Assalamu'alaikum, 
 
Orang tua saya juga dari Yogya...
 
Ibu saya kalau buat gudeg biar warnanya merah kecoklatan cukup dengan daun 
jati, namun ketika saya tanya perihal ini (gudeg menggunakan maras...darah yg 
dikumpulkan lalu ditambahkan ke dalamnya) menurut ibu saya..itu sudah menjadi 
kebiasaan org2 sana ..jadi kalau disana itu antara agama dan budaya ya..agak2 
tercampur deh...(maaf ya...mungkin tidak semua daerah yogya..mungkin yogya 
daerah ibu saya saja....) dan ibu saya membenarkan hal tersebut (banyak gudeg 
yg dicampur dengan maras...) karena tanpa maras maka gudeg tersebut akan 
berbeda gurih dan rasanya...menurut sebagian orang demikian....
 
jadi hati2 saja membelinya.... kalau bisa pastikan yg menjualnya muslim yg tahu 
kalau maras itu haram....
 
 
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.
 
wassalam,
Enny
 
-----Original Message-----
From: Renggani E Utami 
Sent: Wednesday, October 29, 2008 2:04 PM
Subject: RE: Tahukah Anda Kehalalan Gudeg Jogja ?
Setahu saya yang notabene adalah orang yogya…………warna merah kecoklatan pada 
sayur gudeg diperoleh dari bumbu yang namanya kluwak n daun jati yang ikut 
dimasak pada gudeg tersebut……..sehingga munculah warna coklat kemerahan 
itu………..tapi wallahu’alam juga yak…hbis ayahku orang yogya tulen sih…jdi aku 
thu kalau eyangku masak gudeg yak pewarna merah itu didapet dari daun 
jati………….sekedar info aja….tpi kalau berita yang dibawah ini benar ya mungkin 
kebetulan saja yg jual nasrani kali yak or non muslim hehehhehehe
 



From: Citra Wendya Sari 
Novianti ; Wanti Annurria ; Syukri Yenni; Enny Wisnu Anggraheni
Subject: FW: Tahukah Anda Kehalalan Gudeg Jogja ?
 
 
thx 4 infonya...
 
 
Dear All,
 
Sekedar informasi saja, selanjutnya... terserah anda....
 
Yth Pak Iwan / Mas Rovi,
 
Mohon masukkannya.... apakah benar demikian....????
Mengingat Bapak orang Yogya dan saya salah satunya penggemar Bapak.... eh 
salah.. penggemar "Gudeg"
 
Regards,
Farida
 
 




 









  
  








Tahu kah anda....???  
 




h b <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: 
Assalamualaikum Wr Wb ~ 
Satu info yang mungkin bermanfaat please forward. 
        
Kehalalan Gudeg Jogja 
Daerah Istimewa Yogyakarta, selain terkenal dengan julukan kota pelajar, juga 
menyandang berbagai julukan lain seperti kota seni dan budaya, kota revolusi, 
kota sepeda, kota batik, juga sebagai kotak gudeg serta julukan lain yang 
merupakan cerminan dari hal-hal yang menonjol dari daerah tersebut. Dan itu 
tidak hanya populer di dalam negeri, tapi juga di manca negara. 

Akan halnya gudeg, lauk pauk ini merupakan ciri khas kota tersebut.Bagi 
masyarakat Yogya sendiri,gudeg merupakan lauk pauk sehari-hari yang sulit 
ditinggalkan bersama nasi dan bubur.Sebenarnya dilihat dari bahan-bahan 
pembuatnya, gudeg nampaknya halal-halal saja.Bahan pokoknya adalah nangka muda 
(orang Yogya menyebutnya ghori) yang direbus hingga lunak, lalu diberi santan 
dan bumbu dapur tertentu ditambah daun melinjo. 

Tetapi,pengalaman saya membuktikan bahwa gudeg bisa dikategorikan jenis makanan 
syubhat, bahkan haram.Saya berkenalan dengan lauk pauk yang rasanya manis ini, 
antara tahun 1981-1987 ketika saya berkuliah di salah satu perguruan tinggi 
negeri di kota tersebut.Waktu itu saya kost hanya dengan menyewa kamar dan 
makan di luar.Selama itu hampir tiap pagi saya sarapan nasi gudeg.Selain 
manis,juga gurih,dan tentu saja murah. 
Bahkan kalau pulang kampung,saya dan teman-teman kadang membawa oleh-oleh gudeg 
yang sudah dibuat tahan lama. 

Selama beberapa tahun,saya menikmati gudeg tanpa ada rasa curiga atau 
berprasangka buruk tentang kehalalannya. Namun,pada suatu hari,ketika sedang 
membeli di warung langganan saya,saya melihat di tempayan (tempat gudeg 
diolah),ada kepala dan leher seekor ayam yang masih utuh (tidak ada bekas 
sembelihan). Lalu saya tanya kepada si penjual gudeg,apakah ayamnya tidak 
disembelih? 

Dengan ringan si penjual menjawab bahwa sudah bisa bagi penjual/bakul gudeg 
bahwa setiap ayam yang dimasak untuk gudeg,ayam tersebut tidak 
disembelih,tetapi ditusuk dengan besi di bagian lehernya.Sedang darah yang 
keluar ditampung dan nantinya dicampur dengan santan untuk dicampur dengan 
gudeg itu.Dan justru darah inilah yang memberi rasa gurih dan meberi warna 
kecoklat-coklatan. Masya Allah. 

Saya benar-benar terkejut,dan gudeg yang saya beli pagi itupun segera saya 
tinggalkan.Saya berusaha mencari informasi di tempat-tempat lain tentang 
bahan-bahan dan cara pembuatannya. Ternyata hampir semua jawaban sama,yaitu: 
ayamnya tidak disembelih,tapi ditusuk,darah ayam ditampung,lalu dimasukkan ke 
dalam gudegnya. 

Pertanyaan kita,apakah semua penjual/pembuat gudeg melakukan hal yang serupa? 

Wallaahua'lam. Dalam masalah ini sebagai konsumen Muslim, yang diperlukan tentu 
saja sikap jujur si penjual gudeg.Apakah ayamnya telah disembelih secara Islami 
dan otomatis darahnya tidak dicampurkan. Kita memang perlu bersikap 
hati-hati.Jangan karena gudeg yang sudah merakyat,lalu kita seenaknya saja 
mengikuti selera orang kebanyakan,padahal Al-Qur'an jelas-jelas 
melarangnya: 

Allah mengharamkan atas kamu (makan) bangkai,darah, daging babi,dan apa yang 
disembelih dengan menyebut nama selain Allah (QS Al-An'am: 145) . 
 
 





 


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

--------------------sajogja mailing list------------------------
Gabung : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Visit : www.alumniamikom.org, groups.yahoo.com/group/amikomjogja, 
----------------------------------------------------------------Yahoo! Groups 
Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/amikomjogja/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/amikomjogja/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke