Sabtu, 03 Pebruari 2007 17:11:21
http://www.mediacenter.or.id/editorial/29/tahun/2007/bulan/02/tanggal/03/id/1901/


Istana Negara dapat saja terendam banjir andaikata tidak dihalangi jalan yang 
ditinggikan di sekitarnya. Hampir seluruh Jakarta dilanda banjir. Semua media 
massa memberitakan musibah ini. Hanya sayangnya, tak ada yang memberitakan 
daerah-daerah mana saja yang bebas dari banjir? Bakal Calon Gubernur DKI 
Jakarta juga tak terdengar suaranya, tak terlihat batang hidungnya, terkait 
dengan banjir ini.

Penyebutan daerah yang bebas banjir ini penting untuk mengetahui apakah hal itu 
memang karena kontur tanah yang alami, ataukah ada semacam kesengajaan. 
Misalnya dengan cara membuat tanggul, meninggikan permukaan tanah dan 
sebagainya. Semua upaya itu berakibat langsung atau tidak langsung menjadikan 
daerah sekitarnya banjir makin parah. Bukan rahasia lagi, bahwa pembangunan 
pemukiman tertentu, ternyata mengorbankan saluran air, menyempitkan atau malah 
menghilangkan sungai kecil yang sangat vital bagi pengendalian air. Cobalah 
perhatikan, apakah kawasan perumahan elit di Jakarta ikut terendam? Mengapa?

Konon, banjir di Jakarta ini adalah yang terbesar sejak 10 tahun terakhir. 
Bukan semata-mata banjir siklus lima tahunan, yang dianggap biasa oleh Gubernur 
Sutiyoso. Halaman utama Harian Kompas Sabtu (3/2) hanya berisi 1 (satu) foto 
besar tentang banjir, dan hanya 1 (satu) berita. Juga tentang banjir. Selama 12 
jam hujan terus mengguyur Jakarta Jumat kemarin, ribuan gardu listrik mati 
terendam banjir, setengah juga pelanggan (baca: KK atau kantor) hidup tanpa 
listrik. Belum lagi jaringan telepon, aktivitas perekonomian terganggu karena 
akses transportasi terputus, jalan-jalan tol dimasuki kendaraan roda dua, 
perahu-perahu karet bersliweran di jalan-jalan raya yang telah berubah menjadi 
sungai besar di belantara Jakarta.

Maaf, jangan tanya mengapa terjadi banjir seperti ini. Semua orang sudah tahu, 
bahwa ini adalah banjir kiriman. Banjir yang disebabkan karena curah hujan 
terlalu tinggi, daerah resapan air di kawasan yang lebih tinggi (Bogor dan 
Puncak misalnya) sudah semakin menghilang (apakah rumah-rumah di Cikeas juga?). 
Villa-villa dibangun seenaknya (juga milik orang Jakarta). Sungai-sungai yang 
menampung aliran air hujan banyak yang dangkal, juga beberapa sungai malah 
hilang, pembangunan rumah dan gedung serta infrastruktur tidak lagi 
memperhitungkan banjir. Semua orang hanya punya pikiran, bagaimana caranya 
rumah mereka bebas dari banjir, terserah rumah yang lain. Itulah sebabnya ada 
warga yang nekat membobol pembatas jalan raya untuk membiarkan air mengalir ke 
jalan raya ketimbang merendam rumah mereka.

Banjir ini bukan “banjir biasa” seperti yang dibilang Soetiyoso. Kepala Pusat 
Pendidikan dan Latihan BMG Wasito Hadi tidak sepakat dengan adanya anggapan 
siklus hujan lebat limatahunan. "Banjir itu sangat terkait dengan kondisi 
lingkungan. Curah hujan saat ini tidak sebesar tahun 2002 lalu, kondisi 
lingkungan pun sebenarnya semakin parah, agak sulit mengaitkan menjadi siklus 
atau pola. Siklus sebenarnya hanya probabilitas. Kalau terjadi dalam lima 
tahunan, belum tentu lima tahun mendatang akan terjadi lagi, " paparnya (JP 
3/2).

Ini adalah bencana kolektif yang disebabkan kesalahan berulang-ulang, 
bertumpuk-tumpuk, dan tidak pernah mau melakukan pertobatan atau memperbaiki 
perilaku dan kebijakan. Tidak ada kebijakan strategis yang mampu menjawab 
tantangan banjir. Jangan pula salahkan permukaan air laut, karena Nederland 
malah berada di bawah permukaan laut. Tidak usah pula salahkan kontur tanah 
Jakarta, karena teknologi irigasi seharusnya mampu mengatasinya. Anak kecil 
saja tahu, mengapa sampai terjadi banjir. Apakah negeri ini tidak lagi punya 
orang pandai untuk mengatasinya? Atau, para bakal calon Gubernur dan wakil 
Gubernur DKI Jakarta saat ini punya solusi?

Banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya, bagaikan membuat mata semua orang 
melek. Bahwa banjir (dan juga bencana pada umumnya), bukan hanya milik Aceh, 
Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Jambi, Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, 
Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Selatan. Kalau 
saja Istana Negara ikut terendam, barangkali terjadi pemerataan penderitaan. 
Hanya saja, setelah mata melek, apakah kita masih saja berbangga diri melakukan 
kesalahan terus menerus? Alam dikorbankan hanya demi kepentingan sesaat dan 
keuntungan sekelompok orang, sementara penderitaan ditanggung semua orang.

Prinsip ekologi sudah mengajarkan, bahwa kalangan minoritas dapat menjadi 
penyebab terjadinya bencana, namun dampaknya dirasakan oleh mayoritas. Karena 
itulah maka masih saja orang melakukan perusakan lingkungan karena beranggapan, 
toh dampaknya akan dirasakan bersama-sama. Dan harap jangan dilupakan, bencana 
semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, hingga saat ini masih berlangsung. Sudah 
sekitar 500 (baca: lima ratus) hektar lahan menjadi lautan lumpur, dan masih 
akan bertambah semakin cepat seiring dengan derasnya hujan belakangan ini. 
Gubernur Jatim sampai-sampai melontarkan wacana untuk memindahkan saja kota 
kecamatan Porong. Bencana lumpur ini juga akibat dari kecerobohan segelintir 
orang saja, namun dampaknya dapat melumpuhkan perekonomian di Jawa Timur.

Jakarta dan sekitarnya sekarang terendam banjir. Tanpa bermaksud meremehkan, 
barangkali warga ibukota masih harus bersyukur, karena hanya air yang melanda. 
Bukan air campur lumpur, atau juga bukan cairan lumpur panas, seperti yang 
terjadi di Porong saat ini. Rumah-rumah akibat banjir di Jakarta masih akan 
dapat dihuni lagi. Tetapi tidak di Porong, karena lautan lumpur telah mengubur 
ribuan rumah warga. Pemerataan bencana sedang terjadi di republik ini. 
Subhanallah. ([EMAIL PROTECTED])(Henri Nurcahyo)

NB: Rekan2 ada yang punya info valid dari BMG, apakah hingga bulan Maret & 
April 2007, curah hujan dan Banjir masih tinggi dan terjadi di Jabodetabek? 
Mohon infonya, karena terkait dengan kegiatan Amikom Comparative Study yang 
akan direncanakan 17 - 21 April 2007 di Wilayah Jakarta dan Bandung.
Trims.




 
____________________________________________________________________________________
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396546091

[Non-text portions of this message have been removed]



--------------------sajogja mailing list------------------------
Gabung : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Visit : www.alumniamikom.org, groups.yahoo.com/group/amikomjogja, 
---------------------------------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/amikomjogja/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/amikomjogja/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke