________________________________
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of laily anti
Sent: Monday, July 16, 2007 3:54 PM
To: ufm; secretary club; belajar masak
Subject: [Secretary-Club] ternyata TeRdaKwa iTu...
Posted by Reza on Apr 23, '07 10:10 PM for everyone
Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal
di LP, pengalaman kali ini adalah penga
laman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus
pembunuhan berencana. Dengan jantung d
ag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang
yang akan saya temui. Sudah terbayang mu
ka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala
sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh b
erdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.
Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah
satu sipir membawa seorang anak kehada
pan saya.Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih
dari pinggang orang dewasa dengan waja
h yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang
sopan.
Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum
masuk penjara ternyata ia adalah juar
a kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara
mengaji dan azan di tingkat kanak-kanak. K
emampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di
dalam penjara pun nilai sekolahnya terca
tat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh?
Dengan rencana pula?
Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum
genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang b
erdagang di sebuah pasar di daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang
menguasai daerah itu. Latar belakangnya
karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu tinggi.
Berita ini rupanya sampai di telinga Arif.
Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat
mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisa
u dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.
"siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat
itu.
"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil
disambut gelak tawa di belakangnya.
Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke
perut si preman. Dan tepat mengenai u
lu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun
langsung lari pulang ke rumah setelahn
ya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor
polisi.
"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala lapas yang
ikut menemani saya mewawancarai arif sa
mbil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah
tiga kali melarikan diri dari selnya
.. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.
Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun.
Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas
itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif
menyelinap ke dalam salah satu kantung
sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara.
Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah
membaca artikel tentang fermentasi makanan
tape (ingat loh waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia
mendapat informasi bahwa tape mengandung h
awa panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula
di Lapas anak ini disediakan tape uli
dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa
karena jatah tape itu dibalurkannya ke d
inding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok
penjara itu menjadi lunak seperti tanah lia
t. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar
penjara ke dua kalinya.
Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi
membersihkan kamar mandi melihat ember
sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di
simpannya di dalam kamarnya. Tahu ba
hwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat
persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk
kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena
tidak pernah satu pun penjaga berani me
meriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan
menggunakan besi pegangan ember untuk mem
buka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya
tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Ari
f.
Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih
berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pe
lariannya didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar
dari penjara hanya untuk ke rumah sang
ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil
omprengan dan juga berjalan kaki sekia
n kilometer dengan satu tujuan, pulang!
Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga
seorang ibu ini meminta anak buahnya un
tuk tidak segera menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali
lagi ke lapas sambil membawa surat un
tuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya
singkat.
Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak
lantas berpikir bahwa ia tidak benar-bena
r bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah
menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya ber
andai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah
(secepat polisi menangkap si Arif) pa
stinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat
seperti ini. Dan kreativitasnya yang tin
ggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya si Arif itu cuma
anak pedagang sayur miskin sementara si p
reman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib
setempat. Itulah yang namanya keadilan!
=========================================================
This e-mail, including any attachment is confidential and may be privileged.
Use or disclosure of it by anyone other than an intended adressee is strictly
prohibited. If you are not an intended addressee, please notify the sender by
telephone or e-mail and delete the e-mail and any attachment from your system.
PT Excelcomindo Pratama Tbk. ("the " Company") does not accept any liability in
respect of communication made by its employee which is contrary to the company
policy or outside the scope of the employment of the individual concerned. The
employee responsible will be personally liable for any damages or other
liability arising.
=========================================================
[Non-text portions of this message have been removed]