BERDIALOG DENGAN TERORIS (BELAJAR DARI PENGALAMAN ARAB SAUDI DALAM MENUMPAS 
TERORISME)
Oleh
Ustadz Anas Burhanuddin, MA
http://almanhaj.or.id/content/3160/slash/0

PENGANTAR 
Setan memiliki dua pintu masuk untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Jika 
seseorang banyak melanggar dan berbuat maksiat, setan akan menghiasi maksiat 
dan nafsu syahwat untuk orang tersebut agar tetap jauh dari ketaatan. 
Sebaliknya jika seorang hamba taat dan rajin ibadah, setan akan membuatnya 
berlebihan dalam ketaatan, sehingga merusak agamanya dari sisi ini. Para Ulama 
menyebut godaan jenis pertama sebagai syahwat, dan yang kedua sebagai syubhat. 
Meski berbeda, keduanya saling berkaitan. Syahwat biasanya dilandasi oleh 
syubhat, dan syubhat bisa tersemai dengan subur di ladang syahwat [1] 

Masing-masing dari dua penyakit ini membutuhkan cara penanganan khusus. Imam 
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Godaan syubhat (dapat) ditangkis dengan 
keyakinan (baca: ilmu), dan godaan syahwat ditangkis dengan kesabaran.” [2] 

Untuk menekan penyakit syahwat seperti zina, mabuk, pencurian, dan perampokan, 
agama Islam mensyariatkan hudûd, berupa hukuman-hukuman fisik semacam cambuk, 
rajam dan potong tangan. Islam tidak mensyariatkan hudûd untuk penyakit syubhat 
seperti berbagai bid’ah dan pemikiran menyimpang, karena syubhat tidak mudah 
disembuhkan dengan hudûd, tapi lebih bisa diselesaikan dengan penjelasan dan 
ilmu. Meski demikian, kadang-kadang juga diperlukan hukuman fisik untuk 
menyembuhkan penyakit syubhat dari seseorang.

Mengikis syubhat dan berdiskusi dengan pemiliknya telah dilakukan oleh para 
ulama sejak zaman dahulu. Kadang-kadang mereka melakukannya dengan menulis 
surat, risalah, atau kitab dan kadang-kadang dengan berdialog langsung . Di 
samping melindungi umat dari syubhat yang ada, hal tersebut juga dimaksudkan 
untuk menasihati ‘pemilik’ syubhat agar bisa (mau) kembali ke jalan yang benar.

Khusus pemikiran kelompok Khawarij yang identik dengan terorisme, ada beberapa 
kisah nasihat yang terkenal dari generasi awal umat Islam. Di antaranya kisah 
Sahabat Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu ‘anhu yang mendatangi kaum Khawarij secara 
langsung untuk meluruskan beberapa pemahaman agama mereka yang menyimpang. 
Setelah diskusi yang cukup singkat dengan mereka, sebanyak dua ribu orang 
bertaubat dari kesalahan pemikiran mereka [3] 

Juga tercermin pada kisah Jâbir bin ‘Abdillâh Radhiyallahu ‘anhuma yang 
dikunjungi beberapa orang yang tertarik dengan pemikiran Khawarij dan berencana 
melakukan aksi mereka di musim haji. Mereka bertanya kepada Jâbir Radhiyallahu 
‘anhuma, akhirnya semua rujuk dari pemikiran Khawarij kecuali satu orang saja.

Dua kisah ini menunjukkan bahwa nasehat dan diskusi sangat bermanfaat untuk 
mengobati penyakit syubhat ini. Riwayat tersebut juga menunjukkan bahwa jika 
pemilik syubhat tidak datang sendiri mencari kebenaran –seperti dalam kisah 
sahabat Jâbir-, kita dianjurkan untuk mendatangi mereka, seperti dalam kisah 
sahabat Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu ‘anhuma.

Dalam banyak kasus terorisme di Indonesia, ditemukan banyak pelaku teror yang 
sebelumnya pernah menjadi terpidana kasus terorisme. Setelah di penjara dan 
menjalani hukuman, mereka tidak insaf, namun tetap memegangi pemikiran dan 
perilaku mereka semula. Terlepas dari faktor hidayah, hal tersebut sangat 
mungkin karena penanganan yang salah atau tidak optimal. Kesalahan pemikiran 
yang mereka miliki termasuk dalam kategori syubhat, sehingga hukuman fisik yang 
mereka dapatkan di penjara, atau hukuman sosial berupa pandangan miring 
masyarakat tidak lantas membuat mereka jera dan insaf. Mereka menganggap aksi 
mereka sebagai ibadah (jihad) yang mendekatkan diri mereka kepada Allâh Azza wa 
Jalla dan hukuman yang mereka dapatkan di dunia adalah konsekuensi ketaatan 
yang semakin menambah pundi-pundi pahala mereka.

Kondisi seperti ini menuntut pemerintah dan ulama Ahlus Sunnah untuk memikirkan 
solusi yang lebih baik, agar gerakan terorisme bisa ditekan dengan lebih 
optimal. Tulisan singkat ini menyuguhkan sebuah solusi yang telah terbukti 
mujarab menekan pemikiran dan aksi terorisme berdasarkan pengalaman Kerajaan 
Arab Saudi.

ARAB SAUDI DAN TERORISME
Seperti Indonesia, Arab Saudi adalah salah satu negara yang paling banyak 
dibicarakan saat orang membahas terorisme. Berita kematian Usamah bin Laden 
akhir-akhir ini juga membuat Arab Saudi kembali dibicarakan. Sebelumnya, banyak 
sekali peristiwa seputar terorisme yang telah terjadi di negeri yang membawahi 
dua kota suci umat Islam ini.

Pada 12 Mei 2003, dunia dikejutkan dengan peristiwa peledakan besar di ibukota 
negeri tauhid ini. Pemboman terjadi beriringan di tiga kompleks perumahan di 
kota Riyadh, dan mewaskan 29 orang, termasuk 16 pelaku bom bunuh diri dan 
melukai 194 orang. Pemboman di Wadi Laban (Propinsi Riyadh) pada 8 November 
2003 menewaskan 18 orang dan melukai 225 orang. Pada 21 April 2004, sebuah bom 
bunuh diri meledak di Riyadh dan menewaskan 6 orang dan melukai 144 orang 
lainnya. Sementara pada 1 Mei 2004, 4 orang dari satu keluarga menyerang sebuah 
perusahan di Yanbu’ dan membunuh 5 pekerja bule, dan melukai beberapa pekerja 
lain. Saat dikejar, mereka membunuh seorang petugas keamanan dan melukai 22 
lainnya.

Harian ASHARQ AL-AWSATH telah merangkum peristiwa yang berhubungan dengan 
terorisme di Arab Saudi dalam setahun sejak pemboman 12 Mei 2003, dan melihat 
daftar panjang peristiwa itu, barangkali bisa dikatakan bahwa tidak ada negara 
yang mendapat ancaman teror sebesar dan sebanyak Arab Saudi [4]. Hal ini 
merupakan bantahan paling kuat untuk mereka yang mengatakan bahwa ideologi 
terorismediimpor dari negeri ‘Wahhabi’, karena justru Arab Saudi yang menjadi 
sasaran utama para teroris.

Para teroris juga telah berulang kali menyerang petugas keamanan. Sudah banyak 
petugas keamanan yang menjadi korban aksi mereka. Sudah tidak terhitung lagi 
aksi baku tembak antara teroris dengan petugas keamanan. Kota suci Mekah dan 
Madinah pun tidak selamat dari aksi-aksi ini. Bahkan, ada beberapa tokoh agama 
yang terang-terangan memfatwakan bolehnya aksi-aksi ini. Terlepas dari 
objektivitas Amerika dan sekutunya, warga negara Arab Saudi termasuk penghuni 
terbesar kamp penjara Amerika Serikat di Teluk Guantanamo.

Tapi, tampaknya hal itu sudah menjadi masa lalu. Isu terorisme di Arab Saudi 
dalam beberapa tahun belakangan didominasi oleh keberhasilan pemerintah 
menggagalkan aksi-aksi terorisme, penyergapan-penyergapan dini, rujuknya para 
mufti aksi terorisme dan taubatnya orang-orang yang pernah terlibat aksi yang 
mengerikan tersebut.

Di samping itu, ada kampanye besar-besaran melawan terorisme yang dilakukan 
pemerintah melalui berbagai media massa, penyuluhan-penyuluhan, 
seminar-seminar, khutbah dan ceramah, sehingga saking gencarnya barangkali 
terasa membosankan. Selain petugas keamanan yang telah bekerja keras, ada satu 
lembaga yang menjadi primadona dalam kampanye penanggulangan terorisme di Arab 
Saudi, yaitu Lajnah al-Munâshahah (Komite PenasEhat).

APA ITU LAJNAH AL-MUNASHAHAH?
Lajnah al-Munâshahah yang berarti Komite Penasehat mulai dibentuk pada tahun 
2003 dan bernaung dibawah Departemen Dalam Negeri (di bawah pimpinan Deputi II 
Kabinet dan Menteri Dalam Negeri, Pangeran Nayif bin Abdul Aziz) dan Biro 
Investigasi Umum. Tugas utamanya adalah memberikan nasihat dan berdialog dengan 
para terpidana kasus terorisme di penjara-penjara Arab Saudi. Lajnah 
al-Munâshahah memulai aktivitasnya dari Riyadh sebagai ibukota, kemudian 
memperluas cakupannya ke seluruh wilayah Arab Saudi [5]

Lajnah al-Munâshahah terdiri dari 4 komisi, yaitu:
1. Lajnah ‘Ilmiyyah (Komisi Ilmiah) yang terdiri dari para ulama dan dosen ilmu 
syariah dari berbagai perguruan tinggi. Komisi ini yang bertugas langsung dalam 
dialog dan diskusi dengan para tahanan kasus terorisme.

2. Lajnah Amniyyah (Komisi Keamanan) yang bertugas menilai kelayakan para 
tahanan untuk dilepas ke masyarakat dari sisi keamanan, mengawasi mereka 
setelah dilepas, dan menentukan langkah-langkah yang diperlukan jika ternyata 
masih dinilai berbahaya.

3. Lajnah Nafsiyyah Ijtima’iyyah (Komisi Psikologi dan Sosial) yang bertugas 
menilai kondisi psikologis para tahanan dan kebutuhan sosial mereka .

4. Lajnah I’lamiyyah (Komisi Penerangan) yang bertugas menerbitkan materi 
dialog dan melakukan penyuluhan masyarakat [6] 

TEKNIK DIALOG
Hampir tiap hari Lajnah al-Munâshahah bertemu dengan para tahanan kasus 
terorisme. Kegiatan memberi nasihat ini didominasi oleh dialog terbuka yang 
bersifat transparan dan terus terang. Sesekali dialog tersebut diselingi dengan 
canda tawa yang mubah (bersifat diperbolehkan syariat) agar para tahanan merasa 
tenang dan menikmati dialog.

Ada juga kegiatan daurah ilmiah berupa penataran di kelas-kelas dengan 
kurikulum yang menitikberatkan pada penjelasan syubhat-syubhat para tahanan, 
seperti masalah takfir (vonis kafir), wala’ wal bara’ (loyalitas keagamaan), 
jihad, bai’at, ketaatan kepada pemerintah, perjanjian damai dengan kaum kafir 
dan hukum keberadaan orang kafir di Jazirah Arab [7]

Kegiatan dialog biasanya dilakukan setelah Maghrib dan kadang berlangsung 
sampai larut malam. Agar efektif, dialog tidak dilakukan secara kolektif, tapi 
satu persatu. Hanya satu tahanan yang diajak berdialog dalam setiap kesempatan 
agar ia bisa bebas dan leluasa berbicara, dan terhindar dari sisi negatif 
dialog kolektif.

Pada awalnya, banyak tahanan yang takut untuk berterus terang mengikuti program 
dialog ini, karena mereka menyangka bahwa dialog ini adalah bagian dari 
investigasi dan akan berdampak buruk pada perkembangan kasus mereka. Namun 
begitu merasakan buah manis dialog, mereka sangat bersemangat dan 
berlomba-lomba mengikutinya [8]

Mereka segera menyadari, bahwa dialog ini justru menguntungkan mereka. Sebagian 
malah meminta agar mereka sering diajak dialog setelah melihat keterbukaan 
dalam dialog dan penyampaian yang murni ilmiah (dipisahkan dari investigai 
kasus) dan bermanfaat dalam meluruskan pemahaman salah (syubhat) yang melekat 
pada pikiran mereka. Rupanya, mereka telah menemukan bahwa ilmulah obat yang 
mereka cari, dan mereka pun dengan senang hati mereguknya. [9]

Pada umumnya, mereka memiliki tingkat pendidikan rendah, tapi memiliki 
kelebihan pada cabang ilmu yang mereka minati. Mereka –yang sekitar 35 % pernah 
tinggal di wilayah konflik- mudah termakan oleh pemikiran dan fatwa yang 
menyesatkan. Ketika dihadapkan pada ulama yang mumpuni dan memiliki ilmu yang 
benar, mereka menyadari kesalahan pemahaman mereka. Melalui dialog ini, Lajnah 
al-Munâshahah menjelaskan pemahaman yang benar terhadap dalil, membongkar 
dalil-dalil yang dipotong atau nukilan-nukilan yang tidak amanah [10]

Setelah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, banyak tahanan yang menyatakan 
bahwa selama ini seolah-olah mereka mabuk. Banyak yang mengaku bahwa mereka 
mulai mengenal pemikiran terorisme dari kaset-kaset “Islami” (tentu saja Islam 
berlepas diri darinya), ceramah-ceramah yang menggelorakan semangat dan 
menyentuh emosi keagamaan mereka, juga fatwa-fatwa penganut terorisme. Tambahan 
gambar-gambar, cuplikan-cuplikan audio-visual dan tambahan efek pada kaset dan 
video ikut berpengaruh memainkan perasaan. Hal ini jika tidak dikelola dengan 
baik bisa menjadi badai yang berbahaya.

Rekaman-rekaman seperti inilah sumber ‘ilmu’ mereka, dan oleh karenanya 
disebarkan dengan intens di internet oleh pengusung pemikiran teror. Setelah 
mereka jatuh dalam perangkap pemikiran ini, biasanya mereka dilarang untuk 
mendengarkan siaran radio al-Quran al-Karim, radio pemerintah yang didukung 
penuh oleh para ulama besar Arab Saudi. Hal ini dimaksudkan untuk memutus akses 
para pemuda ini dari para ulama [11]. 

PROGRAM DAN SARANA PENUNJANG
Program dialog juga ditunjang dengan pemenuhan kebutuhan fisik para tahanan. 
Berbeda dengan metode Guantanamo yang menyiksa, para tahanan justru diberikan 
keleluasaan dalam memenuhi kebutuhan gizi mereka dan melakukan kegiatan 
refreshing.

Akses kunjungan keluarga dibuka lebar-lebar, karena hubungan yang baik dengan 
keluarga adalah faktor penting yang mendorong mereka keluar dari pemikiran 
rancu mereka. Bahkan saat dilepas, pemerintah memberikan mereka rumah, 
membiayai kebutuhan anak-anak mereka, bahkan membantu menikahkan mereka yang 
belum menikah. Intinya, mereka dibuat sibuk dengan tanggung- jawab keluarga, 
sehingga tidak lagi tergoda untuk kembali ke aktivitas negatif yang dahulu 
mereka lakukan atau persahabatan buruk yang membuat mereka jatuh dalam syubhat. 
Keluarga mereka juga mendapat arahan khusus untuk mendukung program ini dan 
menjaga agar keberhasilan munâshahah di penjara tidak pudar di rumah [12] 

Sebelum dilepas kembali ke masyarakat, para tahanan ditempatkan di pusat-pusat 
pembinaan berupa villa-villa peristirahatan tertutup yang memiliki fasilitas 
lengkap berupa kelas-kelas pembinaan dan sarana olahraga. Di pusat pembinaan 
yang dinamai Prince Mohammed bin NayifCenter for Advice and Care ini, program 
dialog tetap berjalan, ditambah kegiatan-kegiatan pemasyarakatan seperti 
pelatihan seni rupa dan kursus ketrampilan berijazah. Secara berkala, mereka 
juga diberi kesempatan untuk berkunjung ke rumah keluarga mereka untuk jangka 
waku tertentu dengan pengawasan [13]

SANGAT BERHASIL, MESKIPUN KADANG GAGAL 
Program munâshahah ini telah mencapai keberhasilan yang luar biasa. Banyak 
teroris yang berhasil diluruskan kembali pemikiran dan akidahnya, sehingga bisa 
kembali diterima masyarakat. Hanya sedikit sekali yang yang kembali ke jalan 
terorisme dari ribuan orang telah mengikuti dialog.

Seorang bernama Zabn bin Zhahir asy-Syammari, eks tahanan Guantanamo yang telah 
mengikuti program munâshahah mengatakan, bahwa program ini telah berhasil 
dengan baik dan orang-orang yang mengikutinya telah memetik faidah yang besar. 
Tidak lupa, ia mengucapkan terima kasih atas diadakannya program yang penuh 
berkah ini [14] 
Tapi seperti usaha manusia yang lain, dialog ini juga kadang menemui kegagalan. 
Salah satu kegagalan yang masyhur adalah kembalinya 7 eks tahanan Guantanamo ke 
pemikiran mereka selepas dari penjara. Allâh Azza wa Jalla tidak membukakan 
hati mereka untuk nasehat yang telah disampaikan. Sebabnya, bisa jadi karena 
pemikiran takfir sudah mendarah-daging pada diri mereka, atau tidak terwujudnya 
beberapa faktor pendukung dalam dialog. Ada juga yang berpura-pura setuju 
dengan apa yang disampaikan Lajnah Munâshahah secara lahir saja, tanpa 
kesungguhan batin [15] 

Menurut ‘Abdul ‘Azîz al-Khalîfah, anggota Lajnah al-Munâshahah, ada tahanan 
yang penyimpangannya karena ketidaktahuan atau karena terpedaya. Orang seperti 
ini akan mudah diajak dialog dan cepat menyadari kesalahan. Ada juga yang 
penyimpangannya terbangun di atas prinsip yang menyimpang atau kesesatan yang 
sudah lama dipeluknya. Yang demikian lebih sulit dan membutuhkan usaha ekstra 
[16] 

Namun, kegagalan kecil ini tidaklah mengurangi kegemilangan Kerajaan Arab Saudi 
dalam menumpas terorisme. Bagi pemerintah Arab Saudi, pemikiran tidak cukup 
dihadapi dengan senjata, tapi juga harus dilawan dengan pemikiran [17]. Dunia 
internasional pun mengakui keberhasilan ini. Masyarakat dunia menyebutnya 
sebagai “Strategi Halus Saudi” atau “Kekuatan yang Lembut”. Sudah banyak pula 
negara yang belajar dari pengalaman Arab Saudi dan mentransfernya ke negara 
mereka [18] 

PENUTUP : BAGAIMANA DENGAN INDONESIA?
Banyak kesamaan antara Indonesia dan Arab Saudi. Keduanya adalah negara dengan 
penduduk mayoritas muslim, dan pemerintahnya sama-sama divonis kafir oleh para 
pengusung paham terorime. Para tokoh teror Indonesia juga banyak terpengaruh 
oleh para tokoh takfiri dari dunia Arab, yang banyak ditemui di wilayah-wilayah 
konflik dunia. Bagaimanapun, bangsa Arab tetap paling berpengaruh dalam ilmu 
agama Islam, baik ilmu yang benar ataupun yang salah. Karena itu, apa yang 
telah berhasil dipraktikkan di Arab Saudi Insyâ Allâh juga akan berhasil di 
Indonesia. Pemerintah RI perlu belajar dari keberhasilan ini dan mentransfernya 
ke bumi pertiwi, agar fitnah terorisme yang telah merusak citra Islam segera 
hilang atau paling tidak bisa ditekan secara berarti. Pemikiran harus dilawan 
dengan pemikiran, bukan dengan peluru! Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XV/1432/20011M. Penerbit Yayasan 
Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 
57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Bi Ayyi 'Aqlin wa Dîn Yakûnu at-Tafjîru Jihâdan?, Syaikh ‘Abdul Muhsin 
al-‘Abbâd, hlm. 3, at-Tahdzîr min asy-Syahawât, ceramah Dr. Sulaimân ar-Ruhaili
[2]. Ighâtsatul Lahafân, Ibnul Qayyim, 2/167
[3]. Sunan al-Baihaqi8/179
[4]. Harian ASHARQUL- AUSATH edisi 9297, 12 Mei 2004
[5]. Wawancara Dr. Ali an-Nafisah, Dirjen Penyuluhan dan Pengarahan Kemendagri 
Arab Saudi di Harian al-Riyâdh edisi 13.682
[6]. Markaz Muhammad bin Nayif lil Munâshahah, Su'ud ‘Abdul Aziz Kabuli, Harian 
al-Wathan edisi 3.257
[7]. Taqrir: Markaz Muhammad bin Nayif lir Ri'âyah asy-Syâmilah wal Munâshahah, 
assakina.com, Markaz Muhammad bin Nayif lil Munâshahah, Su'ud ‘Abdul ‘Aziz 
Kabuli, Harian al-Wathan edisi 3.257
[8]. Wawancara Dr. Ali an-Nafisah, Harian al-Riyâdh, edisi 13.682
[9]. Wawancara Dr. Ali an-Nafisah, Harian al-Riyâdh, edisi 13.682
[10]. Wawancara Dr. Ali an-Nafisah, Harian al-Riyâdh, edisi 13.682
[11]. Taqrir: Markaz Muhammad bin Nayif lir Ri'âyah asy-Syâmilah wal 
Munâshahah, assakina.com, Wawancara Dr. Ali an-Nafisah di Harian al-Riyâdh 
edisi 13.68.
[12]. Markaz Muhammad bin Nayif lil Munâshahah, Su'ud Abdul Aziz Kabuli, Harian 
al-Wathan edisi 3.257
[13]. Taqrir: Markaz Muhammad bin Nayef lir Ri'âyah asy-Syâmilah wal 
Munâshahah, assakina.com
[14]. Harian al-Riyâdh edisi 14.848, Taqrir: Markaz Muhammad bin Nayef lir 
Ri'âyah asy-Syâmilah wal Munâshahah, assakina.com
[15]. Harian al-Riyâdh, edisi 14.848
[16]. Harian al-Riyâdh, edisi 14.848.
[17]. Markaz Muhammad bin Nayef lil Munâshahah, Su'ud ‘Abdul ‘Aziz Kabuli, 
Horan al-Wathan, edisi 3.257
[18]. Koran al-Riyadh edisi 15.042                                        

Kirim email ke