Ketahuilah wahai saudaraku, membela dan mempertahankan Sunnah Nabi Shalallohu 'alaihi wasallam merupakan Jihad yang besar, khususnya pada zaman kita sekarang ini.
Kalau Yahya bin Ma'in seorang Amirul Mukminin fil Hadits, Imamnya para jarh wat ta'dil saja telah mengatakan pada zaman beliau masih hidup (beliau wafat tahun 233 H) " Mempertahankan dan mengadakan pembelaan terhadap sunnah (Nabi) lebih utama dari jihad Fisabilillah (perang) Lalu sekarang....?pada zaman ini...?Apakah yang akan kita katakan setelah berlalu tiga belas abad dari zaman Ibnu Ma'in ini? Sekarang simaklah dan perhatikanlah baik-baik sedikit dari sekian banyak perkataan para Imam dalam menyingkap keadaan Rawi,mana yang Tsiqah dan mana yang dhaif? 1. Abdullah bin Mubarak seorang tabi-ut tabi'in amirul mukminin fil hadist pernah menerangkan keadaan rawi, lalu beliau Rahimahululloh berkata " Dia seorang pembohong." Kemudian beliau ditegur oleh seorang laki-laki, " Wahai Abu Abdirrahman, kamu telah melakukan ghibah (menggunjing)!" Abdullah bin Mubarak kemudian menjawab dengan jawaban yang patut dicatat dengan tinta emas, karena jawaban beliau dikemudian hari menjadi kaidah umum tentang ilmu jarh wat ta'dil. "Diamlah engkau! Apabila kami tidak menjelaskan (keadaan Rawi) bagaimana dapat diketahui yang haq dan yang batil?" Dalam riwayat lain Abdullah bin Mubarak pernah menerangkan keadaaan seorang rawi yang bernama al-Mua'alla bin Hilal, sebagai pembohong. Lalu sebagian dari kaum suffiyah telah menegur beliau, " Hai Abu Abdirrahman engkau telahmelakukan ghibah!" Maka Abdullah bin Mubarak menjawab seperti tersebut di atas. 2. Kemudian dari Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal yang dijuluki para Ulama sebagai Imam Ahlus Sunnah Wal jama'ah pernah ditanya oleh seorang yang bernama Muhammad bin Bundar, " Wahai Abu Abdillah, sessungguhnya sangatlah memberatkan saya untuk mengatakan bahwa si Fulan itu adalah seorang pendusta?" Imam Ahmad menjawab dengan jawaban yang sama dengan jawaban Abdullah bin Mubarak yang patut dicatat dengan tinta emas, karena jawaban beliau menjadi kaidah umum tentang ilmu jarh wat ta'dil, "Apabila engkau diam dan akupun diam (dari menjelaskan tercelanya seorang rawi demikian juga ta'dilnya), maka kapankah orang jahil dapat mengetahui (hadits) yang shahih dari (hadits) yang sakit (dhaif) Dan perkataan ini bukanlah Ghibah sebagaimana telah dituduhkan oleh orang-orang yang tidak tahu tentang ilmu yang mulia ini. Karena tujuan atau maksud dari para Imam ahli hadits dalam men jarh rawi adalah menyampaikan nasehat demi membela agama islam agar tidak kemasukan sesuatu yang tidak berasal dari Agama. Ibnu `Ulayyah pernah berkata tentang jarh (menerangkan cacat dan cela seorang rawi hadits), " Sesungguhnya ini adalah amanat dan bukan Ghibah." Bilal Al Lahaty Tribudi Sumber: Bagaimana cara Allah menjaga & memelihara Sunnah, disusun oleh Ustadz Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafizuhulloh, dari majalah Assunnah edisi 09/thnXV/Shafar1433H/Januari 2012M hal 28 & 29 ------------------------------------ Website anda http://www.almanhaj.or.id Berhenti berlangganan: [email protected] Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
