--- On Thu, 9/4/08, sudiyono WS <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: sudiyono WS <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [nfbs] Trs: Trs: Mandikan Aku Bunda.. kiriman kisah dari teman.....
To: "nfbs anyer" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, September 4, 2008, 11:03 AM










    
            



Terkirim: Rabu, 3 September, 2008 21:29:54
Topik: Mandikan Aku Bunda.. kiriman kisah dari teman.....

Mandikan Aku Bunda



Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis.



Sering kali orang t id ak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya.... .



Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan

memiliki id ealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah

jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan

digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang

mantan pres id en Amerika.



Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di

Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih

memilih menuntaskan pendidikan ke dokteran.



Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama

berprestasi, meski berbeda profesi.



Alifya, buah cinta mereka, lahir ke tika Rani diangkat sebagai staf diplomat,

bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah ke bahagiaan

mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah

''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya.

Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak

yang pertama dan terakhir.



Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, ke sibukan Rani

semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke

kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.



Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu ke cil untuk

ditinggal-tinggal? ''

Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah

mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul

ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional

oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon.

Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.



Ka ke k-neneknya selalu memompakan ke banggaan ke pada cucu semata wayang itu,

tentang ke hebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik

pesawat terbang, dan uang yang banyak.



''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek

Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang t id urnya.



Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut

dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih

pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan

seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah ke cil ini ''memahami'' orang tuanya.

Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi

karakter ibunya yang bukan perengek. Meski ke dua orangtuanya kerap pulang

larut, ia jarang sekali ngambek.



Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut ke datangannya dengan penuh ceria.

Maka, Rani menyapanya ''malaikat ke cilku''.



Sungguh ke luarga yang bahagia, pikir saya. Meski ke dua orangtuanya super

sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.



Suatu hari,

menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak

dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap.

Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar.

Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan

mempersiapkan ke perluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif 

agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, 

Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.



Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!'' kian

lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu

karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta

perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.



Sampai suatu sore, saya di ke jutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu

dokter, Alif demam dan ke jang- ke jang. Sekarang di Emergency.''

Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. 

Allah sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat ke cil, ke buru dipanggil 
pulang oleh-Nya.



Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia

shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya ke inginan dia adalah

memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani

memang menyimpankomitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.



Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si ke cil terbaring

kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah

jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya,

berusaha menyembunyikan tangis.



Ketika tanah merah telah mengubur jasad si ke cil, kami masih berdiri

mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu,

berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan . Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di

seberang lautan, kalau sudah

saatnya, ya dia pergi juga kan ?'' Saya diam

saja.



Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya

mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. 

''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. 

Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.



Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu

hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih

tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri

ke sempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih

mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya.

Air matanya membanjiri tanah merah yang

menaungi jasad Alif. Senja pun makin

tua.



-- Nasi sudah menjadi bubur, sesal t id ak lagi menolong.



-- Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan ke hilangan

yang amat sangat.



-- Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya

sendiri t id ak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan

masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu.



-- Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih

sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti

karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.



-- Pelajaran yang sangat berharga. 

 


  


      

      


        Nama baru untuk Anda!  

Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 

Cepat sebelum diambil orang lain!
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

--------------------sajogja mailing list------------------------
Gabung : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Visit : www.alumniamikom.org, groups.yahoo.com/group/amikomjogja, 
----------------------------------------------------------------Yahoo! Groups 
Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/amikomjogja/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/amikomjogja/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke