Coba bossnya Polisi mau begini semua nih.....
Fokus pada pemberantsan korupsi dimulai dari groupnya sendiri.. BUKAN NYA MALAH 
MEMBERANTAS WARNET dan USAHA KECIL...
Salut deh buat Pak Polisi....

Forward info ini ke semua milis langganan anda biar didengarkan oleh boss2 
polisi di kota lain.

Salam kompak buat AWARI.

Marufin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: To: <[EMAIL PROTECTED]>
From: "Marufin" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 18 Feb 2008 09:45:39 +0700
Subject: [kendal-online] Fw: Re: Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji

                                  
.......
 Kalo semua Gubernur dan Bupati serta Aparat  Kejaksaan, Kehakiman, dll juga 
mencanangkan hal yang baik seperti ini... ..  ...
  
 Kita tentu senang mendengarnya kalo Bupati  Kendal masa depan memiliki 
semangat hebat seperti ini..
 Siapa berani..?!
  

 
                          
                  -------Original Message------- 
         
                           From:          Wawan Irawan 
         Subject: Kapolda Jabar Irjen Pol.          Susno Duadji 
         

         Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji, 

Pikiran Rakyat,          Edisi 10 Februari 2008 

RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen          Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., 
M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di          Satuan Lalu Lintas mulai 
tingkat 
polres hingga polda. Para perwira          Satlantas itu datang ke Mapolda 
Jabar 
sejak pagi karena          diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai 
pukul 16.00 WIB.          

Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10          menit. 
Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya          "galak" dan 
"menyentak". Saking "galaknya", anggota Satlantas harus          ditanya dua 
kali 
tentang kesiapan mereka menjalani perintah          tersebut. 

Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di          Satlantas, baik di 
lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan          SIM, STNK, BPKB, dan 
lainnya). "Tidak perlu ada lagi          setoran-setoran. Tidak perlu ingin 
kaya. 
Dari gaji sudah cukup.          Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi 
pengusaha. Ingat, kita          ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah 
ingin dilayani,"          tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu. 

Pada akhir          acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari 
pangkat AKP          hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan 
bersama.          Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan 
kepada          masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya. 

Susno          memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, 
menyiapkan,          dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan 
masih 
ada          yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan," kata suami dari 
Ny.          
Herawati itu. 

Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini          ada praktik pungli di 
lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara          terorganisasi, mengalir ke 
pimpinan teratas. Genderang perang          melawan pungli yang ditabuh Susno 
tidak lepas dari perjalanan          hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil 
Kepala PPATK (Pusat          Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK 
adalah sebuah          lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi 
Pemberantasan 
Korupsi)          menggiring para koruptor ke jeruji besi. 

Berikut petikan          wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy Suhaeri 
dengan pria          yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar 
menguak          korupsi. 

Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas          pungli atau korupsi? 

Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah          saya, Pak Duadji, bekerja 
sebagai 
seorang supir. Ibu saya, Siti Amah          pedagang kecil-kecilan. Terbayang 
'kan betapa sulitnya membiayai 8          anak dengan penghasilan yang 
pas-pasan. 
Oleh karena itu, saat lulus          SMA saya memilih ke Akpol karena gratis. 

Nah, waktu sekolah,          kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa 
di 
antaranya dari          kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. Sepertinya, 
enak sekali          mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat. Sejak 
itulah,          
terpatri di benak saya, ada yang tidak benar di negara ini dengan          
kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat          
bersyukur 
bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi di PPATK.          Itulah tugas 
saya yang paling berkesan selama ini karena bisa          menjebloskan menteri, 
mantan menteri, dan direktur BUMN, yang          memakan uang rakyat. Ada 
kepuasan batin. 

Pengalaman di PPATK          itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang 
melawan pungli          saat masuk ke Polda Jabar? 

Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya          diubah, bukan pungli. Kalau 
pungli, terkesan perbuatan itu          ketercelaannya kecil. Yang benar adalah 
korupsi. Pungli adalah          korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? 
Karena 
sejak zaman          Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat 
hukum yang          korup. Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa 
memberantas          
korupsi kalau kitanya sendiri korupsi. 

Oleh karena itu,          sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di dalam, 
baru          membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati,   
       
direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi.          
Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini. 

Tahap          awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan 
tertingginya,          
yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat          di 
Polda. Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan seterusnya.          

Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi          di 
Polda 
Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari          polisi yang 
bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari          tukang ketik, 
atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte          kelahiran. Akan 
tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor          itu. 

Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya          macam-macam, 
seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari          
pengusaha-pengusaha 
, mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil          anggaran anggota 
saya. 
Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit          dari dirlantas, direskrim, 
atau kapolwil. Tidak juga mengambil          anggaran mereka, atau uang bensin 
mereka. 

Jadi, kalau di          provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan 
karyawannya,          tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah saja. 
Tinggal          copot saja orang tertinggi di instansi itu. 

Untuk program          "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target sampai 
kapan?          

Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana          kita 
menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan          takut 
nama 
kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam.          Kita tidak akan 
jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi          atau polisi 
berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede          itu di koran. 

Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya          pecat. Jika memang 
saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar          karena semuanya saya 
pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang          harus ditakutkan. 

Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi          bebas dari korupsi. 
Polisi 
itu bukan milik saya, tetapi milik          rakyat. Saya justru merasa lebih 
tidak terhormat kalau memimpin          kesatuan yang anggotanya banyak 
korupsi. 

Berbicara soal          penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus 
korupsi 
bagaikan          mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor Polda 
Jabar          mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu   
       
kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?          

Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu          jauh 
lebih 
mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran.          Mengungkap kasus 
pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena          banyak kemungkinan 
pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang          lewat, dan beberapa 
kemungkinan lainnya. 

Kalau kasus          korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. 
Misal, 
uang          anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke 
mana          
uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi          
itu 
paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan          rekanan. 
Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak          ada yang 
sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu,          kemauan yang 
kuat. 
Harus diakui, itu (memberantas korupsi) memang          susah karena korupsi 
itu 
nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah          jabatan. 

Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau          jadi kapolda. 
Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan          langsung datang. 
Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di          dalamnya (korupsi). Kalau 
saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan          duniawi sesaat saja. Untuk apa 
sih duit banyak-banyak hingga tidak          habis tujuh turunan. Gaji saya 
saja 
sekarang sudah besar. Mobil          dikasih. Bensin gratis. Ada uang tunjangan 
ini-itu. Sudah lebih dari          cukup. Anak-anak saya juga sudah kerja 
semua. 
Bahkan, gajinya lebih          besar dari saya. 

Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar          Polda Jabar giat mengungkap 
kasus korupsi? 

Seperti saya          katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah 
bersih di          dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan 
menjadi          salah satu target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus 
korupsi          biar Jabar bergetar. 

Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan          PPATK untuk mengusut 
kasus-kasus korupsi di Jabar yang melibatkan          pejabat publik. PPATK 
pasti 
mau membantu asalkan anggota saya bersih          dan bisa dipercaya. Kita juga 
bisa diberi kasus-kasus. Kalau tidak          bersih dan tetap "bermain" 
bagaimana bisa dipercaya. Kalau orang          sudah percaya sama kita, maka 
banyak kasus yang masuk. 

Akan          tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi       
   
digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib          
administrasi, salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara          
berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk          apa? 
Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk. 

Jadi,          alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah   
       
perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana          tahu 
isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut,          nantinya ada 
klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda,          polwil, polres, 
dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan          korupsi. Soal lapor 
boleh di mana saja. 

Kita juga harus          mempertanggungjawab kan hal itu ke pelapor dengan 
mengirim surat          kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik 
ini, ini, dan          ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan 
menjadi standar          penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui semua 
ini karena          sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak 
suka 
yang          pabaliut-pabaliut. Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu 
enak          
karena sesuatu yang tidak tertib administrasi itu paling enak untuk          
diselewengkan. Benar tidak? 

Langkah Anda memberantas pungli          dan korupsi di tubuh Polda Jabar 
kemungkinan akan memberi efek pada          pengungkapan kasus dengan alasan 
anggaran yang minim. Menurut Anda?          

Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya.          Kalau 
anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk          menyidik. 
Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di          tempat lain. 
Siapa yang suruh? Bilang saja sama rakyat, anggaran          kita sudah habis 
untuk menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan.          

Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak          perlu 
ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu          kasat 
serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk          melayani 
kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu          saya putus 
agar 
tidak ada lagi sistem setoran. 

Bukan          zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga 
karena          mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau 
         
bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti          pengusaha 
judi, dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong          gajinya hanya 
Rp 
5-6 juta. 

Menurut saya, anggota yang          melakukan itu hanya satu alasannya, ingin 
kaya. Kalau ingin kaya,          jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha. 

Sikap Anda          tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di 
lingkungan          
kepolisian? 

Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra.          Peraturannya sudah jelas mana 
yang boleh dilakukan dan mana yang          tidak boleh. Korupsi jelas-jelas 
dilarang dan ancamannya bisa          dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan. 
Titik. 

Bagi saya,          siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan 
kenikmatan 
dan          kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta    
      
nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan          
petantang-petenteng , tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan          
memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong          kita 
lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan) , sementara          rakyat 
macet. Itu juga korupsi. 

Polisi yang korup sama saja          dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya 
korup dengan menerima          setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya 
dengan pelacur. ***          



         

                                                                                
     
 
     
                               



       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]



Official Web Site : http://www.awari.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke