan Mamuju di sekitar lokasi deteksi 
sonar KRI Fatahillah. 
2.        Adam Air KI-574 tidak meledak di udara 
3.        Semua penumpang dan awak pesawat masih berada di badan pesawat, di 
dasar laut.   Prediksi: 
1.        Serpihan Adam Air KI-574 berada di sekitar lintasan. Yang jatuh di 
laut akan terbawa arus ke pantai mulai dari lepas pantai Pinrang, Parepare, 
Barru, Pangkep, Maros, hingga Makassar termasuk pulau-pulau Spermonde (Pantai 
Barat Jazirah Sulawesi Selatan). Di darat di kawasan Pinrang, Enrekang, Toraja, 
Matangnga, dan Mamuju). 
2.        Tidak akan ada jenazah penumpang yang ditemukan terdampar di pantai 
barat Jazirah Sulawesi Selatan (Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, Maros, dan 
Makassar ). 
3.        Serpihan dari dalam kabin penumpang semuanya berdimensi kecil, tidak 
melebihi besar lubang sobekan pada badan pesawat.   Satu hal perlu saya 
tambahkan. Pilot Revri dan Co-Pilot Yoga orang hebat. Dalam kondisi pesawat 
susah untuk dikendalikan, mereka masih sanggup mencari lokasi pendaratan yang 
aman bagi penumpangnya.   Semoga Tuhan Menyertai Kita Semua, dan Keluarga 
Korban Tabah. Amien.   Canny Watae   Warga Makassar   canny_watae@ yahoo.co. uk 
   Dukungan Gambar di Bawah   Dukungan Gambar   1. Lost Contact Point      2. 
Pesawat Manuver ke Arah Bandara Pongtiku, Toraja. Di sebelah kanan ada Bulu 
Rantekombala dan Bulu Rantemario. Akibat manuver tajam timbul hentakan keras 
yang memicu pancaran ELBA yang terlacak oleh RCC Singapura    
4.        Bandara Pongtiku sulit untuk tercapai, pesawat lurus ke Bandara Tampa 
Padang, Mamuju    
5.        Manuver pesawat di sekitar bandara Tampa Padang, disaksikan oleh 
Nelayan Baharuddin. 
6.        Tinjauan lintasan secara keseluruhan sejak hilang kontak hingga 
mendarat di laut   _      

   
    
---------------------------------
    
  The information contained in this e-mail is for the exclusive use of the 
intended recipient(s) and may be confidential, proprietary, and/or legally 
privileged.  Inadvertent disclosure of this message does not constitute a 
waiver of any privilege.  If you receive this message in error, please do not 
directly or indirectly use, print, copy, forward, or disclose any part of this 
message.  Please also delete this e-mail and all copies and notify the sender.  
Thank you. 
  For alternate languages please go to http://bayerdisclaimer.bayerweb.com
    
---------------------------------
    
  

         

 
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]



--------------------sajogja mailing list------------------------
Gabung : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Visit : www.alumniamikom.org, groups.yahoo.com/group/amikomjogja, 
---------------------------------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/amikomjogja/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/amikomjogja/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke