> Karena proses seleksi seperti interview ataupun bentuk tes lainnya
> (kecuali TK B yang mensyaratkan dapat membaca guna persiapan masuk SD)

> adalah tidak dapat relevan di berlakukan untuk anak-anak. Biarkan 
> mereka berekspresi sesuai dengan kemampuannya melalui media yang di 
> inginkannya ( Orang tua/Guru hanya mengarahan saja).

Sekolah anakku waktu mau msk Kelompok Bermain juga ada "tes"nya.. Tapi
bentuk tes ini sangat sederhana..misalnya,

Utk melihat apakah anak berani ditinggal orangtuanya utk hanya berada
dlm lingkungan kelas bersama guru dan teman2 sebayanya.. Untuk melihat
apakah anak sudah punya "standar" yg sama utk seumurannya.. Misalnya,
mengenal bentuk, mengenal warna dll. Menurut saya pribadi hal ini masih
relevan aja sih mba diberlakukan ;-) Karena emang ada keterbatasan kelas
dan tenaga pengajar sehingga mau gak mau pihak sekolah Hrs menyeleksi
siapa2 yg akan mereka terima..agar bermain sambil belajar-nya juga
maksimal.

Selain itu "tes" ini dilakukan utk melihat apakah memang ada anak2 yg
akan butuh penanganan khusus.. misalnya, ada guru di skolah anak saya yg
ternyata berpengalaman dgn anak yg pernah operasi syaraf di kepalanya..
sehingga insyaAllah beliau sigap menghandle bila tiba2 terjd serangan
step misalnya..

Kalau interview sendiri..
Wkatu itu diberlakukan justru utk orang tua..bukan anak.
Jadi setelah ada bbrp tahapan tes yg saya ceritain tadi diatas..yg maju
ke babak selanjutnya, orangtuanya yg dinterview..

Bentuknya lebih pada saling mengenal aja sih sebenernya.. Mereka ingin
tahu apa ekspektasi kita thd pihak sekolah. Dan sebaliknya, ini jg jd
kesempatan buat aku dan suami menanyakan metode2 yg mereka terapkan ...


> Konsepsi bahwa kepintaran dalam bidang akademik (mata pelajaran wajib)
> akan membawa anak pada kesuksesan di masa datang juga merupakan 
> persepsi yang keliru, karena banyak orang sukses tanpa mensyaratkan 
> kepintaran di  bidang akademik, misalnya pelukis, artis, profesional 
> ataupun bidang yang lainnya.

Yup setuju..
Sayangnya, pada akhirnya, masih banyak aneka pekerjaan yg mensyaratkan
keberhasilan (nilai nilai) akademik sbg syarat utk bisa masuk bekerja.
Sehingga byk lembaga pendidikan pun yg akhirnya merasa wajib menjadikan
ini sbg tolak ukur keberhasilan mereka dlm mendidik..

Ukuran sukses menurut orang pun berbeda2..
Yg jelas, kalo saya dan suami skrg ingin sekali menerapkan konsep
berwirausaha pada anak2 kami insyaAllah, Maklum bapak ibunya udah
ngerasain enaknya tdk punya bos hehe Dari kecil udah dibentuk utk
business minded hehehe...
Sederhananya: Belajar melihat peluang...;-))

> 
> Oleh karena itu biarkan anak kita berkembang sesuai dengan
> kemampuannya, bahka kita harus dukung mereka dengan kegiatan yang 
> lebih bervariasi, misalnya mengenal proses pembuatan batik, kursus 
> musik (piano,orgah, guitar), menggambar, mengenal kegiatan pertanian, 
> camping, dll sebagainya.
> Siapa setuju??


Saya mba rika ;-)
Dan ternyata hal ini pun bisa kok kita dapetin dr lembaga pendidikan
formal di skolah.
Yg penting, bagaimana para pendidik anak2 kita ini menyadari bahwa
insyaAllah tidak ada anak yg bodoh.
.Dan kita para orang tua pun hrs lebih berhati2 memberi label pada
anak2, misalnya hiperaktif, ADD dll..
Karena ternyata tdk semudah itu...
Harus ada lebih banyka pemahaman ttg anak2 dengan aneka kemampuan yang
berbeda.
Ada yg lebih menonjol/oke di linguis, ada yg matematis, ada yg ritmik,
naturalis, organisasi dll.

Ada yg mau nambahin lagi?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Learn the smart way to work from home 
at www.BundaInBiz.com

Nadia M. Yuniardo
Editor & Owner
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~





Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke