Awari benahi struktur organisasi JAKARTA (Bisnis): Asosiasi warnet Indonesia (Awari) terus membenahi struktur organisasinya dengan membentuk sejumlah kepengurusan di tingkat daerah sebelum membentuk badan hukum secara nasional. Segera setelah struktur dibenahi, organisasi warnet terbesar di Tanah Air dengan lebih dari 2.000 anggota itu juga berencana mencanangkan gerakan nasional penggunaan peranti lunak open source. Dalam beberapa pekan terakhir ini komunitas bisnis jasa koneksi Internet itu sudah membentuk beberapa Asosiasi Warnet Indonesia (Awari) tingkat daerah, termasuk di Jakarta, Bali, Surabaya, Semarang, Bandung, Makassar hingga Bangka dan Belitung.
Ketua Presidium Asosiasi Warnet Indonesia (Awari) Judith MS Lubis mengatakan konsolidasi dan pembenahan ini sangat penting guna memperkuat posisi warnet menghadapi berbagai masalah yang dihadapi bisnis tersebut. "Selama ini warnet belum dipandang sebagai bagian dari industri teknologi informasi nasional sehingga posisinya sangat lemah di hadapan berbagai pihak," ujarnya kepada Bisnis usai pertemuan Awari tingkat Jakarta kemarin. Kepengurusan Awari nasional yang didirikan pada 1999 itu terbengkalai akibat masalah internal, lalu mencapai puncaknya pada Munas 2001 sehingga tidak ada program kerja berarti hingga kini. Warnet saat ini menghadapi dua masalah penting, yakni harga sewa bandwidth koneksi Internet yang dinilai mencekik leher dan pemerasan oknum aparat dalam razia penertiban peranti lunak ilegal. Umumnya warnet menghabiskan lebih dari 50% biaya operasionalnya untuk sewa bandwidth dari PJI (Penyelenggara Jasa Internet), menyisakan sedikit keuntungan untuk pengembangan usaha. "Jika para pengusaha warnet solid, tidak sulit mendapatkan potongan harga khusus dari PJI karena membeli bandwidth secara borongan," kata Judith. Sementara mengenai masalah pemerasan oknum aparat, dia mengatakan pengusaha warnet lebih memilih tutup mulut dan menerima saja perlakuan itu karena posisinya lemah. Menurut pengakuan beberapa pengusaha warnet, mereka menyatakan kesulitan membeli peranti lunak legal karena harganya tidak terjangkau. Akhirnya banyak warnet membajak peranti lunak, umumnya produk Microsoft. Komunitas warnet secara individual atau melalui Awari sudah lama berbicara dengan perwakilan Microsoft di Indonesia untuk mendapatkan potongan harga. Namun belum membuahkan hasil seperti yang mereka harapkan. Dalam pertemuan yang dihadiri 40 warnet di Jakarta kemarin, muncul kesepakatan untuk menggelar aksi yang dinamakan Warnet Goes Open Source, mengambil tema yang mirip dengan program pemerintah Indonesia Goes Open Source (IGOS). "Kami menyadari sulit mendapatkan potongan harga, lebih baik warnet sendiri yang menggelar inisiatif," tandas Judith. Gerakan open source ini sekaligus bertujuan mengedukasi konsumen agar tidak tergantung pada satu merek peranti lunak. (dss) � Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited. catatan : mohon maaf jika saya salah menyebutkan angka yg hadir karena peserta diskusi kemarin cukup banyak . jms Official Web Site : http://www.awari.or.id Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] Web,archive: http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

