Keenam belas:
AHLUS MENOLAK KEYAKINAN WAHDATUL WUJUD

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://almanhaj.or.id/content/3257/slash/0


Keyakinan wahdatul wujud[1] (meyakini bahwa semua yang ada ini hanya
satu) dan i’tiqad bahwa Allah menjelma (hulul) pada makhluk-Nya, maka
semua keyakinan ini adalah kufur dan mengeluarkan seseorang dari
Islam.[2]

Keyakinan hululiyyah[3] dan ittihadiyyah[4] merupakan jenis kekufuran
yang paling buruk. Sama halnya dengan bentuk yang khusus seperti
orang-orang yang berkeyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla menitis kepada
‘Isa Alaihissallam, kepada ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu dan
sebagian anak cucunya, kepada sebagian raja-raja atau syaikh-syaikh,
dan orang yang memiliki bentuk fisik yang indah, atau yang lainnya
dari perkataan yang lebih parah kesesatannya dari per-kataan kaum
Nasrani.

Orang-orang yang berkeyakinan sesat tersebut berpendapat bahwa hulul
dan ittihadnya Allah adalah dalam segala perwujudan hingga meliputi
anjing, babi, atau benda-benda najis. Hal tersebut seperti keyakinan
orang-orang Jahmiyah dan orang-orang yang mengikuti keyakinan
tersebut, seperti Ibnu ‘Arabi, Ibnu Sab’in, Ibnul Faridh, Tilmisani,
Balyani, dan selainnya. -Mahasuci Allah dari apa yang mereka
sifatkan-.

Sedangkan jalan para Nabi dan orang-orang yang mengikuti-nya dari
orang-orang Mukmin, berkeyakinan bahwa Allah adalah Yang menciptakan
alam semesta, Rabb Penguasa langit dan bumi serta apa-apa yang ada di
antara keduanya, Rabb Pemilik ‘Arsy yang agung, dan seluruh makhluk
adalah hamba-Nya dan semuanya butuh kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ
هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dia-lah Yang
Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” [Al-Faathir:
15]

Juga firman-Nya Subhanahu wa Ta’la:

اللَّهُ الصَّمَدُ

“Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan.” [Al-Ikhlash: 2]

Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di atas langit, bersemayam di
‘Arsy-Nya, berpisah dari makhluk-Nya. Meskipun demikian Allah tetap
bersama para makhluk-Nya di mana pun mereka berada. Sebagaimana firman
Allah dalam surat al-Hadiid di atas.[5]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box
7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Inilah penamaan yang lebih tepat (dengan huruf wawu difat-hah)
menurut kaidah bahasa Arab, walaupun lafazh yang lebih masyhur adalah
wihdatul wujud.
[2]. Lihat Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqiidah (hal. 10).
[3]. Hululiyyah adalah salah satu keyakinan Tashawwuf yang meyakini
bahwa Allah menitis kepada makhluk-Nya.
[4]. Ittihadiyyah yaitu keyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya.
[5]. Lihat Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (III/393).


Ketujuh belas:
AHLUS SUNNAH MENGIMANI TENTANG AN-NUZUL (TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA)[1]

Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat tentang wajibnya beriman tentang
turunnya Allah Subhanahu wa Ta’ala (an-nuzul) ke langit dunia pada
setiap malam. اَلنُّزُوْلُ (an-Nuzul) termasuk di antara Sifat-Sifat
Khabariyah Fi’liyyah. Terdapat sejumlah dalil yang menyatakan bahwa
Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit terendah (langit dunia) pada
setiap malam. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ
الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ، فَيَقُوْلُ: مَنْ
يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ،
وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia
ketika tinggal sepertiga malam, seraya menyeru: ‘Siapa yang berdo’a
kepada-Ku, maka Aku memperkenankan do’anya, siapa yang meminta
kepada-Ku, maka Aku memberinya, dan siapa yang memohon ampunan
kepada-Ku, maka Aku mengampuninya.” [2]

Abu ‘Utsman ash-Shabuni (wafat th. 449 H) rahimahullah berkata: “Para
ulama ahli hadits menetapkan turunnya Rabb Azza wa Jalla ke langit
terendah pada setiap malam tanpa menyerupakan turun-Nya Allah itu
dengan turunnya makhluk (tasybih), tanpa meng-umpamakan (tamtsil) dan
tanpa menanyakan bagaimana turun-Nya (takyif). Tetapi menetapkannya
sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam dengan mengakhiri perkataan padanya (tanpa komentar
lagi), memperlakukan kabar shahih yang memuat hal itu sesuai dengan
zhahirnya, serta menyerahkan ilmunya kepada Allah.”[3]

Ibnu Khuzaimah rahimahullah (wafat th. 311 H) berkata: “Pembahasan
tentang kabar-kabar yang benar sanadnya dan shahih penopangnya telah
diriwayatkan oleh ulama Hijaz dan Irak, dari Nabi Shallallahu alaihi
wa sallam tentang turunnya Allah Azza wa Jalla ke langit dunia (langit
terendah) pada setiap malam, yang kami akui dengan pengakuan seorang
yang mengaku dengan lidahnya, membenarkan dengan hatinya serta
meyakini keterangan yang tercantum di dalam kabar-kabar tentang
turunnya Allah Azza wa Jalla tanpa menggambarkan kaifiyahnya
(bagaimananya), karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memang tidak
menggambarkan kepada kita tentang kaifiyah (cara) turunnya Khaliq kita
ke langit dunia dan beliau Shallallahu alaihi wa sallam hanya
memberitahukan kepada kita bahwa Rabb kita turun. Sementara itu, Allah
Azza wa Jalla dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak menjelaskan
bagaimana Allah turun ke langit dunia. Oleh karena itu, kita
mengatakan dan membenarkan apa-apa yang terdapat di dalam kabar-kabar
ini perihal turunnya Rabb, tanpa memaksakan diri membicarakan sifat
dan kaifiyatnya, sebab Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memang
tidak mensifatkan kepada kita tentang kaifiyah turun-Nya.[5]

Lalu setelah itu Ibnu Khuzaimah pun menyebutkan sejumlah hadits yang
berisi keterangan tentang hal itu, yaitu hadits dari Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu di atas.

Hadits-hadits yang memuat pengertian seperti ini banyak jumlahnya,
bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sampai menuliskan tentang hal
tersebut secara khusus dalam bagian kitab-nya Syarah Hadiitsin Nuzuul.
Dan di antara yang dikatakan dalam kitabnya itu adalah: “Sesungguhnya
pendapat yang mengatakan tentang turunnya Allah pada setiap malam
telah tersebar luas melalui Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
dan para Salafush Shalih serta para Imam ahli ilmu dan ahli hadits
telah sepakat membenarkannya dan menerimanya. Siapa yang berkata
dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam, maka perkataan itu adalah haq dan benar, kendati ia tidak
mengetahui tentang hakekat dan kandungan serta makna-maknanya,
sebagaimana orang yang membaca Al-Qur-an tidak memahami makna-makna
ayat yang dibacanya. Karena, sebenar-benar kalam adalah Kalam Allah
(Al-Qur-an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam (As-Sunnah).

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan perkataan ini dan yang
semisalnya secara umum, tidak mengistimewakan seseorang atas orang
lain, dan tidak pula disembunyikannya dari seseorang. Sedangkan para
Sahabat serta para Tabi’in menyebutkannya, menukilnya, menyampaikannya
dan meriwayatkannya di majelis-majelis khusus dan umum pula, yang
selanjutnya dimuat dalam kitab-kitab Islam yang dibaca di
majelis-majelis khusus maupun umum, seperti Shahiihul Bukhari, Shahiih
Muslim, Muwaththa’ Imaam Malik, Musnad Imaam Ahmad, Sunan Abi Dawud,
Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa-i, dan yang semisalnya.”[5]

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وَأَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا لِخَبَرِ
رَسُوْلِ اللهِ.

“Bahwasanya Allah turun pada setiap malam ke langit dunia berdasarkan
kabar dari Rasulullah. Shallallahu alaihi wa sallam” [6]

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya menukil
perkataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah, beliau berkata:

أَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ
كَيْفَ شَاءَ وَيَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ.

“Bahwasanya Allah Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya, lalu
mendekat kepada makhluk-Nya menurut bagaimana yang Dia kehendaki, dan
sesungguhnya Allah turun ke langit dunia menurut bagaimana yang Dia
kehendaki.” [7]

Ahlus Sunnah menetapkan tentang turunnya Allah Subhanhu wa Ta’ala ke
langit dunia setiap malam sebagaimana mereka menetapkan seluruh
sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah. Oleh
karena itu, orang-orang shalih senantiasa mencari waktu yang mulia ini
untuk mendapatkan karunia Allah k dan Rahmat-Nya, mereka melaksanakan
ibadah kepada Allah dengan khusyu’, memohon ampunan kepada-Nya dan
memohon kebaikan di dunia dan di akhirat. Mereka menggabungkan antara
khauf (rasa takut) dan raja’ (rasa harap) dalam beribadah kepada-Nya.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box
7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Lihat Syarah Hadiits an-Nuzuul karya Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah, tahqiq Muhammad bin ‘Abdurrahman al-Khumaiyis, cet. Darul
‘Ashimah-th. 1414 H.
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 7494), Muslim (no. 758 (168)), at-Tirmidzi
(no. 3498), Abu Dawud (no. 1315, 4733) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam
as-Sunnah (no. 492) dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhiid (I/280).
[3]. Lihat ‘Aqiidatus Salaf Ash-haabil Hadits (no. 38, hal. 46) oleh
Abu ‘Utsman Isma’il bin ‘Abdurrahman ash-Shabuni, tahqiq Badr bin
‘Abdillah al-Badr.
[4]. Diringkas dari Kitaabut Tauhiid (I/275) oleh Imam Ibnu Khuzaimah,
tahqiq Samir bin Amin az-Zuhairi, cet. I/ Darul Mughni lin Nasyr wat
Tauzi’, th. 1423 H.
[5]. Lihat Majmuu’ Fataawaa (V/322-323) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[6]. Lihat Manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (II/358).
[7]. Lihat Ijtimaa’ul Juyuusy al-Islaamiyyah ‘alaa Ghazwil
Mu’aththilah wal Jahmiyah (hal. 122) oleh Imam Ibnul Qayyim, tahqiq
Basyir Muhammad ‘Uyun.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke