----- Original Message ----- 
From: "biennale jogja" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, January 09, 2008 5:05 PM
Subject: [mediacare] Sebuah Percakapan dari Gubernur DIY


Gubernur
Daerah Istimewa Yogyakarta

*Sebuah Percakapan
pada Pembukaan Pameran Biennale Jogja IX 2007
Tema: "NEO-NATION"
Taman Budaya, 28 Desember 2007*




*Assalamu'alaikum Wr. Wb. *Salam sejahtera bagi kita semua,


Para Hadirin dan Seniman yang saya hormati,


MUNGKIN ada Panitia yang serta-merta bertanya, meski cuma membatin: "Lho kok
judulnya Sebuah Percakapan?" Kan yang diminta Panitia adalah Orasi Budaya!
Benar memang! Sebelumnya Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dyan Anggraini,
melalui suratnya meminta saya untuk membuka secara resmi Biennale Jogya Ke-9
Tahun 2007. Tetapi tiba-tiba siang ini, yang sudah diterakan dalam *run-down
*acara pembukaan –layaknya sebuah rezim yang harus dipatuhi -- saya diminta
untuk memberikan Orasi Budaya.


Apa boleh buat, setelah membaca sekilas Pengantar yang disampaikan oleh
Garin dan Heru –yang kebetulan ber-'marga' sama, Nugroho – saya memutuskan
untuk bersikap netral –bukan sambutan atau orasi, tetapi sebatas sebuah
percakapan. Maksud saya agar kedatangan saya tidak menjadi semacam rezim
baru bagi kehidupan kesenian. Memang kosakata rezim itu bertebaran di kata
pengantar keduanya, seakan sosok yang menarik untuk dikritisi.


Tentang sosok rezim itu sendiri, dengan cerdik Heru mengkritisi pendapat
Garin. Ini kutipannya: "Kalau mas Garin melihat ada rezim-anti rezim,
barangkali ia pun juga menjadi rezim untuk merumuskan neo-nation. Jangan
dikira seniman bukan sebuah rezim, ia bisa menentukan rezim baik-buruk,
estetik-tidak estetik, dan sebagainya". Sedangkan tentang kelndonesian yang
sama-sama dicari wujudnya yang baru itu, Garin, menurut versi Heru, mencoba
merumuskan *neo-nation *sebagai masyarakat yang kreatif-progresif. Sementara
Heru menutup dengan ungkapan bemada tanya: "Mungkinkah *neo-nation ini
*berbasis
dan menjadi sumber ekspresi seni?".

Para Hadirin dan Seniman yang saya hormati,


DALAM mencoba mengamati bingkai kuratorial *"Neo-Nation", *yang meluas
mengglobal, seakan menafikan nation-state dengan konsep 
*borderless­world*-nya
Kenichi Ohmae, dan cendereung menjadi sebuah titik noktah
*global­village *dengan
budaya-globalnya, saya ingin membandingkan dengan konsep kebalikannya,
*"neo-tribal",
*yang berkecenderungan ke arah etno-nasionalisme yang sempit.


Masyarakat Indonesia masa kini, sesungguhnya bukan lagi konstruksi
pluralisme tradisional (suku, agama, ras), tetapi konstruksi *neo
pluralisme. *Unsur gender, profesi, dan sub-kultur ikut "mendemassifikasi"
bangunan masyarakat. Artinya, struktur kemajemukan masyarakat saat ini tidak
lagi bersifat massa tetapi menjadi semakin spesifik terpecah menjadi
kelompok­kelompok kecil atau *neo-tribal. *Dengan demikian kepentingan
mereka pun menjadi semakin beragam terfragmentasi.


Fenomena kemajemukan masyarakat *neo-tribal *tersebut secara otomatis
menuntut kebebasan dan ruang publik yang semakin luas pula. Banyaknya
kelompok-kelompok keagamaan, kelompok kepentingan dan diferensiasi kelas
sosial-ekonomi dan profesi, seperti halnya kelompok seniman, menuntut aturan
main yang berbeda dengan masa sebelumnya: suatu aturan yang menjunjung hak
azasi manusia, bahwa setiap warga negara bebas untuk mengemukakan pendapat,
berkumpul, dan memilih pemimpinnya secara langsung.


Dengan demikian, harmoni masyarakat dijaga dalam ruang kebebasan yang
bertanggungjawab sesuai dengan hukum positif yang berlaku (nir­intimidasi
dan kekerasan). Dalam ranah kesenian, misalnya, hal itu tercermin dari
kebebasan kelompok seniman untuk secara bebas-merdeka berekspresi, bahkan
wujudnya bisa untuk mengkritik penguasa. Selain itu, mereka juga bisa
mendirikan partai politik, dengan *platform *apa saja, misalnya untuk
menyejahterakan kelompok seniman sendiri.


Mencermati relasi antara kemajemukan bangsa dan kebebasan khususnya
menyangkut sumbangsih kemajemukan pada akselerasi konsolidasi demokrasi,
secara jujur harus diakui bahwa keberagaman bangsa Indonesia tersebut belum
memberikan konstribusi berarti. Bahkan sebaliknya, keberagaman yang ada
justru cenderung menyempit, mengkristal dalam kelompok masing-masing dan
dimaknai sebatas prinsip bahwa orang lain tidaklah lebih baik dari aku
*(Calarprice,
1996).*


Fenomena itu mempertegas pendapat Geertz (1996) tentang sulitnya melukiskan
anatomi Indonesia karena begitu kompleksnya unsur yang bersenyawa; ia serba
multi, multietnis dan juga multi mental.


Jika dalam situasi seperti ini pertimbangan moral dan intelektual minim
dipergunakan, maka demokrasi bisa mengandung sisi gelap, seperti terorisme,
*genocide *dan *ethnic cleansing (Ross, 2004; Mann, 2005).*


Lebih dari itu, rajutan historis dan ideologis dari pluralisme Indonesia
tersebut tidak sepenuhnya tumbuh konstan dan sempurna, sehingga kepribadian
kelndonesiaan bangsa yang terbentuk pun tidak sepenuhnya utuh. Meminjam
istilah Max Lane *(2007), *Indonesia adalah bangsa yang belum selesai.
Sehingga politik identitas dalam format identitas suku *(ethnic
identity), *daerah
*(regional identity) *dan agama *(religious identity) *mudah menguat karena
sebab apa pun.


Akibatnya, seperti yang tampil saat ini, bangsa Indonesia masih
terkotak­kotak sehingga identitas kelndonesiaannya menjadi melemah. Hal itu
bisa dilihat dari menguatnya identitas suku, asal daerah (putera daerah) dan
agama dalam kompetisi pemilihan kepala daerah. Bahkan tuntutan pemekaran
daerah pun seringkali dipicu oleh menguatnya politik identitas tersebut.


*Neo pluralisme *politik identitas yang secara alamiah hidup di dalam
masyarakat, jika tidak berhasil "diberdayakan" menjadi modal sosial, maka
kemajemukan bangsa dan kebebasan bukan saja tidak memberikan kontribusi apa
pun bagi pendewasaan kelndonesiaan, tetapi juga dapat mengancam stabilitas
dan eksistensi Republik. Artinya, kesatuan Indonesia bisa terbelah dalam
kepingan-kepingan politik identitas apa pun bentuknya.


Agar hal tersebut tidak terjadi; sebaliknya, agar keragaman bangsa dan
kebebasan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi konsolidasi
kelndonesiaan, maka Mimpi Bersama Bangsa harus diciptakan. Ia dapat menjadi
magnit bagi menyatunya energi-energi yang melingkar secara sempit di seputar
politik identitas dan keberagaman *neo-tribal.*


Para Hadirin dan Seniman yang saya hormati,


MENARIK untuk mengelaborasi tentang pudalrnya semangat nasionalisme bangsa
Indonesia. Dalam hal ini, menarik untuk mengetengahkan pengalaman Bambang
Sulastomo ketika bersama keluarganya tinggal di Amet-ika Serikat. Antara
lain, ia menceritakan bahwa anaknya yang bunggu sempat memperoleh pendidikan
Taman Kanak-Kanak *(pre-school) *di sana. Setiap pagi, sebelum pelajaran
dimulai, anak-anak TK itu menghadap ke sebuah bendera AS, yang dipasang di
atas papan tulis. Anak-anak itu menyanyikan lagu sebagai berikut:


"*Flag ofAmerica red, white and blue Flag of America a salute we give to
you"*


Ketika anak-anak itu mengucapkan kalimat *"Flag of America, red, white and
blue", *mereka meletakkan tangan kanannya di dada sebelah kiri. Sedangkan
ketika mengucapkan *"A salute we give to you" *tangan kanannya berubah
memberi hormat pada bendera AS itu. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa
lagu kebangsaan AS selalu dinyanyikan pada setiap pertandingan olahraga.
Tidak dengan musik, tetapi oleh seorang penyanyi, yang dengan khidmad dan
khusuk mengucapkan kata-kata yang termaktub dalam lagu kebangsaan itu. Kedua
hal itu, rasanya hanya sekali-kali saja kita dengar di Indonesia. Itulah
sebuah proses membentuk *nation and character building *sejak dini, sejak
Taman Kanak-Kanak. Lagu kebangsaan dinyanyikan, tidak hanya melalui
musiknya, sehingga lebih meresap ke hati anak-anak.


Dari contoh kecil pada pendidikan tingkat TK itu saja, tampak bahwa semangat
nasionalisme setiap bangsa itu tetap harus dijaga dan dipelihara. Artinya,
pendapat Kenichi Ohmae dalam *`Borderless World' *yang menyatakan hapusnya
negara-bangsa justru terbukti sebaliknya. Dari berbagai temuan empirik,
terbukti telah meruntuhkan teori bahwa nasionalisme sebagai ideologi telah
berakhir, sebagaimana dikatakan oleh Daniel Bell dalam *"The End of
Ideology". *Demikian juga, tesis Francis Fukuyama dalam *"The End of History
and the Last Man" (1992), *bahwa nasionalisme tidak lagi menjadi kekuatan
dalam sejarah dunia, juga tidak terbukti.


Globalisasi sendiri pun, sesungguhnya adalah perluasan semangat
nasionalisme-ekspansionisme negara-negara maju. Lewat *soft-campaign *yang
terarah, mereka memperkenalkannya lewat jargon "desa global", "budaya
global", "dunia tanpa batas", dan hilangnya "negara-bangsa", agar penetrasi
politk, ekonotni dan budaya Barat masuk ke negara-negara berkembang dengan
aman dan malah nyaman dirasakan oleh penduduknya. Temyata setiap negara maju
pun tetap membina jiwa nasionalisme bangsanya agar tidak luntur.



Para Hadirin dan Seniman yang saya hormati,


SAYA sependapat dengan apa yang dituangkan dalam Bingkai Kuratorial, bahwa
dalam globalisasi, kebudayaan dannidentitas bersifat trans­lokal. Dalam
kaitan itu, menarik untuk mencoba memetik hikmah dari buku *Kebangkitan
Peran Budaya: Bagaimana Nilai-Nilai Membentuk Kemajuan Manusia. *Judul
aslinya *Culture Matter: How Values Shapes Human Progress *(2000) yang
disunting oleh Lawrence E. Harrison dan Samuel P. Huntington. Dalam buku
sebagai hasil simposium *Harvard Academy for International and Area Studies
*itu (1999), tampak keragaman logika berpikir para peserta dalam memahami
gejala budaya yang dipandang sebagai determinan terjadinya kemiskinan dan
keterbelakangan di negara-negara berkembang bekas jajahan.

Semua peserta menukik pada fakta, bahwa negara berkembang, termasuk
Indonesia, sesungguhnya sudah lama terbebas dari penindasan kolonial. Namun
hingga kini bangsa-bangsa itu tetap saja bergulat dengan kemiskinan.
Sebaliknya, ada pula yang sama-sama mengalami penjajahan, namun mampu keluar
dari kemiskinan dan keterbelakangan, serta menjadi "Macan Asia", seperti
Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Malaysia.


Simposium Harvard delapan tahun lalu itu seakan menggugah kesadaran kita,
betapa pentingnya memahami nilai-nilai budaya sebagai energi sosial yang
mendorong kreativitas dan inovasi masyarakat. Beberapa negara berkembang ada
yang berhasil, karena nilai budayanya secara kokoh membentuk kinerja
politik, ekonomi, dan sosial bangsanya. Dengan demikian, menurut kelompok
Harvard itu, bukan kolonialisme atau model bantuan ekonomi negara-negara
maju yang melahirkan ketergantungan negara-negara berkembang.


David Landes, misalnya, menegaskan dalam *The Wealth and Property of Nations
(Hampir Semua Perbedaan Berasal dari Budaya), *ketergantungan merupakan
implikasi adanya inferioritas, ketika suatu negara tidak bisa mengendalikan
nasibnya dan hanya melakukan apa yang didiktekan oleh negara lain. Itulah
sebabnya, mengapa negara maju mampu mengeksploitasi dengan superioritasnya
untuk mengeruk hasil negara-negara berkembang. Kemudian, Landes berargumen:
"kesalahan siapa ini, dan di mana semangat wirausaha domestik dari
negara-negara ini?", seakan ingin lepas tangan terhadap kuatnya cengkeraman
eksploitasi negara-negara maju selama ini melalui berbagai cara.


Pendekatan budaya dalam memahami suatu gejala sosial, politik, dan ekonomi,
yang dikemukakan Huntington dalam pengantar buku itu, berawal dari tulisan
Lawrence E. Harrison yang berjudul *Underdevelopment is a State of Mind--The
Latin American Case. *Harrison beranggapan budaya adalah faktor penghambat
pembangunan di Amerika Latin, yang kemudian menuai badai protes dari
kalangan intelektual dan pakar ekonomi Amerika Latin. Namun, di antara ahli
budayanya sendiri ada yang mengakui ketajaman analisis Harrison.


Dalam buku tersebut Carlos Alberto Montaner mengemukakan: "kentalnya
perilaku budaya elite di Amerika Latin, seperti komisi, suap, korupsi dan
kroniisme". Pandangan Harrison sesungguhnya mewakili aliran modernisasi
klasik di AS menekankan "budaya tradisional" (yang negatif) sebagai faktor
penghambat modernisasi di negara-negara berkembang. Dalam pandangan Harrison
reformasi lewat perubahan budaya statis ke budaya progresif di negara-negara
berkembang mutlak diperlukan.



Harrison juga mengutip pandangan penulis Peru, Mario Vergasllosa, yang
menyatakan bahwa "reformasi ekonomi, pendidikan, dan pengadilan di Amerika
Latin tidak berhasil, karena tidak menyentuh perubahan adat-istiadat,
cita-cita, kompleksitas kebiasaan, sistem pengetahuan dan seterusnya. Di
sana memang memiliki pemerintahan yang demokratis, tetapi lembaga, refleksi
dan mentalitasnya sangat iauh dari sifat demokratis itu".


Tradisi berpikir dalam memahami dinamika perubahan atau modernisasi itu
berakar pada warisan berpikir *evolusi. Teori evolusi *telah menjelaskan
proses peralihan budaya suatu masyarakat dari tatanan tradisional ke modern
di dunia Barat masa lalu. Selanjutnya, melalui pengalaman panjang, mereka
menunjukkan arah yang harus ditempuh negara-negara berkembang dalam proses
perubahan budaya melalui program-program pembangunan.


Program-program tersebut diharapkan memacu perubahan dalam pengertian
mengadopsi nilai-nilai Barat yang bermutu. Namun pengalaman menunjukkan,
segala inisiatif negara-negara maju untuk memacu perkembangan di
negara-negara berkembang lewat pasar bebas temyata gagal mendorong
pertumbuhan demokrasi dan peningkatan kualitas hidup. Akhirnya disimpulkan:
Ada yang salah dengan pendekatan yang mengabaikan nilai-nilai budaya lokal
yang merupakan acuan masyarakat dalam kegiatan pembangunan.


Selanjutnya, mereka menengok kembali sukses Jepang ketika mencari solusi
analoginya dengan etika Protestan-nya Max Weber, di mana Jepang mampu
memberikan energi segar yang muncul dari kekuatan budayanya sendiri. Bellah
(1957) menyatakan, agama Tokugawa telah memberikan inspirasi atas sistem
nilai pokok yang diperlukan Jepang untuk bergerak menuju kapitalisme modern.
Demikian pula Morishama (1982), mengemukakan keberhasilan Jepang terjadi
sebagai akibat dari ciri-ciri konfusianisme yang mengajarkan umatnya loyal,
nasionalis, dan kolektivitas sosial, tanpa harus mengadopsi nilai-nilai
liberalisme, intemasionalisme, dan individualisme Barat.


Faktanya Jepang berhasil sukses mengambil alih dan mengembangkan ilmu
pengetahuan, industri dan teknologi Barat. Selanjutnya, inspirasi itu
menjalar ke Aong Kong. Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Malaysia yang
menjadikan mereka "Macan Asia", yang kini diadopsi oleh India dan Cina yang
sedang tumbuh menjadi raksasa ekonomi Asia.


Model pendekatan budaya yang dianut Jepang lazim disebut aliran 
*neo­evolusi.
*Nilai budaya dipandang bukan sebagai penghambat, namun pendorong
pembangunan. Revitalisasi atau reaktualisasi pendekatan budaya dalam
memahami perubahan untuk kemajuan umat manusia saat ini tetap relevan dalam
membedah fenomena kemiskinan dan ketidakadilan sosial di negara­negara
berkembang.


Para Hadirin dan Seniman yang saya hormati,


DALAM hal proses membangsa ini menarik untuk mengangkat fenomena Malaysia
yang mutakhir. Kini, Malaysia terobsesi menjadi negara Federasi Malaysia
Di-Raja, untuk mewujudkan cita-cita membangun kegemilangan tamadun Melayu,
guna memberi pencerahan dan menyatukan puak-puak Melayu di seluruh dunia.
Kalau dulu para pendiri bangsa mengobsesikan Indonesia Merdeka dengan
berbagai kebesarannya saat mempersiapkan kemerdekaan, justru Malaysia
terobsesi untuk menemukan jatidirinya sebagai bangsa yang besar guna
menunjang keberadaannya masa kini yang penuh keberhasilan di berbagai bidang
melebihi prestasi Indonesia.


Terlepas setuju atau tidak, kini Malaysia sedang membangun identitas dan
memperkuat solidaritas sebagai bangsa Melayu-Malaysia yang unggul. Malaysia
berupaya mengadopsi dan mengadaptasi banyak warisan budaya India, China,
Melayu, bahkan dari Jawa, seperti batik, tari kuda lumping dan reog, juga
wayang kulit. Tentang Reog Ponorogo, misalnya, seharusnya ini menggugah
kesadaran kita untuk lebih mencintai budaya sendiri ketimbang budaya impor.
Bukankah dalam kegiatan massal kita seringkali menampilkan kesenian 
*barongsai
*dan *liang-liong *asal China? Kalau pun pernah, jarang sekali kita melihat,
Reog Ponorogo dipergelarkan pada *event-event *massal.


Kita marah ketika Malaysia memenangkan klaim atas Pulau Sipadan­Ligitan,
tetapi kita tidak bereaksi apa pun ketika beberapa pulau kita tenggelam
karena pasirnya dikeruk habis untuk reklamasi pantai Singapura. Jika
demikian, apakah sikap ini merupakan implikasi dari penyakit inferior bangsa
kita yang mudah tersinggung dan marah justru untuk menutupi kelemahan,
sebagaimana konstatasi Landes di depatl?


Jika kembali pada fenomena Malaysia, dengan penguatan jatidirinya itu,
Malaysia ingin rhenegaskan bahwa bangsanya benar-benar representasi dari 
*"the
Truly Asia", *dengan merekayasa masa lalunya agar menjadi gemilang untuk
menunjang masa kininya yang mempesona oleh kemajuan-kemajuan di berbagai
bidang. Padahal di masa silam, bukankah kerajaan Melaka tunduk pada
Sriwijaya dan Majapahit?


Oleh sebab itu, kita sendiri jangan kalah oleh Malaysia dalam mengembangkan
semangat kebangsaan, dengan menjadikan pluralisme perekatnya, sebagai
ketahanan bangsa yang ampuh dalam menghadapi pergulatan globalisasi. Kita
juga harus menjaga dan memelihara, serta merevitalisasi dan mengembangkan
khasanah pusaka budaya kita yang memang amat kaya ini. Jangan sampai terjadi
bangsa lain yang mengaku memiliki warisan budaya-budaya Nusantara, hanya
karena mereka yang mampu mengembangkannya ke tingkat dunia.


Dalam hal ini kita masih bisa bersyukur, karena memiliki ideologi Pancasila
dan bahasa Indonesia yang berfungsi ganda, baik sebagai identitas nasional
maupun pengikat solidaritas dalam memperkokoh semangat persatuan

dan kesatuan bangsa.



Para Hadirin dan Seniman yang saya hormati,


KONSTATASI Harrison tentang perlunya mengubah budaya statis ke progresif,
yang juga dikemukakan oleh Garin Nugroho di depan, seakan mengingatkan kita
akan pendapat Sutan Takdir Alisiahbana saat Polemik Kebudayaan tahun
1930-an, ketika para pendiri bangsa ingin mencari wujud kebudayaan Indonesia
Merdeka. Meski sinyalemen itu sudah hampir 80 tahun lalu, tampaknya bangsa
ini belum tergerak untuk menangkap pesan Sutan Takdir itu.


Menurutnya, secara garis besar kebudayaan bersifat progresif dan ekspresif,
di mana sifat progresif perlu dikembangkan guna mengisi Kebudayaan Nasional
Indonesia yang modem dan maju, agar mampu mengejar kemajuan bangsa-bangsa
lain di bidang iptek dan ekonomi. Orientasi progresif itu diperlukan, untuk
membalik kelemahan sistem pengetahuan dan ekonomi dalam Kebudayaan Daerah
yang bersifat ekspresif.


Kebanggaan akan keberhasilan nenek-moyang membangun Borobudur di masa
lampau, misalnya, tidak dengan sendirinya menghadirkan wawasan kreatif agung
tentang arsitektur dan teknologi bangunan canggih di masa kini. Bangsa yang
pernah menghasilkan Borobudur, mungkin dapat menciptakan borobudur­borobudur
baru, selama bangsa itu bersedia membuka diri terhadap kemajuan iptek.


Maka, Dinamika Kebudayaan yang berinteraksi dengan Kelndonesiaan, diharapkan
mampu merangsang tumbuhnya semangat Nasionalisme Baru yang tidak
inferior-chauvinistik. Ke dalam dimaknai sebagai semangat memerangi segala
bentuk kemiskinan, keterbelakangan, korupsi dan berbagai bentuk
penyelewengan lainnya, serta penghargaan atas demokrasi dan HAM, sehingga
mampu memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat.


Nasionalisme Baru itu hanya bisa dicapai melalui dinamika budaya dalam wujud
transformasi budaya, dengan mampu menyaring dan mengadaptasi budaya iptek
global yang bermutu, seraya mengukuhkan j atidiri bangsa yang berbasis pada
*kebhinnekaan *sebagai akar budaya sendiri.



Tetapi saya tetap berharap, bahwa apa yang saya paparkan ini bukanlah
pendapat sebuah rezim yang harus diamini, tetapi hendaknya diterima dengan
sejumlah kritik yang cerdas guna memperluas materi Pameran Biennale Jogja
Ke-9 Tahun 2007 ini, sekaligus memperkaya keragaman wawasan tentang
Neo­Nation yang menjadi tema pameran ini.



Yogyakarta, 28 Desember 2007



Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Blog:
http://mediacare.blogspot.com

http://www.mediacare.biz



Yahoo! Groups Links





-- 
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.17.13/1214 - Release Date: 08/01/2008 
13:38




blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara 
warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia 
adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli 
kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang 
mati-matian hingga titik darah penghabisan.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke