Dear Parents,

Ada artikel bagus dari milis sebelah. Semoga bermanfaat...:)


  Demam Pun Bermanfaat?
 
 Jangan langsung panik begitu si kecil demam! Tak semua demam berbahaya
 bagi anak. Bahkan, demam justru bisa bermanfaat bagi tubuhnya.
 
 Demam kok bermanfaat?! Begitu mungkin pikir para ibu yang setiap hari
 selalu berurusan dengan anak. Bagaimana bisa menganggap bermanfat bila
 panas tinggi anak saja sudah cukup membuat kuatir. Ya memang boleh saja
 kuatir, tapi sebaiknya juga Anda perlu tahu demam seperti apa yang perlu
 dikuatirkan. Tapi, "..demam pada dasarnya merupakan reaksi alamiah tubuh
 terhadap adanya infeksi. Jadi, saat si kecil mengalami infeksi, demam
 tak perlu ditakuti karena justru itu tanda  bahwa mekanisme pertahanan
 tubuhnya bekerja dengan baik," jelas dr. Budi Yudono, SpA(K) dari ..
 
 Sepanjang suhu tubuhnya tidak melonjak tajam dan muncul gejala-gejala
 lainnya yang membahayakan seperti kejang, misalnya, orangtua tak perlu
 kuatir. Apa dan bagaimana tentang demam? Berikut ulasan tuntas tentang
 demam untuk Anda.
 
   Kuman
 
 Demam yang terjadi pada anak-anak umumnya disebabkan oleh infeksi
 kuman, baik virus maupun bakteri. Karena infeksi tersebut,
 komponen-komponen sistem kekebalan tubuh seperti sel darah putih
 (leukosit) dan limfosit bekerja keras untuk melawan kuman. Nah, sel-sel
 tersebut bisa bekerja dengan lebih baik jika suhu tubuh dalam keadaan
 meningkat. Karena itulah, muncul gejala demam tadi. Dengan adanya demam,
 jumlah substansi antivirus di dalam tubuh pun ikut meningkat.
 
 Demam yang terjadi pada anak-anak biasanya tak berbahaya dan tak
 menyebabkan kerusakan otak atau kerusakan fisik. Pada saat anak
 diimunisasi misalnya, biasanya akan muncul gejala demam ringan sebagai
 reaksi atas suntikan yang diberikan. Demam juga bukan indikasi adanya
 penyakit serius kecuali bila disertai dengan perubahan penampilan,
 perubahan tingkah laku, atau gejala lainnya seperti sulit bernapas atau
 kehilangan kesadaran.
 
 Sementara ada anggapan bahwa demam tinggi adalah penyebab kejang
 demam. Padahal hal itu tidak sepenuhnya benar. Menurut Dr. Robert
 Mendelsohn dalam bukunya, "How To Raise A Healthy Child in Spite of Your
 Doctor" demam tinggi  bukanlah penyebab utama kejang demam. Kejang
 tersebut baru terjadi saat suhu badan meningkat amat cepat, dan umumnya
 ini jarang terjadi. Hanya sekitar 4 persen anak dengan demam tinggi yang
 demamnya berkaitan dengan kejang. Tapi, tentu saja lagi-lagi orangtua
 perlu mengetahui demam mana yang perlu diwaspadai dan mana yang tidak.
 
 
 
   Hindari Obat Berlebihan
 
 Orangtua biasanya langsung segera memberikan obat penurun panas begitu
 anak mereka demam. Cara ini tak selamanya diperlukan sepanjang suhu
 tubuh anak tak mencapai 38,5 derajat Celsius dan anak masih terlihat
 ceria. Sebab, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, demam memang
 diperlukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh saat terjadi infeksi.
 Sebaliknya, pemberian obat penurun panas terlalu sering seperti obat
 parasetamol, asetaminofen, aspirin, dan ibuprofen justru bisa berdampak
 negatif.
 
 Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Torres dari Biomedical Utah State
 University, misalnya, memberikan teori baru tentang kemungkinan penyebab
 semakin tingginya kasus autisme saat ini. Torres menduga peningkatan itu
 berkaitan dengan pemberian obat penurun panas pada ibu hamil dan
 anak-anak. Selain itu, tidak ditemukan pula bukti bahwa obat penurun
 panas berhubungan dengan peningkatan nafsu makan dan menjadi lebih
 aktif. Jadi, intinya orangtua sebaiknya mengenali kapan harus memberikan
 obat penurun panas dan kapan obat tersebut tidak diperlukan.
 
 
 
   Demam Yang Perlu Diwaspadai
 
 Lalu, demam seperti apa yang perlu diwaspadai? Bila suhu tubuh terus
 meningkat dengan cepat dan muncul gejala-gejala lain seperti kehilangan
 kesadaran, sulit bernapas, muntah segeralah membawa si kecil ke dokter.
 Apalagi bila demam terjadi pada anak yang baru lahir. Demam yang terjadi
 pada bayi di pekan pertama kehidupannya harus mendapatkan perhatian
 serius. Hal ini karena umumnya telah terjadi infeksi pada saat proses
 persalinan ataupun penyebab serius lainnya. Berikut adalah gejala-gejala
 penyerta demam yang harus diwaspadai menurut dr. Budi Yudono:
 
   Buang air kecil tak sebanyak biasanya.
 
   Warna mata yang kekuningan.
 
   Batuk selama lebih dari sepekan.
 
   Si kecil tampak merasakan  nyeri di bagian telinga atau hidungnya.
 
   Tak mau makan ataupun minum, dan terlihat lemas.
 
   Batuk disertai muntah.
 
   Sulit bernapas hingga mulut dan bibirnya terlihat kebiruan.
 
 Bila gejala-gejala penyerta yang muncul seperti di atas, tentu demam tak
 bukan lagi sesuatu yang bermanfaat buat si kecil. Anda perlu segera
 berkunjung ke dokter. N PG
 
 
 
 4 Langkah Tangani Anak Demam
 
 
    Basuhlah tubuhnya dengan air hangat. Atau, bisa juga membiarkannya
 berendam di dalam bathtub berisi air hangat.
 
   Pastikan si kecil mendapatkan cukup cairan agar dia tidak mengalami
 dehidrasi, mengingat suhu tubuh yang meningkat bisa membuat keluarnya
 banyak cairan dari tubuh. Sup ayam yang hangat bisa Anda coba karena
 memang terbukti secara ilmiah mampu meringankan gejala demam. Bila si
 kecil masih minum ASI, Anda bisa menyusuinya.
 
   Pilihkan pakaian berbahan tipis untuk dikenakan si kecil agar dia
 merasa nyaman. Hindari pakaian berlapis-lapis yang justru akan semakin
 meningkatkan suhu tubuhnya.
 
   Pantau terus suhu tubuh si kecil dan kenali gejala-gejala penyerta
 yang perlu diwaspadai. Bila suhu tubuh terus meningkat dengan cepat dan
 muncul gejala-gejala lainnya yang mencemaskan Anda, segera bawa si kecil
 ke dokter.
   
   
  

  
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos? 
 Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke