MEMILIHKAN KISAH YANG MENDIDIK
Oleh
Ustadz Abu Sa’ad Muhammad Nurhuda
http://almanhaj.or.id/content/2626/slash/0

Kisah, keterkaiatannya dengan pendidikan anak, memiliki peran yang sangat 
penting, lantaran kisah juga merupakan salah satu metode pengajaran. Dalam 
Al-Qur`an, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengajarkan berbagai kisah dari 
umat-umat terdahulu. Sehingga secara langsung bisa dipahami, bahwa Islam 
memberikan perhatian yang besar terhadap masalah ini, yaitu dengan menyebutkan 
kisah-kisah yang mendidik dan bermanfaat sebagai metode dalam menyampaikan 
pengajaran. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mencontohkan kisah 
tentang Luqman Al-Hakim yang memberi wasiat kepada anaknya dengan wasiat yang 
sangat penting dan berharga.[1]

Demikian semestinya yang diterapkan dalam mendidik anak, ialah dengan 
mendasarkan kepada wahyu, yaitu Al-Kitab dan juga As-Sunnah. Karena dalam dua 
sumber tersebut terdapat kebaikan, kesempurnaan, dan tepat bagi manusia. 
Bukankah jika memperhatikan Al-Qur`an dan As-Sunnah, kita mendapatkan 
keterangan yang jelas kandungan kisah-kisah yang disebutkan di dalamnya?

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ 

"Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang 
bertakwa".[Al-Baqarah/2:2].

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ 
عَلَيْكَ

"Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang 
mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka 
kepadamu . . ." [An-Nisa/4:164].

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا 
يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ 
وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang 
yang mempunyai akal. Al-Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan 
tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala 
sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman". 
[Yusuf/12:111].

Inilah di antara metode yang digunakan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah dalam 
masalah pengajaran, yaitu dengan menuturkan kisah-kisah teladan. Kita dapatkan 
bahwasanya memberi nasihat dengan menuturkan cerita-cerita yang menarik, akan 
memberikan pengaruh yang besar pada jiwa anak-anak, apalagi jika sang 
penuturnya juga mempunyai cara yang menarik dalam menyampaikannya, sehingga 
mampu mempesona dan memberikan pengaruh mendalam bagi yang mendengarnya. Karena 
ciri khas kisah-kisah teladan, ia mampu memberikan pengaruh bagi yang 
membacanya maupun yang mendengarkannya. Oleh karenanya, sepatutnya sebagai 
pendidik, juga memberikan perhatian ketika menerapkan metode ini. 

Terlebih lagi, di tengah masyarakat sejak dahulu telah merebak berbagai kisah 
ataupun hikayat yang tidak diketahui asal-usulnya. Banyaknya cerita fiktif dan 
sarat dengan kedustaan yang dijadikan sebagai sandaran dalam memberikan 
pengajaran kepada manusia umumnya, dan khusus kepada anak-anak. Kisah-kisah 
fiktif ini telah mempengaruhi pola pikir anak-anak kita. Misalnya menjadikan 
para penjahat sebagai pahlawan, dan orang-orang yang buruk perangainya menjadi 
sang pemenang, ataupun orang-orang fasik menjadi idola. Ini merupakan kejahatan 
terhadap anak-anak kita, dan cepat atau lambat akan menumbuhkan dampak buruk 
bagi anak didik kita. 

MEWASPADAI KISAH-KISAH BURUK
Melihat merebaknya kisah-kisah fiktif dan dusta tersebut, maka layaklah jika 
kita mewaspadai adanya pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh cerita-cerita 
tersebut. Yang lebih memprihatinkan lagi, ternyata kisah-kisah atau 
hikayat-hikayat tersebut dipenuhi dengan kemungkaran dan kemusyrikan, sehingga 
kita harus berhati-hati dan bersikap kritis. Misalnya sebagai berikut.

1. Cerita-Cerita Yang Menimbulkan Rasa Takut Dan Cemas. 
Misalnya: cerita-cerita horor, hantu, makhluk yang menakutkan dan lain-lain. 

Cerita-cerita seperti ini berpengaruh buruk pada diri anak-anak dan memunculkan 
sifat pengecut, tidak membentuk anak menjadi seorang yang pemberani. Anak akan 
terpengaruh dengan cerita yang ia dengar walaupun cerita tersebut telah 
berakhir. Pikiran anak akan selalu sibuk berkhayal adanya makhluk yang selalu 
mengikutinya, dan ia terus dihantui dengan rasa takut. Kekalutan ini akan 
mempengaruhi kepribadiannya, dan ia menjadi pribadi yang labil. Padahal kita 
semestinya membentuk pribadi anak menjadi pemberani dan berkepribadian kuat, 
bukan menjadi umat yang lemah dan penakut.

2. Cerita-Cerita Rakyat Yang Berisi Kedustaan, Khurafat, Mitos Dan Khayalan. 
Sebagai misal : hikayat Malin Kundang, Sangkuriang, kisah kancil dan buaya, dan 
sebagainya.

Cerita-cerita klasik sejenis ini sangat banyak kita dapatkan di tengah 
masyarakat. Semuanya menceritakan hal-hal yang sulit diterima akal sehat dan 
dipenuhi kedustaan, bahkan mengarah kepada keyakinan syirik. 

Ini juga akan membentuk pribadi anak sehingga senang untuk mempercayai hal-hal 
yang dusta, tidak masuk akal, tidak sesuai dengan kondisi riil, bahkan mustahil 
akan terjadi. Misalnya kisah Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu, 
Sangkuriang yang hendak mengawini ibunya sendiri atau kancil yang licik, suka 
menipu. Sungguh tak mustahil, kisah-kisah seperti ini telah memberikan pengaruh 
buruk pada anak-anak kita.

3. Cerita-Cerita Yang Lebih Menunjukkan Kekuatan Badan Daripada Akal. 
Misalnya: kisah Tarzan, Superman, Spiderman dan lainnya. 

Semua kisah-kisah seperti ini menceritakan bahwa tidak ada jalan untuk 
menyelesaikan masalah, kecuali dengan kekuatan dan kekerasan. Maka kisah 
semacam ini pun akan membentuk jiwa anak-anak menjadi jiwa yang suka 
bermusuhan, mengutamakan kekuatan badannya dari pada akalnya. Di samping itu, 
kisah-kisah ini telah menanamkan khayali pada anak. Lantaran apa yang dilakukan 
oleh tokoh-tokoh utama tersebut sangat tidak mungkin mewujud dalam kenyataan. 

4. Cerita-Cerita Yang Mengunggulkan Kekuatan Jahat Dan Mengagungkannya. 
Contohnya: orang zhalim berhasil mengalahkan orang-orang yang baik, penjahat 
berhasil memperdayai polisi.

Kisah semacam ini dituturkan kepada anak-anak dengan alasan untuk menjelaskan 
tentang perilaku-perilaku jahat, akan tetapi alasan ini melupakan tabiat 
anak-anak yang suka meniru apa yang ia lihat atau ia dengar. Yang pada 
akhirnya, kita banyak mendengar kejadian-kejadian mengerikan yang dilakukan 
oleh anak-anak, karena mencontoh yang mereka lihat atau yang mereka dengar.

5. Kisah-kisah yang berisi hinaan, celaan atau merendahkan orang lain, juga 
gangguan kepada orang yang lebih tua dengan berbagai perbuatan usil, bahkan 
hinaan kepada orang yang mempunyai cacat pada tubuhnya, seperti buta, dengan 
membuatnya jatuh di lobang atau semisalnya, tanpa memikirkan pengaruh buruk 
pada anak yang melihatnya. 

Contoh paling nyata cerita-cerita seperti ini, yaitu film kartun Tom and Jery. 
Film ini sangat terkenal di kalangan anak-anak, bahkan orang dewasa. Akan 
tetapi, jika dilihat dari sisi pendidikan, film ini sangat merusak. Karena 
memberikan gambaran perilaku yang buruk pada anak-anak, ketidak sopan-santunan, 
usil dan nakal. Pada gilirannya, tak mustahil perilaku dalam film ini akan 
ditiru dan dipraktekkan kepada orang-orang di sekitarnya, dan sebagai sebab 
munculnya perasaan lebih unggul di bandingkan yang lainnya. 

Demikian juga film ini mengisyaratkan adanya perbuatan yang bersifat 
merendahkan bangsa lainnya, seperti bangsa kulit hitam. Sehingga dapat 
menimbulkan perasaan dengki, dendam dan juga perselisihan yang berkepanjangan. 
Demikian gambaran kisah-kisah yang ditampilkan di hadapan anak-anak kita, yang 
maksud dan tujuannya untuk mendidik, akan tetapi justru sebaliknya, yaitu tidak 
mendidik, bahkan merusak dan menimbulkan dampak negatif pada perkembangan 
kejiwaan anak-anak. [2]

HADIRKAN KISAH-KISAH TELADAN
Setelah mengetahui kandungan dan kemungkinan munculnya dampat negatif dari 
kisah-kisah fiktif tersebut, maka menjadi kewajiban kita untuk mengarahkan 
anak-anak agar menjauhi kisah-kisah fiktif dan penuh kedustaan tersebut. 
Kemudian mereka didekatkan dengan kisah-kisah teladan penuh hikmah. Misalnya 
kisah tentang para nabi Allah. Kisah-kisah teladan inilah yang semestinya 
mewarnai kehidupan anak-anak kita.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

"Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah 
petunjuk mereka". [Al-An'am/6:90].

Seperti halnya kisah Nabi Yunus Alaihissalam ketika berada di dalam perut ikan 
paus, Nabi Sulaiman Alaihissalam dengan burung Hud-Hud, juga kisah Nabi Yusuf 
Alaihissalam dengan saudara-saudaranya. Demikian pula kisah Nabi Musa 
Alaihissalam dengan Khidir, dan kisah-kisah lainnya. 

Begitu juga anak harus didekatkan dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam. Dari sirah beliau ini, kita dapat memetik banyak pelajaran, sejak 
beliau masih di dalam kandungan, kemudian bapak beliau meninggal, sehingga 
beliau lahir dalam keadaan yatim, dan seterusnya. Banyak pula 
peristiwa-peristiwa besar yang beliau lewati, sehingga membawa perubahan besar 
bagi umat manusia. Begitu juga dengan kisah-kisah yang beliau tuturkan dalam 
hadits-hadist yang shahih. Sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو 
اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik 
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari 
Kiamat dan dia banyak menyebut Allah" [Al-Ahzab/33:21].

Demikian juga kita bisa menuturkan kepada anak-anak dengan kisah-kisah para 
sahabat Nabi, sebagaimana yang dipaparkan oleh seorang penyair:

Jika kalian tidak bisa menjadi seperti mereka, (maka) contohlah mereka!
Karena sesungguhnya, meneladani orang-orang mulia, merupakan keutamaan.

Sebagai contoh, kisah yang disebutkan dalam sirah 'Umar bin 'Abdil-'Azis (Juz 
1, hlm 23). Yaitu kisah Amirul-Mukminin 'Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu 
dengan seorang wanita. Tatkala Khalifah 'Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu 
memegang tampuk pemerintahan, beliau melarang mencampur susu dengan air. 

Awal kisah, pada suatu malam Khalifah 'Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu 
pergi ke daerah pinggiran kota Madinah. Untuk istirahat sejenak, bersandarlah 
beliau di tembok salah satu rumah. Terdengarlah oleh beliau suara seorang 
perempuan yang memerintahkan anak perempuannya untuk mencampur susu dengan air. 
Tetapi anak perempuan yang diperintahkan tersebut menolak dan berkata: 
"Bagaimana aku hendak mencampurkannya, sedangkan Khalifah 'Umar melarangnya?" 

Mendengar jawaban anak perempuannya, maka sang ibu menimpalinya: "Umar tidak 
akan mengetahui." 

Mendengar ucapan tersebut, maka anaknya menjawab lagi: "Kalaupun 'Umar tidak 
mengetahui, tetapi Rabb-nya pasti mengetahui. Aku tidak akan pernah mau 
melakukannya. Dia telah melarangnya." 

Kata-kata anak wanita tersebut telah menghunjam ke dalam hati 'Umar. Sehingga 
pada pagi harinya, anaknya yang bernama 'Ashim, beliau panggil untuk pergi ke 
rumah wanita tersebut. Diceritakanlah ciri-ciri anak tersebut dan tempat 
tinggalnya, dan beliau berkata: "Pergilah, wahai anakku dan nikahilah anak 
tersebut," maka menikahlah 'Ashim dengan wanita tersebut, dan lahirlah seorang 
anak perempuan, yang darinya kelak akan lahir Khalifah 'Umar bin 'Abdil 'Azis.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut ialah sebagai berikut.
- Kesungguhan salaf dalam mendidik anak-anak mereka.
- Selalu menanamkan sifat muraqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah 
Azza wa Jalla, baik ketika sendiri atau ketika bersama orang lain.
- Tidak meresa segan untuk memberikan nasihat kepada orang tua.
- Memilihkan suami yang shalih atau istri yang shalihah bagi anak-anaknya.

Penggalan kisah ini hanya sekedar contoh, bagaimana cara kita mengambil 
pelajaran berharga dari sebuah kisah, kemudian menanamkannya pada anak-anak 
kita, dan masih banyak contoh lainnya, baik di dalam Al-Qur`an maupun Al-Hadits 
yang bisa digali dan jadikan sebagai kisah-kisah yang layak dituturkan kepada 
anak-anak kita.

PELAJARAN DAN KEUTAMAAN KISAH-KISAH TELADAN
Kisah-kisah teladan mempunyai keistimewaan yang sangat berbeda dengan 
kisah-kisah fiktif maupun mitos, yaitu dari sisi kebenarannya, dan sesuai 
dengan kenyataan yang ada. Di dalamnya juga terkandung tujuan-tujuan mulia. 

1. Kisah mampu memberikan peran yang penting dalam menarik perhatian, 
mengembangkan pikiran dan akal anak. Karena dengan mendengarkannya, dapat 
mendatangkan kesenangan dan kegembiraan. 

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terbiasa membawakan kisah di hadapan para 
sahabat, baik yang muda maupun yang tua. Mereka mendengarkan dengan penuh 
perhatian terhadap kisah yang dituturkan beliau, berupa berbagai peristiwa yang 
terjadi pada masa lampau, agar bisa mengambil pelajaran darinya, baik oleh 
orang-orang sekarang maupun sesudahnya hingga hari Kiamat

2. Kisah-kisah tersebut bisa membangkitkan kepercayaan anak-anak terhadap 
sejarah tokoh yang menjadi tauladan mereka. Sehingga akan menambah semangat 
untuk maju, serta membangkitkan semangat ke-islaman mereka agar lebih mendalam 
dan menggelora.

3. Kisah-kisah para ulama yang mengamalkan ilmunya, demikian juga kisah-kisah 
orang-orang shalih merupakan sarana terbaik untuk menanamkan berbagai sifat 
utama pada diri anak-anak, serta mendorongnya untuk siap mengemban berbagai 
kesulitan untuk meraih tujuan mulia dan luhur.

4. Kisah-kisah teladan juga akan membangkitkan anak-anak untuk mengambil 
teladan dari orang-orang yang mempunyai tekad kuat dan mau berkorban, sehingga 
ia akan terus naik menuju derajat yang tinggi dan terhormat. 

5. Tujuan utama menuturkan kisah-kisah teladan tersebut, yaitu untuk mendidik 
dan membersihkan jiwa, bukan hanya sekedar untuk bersenang-senang atau 
menikmati kisah-kisah itu saja.

Oleh karena itulah, cerita juga memiliki peran sangat penting dalam mencapai 
tujuan-tujuan mulia tersebut. Sehingga Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga 
banyak memaparkan kisah orang-orang terdahulu kepada para sahabatnya, untuk 
kemudian diambil pelajaran dan peringatan darinya. Kebiasaan beliau n dalam 
berkisah, beliau mendahului dengan uangkapan “telah terjadi pada orang-orang 
sebelum kalian", kemudian beliau n menuturkan kisah tersebut, dan para sahabat 
mendengarkannya dengan seksama sampai selesai. Dalam hal ini, beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam menerapkan metode Ilahi, sebagaimana firman-Nya 
Azza wa Jalla.

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

"Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir". 
[Al-A’raaf/7:176]. 

Para sahabat pun mengambil pelajaran pada setiap kisah yang dituturkan Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka mendapatkan manfaat dari sisi pendidikan 
dan akhlak, sebagai bekal yang berguna bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka. 

Demikianlah semestinya seorang anak dibiasakan hidup dalam nuansa kisah-kisah 
yang pernah dibawakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sirah Nabi dan juga 
kisah-kisah dalam Al-Qur`an, agar ia terbiasa hidup dalam nuasa iman dan suri 
teladan yang utama, sehingga keimanannya semakin hari semakin kokoh. Wallahu 
a’lam. 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote 
[1]. Kaifa Nurabbi Auladana wa Mâ Huwa Wajib Al-Aba-i Wal-Abna’, hlm. 2.
[2]. Lihat kitab At-Tarbiyyah bil-Qishashi, hlm. 5, dengan beberapa perubahan. 
[3]. Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah li-Thifli, hlm. 339.                     
                  

Kirim email ke