...del...
>Barangkali untuk warnet-warnet yang memang mempertimbangkan untuk
tetap menggunakan OS Microsoft dan ada harapan untuk bernegosiasi
dengan pihak Microsoft.
...del...
Mohon maaf kalo pendapat saya ini gak berkenan.
Saya gak sepenuhnya setuju dengan pendapat di atas. Sebab:
1. Pemerintah kita telah menerapkan Undang Undang HAKI yang pada
prinsipnya adalah sebagai salah satu syarat untuk ikut terlibat dalam
era perdagangan bebas. Bagaimana negara ini dapat meraup devisa jika
tetap dianggap sebagai negara pembajak?... Dalam hal ini, memang jelas
ada kepentingan politik negara besar (bisa tebak khan negara mana
itu?). Dan UU tsb sudah sepantasnya kita taati dan jalankan bersama
menuju Indonesia Maju. Bukan karena kita takut tuntutan Microsoft.
2. Andaikan pihak warnet telah berhasil negosiasi dengan Microsoft...
apakah tetap kita akan bebas dari jeratan pasal-pasal dalam UU
HAKI?... Lalu bagaimana dengan Softwares Aplikasi lain yang
digunakan?.. semisal antivirus, dll yang mau tidak mau digunakan jika
tetap ingin mempertahankan OS Windows?.
3. Apakah ada jaminan bahwa aparat keamanan (baca: oknum) tidak akan
memanfaatkan situasi tersebut sebagai lahan empuk pemerasan?.
4. Statement Microsoft yang menyebutkan bahwa mereka tidak berada
dibalik semua sweeping itu menurut saya hanya cuci tangan belaka,
walaupun secara kenyataan memang tidak ada peran mereka pada sweeping
yang terjadi saat ini. Dan salah satu cara mereka untuk mempertahankan
brand image agar tidak timbul persepsi negatif atau apatis terhadap
perusahaan tersebut.
5. Sudah saatnya kita bangkit dari sekedar kaum "pemakai" menjadi kaum
kreatif "pembuat". Coba lihat kenyataan, umumnya bangsa kita ini
adalah konsumen bukan produsen. Dan sedihnya, justru kebanyakan orang
bangga menggunakan produk import daripada lokal tanpa menyadari devisa
yang hilang.
6. Statement Microsoft bahwa Indonesia berpotensi menjadi salah satu
pusat riset Microsoft di dunia adalah salah satu starting point bagus
dalam hal pembangunan SDM kita. Harusnya, pemerintah kita meniru
langkah Pemerintah Jepang dulu mengirimkan para pemudanya ke luar
negeri untuk menuntut ilmu. Setelah selesai, mereka kembali ke
negaranya untuk membangun negeri, bukan malah kerja di luar negeri.
Kenyataannya, kita bisa hitung berapa sih Perguruan Tinggi yang ada di
Indonesia yang memang berkualitas dan murah. Sistem pembelajaran kita
lebih banyak ke arah teoritis bukan praktikal jadinya setelah lulus
hanya jadi orang yang jago omong doang. Sampai-sampai Perguruan Tinggi
di Indonesia tidak masuk 100 besar urutan terbaik PT di seluruh dunia
(saya lupa dimana urlnya, tetapi beberapa bulan yang lalu pernah ada
yg posting ttg hal ini di salah satu milist).

Udah ah, kebanyakan... Dan mohon maaf, bukan maksud saya
mendiskreditkan salah satu pihak, tetapi saya miris melihat kenyataan
bahwa bangsa kita terjebak dalam politik adu domba intelektual. Satu
kubu bangga dengan Legalitas dan produknya satu kubu lagi bangga
dengan opensources. Kenapa kita harus ikut terjebak dalam hal seperti
itu?. lebih baik manfaatkan kedua hal tersebut untuk membuat bangsa
kita lebih baik...

Salam,
Husam





Official Web Site : http://www.awari.or.id
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Web,archive: http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke