From: [email protected]
Date: Wed, 12 Sep 2012 12:37:46 +0000
Teman saya ini seorang muslim dan baru saja mengenal manhaj salaf, ttp 
orangtuanya khususnya ayahnya hanya melabelkan diri muslim dan bahkan pernah 
lisannya berucap bahwa dia tdk beragama islam krn dalam pemahamannya yg dia dpt 
dari org yg di tuakan bahwa agama itu hanya ageman bahasa jawa artinya 
baju...sehingga tidak dia melakukan shalat seumur hidupnya bahkan juga zakat, 
tetapi di bbrp tahun belakangan dia melakukan puasa ramadhan...hanya itu ibadah 
yg ayah teman saya lakukan...lainnya tidak, lebih parah lagi dia selalu berdoa 
kpd selain Allah yaitu kpd arwah orang yg dituakan itu..
Saat ini ayah teman saya itu sdh berumur 77 tahun...dan teman saya sangat 
khawatir jika ayahnya meninggal dlm keadaan ttp spt itu berarti ayahnya mati 
dalam keadaan kafir.

Teman saya sdh berusaha menasihati scr baik2 ttp hal itu masih saja mendapat 
penolakan.
Mohon nasihatnya yg semoga bermanfaat dan bisa menjadi rujukan dan petunjuk 
bagi kawan saya.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Terkadang seorang anak harus menghadapi orang tua yang belum mengerti tentang 
ajaran Islam. Sebagai akibatnya, ia harus menyaksikan orang yang sangat ia 
cintai dan hormati melakukan perbuatan maksiat atau menghalang-halangi si anak 
dari perbuatan amal shaleh.

I. RUANG LINGKUP PENGERTIAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
Pengertian birrul wâlidain (berbakti kepada kedua orang tua) ialah mencurahkan 
seluruh jenis kebaikan bagi mereka. Syaikh al-’Utsaimîn rahimahullâh 
memaparkannya dalam bentuk-bentuk berikut ini:

1. Berbakti kepada orang tua dalam bentuk ucapan.
Allâh Ta'âla berfirman:

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ 
لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا 

"..... Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur 
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada 
keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka. Ucapkanlah kepada 
mereka perkataan yang mulia" [Al-Isrâ`/17:23]

Ini perlakuan saat orang tua telah berusia uzur. Biasanya ketika telah memasuki 
usia senja (pikun), tindak-tanduk orang tua tampak tidak normal di hadapan 
orang lain. Walaupun demikian, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan: "maka 
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'Ah')", 
maksudnya jangan berbuat seperti itu kepada mereka disebabkan kegusaran atas 
tindak-tanduk mereka (dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada 
mereka perkataan yang mulia).
 
II. TELADAN YANG BAIK DARI NABI IBRAHIM 'ALAIHISSALAM
Allâh Azza wa Jalla sudah menyatakan bahwa Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam merupakan 
qudwah hasanah (teladan yang baik) bagi umat manusia. Sebagai contoh, 
kegelisahan mendalam yang beliau rasakan karena sang bapak (Azar), masih 
bergelut dengan penyembahan berhala dan patung-patung. Tiada kata putus asa 
bagi Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam. Allah Ta'ala telah berfirman (mengisahkan) di 
beberapa surat di dalam al-Qur‘ân bagaimana besarnya sopan-santun dan kegigihan 
beliau mendakwahi orang tua. Yang menarik dan mesti ditiru oleh seorang anak 
saat menghadapi perbuatan maksiat orang tua mereka adalah Nabi Ibrâhîm 
'alaihissalam selalu menghiasi diri dengan sifat al-hilm (bijak dan penuh 
kelembutan) seperti tertera dalam surat at-Taubah ayat 114.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

"Sesungguhnya Ibrâhîm adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun" 
[At-Taubah/9:114]

Beliau 'alaihissalam mempunyai kasih-sayang terhadap sesama, dan memaafkan 
perlakuan-perlakuan tidak baik kepadanya yang muncul dari orang lain. Sikap 
tidak sopan orang lain tidak membuat beliau antipati, tidak menyikapi orang 
jahat dengan tindakan serupa. Dalam hal ini, sang bapak telah mengancam dengan 
berkata kepadanya: “Bencikah kamu kepada ilâh-ilâhku (tuhan-tuhanku), hai 
Ibrâhîm. Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan 
tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. Namun Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam 
menyikapinya dengan berkata: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan 
meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku”. 
[Maryam/19:46-47]

Syaikh as-Sa’di rahimahullâh berkata: "Ibrâhîm al-Khalîl 'alaihissalam 
menjawabnya (ancaman si ayah) dengan jawaban yang biasa disampaikan oleh 
hamba-hamba Allâh Azza wa Jalla (’Ibâdurrahmân) saat berbicara dengan 
orang-orang jâhilîn (orang-orang yang tak berilmu/awam)[2]. Beliau tidak 
mencela sang bapak sedikit pun. Namun tetap bersabar dan tidak membalas 
(ancaman) bapaknya dengan hal-hal yang tidak baik. Beliau mengucapkan “Semoga 
keselamatan dilimpahkan kepadamu” yang mengandung pengertian ‘Wahai ayah, 
engkau tidak akan menghadapi cemoohan, celaan dan perlakuan yang buruk dariku 
saat aku berbicara denganmu. Justru aku akan senantiasa berdoa kepada Allâh 
Azza wa Jalla agar memberikan hidayah dan ampunan bagimu...[3]
Selengkapnya baca di 
http://almanhaj.or.id/content/2185/slash/0/bila-orang-tua-berbuat-maksiat-apa-yang-harus-dilakukan-anak/
 
Wallahu Ta'ala A'lam





                                          

Kirim email ke