Isu memang selalu meresahkan. Seorang ibu menulis lewat e-mail bagaimana 
anaknya mengidap autis setelah divaksinasi. Ditanggapi di sana, diprotes di 
sini, justru membuat e-mail itu makin populer. Belum reda isu itu, muncul buku 
terjemahan yang berjudul Children With Starving Brains (Grasindo, 2002) hasil 
tulisan seorang dokter yang kebetulan memiliki cucu autis akibat vaksinasi. 
Banyak kalangan, terutama orang tua, menjadi resah setelah membacanya. Apa yang 
sebenarnya terjadi? "Isu seputar vaksinasi itu selalu ada dan tidak pernah 
berhenti. Bahkan ada perkumpulan yang terang-terangan mendeklarasikan diri 
sebagai kelompok antivaksinasi," tanggap Dr. Adi Tagor, Sp.A. DPH., dari RS 
Pondok Indah, Jakarta. Namun, ia meminta kita agar tidak menutup mata terhadap 
manfaat vaksin yang merupakan salah satu penemuan terbesar. Sejarah mencatat, 
vaksinasi menyelamatkan banyak generasi dan memperpanjang kemungkinan hidup 
seseorang. Salah satunya vaksin cacar yang berhasil melenyapkan penyakit itu
 dari muka bumi pada tahun 1970. 
  Vaksinasi pun tidak hanya bermanfaat bagi orang yang menjalankannya, tapi 
bermanfaat bagi orang di seluruh dunia. "Dengan vaksinasi, kemungkinan 
penularan penyakit dapat diperkecil dan akhirnya bermanfaat untuk seluruh umat 
manusia," tandasnya. Bahkan di Indonesia manfaat vaksin ini angkanya sangat 
fantastis, "Vaksinasi sudah terbukti mengurangi angka kematian bayi sampai 
4.000 %, tentunya dibarengi dengan perbaikan gizi dan sebagainya."
  Gazali Solahuddin, Utami Sri Rahayu, Marfuah Panji Astuti
   
   
  THIMEROSAL SEBAGAI BIANG KELADI?
  Jika kemudian vaksin yang membawa banyak manfaat dituding memicu autisme pada 
anak, hal itu karena ada beberapa pihak seperti Jaquelyn McCandless, MD, yang 
menyebutkan bahwa thimerosal yang terdapat pada vaksin sebagai zat pengawet 
mengandung etilmerkuri hingga melebihi ambang batas. Kelebihan itu tidak dapat 
ditoleransi oleh tubuh sebagian anak sehingga menjadi berbahaya dan kemudian 
memicu autisme. Sebenarnya, apa sih fungsi thimerosal dalam vaksin itu? 
  Farmakolog Prof. DR. Iwan Darmansjah, SpFK, menjelasksan, "Thimerosal atau 
dikenal pula dengan istilah mercurothiolate dan sodium 
2-ethylmercuriothiobenzoate banyak digunakan pada vaksin untuk mencegah 
perkembangbiakan jamur atau bakteri selama proses manufacturing (pembuatan, 
pengemasan, pengiriman, penyimpanan, penggunaan). Terutama pada vaksin 
multidosis yang telah dibuka." Senyawa ini telah digunakan untuk mengawetkan 
vaksin dan obat-obatan tertentu sejak tahun 1930-an. Sampai sekarang, 
thimerosal masih dianggap paling efektif membunuh virus, jamur atau bakteri 
pada vaksin.  
  Dikatakan Iwan, thimerosal yang digunakan dalam proses produksi umumnya lebih 
kecil dari 0,5 miugram per dosis seperti yang terdapat pada vaksin MMR, polio 
(oral), dan BCG. Lalu yang digunakan untuk melindungi vaksin multidosis agar 
tak terkontaminasi mikroorganisme adalah antara 10 sampai 50 mimgram per dosis 
seperti pada DPT (dipteri pertusis), DT (dipteri dan tetanus toksis), TT 
(tetanus toksis), hepatitis B dan HiB. 
  Dalam kesempatan yang berbeda, Adi Tagor juga menekankan manfaat senyawa 
pengawet vaksin ini, "Thimerosal bisa menangkal virus-virus lain yang tak 
terkendali. Misalnya virus yang masuk ketika botol vaksin dibuka, disuntikkan 
ke tubuh dan seterusnya. Virus-virus liar ini jelas lebih berbahaya. Apalagi 
sekarang ada makhluk lain yang lebih kecil dari virus yang disebut prion." Jadi 
manfaat utama thimerosal adalah mencegah masuknya mikroorganisma tak diharapkan 
(liar) dalam proses vaksinasi, sehingga tidak justru menjadi media penyebaran 
penyakit. 
  Penelitian terhadap anak-anak yang telah meninggal (karena kecelakaan dan 
sebagainya) untuk membandingkan kadar merkuri antara yang telah mendapat 
vaksinasi lengkap dan yang kurang lengkap atau tidak sama sekali juga telah 
dilakukan. Hasilnya menunjukkan kadar merkuri dalam tubuh mereka tidak 
memperlihatkan perbedaan yang signifikan. 
  "Kalau betul thimerosal merupakan biang keladi karena kandungan merkurinya, 
harusnya anak-anak yang divaksin lengkap menunjukkan perbedaan kadar merkuri 
yang cukup besar, dong. Tapi ternyata, kan, tidak," tandas Adi. "Kalau memang 
ada zat yang lebih baik dari thimerosal yang dapat digunakan untuk mencegah 
kontaminasi oleh virus liar, tentu lebih baik lagi. Tapi sampai saat ini 
thimerosal masih bermanfaat dan belum tergantikan."
   
  BELUM ADA LARANGAN
  Berkat fakta pendukung tersebut FDA (Food and Drug Administration) di Amerika 
Serikat sampai hari ini belum mengeluarkan larangan pemakaian thimerosal 
sebagai zat pengawet vaksin. Bahkan lembaga kesehatan tertinggi di dunia, WHO, 
masih mengakuinya sebagai zat yang aman. 
  Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia (BPOM) dalam siaran resminya juga 
menyatakan tidak ada hubungan antara vaksinasi dengan autisme. Secara tegas 
disebutkan bahwa kandungan merkuri yang berbahaya bagi manusia adalah gugus 
merkuri yang di dalam tubuh tidak dapat dimetabolisme, sedangkan kandungan 
merkuri dalam thimerosal adalah gugus etilmerkuri dari senyawa organik yang 
akan dimetabolisme bila masuk ke dalam tubuh hingga kemudian diekskresi melalui 
saluran cerna. Kadar thimerosal dalam vaksin yang diperbolehkan adalah 
0,005%-0,02% sesuai dengan standar WHO. Saat ini menurut BPOM vaksin yang 
beredar di Indonesia sudah mengikuti persyaratan tersebut. 
  Yayasan Lembaga Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) yang 
diketuai oleh dr. Marius Widjajarta S.E., sekalipun mengiyakan adanya polemik 
dan isu seputar vaksin, saat ini juga cenderung menyerahkan jawabannya kepada 
lembaga dunia, dalam hal ini WHO. 
  Menurut Marius, YPKKI bersikap seperti itu karena dirinya tidak ingin 
terjebak dengan permainan perdagangan obat. "Biasanya dalam permainan 
perdagangan obat, boikot-boikotan dengan cara melempar berbagai macam isu ke 
publik sering dilakukan. Apalagi antarprodusen obat yang berbeda negara, 
biasanya selalu seru." 
  Jadi dalam hal ini, tambah Marius, "Karena kita adalah negara anggota WHO, ya 
sebaiknya ikut apa yang disarankan oleh WHO, karena ini adalah lembaga dunia 
yang keputusan, sikap, dan pernyataannya masih bisa kita percayai penuh." 
Menurutnya, WHO dalam membuat keputusan yang menyangkut kepentingan orang 
banyak pasti tidak main-main. Pun, WHO tidak akan menutup mata terhadap isu 
kesehatan yang muncul dan berkembang di dunia ini. 
  Secara arif Adi menegaskan, "Tidak mungkin ada persekongkolan yang dilakukan 
oleh dokter di seluruh dunia untuk menyatakan bahwa thimerosal aman digunakan. 
Kalau memang sudah terbukti suatu zat mengandung bahaya, sudah pasti FDA, BPOM, 
lembaga-lembaga yang berwenang maupun WHO akan cepat tanggap. Juga misalnya 
sudah diputuskan bahwa zat tersebut berbahaya, maka detik itu juga orang di 
seluruh dunia bisa tahu. Di dunia yang sudah terhubung dengan jaringan internet 
ini tidak mungkin ada kesenjangan informasi. (Tidak mungkin) di Amerika 
sekarang dilarang, sedangkan di Indonesia masih diperbolehkan." 
  Menurutnya, dokter pun punya tanggung jawab moral untuk memberikan informasi 
yang benar kepada masyarakat. "Sebagai profesional, jelas salah kalau ada 
dokter yang memblok pengetahuan yang harus diketahui masyarakat luas," 
tandasnya.     BAGAIMANA DENGAN MMR?
  Bagaimana dengan dugaan bahwa vaksin MMR memicu autisme? Walaupun isu ini 
sudah berkembang selama beberapa tahun dan semua pihak yang berwenang sudah 
memberikan bantahan, kekhawatiran masyarakat tak kunjung reda. Ibarat pepatah, 
tak ada asap bila tak ada api. Mana mungkin isu vaksin pemicu autisme ini 
muncul tanpa ada penyebabnya? Jadi bagaimana seharusnya menyikapi polemik ini? 
  Dalam bukunya, Jaquelyn McCandless, MD., juga menulis bahwa kombinasi 3 in 1, 
antara vaksin campak (Measles), gondok (Mumps), dan rubela (Rubella) atau MMR 
telah dinyatakan sebagai penyelamat jutaan nyawa, tapi MMR juga dapat berperan 
sebagai kontributor autisme regresif yang saat ini diderita ribuan anak. 
Kesimpulan ini didapat berdasarkan data patologi usus halus yang berhubungan 
dengan jenis virus dari vaksin campak. 
  Dalam buku yang sama, Jacquelyn juga mengutip penelitian yang dilakukan Dr. 
Andrew Wakefield yang menemukan genome virus yang berasal dari vaksin di dalam 
jaringan usus halus dan sel-sel mononuklear di bagian tepian darah dari satu 
subkelompok anak-anak autis. Disebutkan pula MMR memicu reaksi autoimunitas 
tubuh terhadap myelin basic protein (MBP) atau protein mielin (lemak pelindung) 
pada otak yang terdapat pada grup anak-anak rentan. Disebutkan pula penelitian 
yang dilakukan oleh VK Singh, yang menunjukkan presentase tinggi pada anak-anak 
autis yang memiliki titer antibodi yang tinggi terhadap MBP dan bahwa titer 
tinggi ini sering muncul bersamaan dengan titer tinggi terhadap virus campak 
atau human herpesvirus 6 (HHV-6). 
  Di Indonesia, tak kurang ada juga orang tua yang giat menelisik apa gerangan 
penyebab autisme. Dialah Debbie R. Sianturi, SE,Ak., ibu dari anak autis 
bernama Joshua yang telah melakukan banyak usaha untuk mencari tahu penyebab 
autisme. "Anak saya menderita autis di usia 2 tahun 2 bulan setelah mendapatkan 
16 kali suntikan vaksin." 
  Debbie bertahan dengan pendapat kontroversial seperti ini setelah sang anak 
menjalani serangkaian uji laboratorium baik di dalam dan luar negeri, dari 
darah hingga biomedical treatments, "Dari uji laboratorium itu antara lain 
disebutkan bahwa reaksi tubuh anak saya terhadap vaksin campak adalah abnormal 
atau tidak bereaksi. Oleh karena itulah anak saya mengalami autobrain imunity 
yang mengakibatkan dirinya mengalami disconections. Itulah mengapa saya yakin 
sekali bahwa vaksin ada hubungannya dengan autisme." Hal tersebut diamini oleh 
dokter-dokter pakar autis dari luar negeri yang didatangkan Debbie ke Indonesia 
untuk menyampaikan penemuan mereka kepada publik awam dan profesional, antara 
lain Prof. Sudhir Gupta, MD., Ph.D., F.R.C.P.(C), M.A.C.P., Edward Yazbak, MD, 
Jeff Brastreet, MD (nutrisionist), dan William Walsh, MD. 
  Saat itu Debbie masih mempertanyakan mengapa vaksin bisa menyebabkan anaknya 
autis. Selidik punya selidik setelah mengingat-ingat kembali saat pertama kali 
anaknya divaksin, ia menemukan jawabannya, "Yaitu setiap kali divaksinasi 
kondisi anak saya selalu sedang sakit." Tentu saja Debbie menyesalkan mengapa 
kalau memang kondisi itu akan memunculkan efek samping, dokternya berani 
melakukan vaksinasi terhadap Joshua. Mengapa pula hal seperti ini tidak 
diberitahukan kepada publik? 
  Dari situ ia mengambil kesimpulan bahwa vaksin yang digunakan secara salah 
akan menimbulkan efek negatif. Oleh karena itulah ia menyarankan agar sebelum 
vaksinasi dilakukan seorang anak menjalani skrining lebih dahulu. Dengan bahasa 
lain menurut Debbie, lakukanlah prosedur pemberian vaksin, teliti ada tidaknya 
riwayat autoimunity, adakah penyakit asma, ada tidak penyakit diabetes, dan 
kuat tidak anak menerima kandungan zat-zat yang ada dalam vaksin termasuk 
thimerosal itu. 
  Menanggapi hal tersebut Adi memberikan pendapat pribadinya, "MMR sampai saat 
ini memang masih kontroversial. Ada yang mengatakan bahwa penelitian itu tidak 
sahih karena sampelnya salah, metodologi penelitiannya salah, statistiknya 
salah dan sebagainya. Walaupun begitu kita tetap harus menghormati penelitian 
tersebut yang hasilnya menyebutkan bahwa kelompok anak yang divaksinasi MMR 
sebelum berusia 2 tahun secara signifikan menunjukkan angka autis yang lebih 
banyak dibandingkan kelompok anak yang divaksinasi di atas usia 2 tahun." 
  Sebagai dokter, sebelum memberikan vaksin MMR, Adi mengaku selalu menanyakan 
orang tua pasiennya, apakah anaknya (berapa pun usianya) sudah bisa bicara 
lancar? Kalau ternyata anak tersebut belum mampu bicara, kosakatanya belum 
banyak, atau masih cadel dan pengucapannya tidak jelas, "Saya akan sarankan 
untuk menunda vaksinasi MMR. It's allright kalau ditunda sementara waktu, 
karena memang ada penelitiannya walaupun masih kontroversial."
  Menurutnya, kalau pada usia 2 tahun anak ketahuan mengalami keterlambatan 
bicara, hal itu bisa menjadi indikator bahwa ada sesuatu yang belum berfungsi 
"sempurna" dalam perkembangannya. Pada kondisi seperti itu, dikhawatirkan 
tubuhnya akan memberikan reaksi negatif terhadap vaksinasi MMR. 
  Namun, kalau pasien kemudian bertanya apakah vaksinasi MMR masih perlu, Adi 
akan menjawab, "Jelas perlu." Mana ada vaksin yang tidak bermanfaat. "MMR 
sendiri sangat bermanfaat dalam mencegah 3 penyakit yang bisa mengakibatkan 
kecacatan bahkan kematian," jawabnya tegas. Jadi jangan ada salah persepsi di 
sini, vaksin MMR tetap perlu diberikan, tapi kalau anak menunjukkan 
keterlambatan bicara dan sebagainya, tak ada salahnya untuk menundanya 
sementara waktu. Pun kalau masyarakat mendengar informasi baru mengenai 
kesehatan anak yang sekiranya meragukan, sebaiknya tanyakan kebenarannya kepada 
pihak yang kompeten, misalnya dokter anak yang dipercaya. 
   
  VAKSIN MODERN
  Pembuatan vaksin modern sudah menggunakan teknologi yang dinamakan 
bioengineering. "Misalnya kalau dulu vaksin hepatitis B dibuat dari darah atau 
kuman sebenarnya, sekarang sudah tidak lagi. Sekarang ini digunakan bahan 
seperti ragi. Jadi yang ditiru adalah sifat dari penyakit itu yang dikenali 
tubuh sebagai hepatitis B, padahal sebenarnya bukan. Hanya zat aktifnya saja 
yang ditiru," ungkap Adi Tagor. 
  Sebelum bisa digunakan secara luas, vaksin tentunya telah melalui serangkaian 
perjalanan panjang. Setelah ditemukan, vaksin tersebut diujicobakan pada 
jaringan yang "dihidupkan" seperti kulit, usus, dan sebagainya, jadi tidak 
langsung pada makhluk hidup. 
  Setelah menunjukkan hasil positif dan aman, baru diujicobakan pada mencit 
(sejenis tikus kecil), kemudian diteruskan pada mamalia yang dekat dengan 
manusia, seperti monyet. Setelah dinyatakan aman barulah diujicobakan pada 
relawan. Relawan pun dibedakan menjadi 2, yaitu pada tahanan dengan imbalan 
pengurangan hukuman, atau beberapa pihak juga menyebutkan dilakukan pada 
tentara, dan pada relawan yang benar-benar secara sukarela mau melakukannya 
dengan alasan kemanusiaan. 
  Bila hasilnya positif, percobaan dilanjutkan pada kelompok terbatas, misalnya 
pada penduduk satu desa, dan barulah kemudian diluncurkan untuk masyarakat 
luas. Setelah digunakan oleh masyarakat luas, pemakaiannya masih selalu 
dipantau. Kalau memang ada keluhan dan sebagainya akan diteliti lebih lanjut 
lagi. Intinya tidak mungkin suatu zat yang berbahaya dibiarkan beredar begitu 
saja dan digunakan secara luas, apalagi jika pemakainya adalah anak-anak.
  

Fera <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
  Aku pengen sharing aja yah,

Aku gak tau kebenaran berita itu. Kalau ditanya sama dokter, kemungkinan 
jawaban menyangkal itu semua. Aku juga tanya teman kantorku yang udah punya 
anak dua, udah besar sekarang dan mereka melalui semua imunisasi itu dan anak 
mereka sehat2 aja sampai sekarang, tumbuh dengan normal. 

Yang paling sering terdengar isunya adalah MMR, karena kalau hepatitis B dan 
hib tidak begitu terdengar gaungnya kalau menyebabkan autisme. Anakku sekarang 
udah 1 tahun dan udah menyelesaikan hepatitis b dan hib. Kalau MMR, aku sih 
menjaga aja, tp aku tetap niat ngasi kira2 umur anakku 2 thn. Dan masalah ini 
kalau aku gak salah udah pernah dibahas sebelumnya di milis ayah bunda. Jadi 
ini aku rasa ya, selalu ada pro kontra. Tapi kalau aku pribadi, aku melihat 
lebih banyak bagusnya daripada jeleknya memberikan imunisasi kepada anak, jadi 
aku tetap akan memberikan imunisasi sesuai jadwal dan imunisasi tambahan.

Segitu aja sharingku

Fera Rambe
(Mama Raka)


----- Original Message ----- 
From: margaretha silitonga 
To: [email protected] 
Sent: Friday, January 20, 2006 9:29 AM
Subject: Re: [Ayahbunda-Online] Vaksin Penyebab Autis


Dear Moms & Dad,

Ada yang bisa kasih tanggapan juga gak mengenai hal ini? agak ngeri juga 
dengernya.... anakku juga masih dalam masa2 vaksin... klo ada yang punya 
pengalaman seperti itu, tolong dishare ya....

Thanks banget.
- Alvaro's Mom - 

isma riu wrote:
Dear,
Mudah2n bisa berguna, sy juga dpt info dr teman. 
Mohon infonya dr Moms & Dads....apa memang betul...Vaksin yg mengandung 
Thimerosal, berbahaya?
Maaf jika kurang membantu
Salam,
Bunda Shasa

Subject: Fw: Vaksin penyebab Autis
Vaksin penyebab Autis ~ VERY TOP URGENT !!!!!



Buat para Pasangan MUDA. om dan tante yg punya keponakan... atau bahkan calon 
ibu ... perlu nih dibaca ttg autisme.. Bisa di share kepada yang masih punya 
anak kecil supaya ber-hati²........ 
Setelah kesibukan Lebaran yang menyita waktu, baru sekarang saya bisa dapat 
waktu luang membaca buku "Children with Starving Brains" karangan Jaquelyn 
McCandless,MD yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Grasindo. Ternyata buku 
yang saya beli di toko buku Gramedia seharga Rp. 50,000,- itu benar-benar
membuka mata saya, dan sayang, sayang sekali baru terbit setelah anak saya Joey 
(27bln) didiagnosa mengidap Autisme Spectrum Disorder.

Bagian satu, bab 3, dari buku itu benar-benar membuat saya menangis. Selama 6 
bulan pertama hidupnya (Agustus 2001-Februari 2002), Joey memperoleh 3 kali 
suntikan vaksin Hepatitis B, dan 3 kali suntikan vaksin HiB.

Menurut buku tersebut (halaman 54 - 55) ternyata dua macam vaksin yang diterima 
anak saya dalam 6 bulan pertama hidupnya itu positif mengandung zat pengawet 
Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom 
Autisme Spectrum Disorder yang meledak pada sejak awal tahun 1990an.

Vaksin yang mengandung Thimerosal itu sendiri sudah dilarang di Amerika sejak 
akir tahun 2001. Alangkah sedihnya saya, anak yang saya tunggu kehadirannya 
selama 6 tahun, dilahirkan dan divaksinasi di sebuah rumahsakit besar yang 
bagus, terkenal, dan mahal di Karawaci Tangerang, dengan harapan memperoleh 
treatment yang terbaik, ternyata malah "diracuni" oleh Mercuri
dengan selubung vaksinasi. Beruntung saya masih bisa memberi ASI sampai 
sekarang, sehingga Joey tidak menderita Autisme yang parah. Tetapi tetap saja, 
sampai sekarang dia belum bicara, harus diet pantang gluten dan casein, harus 
terapi ABA, Okupasi, dan nampaknya harus dibarengi dengan diet
supplemen yang keseluruhannya sangat besar biayanya. Melalui e-mail ini saya 
hanya ingin menghimbau para dokter anak di Indonesia, para pejabat di 
Departemen Kesehatan, tolonglah baca buku tersebut diatas itu, dan tolong 
musnahkan semua vaksin yang masih mengandung Thimerosal.

Jangan sampai (dan bukan tidak mungkin sudah terjadi) sisa stok yang tidak 
habis di Amerika Serikat tersebut di ekspor dengan harga murah ke Indonesia dan 
dikampanyekan sampai ke puskesmas-puskesmas seperti contohnya vaksin Hepatitis 
B, yang sekarang sedang giat²nya dikampanyekan sampai ke pedesaan. Kepada para 
orang tua dan calon orang tua, marilah kita
bersikap proaktif, dan assertif dengan menolak vaksin yang mengandung 
Thimerosal tersebut, cobalah bernegosiasi dengan dokter anak kita, minta vaksin 
Hepatitis B dan HiB yang tidak mengandung Thimerosal. 

Juga tolong e-mail ini diteruskan kepada mereka yang akan menjadi orang tua, 
agar tidak mengalami nasib yang sama seperti saya. Sekali lagi, jangan sampai 
kita kehilangan satu generasi anak-anak penerus bangsa, apalagi jika mereka 
datang dari keluarga yang berpenghasilan rendah yang untuk makan saja sulit 
apalagi untuk membiayai biaya terapi supplemen, terapi ABA, Okupasi, dokter 
ahli Autisme (yang daftar tunggunya
sampai berbulan-bulan), yang besarnya sampai jutaaan Rupiah perbulannya.

Terakhir, mohon doanya untuk Joey dan ratusan, bahkan ribuan teman² senasibnya 
di Indon esia yang sekarang sedang berjuang membebaskan diri dari belenggu 
Autisme. "Let's share with others... Show them that WE care!"

Semoga bermanfaat.
Cheers, 
IR



---------------------------------
Yahoo! Photos
Got holiday prints? See all the ways to get quality prints in your hands ASAP.

[Non-text portions of this message have been removed]



Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS 
Personal finance Air mattress Foam mattress Financial news Stock market Natural 
soap 

---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 


Visit your group "Ayahbunda-Online" on the web.

To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]

Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


---------------------------------






---------------------------------
Yahoo! Autos. Looking for a sweet ride? Get pricing, reviews, & more on new and 
used cars.

[Non-text portions of this message have been removed]



Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]




------------------------------------------------------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 

a.. Visit your group "Ayahbunda-Online" on the web.

b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]

c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


------------------------------------------------------------------------------



[Non-text portions of this message have been removed]



Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links






  


__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke