Membangun Spiritualitas Anak  
    oleh : Ratna Megawangi
               
    Dengan terbiasa melibatkan anak diskusi, akan membantu anak untuk bisa  
berpikir pada tahapan lebih tinggi (meta-cognition) . Sesungguhnya,  proses 
seperti ini akan membuatnya menjadi manusia spiritual. 
    Anak bungsu kami paling senang kalau saya bekerja di rumah, atau tidak  
pergi ke kantor. Suatu saat ketika ia berumur 4 tahun saya pernah  terserang 
flu berat sehingga tidak bisa ke luar rumah sampai seminggu.  Saat itu 
terlontar kata-kata egoisnya Mama sakitnya yang lama saja,  biar tidak bisa 
pergi ke kantor!
    Menurut seorang pakar perkembangan moral, Thomas Lickona, anak-anak  usia 3 
- 5 tahun baru mencapai tahapan moral 0 (nol). Yaitu tahapan  egosentris yang 
selalu berkata, I want it, therefore it's not fair if I  don't get it Aku ingin 
itu. Maka tak pantas bila aku tidak  mendapatkannya!
    Adalah hal yang biasa bila anak-anak seusia itu bersikap pelit, tidak  mau 
berbagi, bersifat manipulatif atau berbohong agar keinginannya  tercapai.
    Orangtua dan guru seringkali tidak mengerti akan tahapan moral ini.  Mereka 
mengira bahwa anaknya akan egois selamanya, sehingga sering  memarahi atau 
memukulnya. Hal ini dapat berakibat negatif pada  perkembangan jiwanya. 
Orangtua perlu menyadari bahwa tahapan moral ini  harus dilalui setiap anak dan 
ini tidak akan berlangsung lama. Saat  anak menunjukkan sikap egois, harusnya 
menjadi momentum yang baik bagi  orangtua untuk menumbuhkan sikap empati dengan 
mengajaknya berdiskusi.  Ketika anak diajak berdiskusi tentang akibat dari 
sakit berkepanjangan,  ia langsung berkata sambil memeluk saya, “Mama tidak 
boleh sakit lagi,  Mama harus cepat sembuh”. Sejak itu, ia tidak pernah lagi 
berharap  ibunya sakit agar tidak bisa keluar rumah.
    Setiap kejadian bisa dijadikan momentum yang baik untuk mendidik.  Bahkan 
orang dewasa pun perlu belajar dari setiap kejadian atau  kesalahan yang 
diperbuatnya. Cara yang terbaik untuk belajar adalah  dengan menganalisis, 
mendiskusikan, dan merenungkan (reasoning), bukan  dengan memarahi atau 
melarang dengan ancaman tanpa alasan yang jelas.  Cara yang salah mungkin dapat 
membuatnya berubah, namun perubahan ini  karena terpaksa (external control), 
bukan karena kesadaran sendiri  (internal control). Kontrol eksternal tidak 
efektif untuk membangkitkan  kesadaran moral. Karena bila orangtua atau figur 
kontrol eksternal  tidak ada, anak akan cenderung melanggar. Sedangkan kontrol 
internal  adalah kesadaran moral dari dalam sebagai rem yang bisa mencegah  
seseorang dari perbuatan tidak baik, walau tidak ada yang mengawasinya.
    Anak mencuri pun bisa dijadikan momen yang baik untuk menghidupkan  
internal control. Suatu ketika saya pernah kehilangan uang Rp 5.000.  Saya tahu 
anak saya yang ketika itu berusia 7 tahun pasti mengambilnya,  karena ia ingin 
membeli sesuatu yang tidak saya izinkan. Saya tidak  langsung menuduhnya, tapi 
pura-pura bertanya apakah ia melihat uang  tersebut. Ia tidak mengaku bahwa ia 
melihat uang tersebut, apalagi  mengambilnya. Kemudian saya berkata bahwa kalau 
ia berbohong, pasti ada  perasaan tidak enak di hati. “Apabila ada perasaan 
tersebut, itu adalah  pertanda bahwa Allah yang ada di dalam hatimu sangat 
sayang sama kamu.  Ia tidak mau kalau kamu berbohong. Perasaan tersebut akan 
membuat kamu  gundah dan tidak bahagia. Dan yang paling tahu tentang perasaan 
kamu  adalah dirimu sendiri”. Setelah itu saya meninggalkannya agar ia bisa  
merenung. 
     Kira-kira  15 menit kemudian, ia mengetuk kamar saya sambil menangis dan 
memeluk  saya, “Mama, maaf saya tadi berbohong. Saya yang mengambil uang  
tersebut”. Saya katakan bahwa saya bangga sekali dengannya karena telah  
berhasil memenangkan nuraninya, sehingga nuraninya dapat menerima  getaran 
Cahaya Allah. Saat itulah saya menerangkan arti nurani yang  dapat menjadi 
petunjuk kita ke jalan yang benar. 
   Saya  membayangkan anak-anak yang pernah coba-coba mencuri, dan mendapatkan  
hukuman dari orangtuanya. Saat itu kesempatannya untuk menumbuhkan  nurani akan 
hilang, karena hati si anak menjadi mengkerut, sehingga  menutup pintu 
nuraninya. Semakin sering anak dihardik atau dihukum,  hati anak semakin keras 
dan bisa membantu. 
    Menurut Vygotsky, dengan melibatkan anak berdiskusi dan berpikir  
(reasoning) dalam mempelajari segala kejadian, akan mendorong anak  untuk 
merefleksikan apa yang telah dikatakan atau diperbuatnya. Hal ini  dapat 
menjadi “inner speech” atau “inner dialogue”, dialog dengan  dirinya sendiri. 
Inilah proses awal bagi anak untuk mengetahui tentang  dirinya sendiri. 
Selanjutnya, dikemudian hari ia akan mampu  mengevaluasi diri, menganalisis 
kekurangan serta kekuatan yang  dimiliknya. Dengan terbiasa melibatkan anak 
diskusi, akan membantu anak  untuk bisa berpikir pada tahapan yang lebih tinggi 
atau meta-cognition.  Proses seperti ini dapat membuatnya menjadi manusia 
spiritual, yaitu  manusia yang tahu siapa dirinya, dan mempunyai kesadaran 
bahwa dirinya  adalah bagian dari masyarakat, komunitas dan alam semesta. Orang 
 seperti ini mampu mengontrol tindakannya agar senantiasa membawa  kebaikan, 
dan tidak membuat kerusakan pada lingkungannya.
    referensi : http://republika. co.id/suplemen/ cetak_detail. asp?mid=7& 
id=285600& kat_id=105& kat_id1=232
  
 
---------------------------------
We won't tell. Get more on shows you hate to love
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke