artikel di bawah ini saya kutip dari www.kapanlagi.com

Tsunami 2004, Bencana Alam atau Bencana Buatan?

26 Desember 2004, di pagi hari yang tenang jutaan
manusia di benua Asia dikejutkan oleh adanya gempa
bumi yang disusul dengan naiknya jutaan liter air laut
ke daratan. Ratusan ribu nyawa melayang, jutaan rumah
tersapu dan jutaan hektar tanah luluh lantak oleh
bencana alam yang oleh para ahli dinyatakan sebagai
gempa terbesar selama 100 tahun terakhir.
Duka pun berkumandang ke seluruh dunia, tak hanya
dirasakan oleh 12 negara Asia Tenggara dan Asia
Selatan yang menjadi korban dalam amuk alam ini. Bagi
sebagian besar umat manusia, musibah ini diartikan
sebagai tanda kebesaran Tuhan, sehingga mereka pun tak
kuasa menggugat apalagi mempertanyakan.

Namun bagi sebagian kecil orang, musibah ini disikapi
dengan kecurigaan. Mereka beranggapan bahwa tsunami
yang telah menelan 165 ribu korban jiwa itu adalah
'buah karya' AS. Pertanyaan yang muncul kemudian
adalah sedemikian hebatkah negara paman Sam hingga
mampu menciptakan 'kiamat' kecil ini. Benarkan New
York merupakan pemrakarsa bencana 26 Desember?

Kejanggalan

Dengan kekalahan Afganistan dan Irak, para bankir Wall
Street susah payah mencari cara lain untuk
mengendalikan dunia. Pada saat itulah tiba-tiba Palung
Sumatra 'meledak'. Aneh bukan? 

Selain dikejutkan oleh banyaknya korban yang
berjatuhan dan besarnya kerugian akibat munculnya
gelombang pasang raksasa ini (konon ketinggian air
saat kejadian mencapai 7 meter), beberapa pihak juga
mempertanyakan sejumlah kejanggalan dalam cerita resmi
tsunami versi Amerika. Mereka meyakinkan bahwa
kejanggalan ini harus diperhatikan sebelum akhirnya
lenyap ditelan waktu. 

Dahsyatnya gempuran tsunami itu tak hanya dirasakan di
Asia Selatan dan Asia Tenggara, namun juga terasa
hingga ke Benua Afrika. Tak pelak puluhan nyawa pun
terenggut tangan malaikat maut. Pada tataran ini, naif
rasanya jika kita tetap menuduh bahwa AS adalah biang
kerok dibalik bencana ini.

Fakta

Namun cobalah perhatikan fakta-fakta berikut. Pertama
mengenai letak epicentrum (pusat gempa pada permukaan
bumi). Australia merekam magnitudo dan posisi
epicentrum sesuai dengan yang ditentukan oleh kantor
Geofisik Jakarta yaitu gempa berukuran 6,4 pada skala
Richter menimpa utara pulau Sumatra. Titik gempa
berada di 155 mil selatan-tenggara provinsi Aceh. 

Lokasi ini berbeda 250 mil dari posisi yang ditentukan
oleh NOAA Amerika, yang menyatakan bahwa epicentrum
berada di barat daya Aceh. Mereka juga mengatakan
bahwa kekuatan gempa adalah 8,0 skala Richter, dan
kemudian terus memperbaiki laporan dengan meningkatkan
skala richter yang ada menjadi 8,5 lalu 8,9 sampai
akhirnya 9,0.

Maka, keanehan pertama adalah informasi oleh NOAA,
Amerika, yang tiba-tiba menemukan puncak gelombang
kejut yang "fleksibel", yang bahkan jauh lebih besar
dari yang dirasakan oleh Jakarta, padahal Jakarta
terletak jauh lebih dekat ke titik pusat gempa
dibandingkan AS. 

Tidak pernah ada yang namanya pusat gempa "fleksibel",
pada umumnya hanya akan ada satu titik gempa saja,
itupun akan tercatat oleh lusinan seismograf di
Indonesia dan India. Selain perbedaan yang begitu jauh
dalam nilai skala Richter, Indonesia dan India juga
merasakan keanehan akan tidak adanya gempa
'peringatan' dari seismograf mereka. 

Hal ini berarti bahwa gelombang kejut normal yang
selalu mendahului gempa tidak ada. NOAA menyatakan
menerima 'peringatan' mengenai adanya gempa susulan,
tetapi sama sekali tidak terjadi. Secara sederhana,
gempa selalu dipicu oleh frekuensi elektromagnetik
pada 0,5 atau 12 Hertz, dan bukan merupakan proses
yang terjadi mendadak. 

Maka ketika resonansi karena frekuensi ini terjadi,
pusat gempa akan mulai bergetar, dan mengirimkan
peringatan adanya gempa kepada semua seismograf dalam
bentuk gelombang transversal (tegak). Jika gelombang
yang diterima oleh seismograf adalah gelombang P, maka
yang dihadapi adalah gelombang akibat gempa bawah
tanah atau bawah laut. 

Nyatanya gelombang inilah yang diterima oleh Indonesia
dan India. Gelombang ini secara mengejutkan sangat
mirip dengan gelombang yang dihasilkan beberapa tahun
lalu oleh senjata nuklir skala besar dibawah tanah di
Nevada. India segera 'sadar' bahwa gempa ini bukanlah
gempa "normal."

Sehari setelah bencana, Senin 27 Desember 2004 mereka
memutuskan untuk tidak bergabung dalam rencara
ekslusif Bush 'kelompok empat'. yang akan menarik
semua kekuatan Nuklir Asia dari koalisi baru dengan
Rusia, Cina, dan Brazil. Lalu keesokan harinya
pemerintah India dengan sopan meminta agar militer
Amerika menjauhi wilayah kekuasaan India.

Barulah pada 29 Desember 2004, India Daily Editorial
memberikan pertanyaan terbuka mengenai kejadian itu,
"Apakah ini pameran kekuatan suatu negara untuk
menujukkan kepada suatu daerah, mengenai bencana yang
mampu dibuat oleh negara itu?" Karena itulah, Angkatan
Laut India merasa perlu untuk mengungkapkan temuan
mereka.

Kita akan kembali mengenai penjelasan cara mengirimkan
bom nuklir berkekuatan dahsyat ke dasar Palung
Sumatra, dan kemudian meledakkannya. Kita akan melihat
suatu pulau di Australia, yang dikuasai oleh salah
seorang tokoh Wall Street. Langkah ini sangat penting
kita amati, karena hal ini akan menenentukan langkah
Australia selanjutnya. 

Pada 27 Desember pagi, media Australia (yang dimiliki
oleh New York) menyatakan bahwa negara yang tertimpa
bencana terbesar adalah Sri Langka, yang juga adalah
anggota persemakmuran Inggris, seperti Australia juga.
Tim Costello, kepala yayasan dana amal terbesar di
Australia, segera mempersiapkan untuk menuju daerah
bencana sambil mengumpulkan bantuan.

Sedangkan Little Johny (orang kuat Wall Street)
melakukan tindakan berbeda, yang nampaknya
diberitahukan kepadanya melalui hubungan telepon
pribadi. Dengan cara yang sangat rahasia, Little Johny
mengirimkan dua Hercules RAAF yang dipenuhi dengan
suplai ke Malaysia, dalam posisi "Stand by" dan
mengarahka dua pesawat lainnya ke Darwin, utara
Australia. 

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika benar Little
Johnny memiliki rasa kemanusiaan, maka ia akan segera
mengirim keempat pesawat itu ke Sri Langka, tetapi
nyatanya tidak. Hal ini mengindikasikan bahwa
sebenarnya Little Johnny menunggu perintah dari New
York.

Tak lama kemudian setelah pesawat pengintai menyatakan
bahwa landasan di Medan aman, maka keempat pesawat
Hercules lengkap dengan pasukan, senapan, dan
perlengkapan lain segera 'menyerbu 'Aceh. besar
kemungkinan dengan penduduk yang tinggal 10%, Aceh
akan segera berubah menjadi Teluk Guantanamo baru,
dengan ratusan pasukan Amerika dan Australia yang
bersenjata. 

Perlu diingat bahwa ketika keempat pesawat itu
mendarat di Medan, publik Australia belum banyak yang
menyadari apa yang terjadi. Maka terlihat bahwa Johnny
sedang membantu para atasannya untuk mempersiapkan
Asia menjadi basis baru, setelah rencana terhadap Iraq
gagal total. 

Yang penting adalah mereka berhasil membunuh sekian
banyak Muslim di Aceh, sebagai atas balas dendam atas
kekalahan mereka di Iraq dan Afghanistan. Tidak perlu
diragukan lagi bahwa Australia hanyalah 'pasukan'
awal, yang akan segera diikuti oleh militer AS yang
lebih siap dan lebih bagus perlengkapannya. 

Dalam sekejab, Pentagon mengirimkan dua kelompok
tempur untuk segera berlayar hanya dengan modal
pemberitahuan mendadak dari Hong Kong dan Guam,
padahal biasanya hari seperti itu masih kacau karena
libur Natal dan Tahun baru. Sepertinya pasukan ini
memang sudah disiagakan sejak awal.

Dari Hong Kong, bertolaklah sang kapal tempur nuklir
'USS Abraham Lincoln'. Tak mau ketinggalan, 'USS
Bonhomme Richard', kapal angkut tempur amfibi penuh
dengan marinir yang dikenal dengan nama "Expeditionary
Strike Group 5" segera angkat sauh dari Guam.

Kapal USS Bonhomme Richard, ditemani oleh USS duluth
(kapal pendarat amfibi), USS Rushmore (kapal pendarat
dan penjelajah dengan misil), USS Bunker Hill (kapal
penghancur dengan misil), USS Milius dan kapal frigat
USS Thach pun diberangkatkan. Urusan bawah air
ditangani oleh kapal selam pemburu nuklir USS Pasadena
dan kapal pemotong berkekuatan tinggi Munro milik
Penjaga Pantai AS turut serta. 

Maka sekarang jelas bukan bahwa "Strike Group 5"
membawa nuklir yang cukup untuk menghancurkan setengah
dunia ini. Kejadian paling mencengangkan terjadi
ketika pasukan ini memasuki Samudra Indonesia. USS
Abraham Lincoln yang awalnya biasanya membawa 500
marinir, tiba-tiba membawa 2000 marinir. 

Dan ketika mereka berpisah jalan ke Sri Langka, para
marinir memindahkan kapal transport mereka ke USS
Duluth, sehingga tanpa diketahui masyarakat Indonesia,
USS Abraham Lincoln telah diigunakan untuk menyaring
sedikitnya 3500 Marinir AS dengan senjata lengkap
untuk memasuki wilayah Aceh. 

Hal lain adalah ketika seorang juru kamera Australia
merekam gambar seorang Marinir AS yang sedang mengais
senjata yang tersisa dari markas militer Indonesia
yang turut hancur dalam amuk bah itu. Bukankah
seharusnya tugas ini dilakukan oleh ABRI sendiri,
bukan oleh Marinir AS. 

Didalam air yang begitu dalam, tekanan terhadap bom
akan meningkat jauh kira-kira 10.000 psi terhadap
permukaan bom. Dan perlu diingat juga, bahwa dinding
palung menyempit, sehingga bom akan terjepit, dan
dengan tekanan yang cukup kuat dari tekanan air dan
ledakan bom, maka lempeng tektonik akan sangat mungkin
bergerak mendadak. 

Dalam kasus ini, tidak diperlukan gerakan lempeng
tektonik besar-besaran, dan ilmu alam menyebutkan
bahwa jika ledakan ini dapat menyebabkan efek itu,
maka, beberapa guncangan gempa susulan yang timbul
akan dapat terjadi, seperti pada gempa umumnya. Tetapi
seperti yang telah dibahas, tidak ada gempa susulan
sama sekali yang dapat dikaitkan dengan gempa di Aceh
ini.

Untuk memaksakan agar Asia 'menyerah' dan supaya dapat
mengamankan kontrak besar dalam usaha pembangunan
ulang Aceh, yang paling mudah dilakukan adalah membuat
tsunami dengan target negara tertentu. Cara ini,
pernah dirancang baik oleh Rusia dan Amerika untuk
saling merebut kekuasaan di kota pesisir mereka. 

Cara ini cukup efektif dan bersih, sehingga penyerang
dapat segera mengambil alih tanah dan bangungan yang
tersisa dalam waktu singkat. Jika semua sesuai
rencana, maka Indonesia, Sri Langka dan India harus
berhutang sekali lagi kepada IMF dan Bank Dunia, untuk
30 tahun lagi. Waktu yang cukup untuk menunggu harga
minyak turun setelah kegagalan besar-besaran di Irak. 

India memiliki pangkalan udara militer yang menampung
30 pesawat Sukhoi, yang mampu menembakkan misil
penghancur kapal di daerah pulau Car Nicobar,
pertahanan udara pertama didaerah Teluk Bengal. Selain
itu juga memiliki reaktor nuklir di Chennai, Tamil
Nadu, daerah paling selatan di India. 

Kedua tempat ini terancam hancur oleh 'sisa' tsunami
yang melanda Indonesia. Cukup beruntung bahwa ke-30
Sukhoi ini selamat, dan pangkalan udara India itu
hanya kehilangan landas pacu saja. Dan Reaktor nuklir
yang seharusnya akan segera menjadi Chernobyl kedua
jika dilanda gempa sebesar 0,2 skala Richter selamat,
dengan kerusakan hanya dialami oleh pipa air pendingin
saja.

Dari semua fakta di atas, sebagian kecil orang yakin
bahwa memang New York adalah 'dalang' bencana
tersebut. Namun semuanya kembali pada anda dan
keyakinan yang anda miliki. Akankah bencana tsunami
2004 anda yakini sebagai bencana alam ataukah bencana
buatan .. its up to u!!! (TS/tutut-arie)





                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Mail - now with 250MB free storage. Learn more.
http://info.mail.yahoo.com/mail_250


Official Web Site : http://www.awari.or.id
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Web,archive: http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke