sumber : nakita
  BINGUNG BAHASA MEMBUAT ANAKKU TELAT BICARA
  Putri kami, Amanda Najla Krisnandya (4;9) mengalami keterbatasan verbal dan 
konsentrasi. Namun, lewat keterbatasannya kami belajar banyak tentang 
kehidupan, juga memahami makna sabar serta selalu berikhtiar dan berserah diri 
dalam kuasa-Nya. Berikut penuturan Hanni Darwanti (31), ibunda Amanda.
  Dedeh Kurniasih. Foto: Ferdi/nakita
   
              DIDUGA MELAKUKAN KEKERASAN
  
Putri sulung kami, Amanda, lahir normal di Jakarta, 13 April 1999. Kondisi dan 
tahap perkembangannya semasa bayi bisa dikatakan normal sesuai usia. Ia pun 
termasuk bayi riang, sangat aktif, dan mudah beradaptasi dengan lingkungan 
baru. Saat Amanda 1 tahun, suamiku Adam Armansyah (32) mendapat tugas studi di 
negeri sakura, Jepang. Enam bulan kemudian kami menyusul. 
  Apartemen kami di Jepang sangat sempit sehingga tak banyak ruang untuk 
bergerak. Bagi Amanda yang tengah menikmati masa eksplorasinya, keadaan 
demikian tentu membuatnya tidak nyaman. Tak jarang untuk meluapkan ekspresi 
kejengkelannya ia sampai berteriak-teriak. Karena dinding ruang apartemen kami 
tak kedap suara, lengkingan Amanda disalahtafsirkan para tetanga. Hingga suatu 
hari dinas sosial datang karena menerima pengaduan dugaan "child abuse" dari 
mereka. 
  Untunglah hal tersebut dapat terselesaikan dengan baik. Demi ketentraman dan 
kenyamanan lingkungan, aku harus dapat "mengendalikan" Amanda. Salah satu 
caranya mengakrabkan Amanda dengan video-video Sesame Street. Tontonan film itu 
bisa membuat Amanda duduk tenang atau setidaknya dia jadi lupa berteriak-teriak 
karena sibuk menirukan gerakan Elmo menari dan bernyanyi. 
  Sekitar satu setengah tahun di Jepang, bisa dikatakan aku tak memiliki 
pembanding dalam mengukur perkembangan Amanda. Hal paling menonjol pada Amanda 
adalah aktivitasnya yang tanpa henti. Persis gasing. Ia tak lelah berlari, 
melompat, menari dan bernyanyi. Jika Amanda tidur siang, meski hanya 1 jam, 
maka ia akan betah melek semalam suntuk. Segala cara sudah kami ciptakan agar 
Amanda dapat tertidur. Mematikan lampu, misalnya. Tapi akhirnya bukan dia yang 
mengantuk, karena justru kami yang terlelap. Amanda malah asyik bersenandung 
dan berceloteh sendiri sambil melompat-lompat di antara kami, di atas kasur. 
  Keaktifan Amanda dibarengi dengan rentang konsentrasinya yang singkat. Jika 
ingin bicara atau menarik perhatiannya, teve atau radio harus dimatikan. Di 
ruangan itu pun tidak boleh ada yang berbicara kecuali si pengajak bicara. 
Barulah Amanda dapat berkonsentrasi. Kosakatanya pun sangat minim. Bahasa yang 
ia gunakan lebih pada "bahasa planet" (bahasa yang tidak dimengerti, Red.). 
Namun kemampuan reseptifnya cukup baik. Jika diberi instruksi atau larangan, 
Amanda langsung paham. Kami tahu dari binar di matanya. 
  Saat berkumpul bersama keluarga-keluarga Indonesia yang memiliki balita di 
Jepang, ia memang tampak belum bisa berkomunikasi dengan temannya. Toh, kami 
tak terlalu curiga. Dalam benak kami, anak seusia Amanda memang belum bisa 
bersosialisasi dengan baik.

   
              TELAT BICARA
  
Kami kembali ke Indonesia saat Amanda berumur 3 tahun. Di sinilah kami tersadar 
bahwa kemampuan verbal Amanda tertinggal dari anak sebayanya. Sempat ia kubawa 
untuk tempat terapi wicara tanpa berkonsultasi dulu dengan ahli. Ternyata bukan 
kemajuan yang didapat, Amanda malah trauma. Ia selalu takut saat ada orang yang 
memegang dagunya karena selama menjalani terapi, sang terapis akan mengangkat 
dagunya dengan kuat agar mendapat perhatian dari Amanda. Bukan hanya itu, saat 
di kendaraan, Amanda selalu berteriak-teriak ketakutan kala melihat jalan yang 
dikenalnya sebagai jalan menuju lokasi tempat terapi. 
  Orang-orang di sekitar kami memberikan "seribu" label gangguan perkembangan 
pada Amanda. Itulah yang memicu kami untuk mencari tahu kondisi Amanda 
sebenarnya. Segala cara kami tempuh termasuk browsing internet untuk mencari 
dokter anak yang bisa menjawab segala pertanyaan kami. Tak lupa, kami juga 
berkonsultasi dengan psikolog anak. 
  Melalui observasi dan diskusi cukup intensif dengan beberapa ahli, 
disimpulkan bahwa Amanda mengalami keterlambatan bicara. Penyebabnya 
kemungkinan adalah bingung bahasa. Di luar rumah ia mendengar orang menggunakan 
bahasa Jepang, sementara orang tuanya berbahasa Indonesia, sedangkan film yang 
ditontonnya berbahasa Inggris. Selain itu, keberadaannya bersamaku selama 24 
jam menyebabkannya tak perlu susah-susah berkomunikasi verbal. Terlebih ruang 
tempat tinggal yang terbatas membuatnya tak pernah berada dalam kondisi untuk 
memanggil "Bapak" atau "Ibu" (pertama kali ia memanggilku "Ibu" di usia 3 tahun 
2 bulan!). 
  Psikolog pun menambahkan, tempo bicaraku terlalu cepat bagi telinga Amanda, 
sehingga saat ia berusaha menyamai kecepatan bicaraku, terbentuklah "bahasa 
planet". Terapi terbaik bagi Amanda adalah perubahan gaya komunikasi kami di 
rumah. Tempo bicaraku harus lebih perlahan dan lebih artikulatif.

   
              PERJUANGAN MENCARI "SEKOLAH"
  Tak mudah mencari "sekolah" bagi anak yang dianggap memiliki kebutuhan 
khusus. Kebanyakan mempertanyakan beberapa keterbatasan Amanda. Seperti 
minimnya perbendaharaan kata yang dimiliki untuk anak seusianya, kemampuan 
konsentrasi yang rendah, dan kurangnya kemampuan merespons yang menunjukkan 
gejala sindroma autisme/ADHD. Bahkan ada sekolah yang menuntut pernyataan hitam 
di atas putih akan hasil tes perkembangan yang menyatakan Amanda cukup normal 
untuk bersekolah di taman bermain umum. 
  Tak terhitung berapa kali aku pulang berderai air mata setelah survei 
sekolah. Harapanku pihak sekolah dapat mendengarkanku. Ternyata pendapatku 
hanya dianggap sebagai pembelaan seorang ibu yang tak bisa menerima kenyataan 
anaknya mengalami gangguan perkembangan. 
  Akhirnya jerih payahku tak sia-sia karena Amanda dapat diterima di sebuah 
taman bermain yang akomodatif. Sayangnya, hanya 4 bulan ia di sana karena uang 
sekolahnya naik di luar batas kemampuan. Keputusan mengeluarkan Amanda cukup 
berat tapi kami harus realistis. Selang beberapa waktu, Amanda kembali diterima 
di taman bermain lain yang sama-sama menggunakan metode pendekatan semi 
individual. "Sekolah" ini percaya bahwa setiap anak unik dan masing-masing 
memiliki potensi kecerdasan dalam aspek yang berbeda. 
  Di sini keterbatasan Amanda dalam bidang verbal dan konsentrasi tak dianggap 
sebagai hambatan yang sifatnya permanen. Para guru mampu membesarkan hati dan 
menunjukkan bahwa Amanda memiliki potensi kecerdasan yang bisa dikembangkan dan 
membantu mengatasi keterbatasannya. Menurut mereka daya ingat Amanda sangat 
tajam, kemampuan membacanya besar, demikian pula minatnya dalam bermusik. Aku 
sendiri terkejut ketika suatu hari gurunya mengatakan Amanda sudah lancar 
membaca, bahkan untuk kalimat yang panjang dan ditulis tangan. 
  Jadi mungkin saja, selama ini Amanda bukannya tak mampu berkonsentrasi tapi 
karena ia tak berminat atau mungkin tak ada sesuatu yang menarik bagi dirinya. 
Oleh karena itu, untuk menyiasati dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi 
serta berkonsentrasinya, berbagai cara ditempuh oleh para guru untuk 
membangkitkan minatnya.

   
              IKUTI TIPS
  Dari hobi menjelajah internet, kami pun mendapat banyak manfaat untuk 
kemajuan Amanda. Salah satunya adalah tips mengembangkan komunikasi verbal anak 
telat bicara. Kami mencoba melakukan saran yang diberikan di situ, seperti 
membuat buku berisi tempelan gambar/foto orang atau benda yang ada di kehidupan 
sehari-harinya. 
  Setiap hari, buku tersebut kami tunjukkan kepada Amanda sambil dibolak balik. 
Tak lupa kami mengucapkan nama benda/orang yang tertulis di samping gambar. 
Tanpa disadari cara ini membuat Amanda hafal kata-kata yang tertulis sebagai 
suatu bentuk pola. Berarti secara tidak langsung, ia bisa membaca meski belum 
bisa mengeja. Kami juga menerapkan komunikasi dengan prinsip tenis meja. 
Maksudnya, pembicaraan harus berlangsung tanpa ada yang mendominasi. Jadi apa 
pun yang aku bicarakan, aku harus menunggu reaksi dan tanggapan Amanda, sebelum 
kuteruskan dengan perkataan selanjutnya. 
  Milis lain yang aku ikuti adalah sebuah milis komunitas anak berbakat. 
Mulanya sempat ada keraguan karena cibiran orang-orang sekitarku. Mereka 
menganggapku sebagai ibu yang tidak dapat menerima kenyataan bahwa anaknya 
mengalami gangguan perkembangan sampai meyakini anaknya jenius dan berbakat. 
  Namun setelah kucoba terlibat ternyata hampir seluruh anggota milis adalah 
orang tua yang bingung seperti aku. Di satu sisi anaknya sulit berkomunikasi, 
sulit konsentrasi, keras kepala, mudah tantrum dan amat tak bisa diam, tapi di 
sisi lain daya tangkap, daya ingat dan kreativitasnya luar biasa. 
  Dari diskusi di milis, baru kumengerti bahwa definisi anak berbakat tak 
semata-mata berdasarkan IQ yang tinggi saja atau mampu mengerjakan soal 
matematika untuk tingkat di atas usianya. Kebanyakan anak berbakat justru 
memiliki kesulitan belajar karena mengalami loncatan perkembangan namun dirinya 
tak bisa mengimbangi loncatan perkembangan itu. 
  Saat ini, komunikasi verbal Amanda memang masih tertinggal. Ia belum bisa 
menempatkan kalimat pada konteks yang tepat. Istilah awamnya ia masih sering 
tulalit alias enggak nyambung bila bicara. Namun, Amanda sudah bisa bertanya 
dan menjawab pertanyaan dengan cerewet. 
  Untuk mengatasi rasa jenuh dan tantrum yang masih sering dialami Amanda, kami 
harus kreatif. Agar ia tenang kala bepergian, umpamanya, kami selalu 
menyediakan buku baru. Konsentrasinya selama perjalanan bisa terserap penuh 
pada buku tersebut. Sebelum mengunjungi tempat-tempat baru, kami akan 
memberinya bayangan lewat cerita dan gambar agar ia tak lepas kendali saat di 
tempat itu. 
  Mungkin Amanda tak akan bersekolah di sekolah favorit atau unggulan, namun di 
sekolah yang bisa menerima segenap kekurangan dan kelebihannya. Kami dapat 
menerima semua itu karena kami sadar Amanda harus belajar menerima diri apa 
adanya. Ia juga perlu belajar menghadapi berbagai penolakan dan penilaian orang 
atas dirinya. Itulah dunia nyata yang cepat atau lambat harus dihadapinya. Tak 
semua orang akan mengerti Amanda. Kami hanya berharap bahwa buah hati kami ini 
bisa tumbuh menjadi manusia yang bahagia dan selalu mensyukuri diri apa adanya.


__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke