Conference Information Freedom Rules di Berlin

Onno W. Purbo

Tanggal 13-17 September 2006 saya berada di Berlin Jerman untuk memberikan 
speech pada WOS 4 Information Freedom Rules http://wizards-of-os.org atas 
undangan rekan saya Volker Grassmuck. WOS 4 di harapkan dihadiri oleh banyak 
peserta dari negara barat dan Amerika Latin. Saya sendiri adalah satu-satunya 
orang Asia di conference tersebut.

Berbicara pada conference Information Freedom Rules antara lain adalah Prof. 
Lawrence "Larry" Lessig dari Stanford University yang juga merupakan motor 
dibalik Creative Commons yang merupakan lisensi semacam GNU untuk berbagai 
buku, tulisan, karya di Internet yang di copyleft-kan. Selain itu juga Prof. 
Yochai Benkler dari Yale Law School yang banyak memberikan sumbangan pemikiran 
di bidang cyberlaw.

Melalui penerbangan panjang sepanjang malam dengan transit di Kuala Lumpur dan 
Amsterdam, sampailah ke Berlin di Jerman tempat conference di lakukan. Tampak 
dari ketinggian, Berlin merupakan kota yang apik, rapih tidak menampakan bekas 
ibu kota Nazi Jerman yang membuat heboh pada masa perang dunia ke dua di bawah 
pimpinan Hitler.

Sebetulnya pada saat ini, Jerman sedang siap-siap untuk menyambut October Fest 
dimana orang Jerman bersuka ria dan minum bir sesukanya. Having fun lah.

Dari airport Tegel di Berlin, saya menggunakan bis nomor 128  dengan membayar 
2.10 Euro melalui jalan Berlin yang tertata rapih, satu hal yang sangat menarik 
adalah banyaknya tempat yang tumbuhan tampaknya dibiarkan hidup tidak di potong 
menjadikan Berlin seperti hutan. Setelah pindah ke U Bahn atau subway sampailah 
saya di pemberhentian Koch yang ternyata dulu-nya adalah cek point Charlie yang 
dibangun oleh tentara sekutu.

Berjalan kaki sekitar 10 menit, sampailah ke Suite Hotel yang masih keluarga 
dengan Hotel Ibis hanya saja dalam kamar ada kamar tamu kecil, tempat masak 
kecil jadi sangat membantu untuk berhemat. Maklum perjalanan ini tidak dibiayai 
dari APBN, bukan juga study banding dari para anggota dewan, Teknik standar 
untuk melakukan penghematan adalah membawa supermie dan kompor listrik kecil 
untuk memasaknya. Maklum satu kali makan di sini bisa mencapai sekitar 10-20 
Euro (sekitar Rp 200-300.000,-). Alhamdullillah, panitia conference Information 
Freedom Rules menggantikan fiskal Rp. 1 juta maupun biaya pembuatan visa 
Schengen Rp. 410.000,-. Tidak seperti KOMINFO yang tanpa malu-malu melupakan 
janji manis menggantikan fiskal untuk WSIS 2005 di Tunisia, padahal negara 
tidak perlu membayari tiket pesawat & akomodasi di Tunis waktu itu.

Satu hal yang membuat pusing kepala di hotel Berlin ini adalah akses WiFi 
ternyata harus membayar mahal memang ada satu komputer di lobby yang dapat 
digunakan bersama untuk tamu hotel gratis. Akses Internet & WiFi gratis 
ternyata tersedia di conference yang di instalasi oleh rekan saya Elektra yang 
tergabung di Chaos Computer Club (www.ccc.de) dan Freifunk kelompok Wireless 
Mesh Network Berlin yang barangkali termasuk terbesar di dunia.

Sialnya lagi semua channel TV tidak ada yang berbahasa Inggris, semua berbahasa 
jerman kecuali channel 5 yang berbahasa perancis. Jadi sebagian besar waktu di 
hotel digunakan untuk menyelesaikan buku / tulisan saya. Alhamdullillah, selama 
di Berlin saya berhasil menyelesaikan Buku Pegangan Server Untuk Sekolah Dan 
Usaha Kecil Menengah yang Insya Allah akan di terbitkan oleh InfoLinux.

Ada beberapa hal menarik yang saya amati selama conference Information Freedom 
Rules.

Paradigma kebebasan ternyata merambat ke segala aspek informasi dan 
pengetahuan. Kita di Indonesia mungkin tidak terlalu menyadarinya. Di Bidang 
software kita mengenak Open Source, seperti Linux. Di bidang frekuensi radio, 
kita mengenal Open Spectrum, seperti 2.4GHz dan 5.8GHz. Yang jarang di 
diskusikan di Indonesia adalah bidang seperti karya tulis, di kenalkan Creative 
Commons, kira-kira juga aliran copyleft. Di dunia musik mulai di kenalkan net 
label sebagai lawan dari major label seperti sony dll. Kemerdekaan dan 
kebebasan menjadi isu sentral dalam conference Information Freedom Rules.

Saya adalah satu-satunya peserta sekaligus pembicara yang dari asia di 
conference Information Freedom Rules, mungkin topik ini belum menarik bagi 
banyak negara-negara di Asia. Teman-teman dari Brazil tampaknya sangat 
anthusias dengan conference ini, mereka datang dalam kontingen yang besar 
bahkan menyelenggarakan malam pagelaran seni sendiri di acara Information 
Freedom Rules.

Ada banyak Open Source produk yang di tampilkan pada acara Information Freedom 
Rules. Salah satu yang paling menarik untuk saya adalah C-Base. C-base 
menggunakan libavg yang dibuat untuk menjadi Macromedia Editor di Linux. Saya 
melihat sendiri hasilnya, bukan main anda bisa membuat film seperti Macromedia 
di Linux. Gilanya semua open source dan gratis, heran hidup darimana mereka?

Acara conference itu sendiri sangat santai, bahkan seperti piknik saja. Di luar 
ruang acara di sediakan meja-meja taman dan kita dapat makan di bawah sinar 
matahari pada suhu sekitar 20-an derajat sambil mengakses Internet menggunakan 
Wifi.


Di opening speech yang dilakukan oleh Wolfgang Coy dari Institute for 
Information, Chair for Informatics in Education and Society, Humboldt 
University Berlin, Wolfgang Coy sampai dua kali mengatakan "Freedom is taken. 
Freedom is never given" yang artinya "Kemerdekaan harus di rebut. Kemerdekaan 
tidak pernah diberikan". Terus terang saya cukup kaget Wolfgang sampai 
berbicara demikian, seorang di negara maju ternyata masih melihat bahwa mereka 
harus berjuang untuk kebebasannya.

Isu lain yangsaya rasa menarik dengan adanya kebebasan adalah manajemen 
kualitas dari produk / karya / jasa yang dihadirkan kepada masyarakat. Open 
Source memang banyak menjadi referensi, pilihan membangun dengan model bazar 
atau kathedral menjadi menarik. Bazar dalam arti gotong royong, ramai-ramai 
seperti Linux. Sementara, Kathedral strategi membangun dengan lebih terpimpin, 
terkontrol. Salah satu contoh menarik di kemukakan oleh Martin Haase, Broad 
Member Wikimedia Deutchland, Professor of Linguistics, University Bamberg, 
mekanisme yang digunakan di wikipedia ternyata sangat amatiran sehingga sulit 
menjamin kualitas yang baik dari karya di wikipedia. Bahkan seringkali para 
aktifis wikipedia akhirnya menghalangi potensial kontributor yang sebetulnya 
ahli dala bidangnya untuk berkontribusi pada wikipedia. Oleh karena itu, Martin 
Haase yang mempunyai banyak pengalaman membuat ensiklopedia dan buku bersama 
rekan-rekannya tampaknya akan mengambil inisiatif untuk membangun wikipedia 
tandingan yang menggunakan mekanisme yang lebih terkontrol dengan editor dan 
author tanpa adanya anonymous author. Di harapkan, kualitas ensiklopedia yang 
dibangun tidak lagi amatiran seperti yang terjadi di wikipedia sekarang ini.

Saya kebetulan bertemu dengan rekan lama saya Elektra. Elektra menunjukan radio 
pemancar FM Mikro yang disebut mikro FM sender. Disain mikro FM sender 
menggunakan balanced oscillator FET mampu untuk digunakan untuk pemancar 
komunitas sejauh satu (1) km hanya dengan antenna se adanya. Dalam gambar di 
perlihatkan bentuk mikro FM sender. Bagi anda yang tertarik ada baiknya mencari 
gambar rangkaiannya maupun PCB-nya dari Chaos Computer Club http://www.ccc.de.

Saya sendiri merupakan bagian dari panel tentang Open Spectrum bersama Malcom 
J. Matson dari OPLAN Foundation di Inggris. Robert Horvitz dari Stichting Open 
Spectrum (Open Spectrum Foundation) Prague yang di moderatori oleh Armin 
Medosch dari London.

Pada saat Malcom Matson sedang menyiapkan laptopnya untuk di tampilkan ke 
layar, entah kenapa selalu gagal tampil di layar. Setelah Malcom berjuang 
beberapa lama, akhirnya saya menawarkan untuk menggunakan laptop Axioo Centrino 
Dual saya. Entah mengapa tampilan ke layar berjalan dengan lancar-lancar saja. 
Malcom berbisik "Glad to know it is Windows", langsung saya timpali "No, it is 
not Windows, it is Linux" karena saya menggunakan Fedora Core 5. Kaget juga 
Malcom mendengarnya tidak menyangka bahwa laptop saya menggunakan Linux heheh.

Sebetulnya, saya di Stichting Open Spectrum yang dipimpin oleh Bob Horvitz 
berkedudukan sebagai anggota Board of Advisor.  Bob Horvitz seringkali 
memberikan workshop bagi regulator-regulator di berbagai negara agar  lebih 
dapat mengapresiasi Open Spectrum.

Bob menyampaikan bahwa kelangkaan spectrum frekuensi yang terjadi pada hari ini 
karena alokasi frekuensi yang tidak baik dan sukar di perbaiki, mekanisme 
lisensi yang tidak responsif terhadap kebutuhan yang ada maupun penggunaan 
frekuensi, menutup kemungkinan adanya perbaikan teknologi maupun berbagai 
servis yang baru. Padahal teknologi radio pada hari ini sudah digital dan 
mempunyai prosesor di dalamnya sehingga memungkinkan untuk menghilangkan 
interferensi dengan lebih baik, automatic power control, pemilihan channel 
automatic, tidak perlu penguna yang skilled, tidak perlu regulator dalam 
mengalokasikan channel, lebih effisien dalam menggunakan bandwidth, teknik 
modulasi dan sharing yang lebih baik, jarak pancaran yang pendek sehingga lebih 
baik dalam proses frekuensi re-use. Tampaknya regulator kita di Indonesia masih 
belum menjiwai hal-hal yang dikemukakan oleh Bob.

Hal yang menarik yang di kemukakan oleh Bob Horvitz adalah jika pre-assign 
channels tidak lagi dibutuhkan, jika peralatan dapat secara automatis 
meminimalisasi interferensi, jika radio semakin banyak yang digunakan di 
lingkungan pribadi, jika fleksibilitas dan pengunaan yang adaptif dapat 
mengurangi kelangkaan sementara pendekatan regulator yang memperlambat kemajuan 
teknologi dan menambah kelangkaan .... mengapa kita perlu meregulasi frekuensi?

Bob Horvitz melaporkan beberapa gerakan menarik yang terjadi pada akhir-akhir 
ini, pada bulan September ini. Antara lain, FCC telah menerbitkan "roadmap" 
untuk unlicensed uses dari band TV analog. Europian Union (EU) mulai mengadopsi 
"Collective Use of Spectrum" dan mengusulkan de-licensing dari band Maritime 
Mobile. OFCOM mulai mempelajari kemungkinan untuk unlicensing semua band di 
atas 2x GHz karena toh kemungkinan besar tidak akan menyebabkan interferensi.

Berbeda dengan Bob yang lebih ke top down, saya lebih banyak menceritakan 
teknik bertempur untuk memerdekakan frekuensi yang merupakan pengalaman di 
lapangan berjuang selama 12+ tahun di Indonesia usaha untuk mencerdaskan bangsa 
Indonesia, mencari jalan supaya bangsa Indonesia bisa pandai tanpa banyak 
dukungan dari pemerintah bahkan tidak ada utangan Bank Dunia yang akhirnya 
berhasil membebaskan frekuensi 2.4GHz di Indonesia. Tidak ada negara di dunia 
yang mempunyai sejarah perjuangan panjang seperti di Indonesia. Negara di dunia 
ingin belajar pada bangsa Indonesia tentang proses pembebasan frekuensi 2.4GHz 
dan infrastruktur rakyat seperti RT/RW-net, VoIP Rakyat dll,  Tidak ada negara 
di dunia ini yang mempunyai RT/RW-net & VoIP Rakyat sebesar Indonesia. Mereka 
semua ingin belajar dari Indonesia.

Impact assessment setelah kemerdekaan frekuensi 2.4GHz juga di berikan, 
terlihat jelas bahwa trafik mailing list [EMAIL PROTECTED] markas para 
pembrontah ternyata pada hari ini jauh lebih tinggi daripada sebelum 
kemerdekaan. Terlihat jelas dari top 10 subject diskusi yang ada di Indowli 
bahwa ekonomi sekarang lebih hidup, permohonan sambungan RT/RW-net menjadi 
sesuatu yang biasa, mencari peralatan radio menjadi nyata di Indowli. Kebutuhan 
masyarakat tumbuh dan berkembang setelah di merdekakan 2.4GHz. Memang ada 
masalah karena ada orang-orang & institusi yang tidak bertanggung jawab seperti 
PEMDA dan tampaknya juga PLN yang menggunakan power amplifier secara berlebihan 
di frekuensi 2.4GHz sehingga menghancurkan rakyat biasa yang justru taat hukum.

Kreatifitas Pak e-goen dan rekan-rekan yang mengembangkan wajanbolic saya 
laporkan pada kesempatan tersebut. Wajanbolic e-goen merupakan hasil karya 
nyata tumbuhnya kreatifitas setelah terbukanya frekuensi 2.4GHz. Bagi anda yang 
ingin melihat foto wajanbolic e-goen dapat melihatnya di 
http://pg.photos.yahoo.com/ph/gunpwk/my_photos

Setelah memberikan speech dan panel, moderator dan banyak rekan mengatakan 
bahwa ini adalah sebuah contoh real yang terjadi di lapangan yang mungkin se 
umur hidup mereka di negara barat tidak mungkin mengalaminya. Tidak ada dalam 
kamus negara barat untuk melakukan perjuangan kemerdekaan, melanggar hukum, 
mencuri frekuensi yang demikian nyata. Tidak ada rakyat yang terlihat nyata 
bahu membahu berusaha membangun infrastrukturnya dan berjuang karena memang 
kebutuhan untuk memperoleh akses Internet murah. Di seluruh dunia, perjuangan 
heroik memerdekaan frekuensi dalam skala besar yang melibatkan banyak rakyat 
biasa hanya ada di Indonesia.  Tidak heran sesudah panel banyak rekan-rekan 
yang mengerubungi saya, terutama rekan-rekan dari Brazil karena ternyata mereka 
juga berusaha membangun hal yang sama, walaupun campur tangan pemerintah lebih 
baik di Brazil.

Mudah-mudahan laporan ini dapat menjadi masukan dan trigger bagi rekan-rekan 
seperjuangan di Indonesia bahwa sebetulnya apa yang kita perjuangkan di 
Indonesia bukan sekedar memerdekakan Indonesia tapi juga memerdekaan banyak 
negara berkembang lainnya.

Dunia belajar pada kita, bangsa Indonesia.

        "Freedom is taken. Freedom is never given"
        Wolfgang Coy, WOS4 Information Freedom Rules 2006.

16 September 2006
Onno W. Purbo @ Berlin Jerman



Official Web Site : http://www.awari.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke