Papanya Nouval,
saya paling seneng nih kalo ada bapak2 yang concern banget dengan masalah 
anaknya........ Keep up the good work ya pak !   :)

Bila anak sedang tumbuh gigi, wajar bila nafsu makan jadi terganggu. 
Dalam hal ini, sebetulnya tidak ada penambah nafsu makan yang bisa 
cespleng mengatasi masalah gangguan makan. Yang bisa dilakukan adalah 
meminimalkan "penderitaan" anak dengan memberikan sesuatu yang bisa 
mengurangi rasa sakit pada gigi dan gusinya. Pada bayi yang lebih kecil, 
misalnya, kita bisa memberikan teether yang telah didinginkan terlebih 
dahulu.  

Untuk menyiasati agar asupan makan tidak kurang, bapak bisa coba dengan 
memberikan makanan dalam porsi sedikit tetapi sering. Untuk masalah minum 
susu, bila anak tidak mau, bisa disiasati dengan memberikan susu dalam 
bentuk lain, misalnya eskrim atau milkshake. Anak 20 bulan biasanya sudah 
bisa berkomunikasi, ke-aku-annya juga sedang berkembang. Biasanya kalau 
kita sajikan makanan/minuman dalam suasana menyenangkan, dengan 
kemauannya sendiri dia akan rela memasukkan makanan/minuman itu ke 
mulutnya.... Ini juga membantunya untuk melupakan rasa sakit dari gigi 
dan gusinya itu.

Dibawah ini saya sertakan rangkuman pemberian vitamin pada balita dengan 
masalah gangguan makan. Mungkin ada hal2 yang bisa diambil dari rangkuman 
ini. 

Regards,
Dini/mamanya Danisha
Moderator Ayahbunda-Online 

=========================================================================
PEMBERIAN VITAMIN PADA BALITA DENGAN MASALAH GANGGUAN MAKAN 

PERTANYAAN

From: "marthaleonardo" <[EMAIL PROTECTED]> 
Date: Wed Oct 6, 2004  9:50 am 

-       Anak perempuan, usia 14 bulan, sedang sulit makan, hanya mau 2 
suap setelah itu tidak mau lagi, sehingga makanan utamanya hanya susu.
-       BB-nya turun menjadi 10 kg (BB sebelumnya tidak disebutkan)
-       Sepengetahuannya untuk anak usia ini bila makanan padatnya kurang 
dan hanya mengkonsumsi susu, anak jadi kekurangan zat besi.
-       Apakah ada informasi tentang vitamin dengan zat besi tinggi ?

Catatan moderator : sebetulnya, bila anak mengalami gangguan makan, 
pemberian vitamin hanya salah satu cara mengatasi masalah yang timbul 
akibat kurangnya asupan makanan, bukan menghilangkan penyebab. Sebaiknya 
pemberian vitamin, jika memang diperlukan, diiringi dengan usaha 
mengatasi gangguan makan pada anak. Lihat artikel berkaitan di bawah ini.

From: "Ade S Sahroni" <[EMAIL PROTECTED]> 
Date: Wed Oct 6, 2004  7:56 am 

Bagaimana pemberian vitamin yang baik untuk balita ?


JAWABAN
From: rully soraya <[EMAIL PROTECTED]> 
Date: Wed Oct 6, 2004  7:10 pm 

-       Anak laki-lakinya juga mengalami hal yang sama dengan penanya, 
oleh DSA diberi vitamin Becombion plus (sirup) diseling dengan Feroglobin 
sirup, selang 1 hari masing-masing satu sendok obat (5ml). 
-       Menurutnya nafsu makan anaknya menjadi baik dan berat badannya 
bertambah.


==============================================
ARTIKEL PENUNJANG
Sumber : www.ayahbunda-online.com

Tanya Jawab Seputar  Suplemen dan Multivitamin 
  
Suplemen dan multivitamin untuk bayi dan balita membanjiri pasaran. 
Baguskah untuk si kecil? 
  
Wajar muncul beberapa pertanyaan di benak Anda ketika melihat bayi atau 
balita yang bertubuh montok dan sehat. Misalnya, “Diberi vitamin apa, 
ya?” 
Agar tidak terjadi kesalahkaprahan, berikut pertanyaan-pertanyaan yang 
sering mengganjal seputar suplemen atau multivitamin lengkap dengan 
jawabannya. 
  
Tanya: Apa itu vitamin? 
Jawab: Vitamin adalah sekelompok zat, substansi atau senyawa penting yang 
membantu kelancaran jalannya seluruh proses metabolisme dalam tubuh. 
  
Tanya: Ada berapa jenis vitamin? 
Jawab: Secara umum, vitamin dibagi jadi 2 kelompok, yakni: 
•  Vitamin yang larut dalam lemak , berupa vitamin A, D, E, dan K. 
•  Vitamin yang larut dalam air , seperti kompleks vitamin B (vitamin B1 
atau tiamin, vitamin B3 atau niasin, vitamin B12, asam folat, asam 
pantotenat, biotin), dan vitamin C. 
  
Tanya: Benarkah sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan sumber vitamin 
yang lengkap? 
Jawab: Tidak juga. Pada kenyataannya, sayuran dan buah-buahan hanya 
mengandung beberapa jenis vitamin,  seperti vitamin C, E, K, dan beberapa 
macam vitamin B (seperti asam folat, biotin, dan lain-lain). Juga, 
sayuran dan buah-buahan merupakan fitokimia yang bersifat provitamin, 
seperti karotenoid (provitamin A). 
Bagaimana dengan vitamin A, B6, B12, dan D? Umumnya, vitamin tersebut 
berasal dari sumber hewani. Misalnya, hati, susu dan aneka jenis produk 
olahannya. 
  
Tanya: Apa itu mineral? 
Jawab: Mineral adalah sekelompok senyawa anorganik yang juga dibutuhkan 
tubuh untuk kelancaran seluruh proses metabolisme, selain vitamin.  
  
Tanya: Ada berapa macam mineral? 
Jawab: Mineral yang diperlukan oleh tubuh dikelompokkan jadi 2, yaitu: 
•  Mineral utama. Dibutuhkan tubuh dalam jumlah di atas 100 mg/hari, 
seperti kalsium, fosfor, magnesium, natrium, kalium, klorida, dan sulfur. 
•  Trace elements . Adalah mineral yang diperlukan tubuh dalam jumlah 
kecil (kurang dari 100 mg/hari), yakni zat besi, seng, tembaga, kobalt , 
yodium, kromium, mangan, molybdenum, selenium, vanadium, nikel, serta 
silikon. 
  
Tanya: Dari mana kebutuhan mineral bisa dipenuhi? 
Jawab: Mineral tubuh dapat didapat dari bahan-bahan makanan yang 
dikonsumsi sehari-hari. Di antaranya, garam, makanan laut, serta susu dan 
produk olahannya. 
  
Tanya: Apa fungsi dari vitamin dan mineral bagi tubuh? 
Jawab: Vitamin dan mineral diperlukan oleh tubuh agar seluruh proses 
metabolisme, termasuk juga proses tumbuh kembang bayi dan anak balita, 
dapat berjalan lancar. ( Lihat boks “Fungsi Vitamin dan Mineral dalam 
Tumbuh Kembang Anak”) 
  
Tanya: Adakah fungsi lainnya? 
Jawab: Ada juga. Vitamin bersama-sama dengan mineral berfungsi sebagai 
zat pengatur jalannya proses metabolisme. 
Di samping itu, kedua zat tersebut dapat memperlambat proses penuaan sel, 
menghambat tumbuhnya sel-sel kanker, menghambat munculnya penyakit 
jantung dan osteoporosis (pengeroposan tulang), memperbaiki sistem 
kekebalan tubuh, serta membantu penyembuhan berbagai gangguan kesehatan. 
Yang pasti, tanpa kehadiran vitamin dan mineral, akan banyak proses 
penyerapan zat gizi oleh tubuh yang terganggu. 
  
Tanya: Kapan anak perlu tambahan vitamin dan mineral? 
Jawab: Pada bayi baru lahir, seluruh kebutuhan vitamin dan mineral dapat 
terpenuhi melalui ASI. Hanya saja, kalau ia sampai kekurangan vitamin,  
mudah kok mengatasinya. Anda cukup meningkatkan jumlah dan kualitas ASI 
Anda. 
  
Tanya: Bagaimana caranya? 
Jawab: Sebaiknya, Anda makan cukup dengan komposisi seimbang. Jika perlu, 
konsumsilah vitamin tambahan. Tentu saja, ini harus sesuai petunjuk 
dokter 
  
Tanya: Kapan lagi tambahan vitamin dan mineral perlu diberikan? 
Jawab: Setelah si kecil berusia 6 bulan. Pada umur ini, kebutuhan zat-zat 
gizi anak akan bertambah. Akibatnya, ia memerlukan makanan tambahan dari 
luar, selain ASI. Makanan ini dikenal sebagai Makanan Pendamping ASI (MP-
ASI). 
  
Tanya: Cukup memadaikah MP-ASI? 
Jawab: Umumnya, MP-ASI buatan pabrik sudah diperkaya oleh vitamin dan 
mineral yang diperhitungkan cukup untuk melengkapi asupan ASI. 
  
Tanya: Adakah risiko yang perlu jadi catatan penting? 
Jawab: Bayi yang hanya mengonsumsi ASI sampai usia 6 bulan berisiko 
kekurangan zat besi. Makanya, setelah usia 6 bulan, ia harus ditunjang 
dengan pemberian MP-ASI yang notabene kandungan zat besinya tinggi. 
Misalnya, daging merah, hati, dan lain-lain. Tapi, jika si kecil belum 
bisa mengonsumsi bahan makanan tersebut dalam jumlah yang memadai, dokter 
dapat memberi suplementasi zat besi. 
  
Tanya: Anak usia 2 tahun seringkali sulit sekali makan. Tepatkah ia 
diberi vitamin dan suplemen sebagai tambahan zat gizi? 
Jawab: Tidak selalu tepat. Si 2-3 tahun memang sering menolak makan, 
karena kebutuhan kalorinya relatif lebih sedikit dibandingkan pada masa 
bayi. 
Selain itu, ke-aku-annya mulai berkembang. Tidak heran kalau dia jadi 
sangat pemilih. Hanya makanan tertentu saja yang bisa masuk ke dalam 
mulut mungilnya. Kalau sudah begini, mungkin saja dia akan mengalami 
kekurangan asupan beberapa zat gizi. 
  
Tanya: Bagaimana cara mengetahui apakah anak kekurangan zat gizi 
tertentu? 
Jawab: Untuk memastikan adanya kekurangan zat gizi, sebaiknya Anda 
berkonsultasi pada dokter spesialis anak setempat, yang dengan bantuan 
ahli gizi, dapat menganalisis asupan s erta komposisi makanan si kecil. 
Dari sini, bisa diatur menu yang disukai anak, tetapi mencukupi kebutuhan 
nutrisinya. 
  
Tanya: Perlukah pemeriksaan laboratorium? 
Jawab: Pemeriksaan lab dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Jika memang 
terbukti anak kekurangan vitamin atau mineral, barulah suplementasi 
vitamin atau mineral diberikan. 
  
Tanya: Apa yang perlu diperhatikan sebelum memberi tambahan suplemen atau 
multivitamin pada anak? 
Jawab: Tambahan suplemen atau multivitamin akan sangat bermanfaat bila 
tubuh anak memang benar-benar membutuhkan. Biasanya, tambahan zat 
tersebut dapat diberikan pada: 
•  Anak yang baru sembuh dari sakit. 
•  Anak yang vegetarian atau mengonsumsi diet khusus. Misalnya, anak yang 
vegetarian umumnya perlu suplemen B12 dan zat besi. 
•  Anak yang menderita penyakit genetik atau kronis. Misalnya, dengan 
kelainan metabolisme bawaan, misalnya homocystinuria, perlu suplemen 
vitamin B12, B6 dan asam folat; penyakit hati kronis butuh suplemen 
vitamin A, D, E dan K; dan lain-lain. 
  
Tanya: Adakah dampak buruk dari pemberian tambahan suplemen atau 
multivitamin? 
Jawab: Yang pasti, kebanyakan mengonsumsi vitamin atau suplemen bisa 
berdampak buruk bagi tubuh anak. Misalnya, kebanyakan vitamin A akan 
menyebabkan mual-mual dan pusing; kelebihan vitamin C mengakibatkan diare 
atau pembentukan batu ginjal; dan sebagainya. 
  
Tanya: Berapa lama si kecil boleh mengonsumsi tambahan suplemen atau 
multivitamin? 
Jawab: Tergantung dari penyebabnya. Kalau ini terjadi akibat pola makan 
si kecil yang salah, maka pemberiannya bisa dihentikan begitu ada 
perbaikan kekurangan zat yang perlu dibuktikan dengan pemeriksaan 
laboratorium. 
Hanya saja, jika penyebabnya adalah penyakit kronis atau genetik, mau 
tidak mau suplemen tersebut dikonsumsi seumur hidup. 
  
  

================================================================  
Gangguan Makan Balita, 
Bisa Jadi Anda Penyebabnya! 
  
Jangan dulu menyalahkan si kecil karena dia mengalami gangguan makan. 
Ternyata, kebanyakan penyebabnya adalah kita, orang tuanya.   
  
              Masalah makan si kecil memang membuat kita jadi serba 
salah. Bahkan, tak jarang jadi sering kehabisan akal. “Saya langsung over 
reactive waktu Siska susah makan. Saya takut dia kekurangan gizi,” ujar 
seorang ibu tentang anaknya, Siska. Akibatnya, Siska langsung “dijejali” 
dengan seabrek makanan. Apa yang terjadi? Siska malah semakin mengunci 
rapat-rapat mulutnya! 
  
Fisik atau psikis? 
Untuk “urusan” makan, sebenarnya balita (terutama usia 0-12 bulan) adalah 
konsumer pasif. Artinya, dia lebih banyak mengonsumsi makanan yang sudah 
kita pilihkan. Dari sinilah sebetulnya anak mulai belajar perihal pola 
makan. Bagaimana pola makan yang Anda tanamkan pada saat ini akan 
menentukan pola makan dan juga kebiasaan makan si kecil di masa depan. 
Menurut dr. Dida Ahmad Gurnida, Sp.A, MKes., pengajar di Subbagian 
Nutrisi dan Metabolisme, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran 
Universitas Pajajaran - RS Hasan Sadikin, Bandung, “Ada tiga jenis 
gangguan pola makan yang kerap dialami oleh balita, yaitu sulit makan, 
pilih-pilih makanan atau picky eater, serta susah mengontrol nafsu makan 
alias makan melulu.”   Manakah yang paling banyak terjadi pada balita? 
“Walau secara nasional belum ada data, gangguan makan yang paling banyak 
dialami anak-anak usia ini di Indonesia adalah sulit makan, khususnya 
anak usia 6 bulan ke atas,” jawab dr. Dida. 
Sebenarnya, penyebab sulit makan pada balita terdiri dari dua faktor, 
yaitu fisik dan psikis. Kalau fisik yang jadi pemicu, misalnya karena ada 
gangguan di sistem saluran pencernaan, akibatnya si kecil mual setiap 
kali makan. “Atau, bisa juga memang ada gangguan di gigi-geliginya, dan 
sebagainya. Namun, jangan panik dulu. Presentase akibat faktor ini kecil 
sekali,” kata dr. Dida lagi. 
Bagaimana dengan faktor psikis? “Justru inilah yang jadi penyebab utama 
sulit makan pada balita. Namun, ada tapinya. Faktor ini juga jadi pemicu 
timbulnya gangguan makan lainnya,” sambung dr. Dida. 
  
Ternyata, orang tua biang keladinya! 
Menurut Dra. Dini Daengsari, MSi., staf pengajar dari jurusan Psikologi 
Perkembangan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, “Secara 
psikis, gangguan pola makan balita ternyata akibat kesalahan para orang 
tua juga. Bukankah Anda yang menyediakan makanan bagi si kecil?” 
Dini menyatakan lagi, “Karena merasa cemas anaknya tidak mau makan, kita 
langsung memberinya makanan sesuai porsi kita. Atau, kalau si kecil masih 
juga tidak mau makan, pilihannya cuma dua. Dipaksa makan atau dimarahi,” 
katanya 
Tidak hanya itu. Biasanya, anak juga dipaksa duduk manis ketika makan. 
Kalau sudah begini, makan anak diasosiasikan anak sebagai sesuatu yang 
tidak menyenangkan. Padahal, suasana makan yang menyenangkan amat 
membantu dalam pemberian makan pada anak. 
Bagaimana dengan si picky eater ? Bisa jadi ini karena variasi makanannya 
tidak cukup banyak. Atau, karena suka rasa tertentu saja, si kecil hanya 
mau makan yang itu-itu saja. “Celakanya, kemauan si anak ini selalu kita 
turuti. Alasannya? Daripada tidak makan,” lanjut Dini. 
Psikolog UI ini juga mengatakan bahwa anak yang tidak bisa mengontrol 
nafsu makannya adalah masalah juga. “Bisa jadi, ini karena kebiasaan anak 
dari kecil. Kita kan senang tuh melihat anak yang makan banyak, sehingga 
dia dibiasakan untuk makan melulu. Akhirnya, anak berpikir kalau makan 
banyak itu adalah sesuatu yang diharapkan olehorang tuanya. Masalahnya, 
kebiasaan ini bisa terbawa sampai ia remaja kelak,” katanya lagi. 
Dalam hal ini dr. Dida menambahkan, “Karena Anda selalu menuruti nafsu 
makannya, lama-kelamaan anak tidak punya rangsang lapar dan tidak 
mengenal rasa kenyang. Dia akan makan terus, terus dan terus. Ini yang 
bahaya!” 
Perilaku orang tua yang kurang tepat lainnya adalah, “Pemberian makan 
dijadikan semacam reward . Kalau si kecil melakukan sesuatu yang baik, ia 
akan diberi ‘penghargaan', berupa makanan kesukaannya. Akhirnya, makanan 
jadi sesuatu yang diharapkan,” sambung Dini. 
Jadi, gangguan pola makan si kecil memang ujung-ujungnya bermuara pada 
orang tua juga. Kita harus sadar bahwa anak selalu punya strategi 
untuk “mengalahkan” orang tuanya. Salah satunya, ya dengan 
memanipulasi “kelemahan” orang tua dalam urusan makannya dengan jalan 
mogok makan kalau tidak diberi hadiah, misalnya. “Makanya, sejak awal 
Anda atau pasangan harus menanamkan pola makan yang sehat dan sesuai 
takaran makan anak. Dengan begitu, anak akan mempunyai pola makan yang 
benar,” tegas dr. Dida. 
  
Ke dokter dulu.... 
Begitu melihat adanya gangguan pola makan si kecil, sebaiknya Anda segera 
membawanya ke dokter. Karena, bila gangguan makan anak dibiarkan berlarut-
larut, kesehatannya jadi taruhannya. Misalnya, kurang gizi dan sebagainya 
Sebelumnya, Anda bisa mengira-ngira gangguannya termasuk jenis yang mana? 
Nggak susah kok untuk mengetahuinya. Lihat saja intake makanannya. Kurang 
atau berlebih? Anda bisa memantau kondisi gizinya berdasarkan berat badan 
terhadap tinggi badan. Caranya, lihat saja dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) 
yang ada pada buku periksa rutin anak Anda. 
              Setelah diperiksa dokter dan bila hasil pemeriksaan 
menunjukkan bahwa gangguan makan si kecil sifatnya psikis, barulah Anda 
membawanya ke psikolog anak.     
  
Ini solusinya! 
              Bila gangguan pola makan balita ternyata faktor psikis, hal 
ini masih harus dilihat case by case . Misalnya saja, jika susah makannya 
akibat ‘dipaksa' makan, sebaiknya Anda cari kiat untuk menghilangkan 
traumanya, seperti mengganti makanannya untuk sementara waktu. 
                            “Sebenarnya, menciptakan suasana makan yang 
menyenangkan tidak susah. Yang penting, jangan memaksa anak untuk makan 
ini itu. Bahkan, kalau perlu, si kecil diajar untuk memilih. Tentu saja 
ada syaratnya. Perkenalkan anak dengan berbagai variasi makanan, lalu 
biarkan ia memutuskan sendiri makanan yang diinginkannya,” saran Dini. 
Nah, agar si kecil berpola makan benar, Anda perlu tahu kebutuhan dan 
ukuran makannya yang paling pas. Pada intinya, pola makan balita harus 
bergizi seimbang. Ini berarti, zat-zat gizinya harus komplit dan 
diberikan dalam porsi yang sesuai. Selain itu, jadwal pemberian 
makanannya harus dilihat lagi. 
Sebagai catatan, pemberian makan pada anak sangat individual sekali 
sifatnya. Ada anak yang makan sedikit tapi sering, namun ada juga yang 
makannya sesuai jadwal makan keluarga, yaitu 3-4 kali sehari. “Jadi, 
penting untuk mendiskusikan hal-hal ini dengan dokter anak Anda,” ujar 
dr. Dida. 
Bagaimana dengan pemberian suplemen? “Tidak apa-apa sih , terutama bila 
si kecil sulit atau terlalu pilih-pilih makanan. Dikhawatirkan, nantinya 
dia malah kekurangan zat-zat gizi. Tapi, sebaiknya konsultasikan dulu hal 
ini dengan dokter,” kata dr. Dida. 
Jadi, kenalilah kebutuhan anak Anda, dan tanamkan pola makan yang benar 
kepadanya. Tentu saja, hal ini harus dimulai dari diri Anda dahulu. 
  
Laila Andaryani Hadis 
  
Boks 1:
Pola Makan yang Baik  
Pola makan anak dikatakan baik bila memenuhi tiga aspek berikut. 
•  Aspek fisiologis. Memenuhi kebutuhan gizi untuk proses metabolisme,   
membantu proses pertumbuhan, perkembangan fisik dan psikomotor anak. 
•  Aspek edukatif. Anak jadi pandai mengonsumsi makanan, dan membentuk 
kebiasaan memilih makanan yang baik. 
•  Aspek psikologis. Memenuhi kepuasan atas rasa lapar dan haus pada 
anak. 
  
Boks 2:
Inilah Datanya!
Walau tidak banyak laporan tentang angka kejadian gangguan pola makan, 
George Town University Affiliated Program for Child Development (GUAPCD), 
Amerika Serikat, melaporkan bentuk-bentuk gangguan tersebut. 
•  Hanya mau makanan lumat/cair: 27,3% 
•  Kesulitan mengisap, mengunyah atau menelan: 24,1% 
•  Kebiasaan makanan yang aneh/ganjil: 23,4% 
•  Hanya menyukai sedikit makanan: 11.1% 
•  Keterlambatan makan sendiri: 8,0% 
  
Boks 3:
Kiat Sukses Cegah Gangguan Makan 
•  Orang tua atau pengasuh harus ekstra sabar. 
•  Jangan hukum anak bila makannya tidak oke. 
•  Jangan menyogok anak untuk makan. 
•  Jangan singgung-singgung kelakuan “nakal” anak pada saat makan. 
•  Selesaikan acara makan dalam waktu ½ jam atau kurang. 
•  Jangan harap anak langsung menerima makanan baru. 
•  Larang anak melakukan hal-hal yang tidak Anda sukai, seperti membuang 
atau melempar makanan. 
  


-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
To: [email protected]
Date: Wed, 13 Jul 2005 13:51:24 +0700
Subject: [Ayahbunda-Online] Penambah nafsu makan anak

> <html><body>
> 
> 
> <tt>
> <BR>
> <BR>
> <BR>
> <BR>
> Dear All,<BR>
> <BR>
> Salam kenal, saya baru bergabung di millist ini.<BR>
> Anak saya berusia 20 bulan, saat ini giginya sedang banyak tumbuh,<BR>
> sebelum-sebelumnya pada saat makan, makannya lahap sekali, tetapi
> sekarang<BR>
> susah sekali. Mamanya sudah coba memberikan beberapa variasi
> makanan,<BR>
> dengan maksud agar tidak bosan dengan makanan yang itu-itu saja.<BR>
> Tetapi kenyataannya hanya beberapa suap saja dan dia sudah tidak mau
> lagi.<BR>
> Begitupun dengan minum susunya, kurang nafsu dibandingkan
> sebelumnya.<BR>
> Bagaimana ya...cara buat ngembaliin nafsu makannya.<BR>
> <BR>
> Best regards,<BR>
> Papa Nouval<BR>
> <BR>
> <BR>
> <BR>
> <BR>
> </tt>
> 
> <br><br>
> <tt>
> Subscribe: [EMAIL PROTECTED]<BR>
> Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]<BR>
> <BR>
> Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]<BR>



Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke