Dear Febie, Ini saya ada artikel soal tantrum. Semoga bermanfaat.

Rgds,
Ida


Tantrum

Oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi.

Andi menangis, menjerit-jerit dan berguling-guling di lantai karena menuntut 
ibunya untuk membelikan mainan mobil-mobilan di sebuah hypermarket di Jakarta? 
Ibunya sudah berusaha membujuk Andi dan mengatakan bahwa sudah banyak 
mobil-mobilan di rumahnya. Namun Andi
malah semakin menjadi-jadi. Ibunya menjadi serba salah, malu dan tidak berdaya 
menghadapi anaknya. Di satu sisi, ibunya tidak ingin membelikan mainan tersebut 
karena masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Namun disisi lain, kalau 
tidak dibelikan maka ia kuatir Andi akan menjerit-jerit semakin lama dan keras, 
sehingga menarik perhatian semua orang dan orang bisa saja menyangka dirinya 
adalah orangtua yang kejam. Ibunya menjadi bingung....., lalu akhirnya ia 
terpaksa membeli mainan yang diinginkan Andi. Benarkah tindakan sang Ibu?


Temper Tantrum

Kejadian di atas merupakan suatu kejadian yang disebut sebagai Temper Tantrums 
atau suatu luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. 
Temper Tantrum (untuk selanjutnya disebut sebagai Tantrum) seringkali muncul 
pada anak usia 15 (lima belas) bulan sampai 6 (enam) tahun.

Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. 
Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap "sulit", dengan 
ciri-ciri sebagai berikut:

1. Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.
2. Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
3. Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
4. Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif.
5. Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
6. Sulit dialihkan perhatiannya.

Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Di bawah ini adalah beberapa 
contoh perilaku
Tantrum, menurut tingkatan usia:

1. Di bawah usia 3 tahun:

Menangis Menggigit Memukul
Menendang Menjerit Memekik-mekik Melengkungkan punggung
Melempar badan ke lantai
Memukul-mukulkan tangan
Menahan nafas
Membentur-benturkan kepala
Melempar-lempar barang

2. Usia 3 - 4 tahun:

Perilaku-perilaku tersebut diatas Menghentak-hentakan kaki
Berteriak-teriak Meninju
Membanting pintu
Mengkritik
Merengek

3. Usia 5 tahun ke atas

Perilaku- perilaku tersebut pada 2 (dua) kategori usia di atas
Memaki
Menyumpah
Memukul kakak/adik atau temannya
Mengkritik diri sendiri
Memecahkan barang dengan sengaja
Mengancam

Faktor Penyebab

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Tantrum.
Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu.
Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin 
saja memakai cara Tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia 
inginkan, seperti pada contoh kasus di awal.

2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri.
Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu 
tapi tidak bisa, dan orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. 
Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk 
Tantrum.

3. Tidak terpenuhinya kebutuhan.
Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan 
tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus 
menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia 
tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara 
pelepasan stresnya adalah Tantrum.
Contoh lain: anak butuh kesempatan untuk mencoba kemampuan baru yang 
dimilikinya.
Misalnya anak umur 3 tahun yang ingin mencoba makan sendiri, atau umur anak 4 
tahun ingin mengambilkan minum yang memakai wadah gelas kaca, tapi tidak 
diperbolehkan oleh orangtua atau pengasuh. Maka untuk melampiaskan rasa marah 
atau kesal karena tidak diperbolehkan,ia memakai cara Tantrum agar 
diperbolehkan.

4. Pola asuh orangtua
Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan Tantrum. Anak yang 
terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa Tantrum 
ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu dilindungi dan 
didominasi oleh orangtuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang 
dominasi orangtua dengan perilaku Tantrum.Orangtua yang mengasuh secara tidak 
konsisten juga bisa menyebabkan anak Tantrum.Misalnya, orangtua yang tidak 
punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin mengizinkan anak berbuat 
sesuatu dan orangtua yang seringkali mengancam untuk menghukum tapi tidak 
pernah menghukum. Anak akan dibingungkan oleh orangtua dan menjadi Tantrum 
ketika orangtua benar-benar menghukum. Atau pada ayah-ibu yang tidak sependapat 
satu sama lain, yang satu memperbolehkan anak, yang lain melarang. Anak bisa 
jadi akan Tantrum agar mendapatkan keinginannya dan persetujuan dari kedua 
orangtua.

5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.

6. Anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman 
(insecure).

Tindakan

Dalam buku Tantrums Secret to Calming the Storm (La Forge: 1996) banyak ahli 
perkembangan anak menilai bahwa Tantrum adalah suatu perilaku yang masih 
tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode 
dalam perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak.Sebagai bagian dari proses 
perkembangan, episode Tantrum pasti berakhir. Beberapa hal positif yang bisa 
dilihat dari perilaku Tantrum adalah bahwa dengan Tantrum anak ingin 
menunjukkan independensinya, mengekpresikan individualitasnya, mengemukakan 
pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan membuat orang dewasa 
mengerti kalau mereka bingung, lelah atau sakit. 
Namun demikian bukan berarti bahwa Tantrum sebaiknya harus dipuji dan 
disemangati (encourage). Jika orangtua membiarkan Tantrum berkuasa (dengan 
memperbolehkan anak mendapatkan yang diinginkannya setelah ia Tantrum, seperti 
ilustrasi di atas) atau bereaksi dengan hukuman-hukuman yang keras dan 
paksaan-paksaan, maka berarti orangtua sudah menyemangati dan memberi contoh 
pada anak untuk bertindak kasar dan agresif (padahal sebenarnya tentu orangtua 
tidak setuju dan tidak menginginkan hal tersebut).
Dengan bertindak keliru dalam menyikapi Tantrum, orangtua juga menjadi 
kehilangan satu kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana 
caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi, takut, 
jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat 
sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan 
emosi tersebut.

Pertanyaan sebagian besar orangtua adalah bagaimana cara terbaik dalam 
menyikapi anak yang mengalami Tantrum. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kami 
mencoba untuk memberikan beberapa saran tentang tindakan-tindakan yang 
sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk mengatasi hal tersebut. 
Tindakan-tindakan ini terbagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu:

1. Mencegah terjadinya Tantrum
2. Menangani Anak yang sedang mengalami Tantrum
3. Menangani anak pasca Tantrum

Pencegahan
Langkah pertama untuk mencegah terjadinya Tantrum adalah dengan mengenali 
kebiasaan-kebiasaan anak, dan mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi 
seperti apa muncul Tantrum pada si anak. Misalnya, kalau orangtua tahu bahwa 
anaknya merupakan anak yang aktif bergerak dan gampang stres jika terlalu lama 
diam dalam mobil di perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya ia tidak 
Tantrum, orangtua perlu mengatur agar selama perjalanan diusahakan 
sering-sering beristirahat di jalan, untuk memberikan waktu bagi anak 
berlari-lari di luar mobil.

Tantrum juga dapat dipicu karena stres akibat tugas-tugas sekolah yang harus 
dikerjakan anak. Dalam hal ini mendampingi anak pada saat ia mengerjakan 
tugas-tugas dari sekolah (bukan membuatkan tugas-tugasnya lho!!!) dan 
mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit, akan membantu mengurangi stres pada 
anak karena beban sekolah tersebut. Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada 
tugas-tugas sekolah, tapi juga pada permainan-permainan, sebaiknya anak pun 
didampingi orangtua, sehingga ketika ia mengalami kesulitan orangtua dapat 
membantu dengan
memberikan petunjuk.

Langkah kedua dalam mencegah Tantrum adalah dengan melihat bagaimana cara 
orangtua mengasuh anaknya.
Apakah anak terlalu dimanjakan? Apakah orangtua bertindak terlalu melindungi 
(over protective), dan terlalu suka melarang? Apakah kedua orangtua selalu 
seia-sekata dalam mengasuh anak? Apakah orangtua menunjukkan konsistensi dalam 
perkataan dan perbuatan?

Jika anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali 
melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak, 
jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti. 
Konsistensi dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak juga sangat berperan. 
Jika ada ketidaksepakatan, orangtua sebaiknya jangan berdebat dan beragumentasi 
satu sama lain di depan anak, agar tidak menimbulkan kebingungan dan rasa tidak 
aman pada anak. Orangtua hendaknya menjaga agar anak selalu melihat bahwa 
orangtuanya selalu sepakat dan rukun.

Ketika Tantrum Terjadi

Jika Tantrum tidak bisa dicegah dan tetap terjadi, maka beberapa tindakan yang 
sebaiknya dilakukan oleh orangtua adalah:

1. Memastikan segalanya aman. Jika Tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak 
ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi. Selama Tantrum (di rumah 
maupun di luar rumah), jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang 
membahayakan dirinya atau justru jika ia yang membahayakan keberadaan 
benda-benda tersebut. Atau jika selama Tantrum anak jadi menyakiti teman maupun 
orangtuanya sendiri, jauhkan anak dari temannya tersebut dan jauhkan diri Anda 
dari si anak.

2. Orangtua harus tetap tenang, berusaha menjaga emosinya sendiri agar tetap 
tenang. Jaga emosi jangan sampai memukul dan berteriak-teriak marah pada anak.

3. Tidak mengacuhkan Tantrum anak (ignore). Selama Tantrum berlangsung, 
sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak memberikan 
nasihat-nasihat moral agar anak menghentikan Tantrumnya, karena anak toh tidak 
akan menanggapi/mendengarkan. 
Usaha menghentikan Tantrum seperti itu malah biasanya seperti menyiram bensin 
dalam api, anak akan semakin lama Tantrumnya dan meningkat intensitasnya. Yang 
terbaik adalah membiarkannya. Tantrum justru lebih cepat berakhir jika orangtua 
tidak berusaha menghentikannnya dengan bujuk rayu atau paksaan.

4. Jika perilaku Tantrum dari menit ke menit malahan bertambah buruk dan tidak 
selesai-selesai, selama anak tidak
memukul-mukul Anda, peluk anak dengan rasa cinta. Tapi jika rasanya tidak bisa 
memeluk anak dengan cinta (karena Anda sendiri rasanya malu dan jengkel dengan 
kelakuan anak), minimal Anda duduk atau berdiri berada
dekat dengannya. Selama melakukan hal inipun tidak perlu sambil menasihati atau 
complaint (dengan berkata: "kamu kok begitu sih nak, bikin mama-papa sedih"; 
"kamu kan sudah besar, jangan seperti anak kecil lagi dong"), kalau ingin 
mengatakan sesuatu, cukup misalnya dengan mengatakan "mama/papa sayang kamu", 
"mama ada di sini sampai kamu selesai". Yang penting di sini adalah memastikan 
bahwa anak merasa aman dan tahu bahwa rangtuanya ada dan tidak menolak 
(abandon) dia.

Ketika Tantrum Telah Berlalu

Saat Tantrum anak sudah berhenti, seberapapun parahnya ledakan emosi yang telah 
terjadi tersebut, janganlah diikuti dengan hukuman, nasihat-nasihat, teguran, 
maupun sindiran. Juga jangan diberikan hadiah apapun, dan anak tetap tidak 
boleh mendapatkan apa yang diinginkan (jika Tantrum terjadi karena menginginkan 
sesuatu). Dengan tetap tidak memberikan apa yang diinginkan si anak, orangtua 
akan terlihat konsisten dan anak akan belajar bahwa ia
tidak bisa memanipulasi orangtuanya.

Berikanlah rasa cinta dan rasa aman Anda kepada anak. Ajak anak, membaca buku 
atau bermain sepeda bersama. Tunjukkan kepada anak, sekalipun ia telah berbuat 
salah, sebagai orangtua Anda tetap mengasihinya.

Setelah Tantrum berakhir, orangtua perlu mengevaluasi mengapa sampai terjadi 
Tantrum. Apakah benar-benar anak yang berbuat salah atau orangtua yang salah 
merespon perbuatan/keinginan anak? Atau karena anak merasa lelah, frustrasi, 
lapar, atau sakit? Berpikir ulang ini perlu, agar orangtua bisa mencegah 
Tantrum berikutnya.

Jika anak yang dianggap salah, orangtua perlu berpikir untuk mengajarkan kepada 
anak nilai-nilai atau cara-cara baru agar anak tidak mengulangi kesalahannya. 
Kalau memang ingin mengajar dan memberi nasihat, jangan dilakukan setelah 
Tantrum berakhir, tapi lakukanlah ketika keadaan sedang tenang dan nyaman bagi 
orangtua dan anak. Waktu yang tenang dan nyaman adalah ketika Tantrum belum 
dimulai, bahkan ketika tidak ada tanda-tanda akan terjadi Tantrum. Saat 
orangtua dan anak sedang gembira, tidak merasa frustrasi, lelah dan lapar 
merupakan saat yang ideal.

Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa kalau orangtua memiliki anak yang 
"sulit" dan mudah menjadi Tantrum, tentu tidak adil jika dikatakan sepenuhnya 
kesalahan orangtua. Namun harus diakui bahwa orangtualah yang punya peranan 
untuk membimbing anak dalam mengatur emosinya dan mempermudah kehidupan anak 
agar Tantrum tidak
terus-menerus meletup. Beberapa saran diatas mungkin dapat berguna bagi anda 
terutama bagi para ibu/ayah muda yang belum memiliki pengalaman mengasuh anak. 
Selamat membaca, semoga bermanfaat.(jp)

  ----- Original Message ----- 
  From: febie samatha 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, August 14, 2006 7:38 PM
  Subject: [Ayahbunda-Online] masalah emosi (tantrum) dan sosialisasi..mohon 
share kasus serupa..


  dear parents..

  anak saya cakra (laki2, 2 thn 1 bln) belakangan ini
  (sudah kurang lebih 5 bulanan) sering tantrum (ngamuk
  parah, tidak peduli apakah menyakiti diri sendiri atau
  tidak), lama kelamaan makin parah, tapi alhamdullilah
  belum pernah di depan umum. selama ini ngga pernah
  saya kasi punishment, kadang saya diemin, asal ngga
  bahaya (karena tenaganya kuat sekali) atau saya
  alihkan perhatiannya, setelah itu saya ajak bicara
  kenapa dia ngamuk dsb. kadang kalo saya kesel banget,
  habis dia ngamuk saya cuekin aja.. 

  beberapa hari belakangan ini waktu tidur malam dia
  suka terbangun tiba2 sambil ngamuk, saya bingung,
  mimpi atau kenapa ya? karena bicaranya juga belum
  lancar, dia hanya mengulang kata 'buka'.

  sebagai tambahan, cakra juga punya masalah
  sosialisasi. semenjak pindah ke melbourne 8 bulan
  lalu, dia jadi penakut, terutama terhadap anak sebaya.
  kalau situasi tampak mengancam (misalnya situasi
  dimana ada banyak orang atau anak2) dia akan nangis
  dan ngamuk. kadang jadinya agak menghambat sosialisasi
  saya dan ayahnya juga.. agak sedih mengingat kami
  sedang dirantau..

  kira2 temen2 ada yang punya masalah serupa ngga ya?
  saya cukup bingung nih menghadapi tantrumnya..
  ada indikasi ke arah suatu penyakit atau kelainan
  tertentu ngga ya?

  mohon share nya ya..
  thanks before..

  febie.

  __________________________________________________
  Do You Yahoo!?
  Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
  http://mail.yahoo.com 


   

[Non-text portions of this message have been removed]



Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke