Wah, ini cocok banget sama saya. Ya untuk sharing aja nih, aku pengen cerita.
Dulu waktu pertama kali hamil, aku pengen dong ditangani sama dokter yang
bagus, akhirnya aku ke dr. Okky (di RSIB)...rame sih, tapi kebetulan karena
rumahku deket, setelah daftar aku bisa pulang dulu, begitu dokternya udah
dateng (sering telat karena operasi), aku baru dateng ke RS lagi.......tapi
dulu nggak sampe selesai, karena umur kehamilan 3 bulan aku pergi ke UK.
Sampe di UK, yang menangani ibu-ibu hamil adalah Bidan/Midwife, bukan dokter.
Dokter diperlukan kalau memang ada kelainan pada kandungan. Dari umur kandungan
3 bulan sampe aku melahirkan, cuma ada 1 sesi USG (pada saat umur kandungan 5
bulan), itu pun hanya USG 2 dimensi. Yang jadi operator mesin USGnya juga bukan
dokter, tapi ahli USG, jadi keterangan yang diberikan juga sangat lengkap. Dari
USG 2 dimensi itu aja sudah terlihat kelengkapan bayi dan lain sebagainya. Jadi
di sana USG 3-4 dimensi diperlukan kalau memang terlihat kejanggalan pada janin.
Begitulah, sampai melahirkan, yang membantu juga Bidan, kecuali ada kelainan.
Kemarin itu aku sempet didampingi sama dokter, karena dulu platelet-ku rendah,
jadi takut kalau setelah melahirkan darahku nggak bisa membeku......tapi
alhamdulillah, semua berjalan lancar. Setelah lahir, anakkku juga periksa
rutinnya sama bidan/dokter umum. Dokter spesialis anak diperlukan kalau ada
kasus khusus saja.
Nah begitu deh, sampai akhirnya aku kembali ke Jakarta......dan hamil
lagi!.....Berdasarkan pengalaman di UK, tadinya aku mau milih pake bidan
daripada dokter, tapi berhubung nggak ada yang bisa kasih rekomendasi bidan
yang bagus deket rumahku, akhirnya aku pilih dokter kandungan yang sudah
senior, tidak banyak pasiennya, tapi orangnya cukup komunikatif. Tidak pula di
rumah sakit yang besar, karena takut jadi 'korban' dokter yang sukanya
caesar....hehehe......USG pun cuma yang 2 dimensi saja......
Akhirnya lahir anak kedua. Setelah lahir, aku pun pilih dokter anak yang
deket rumahku, di klinik kecil. Alhamdulillah memang ada dokter anak yang baik
banget di situ....jadinya enak, nggak perlu antre lama-lama, nggak jauh dari
rumah, dokternya baik dan ngasih nomer HP segala, kalau aku perlu tanya2 sama
dia......Kebetulan di klinik yang sama juga ada dokter umum langganan dari
waktu aku masih single.....jadi kadang kalo dokter anaknya nggak ada, aku ke
dokter umum (kebetulan kliniknya 24 jam) saja....sama aja.....
Hehe....maaf ya kalau kepanjangan, namanya juga cerita.....hehe.....
rini/ibunya raissa + kyran
"[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dari milis sebelah, barangkali bisa buat bahan pertimbangan buat kita semua.
ada artikel dari
http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=284
&Itemid=3
Pilih Saja Dokter Yang Sepi . . .
Oleh Dr. Handrawan Nadesul, Dokter Umum
Sebagaimana halnya kiat dokter menghadapi pasien, cara pasien menghadapi
dokter yang mengobatinya pun ikut menentukan kesembuhan penyakitnya.
Dokter yang seharusnya menyembuhkan, setelah menulis resep, bisa saja
memunculkan penyakit atau persoalan baru pada pasiennya bila antara dokter
dengan pasiennya tidak nyambung.
Seperti apa sajakah itu ?
Beda dokter Indonesia dengan dokter asing adalah dalam hal waktu. Rata-rata
dokter kita kelewat sempit waktunya untuk memeriksa pasien secara legal
artis, secara ikut aturan medik. Tidak ada di dunia dokter yang dalam
seharinya memeriksa ratusan pasien seperti di Indonesia. Saya pribadi
pernah mengalaminya di puskesmas dulu.
Tidak mungkin beres dan benar di mata medis, dokter sebrilian apa pun kalau
dalam sehari harus memeriksa pasien sebanyak itu. Di semua negara, jumlah
pasien yang boleh diperiksa dalam sehari dibatasi oleh undang-undang. Itu
dimungkinkan karena sistem kesehatan di negara maju, dokter digaji penuh
oleh pemerintah untuk bisa hidup memadai sebagai dokter hanya dengan
berpraktik di satu institusi.
Dokter kita harus cari tambahan sendiri dan praktik sore hari, sebab
gajinya tak memadai untuk standar profesinya. Dokter kita rela menjadi kutu
loncat dari klinik ke klinik lain agar banyak meraih sabetan tambahannya.
Krisis waktu
Kerja profesi medis seruduk sana seruduk sini, kendati kini dengan
undang-undang kedokteran yang baru sudah mulai dibatasi, tetap saja bakal
berdampak buruk pada pasien, kalau jumlah pasien yang diperkenankan
diperiksa masih melebihi kemampuan fisik, mental, maupun rasa sosial
seorang dokter.
Bagaimana seorang dokter masih bisa akurat memeriksa dan mendiagnosis kalau
sudah waktunya jam tidur masih memeriksa pasien, misalnya.
Di negara maju, dokter yang melakukan tindakan (bedah, persalinan,
kedaruratan medik) tidak diperkenankan lagi melakukan praktik harian.
Dengan demikian tetap terjaga konsentrasinya dalam melakukan tugas
profesinya. Namun, dengan pengetatan itu pun kasus malapraktik masih juga
terjadi. Apalagi melihat sepak terjang praktik rata-rata dokter kita.
Sepandai-pandai tupai melompat, akan terjatuh juga. Itulah maka kasus
malapraktik di Indonesia tidak pernah berkurang.
Oleh karena bobot kerja rata-rata dokter kita melebihi enduran fisiknya,
kesabaran mentalnya, dan ketahanan batinnya, banyak pasien tidak puas
bertemu doktennya. selain hasil terapinya bisa jadi dinilai gagal, kurang
sempurna, atau mungkin malah berkomplikasi.
Memang tidak semua kasus ketidakpuasan pasien akibat ulah dokter. Cara
kerja minimalis, rendahnya penghargaan terhadap profesi, alitnya
honorarium, adalah faktor-faktor yang menjadikan dokter kita seolah tidak
profesional. Bahkan seorang profesor kita pun, pernah dibicarakan akibat
bobot kerjanya melebihi kemampuan profesionalnya, sehingga bisa sampai
kecolongan luput mendiagnosis yang selayaknya bila dalam kerja profesi
normal bisa dilakukannya.
Sekali lagi, penyebab tidak profesionalnya rata-rata dokter kita, sebagian
besar lantaran waktunya sempit untuk mendiagnosis pasien. Anamnesis
(wawancara) yang seharusnya khusuk, sabar, dan cermat diamati, baru
beberapa detik saja pasien bicara, ada dokter yang sudah selesal menulis
resepnya.
Mungkin masih elok bila itu untuk kasus batuk-pilek sehari-hari, tetapi
tidak untuk kasus berat. Sesungguhnyalah sebagian besar diagnosis penyakit
harian yang datang ke kamar praktik dokter sudah bisa dipetik dari
anamnesis.
Bagaimana dokter mengorek keluhan pasien, membimbing pasien untuk
mengungkapkan apa yang dirasakannya. Bagaimana pula dokter pandai memilah
yang subjektif dengan yang objektif, lalu menghimpun bukti-bukti medis,
melakukan pemutihan fakta dan keluhan medis, sehingga seperti halnya
seorang detektif, dalam waktu singkat, dokter sudah bisa mencium bau sebuah
penyakit tertentu pada pasiennya.
Untuk itu perlu waktu yang tidak sempit dalam melakukan anamnesis. Kunci
keberhasilan dokter ditentukan oleh kualitas anamnesis. Tanpa anamnesis
yang sempurna, diagnosis bisa meleset, dan bisa jadi pasien merasa tidak
puas, kendati mungkin saja sembuh. Kita tahu, karena sebagian besar
penyakit sehari-hari bersifat menyembuh sendiri (self-limiting diseases).
Narrative Medicine
Sekolah dokter tidak persis mengajarkan bagaimana kiat melakukan anamnesis.
Padahal, teknik menganamnesis kunci keberhasilan praktik dokter.
Dokter bertangan dingin sebagian ditentukan pula oleh bagaimana dokter
secara berempati, selain bersimpati, mau mendengarkan keluhan pasien, dan
tidak rajin menyela saat pasien mengungkapkan keluhannya.
Profesi dokter itu juga sebuah seni (art). Kiat dokter mendekati pasien,
banyak ditentukan oleh kecerdasan dokter dalam mendengar keluh-kesah
pasien. Dokter yang bisa ikut merasäkan keluhan pasien, lalu menerjemahkan
keluhan itu ke dalam bahasa medik, seperti itulah awal kesuksesan dokter
bertangan dingin.
Kenyataannya, dokter modern semakin kurang sentuhan (High tech, low touch),
dan telemedicine, terapi jarak jauh, tanpa melihat tanpa menyentuh pasien,
kian menjadikan praktik kedokteran terasa kering sentuhan. Bukankah
kebutuhan pasien juga ingin disapa, rindu pula diperlakukan bukan seperti
mesin mobil? Sayang akibat sempitnya waktu membuat dokter alpa
memberikannya, dan kebanyakan dokter melakukan peran menjadi seperti montir
mobil.
Melihat fakta yang meresahkan seperti itu, ada gerakan untuk mengajarkan
kembali dokter untuk cerdas mendengar pasien. Mengajarkan ulang bagaimana
dokter menyimak riwayat penyakit pasiennya, bersikap penuh tenggang rasa
terhadap pasien. Caranya, dengan kiat, dengan sebuah sikap seni narrative
medicine.
Narrative medicine diterima sebagai sebuah disiplin baru yang menekankan
keterampilan mendengar dan menulis untuk membantu para pekerja medis
memahami lebih baik kondisi pasiennya. Bagaimana pekerja medis menyediakan
waktu cukup untuk sepenuhnya mendengar.
Bagaimana membangun program percakapan dalam sebuah disiplin medis.
Bagaimana tajam dokter membayangkan perasaan sakit pasien dan membangun
rasa empati terhadap kesukaran-kesukaran yang pasien hadapi.
Itu maka, menjadi dokter yang bik adalah menjadi dokter yang cerdas
menyimak pasiennya ("Being a good doctor is listening," ujar Dr. Barry
Bub). Kenyataannya, sukar bagi dokter di negara sedang berkembang seperti
di Indonesia untuk bisa seelok itu.
Pilih Saja Dokter yang Sepi
Faktanya di kita memang sudah seperti itu. Pasien berbondong-bondong
mencari dokter yang praktiknya laris. Bisa jadi memang dokternya bertangan
dingin. Namun, bila melihat cara kerja dan sikap profesinya dalam memeriksa
sudah jauh melampaui batas kemampuan profesionalnya, ada ancaman terjadi
musibah medis.
Bukankah tanpa disengaja bisa saja terjadi musibah, seperti salah periksa,
salah menulis resep, salah tindakan, keliru mengoperasi (ginjal kiri yang
sakit yang dibuang malah ginjal kanan, misalnya), hanya gara-gara
praktiknya melebihi kemampuan fisik dan mentalnya ?
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para kolega, kalau memberikan ceramah
kesehatan, saya menganjurkan agar berpreferensi tidak ke dokter yang
praktiknya melebihi kapasitas kemampuan wajar seorang manusia, bila
kasusnya bukan yang berat dan memerfukan kecerdasan seorang dokter ahli
banget.
Sebut saja untuk persalinan normal. Tak perlulah mencari dokter senior yang
pasiennya ratusan. Persalinan normal bisa ditolong oleh bidan sekalipun,
buat apa cari perkara memilih dokter yang kesohor ? Dampaknya bisa buruk
karena dokter yang pasiennya banyak, waktunya berharga. Bisa terjadi
penanganannya kurang akurat, mungkin teledor, atau menganggap kasus enteng
saking sudah seringnya melakukan tindakan yang sama (menolong bersalin,
bedah usus buntu, katarak), sehingga ceroboh. Nasib buruk bila kita jadi
korbannya. Kejadian bakal seperti itu sangat masuk akal medis. Sebaliknya,
dokter yang tidak begitu laris kalau kasusnya bukanlah kasus berat, mungkin
mengerjakannya lebih teliti, lebih care menangani pasien, sehingga musibah
yang berisiko terjadi bila memilih dokter sibuk, mungkin tidak terjadi.
Jadi maksudnya, agar bisa memuaskan dalam berobat, ada baiknya bertemu
dengan dokter yang bisa nyambung kalau diajak ngomong medis. Sebagian dari
kesembuhan penyakit ditentukan pula, kalau bukan menjadi kunci, oleh
nyambung tidaknya pembicaraan dokter dengan pasiennya. Dan tentu itu tidak
boleh berarti asal nyambung yang ngalor-ngidul ngomong saham, gosip, atau
politik, tetapi harus soal penyakit. @
****************************************************************************
---------------------------------
Yahoo! Cars NEW - sell your car and browse thousands of new and used cars
online search now
---------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$15 provides a child with safe, clean water. Your gift can make a difference.
http://us.click.yahoo.com/zpwSNB/icGMAA/a8ILAA/wDNolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/