Sory juga mod ikut ngebahas.... Saya yakin kalau mba endah orang tua yang bertanggung jawab begitu juga mba' fera dan mba' margaretha dan banyak lagi ortu2x di negara ini yang bertanggung jawab terhadap keluarganya, cuman bagaimana dengan lingkungan ??? karna saya yakin kalau semua ortu tidak dapat menjadi pengawas selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. karna uu tersebut mungkin berusaha untuk menjadikan lingkungan yang lebih baik untuk tumbuh kembang anak karna jangan lupa rasa ingin tahu anak itu begitu besar apabila tidak didapatkan dirumah akan dia cari tahu diluar rumah yang mungkin dengan UU tersebut hal2x yg mba' endah takutkan dapat diminimalkan jadi tercipta keluarga yg baik dgn lingkungan yg baik pula. Maaf kalau kepanjangan.
Best regards, Amrul selalu mendukung yg baik2x aja -----Original Message----- From: margaretha silitonga [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: 09 March, 2006 9:52 AM To: [email protected] Subject: RE: [Ayahbunda-Online] Pornografi dan Anak-anak Kita Sory mod, ikutan bahas... Aku setuju banget dgn yang dibilang m'Fera ini... Untuk meminimize aspek2 negatif yang dikhawatirkan berpengaruh utk anak2 kita bkn dengan cara menutup diri dari kemajuan jaman / tehnologi. Kita gak boleh egois dengan menyalahkan HP, surat kabar, internet, televisi sebagai media yang ikut merusak mental anak2 kita. Disitulah peran orangtua untuk memberi pengertian mengenai hal2 tsb. lagipula spt yang m'Fera bilang, utk apa ya anak SD dikasih HP? saya juga gak habis pikir? Klo utk siaran tv sendiri kan skrg sdh banyak siaran2 yang dikhususkan utk anak2. Aku pribadi sih kurang yakin dgn adanya RUU APP ini bisa lebih memperbaiki mental bangsa. Justru aku bingung, bagaimana bangsa ini mau maju klo selalu menutup diri dgn tehnologi.. disitulah justru fungsi kita sebagai ortu utk memilah2 mana yang boleh diberikan dan mana yang tidak. Mana yang sesuai dengan umur mereka & mana yg tidak. Gak perlu rumit, it's simple actually. Tergantung dari kita sbg ortu...Itu aja kok.. Sory ya klo kepanjangan... Cheers, - Retha/ Alvaro's Mom - Fera Rambe <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Maaf ya mod, saya akan membalas sekali ini saja, karena saya gemas dengan orang yang masih mempertanyakan kenapa ada yang kontra dengan RUU APP. Pertama, mba' Endah, saya percaya kita sebagai orang tua harus lebih bertanggung jawab dan harus lebih dekat kepada anak-anak kita. Artikel yang mba' Endah kirim, psikolog Ibu Elly Risman bilang yang pertama, ternyata si anak itu dapat dari hp. Nah saya selalu heran, apa perlunya sih anak SD dibekali hp???????? Apalagi ke sekolah????/ Yang bekali hp siapa? Orang tua si anak bukan??? Yang kedua, si anak dapat dari situs website porno???? Dimana dia akses komputer tsb? Di sekolah? Berarti sekolah salah tidak menginstall yang membuat anak2 tidak bisa mengakses situs tsb. Di rumah, Berarti orang tuanya yang salah lagi, sama kenapa tidak menginstall sesuatu yg memblok situs tsb, sehingga save untuk digunakan oleh anak-anak? Di luar, kenapa si orang tua tidak bertanya kemana dia, apa yang dikerjakannya, apa yang didapatnya. Mengenai VCD, TANGGUNG JAWAB KITA SBG ORANG TUA, untuk memberikan pengertian kepada anak-anak. Apa ibu udah baca draft RUU tsb? Karena saya juga kaget, karena kalau RUU tsb disyahkan seperti sekarang tanpa banyak di revisi, kita akan banyak kehilangan budaya kita yang kaya, yang harus kita pelihara. Pertanyaan saya: Bukankah tanggung jawab kita untuk mendidik anak kita? Tanggung jawab kita untuk memberikan pengetahuan, bukan malah menutupi, sekarang udah zamannya memberikan pengetahuan tentang seks sama anak kita, bahwa itu bukan sesuatu yang tabu utk dibicarakan atau dilarang utk dibicarakan. Apalagi artikel tsb bilang bahwa bocah itu lugu, berarti dia tidak mengerti, kembali... APA BUKAN SALAH ORANG TUANYA???? Kita harus mengikuti zaman yang makin maju, anak-anak yang makin pintar, jadi kita harus menambah ilmu pengetahuan juga dan harus sering berdiskusi dengan anak kita. Saya ibu yang bekerja dan itu bukan alasan untuk bilang kita terlalu capek sehingga tidak punya waktu untuk anak kita. Maaf terlalu panjang.. Best regards, Fera *yglagigemeskarenamasalahRUUAPP* _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Dwi Endah A. Panennungi Sent: Wednesday, March 08, 2006 4:28 PM To: Maddar Cc: Salamaa Belanda; ayah bunda; Sos 28 Subject: [Ayahbunda-Online] Pornografi dan Anak-anak Kita "Dari milis sebelah... Semoga bermanfaat..." Wassalam, Endah, Emaknya Ody Selasa, 07 Maret 2006 Pornografi dan Anak-anak Kita Beberapa tahun lalu, psikolog dan Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman, melakukan survei langsung di sebuah SD di kawasan Jabotabek. Diantar beberapa guru, Elly mendatangi ruang kelas lima. Suasana tanya jawab berjalan biasa, hingga seorang anak laki-laki berdiri dan mengacungkan tangan tinggi-tinggi. ''Ya, mau tanya apa, Nak,'' tanya Elly. Tak dinyana, bocah tanggung itu berkata, ''Bu, kalau saya sudah menikah, bolehkah saya menggauli istri saya dari depan, belakang, dan samping?'' Kalimat itu mengalir lancar dari mulut sang bocah. Raut wajahnya juga tanpa dosa, khas anak-anak. ''Tubuh saya kontan berkeringat dingin. Lutut gemetar, bingung mau menjawab apa,'' kata Elly, mengenang. Keterkejutan akan pengalaman dengan siswa SD tersebut, membuat Elly dan beberapa rekannya dari yayasan, tergerak menelusuri mata air 'pengetahuan' anak-anak tersebut. ''Saya ingin tahu, dari mana mereka mendengar semua itu,'' ujar Elly. Agar bisa menggali sebanyak mungkin dari bocah-bocah tersebut, Elly dan kawan-kawan merekrut konselor dari kakak-kakak kelas SD yang akan mereka survei. Hasilnya? ''Anak-anak itu telah banyak tahu apa itu wanita seksi, bugil, dan bermacam istilah dewasa lain yang membuat kami makin terkejut,'' kata Elly. Survei itu juga menemukan banyak hal yang menarik. Ternyata, menurut catatan Elly dan kawan-kawan, dari beragam media yang mengenalkan anak-anak bau kencur itu dengan pornografi, telepon seluler (hp), ternyata menempati urutan pertama. Baru setelah itu majalah, novel, cakram padat (CD) porno, dan situs internet porno. ''Secara tidak sadar, ternyata dengan membekali anak-anak dengan hp, kita membawa mereka kenal pornografi,'' kata Elly, yang mengaku melakukan survei tersebut selama bertahun-tahun. Yang tidak kalah mencengangkan, anak-anak SD itu ternyata cukup fasih menyebutkan daftar panjang situs porno kepada kakak-kakak kelas mereka. Dan menurut Elly, kadang mereka menemukan situs tersebut bukan karena kenakalan. Mereka sering kali menemukan situs tersebut saat mencari data guna mengerjakan tugas. ''Misalnya tugas biologi. Anak-anak itu mencari nyamuk. Eh, yang dapat malah situs nyamuk dotcom, yang nyata-nyata porno. Saat mencari 'Istana' dalam tugas IPS, yang ketemu istana dotcom porno juga,'' kata Elly. Tokoh Shincan yang digemari anak-anak, ternyata juga digunakan oleh para pengelola situs porno untuk menamai situs mereka. Bertahun-tahun melakukan survei, membuat Elly sampai pada kesimpulan. Penyebab merebaknya pornografi, terutama disebabkan gampangnya masyarakat memperoleh video cakram padat (VCD). Hanya dengan Rp 5 ribu, tanpa perlu sulit mencari, masyarakat sudah bisa mendapatkan satu keping cakram porno. Murah dan mudah tersebut seringkali membuat para orang tua juga lupa menjaganya dari tangan anak-anak. Saat mereka lepas dari pengawasan, anak-anak itulah yantg kemudian menikmati tayangan tidak senonoh tersebut. Selain hp dan cakram padat, televisi juga sering disebut menjadi media penular pornografi. ''Lihat saja tayangan malam hampir semua televisi kita,'' kata Sutopo, bapak dua putri. Ia lalu mengurai daftar film dewasa yang ditayangkan saat malam. Judulnya banyak yang menyeramkan. Mulai dari ''Gairah Malam'' hingga ''Binalnya Istri Muda.'' Sutopo menilai, film seperti itu seharusnya tidak ditayangkan di layar kaca. ''Meski malam, tidak ada jaminan yang menonton semuanya para bapak atau kakek-kakek yang susah tidur,'' kata dia. Dengan banyak media pengantarnya, tidak heran bila ancaman pornografi menyergap hingga ke rumah-rumah. Korbannya siapa lagi kalau bukan anak-anak, generasi penerus bangsa. Hasil survei Elly menunjukkan, sekitar 98 persen anak-anak Indonesia terbiasa mengakses media-media yang menampilkan pornografi. Fakta itu diperkuat hasil penelitian Jejak Kaki Internet Protection. Lembaga ini menemukan, 97 persen anak usia 9-14 tahun ternyata pernah mengakses situs porno. Karena itu, Elly merasa heran dengan adanya sekelompok orang yang menentang Rancangan Undang-Undang Antipornograpi dan Pornoaksi (RUU APP). ''Saya tidak habis pikir, kepentingan apa yang mereka bawa,'' kata Elly, kepada Republika, kemarin (6/3). Elly menilai, mereka sebenarnya tidak lebih dari kalangan yang buta akan dahsyatnya pornografi yang mulai menghancurkan kehidupan kanak-kanak penerus bangsa tersebut. Yang parah, menurut psikolog itu. Kerapnya menyerap pornografi bisa membuat otak anak-anak itu seolah membentuk kompartemen atau lokus porno. Anak yang diterpa pornografi sejak usia dini, juga akan cenderung antisosial, tidak setia, senang melakukan kekerasan domestik, serta tidak sensitif akan perasaan orang lain. Menurut Elly, kondisi Indonesia dalam soal pornografi, saat ini bukan lagi memprihatinkan. ''Sudah berada pada fase berbahaya bagi anak-anak,'' kata dia. Keprihatinan senada juga disuarakan Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), Seto Mulyadi. Sebagaimana banyak kalangan, Seto menilai penayangan program berbau pornografi saat anak-anak dan remaja menonton televisi, adalah tindakan kekerasan terhadap anak melalui informasi. ''Secepatnya tayangan porno, baik di TV maupun di media cetak itu dihentikan. Itu sudah merupakan kekerasan terhadap anak-anak, dengan menjejali mereka informasi yang tak pantas,'' kata Seto. Seto juga mengajukan pendapat yang mengejutkan. Menurut dia, kasus perkosaan yang dilakukan anak-anak akibat pengaruh pornografi, layaknya fenomena gunung es. ''Betapa banyak, karena berbagai alasan, tidak muncul dan diketahui umum,'' kata dia. Seto berharap, RUU APP itu bisa segera selesai dari penggodokan. ''Anak-anak kita harus dilindungi dari serangan dan pengaruh pornografi,'' ujarnya. (dsy/dam/hri ) Subscribe: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
