Kalau anak demam pertama jangan panik ya bu. Kedua pelajari tentang apa itu 
demam, gak rugi kok belajar tentang sesuatu yang belum terjadi. Ketiga 
bertindak sesuai dengan guideline, jadi ada panduannya dan bukan hanya sekedar 
"kata orang" atau "biasanya begini". 
Jadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, tapi ada kok usaha untuk belajar 
tentang kesehatan. kan tanggung jawab kesehatan bukan hanya pada dokter saja, 
tapi juga masyarakat, supaya tidak sebentar-sebentar harus ke dokter.
Ini ada guideline demam, baru ke dokter kalau demamnya 3x 24 jam belum sembuh. 
Semoga bermanfaat.
Kalau formatnya jelek bisa langsung aja ke http://www.sehatgroup.web.id/ 
Di sana banyak guideline penyakit yang sering dialami anak-anak kita seperti 
flu, dll.

rina rinso

http://rustamaji.net
http://pochopa.blogspot.com
http://pochopa.com


      Demam 
      12/28/2006
      APAKAH DEMAM ITU? 
      Tubuh kita memiliki hipotalamus anterior di otak yang bertugas mengatur 
agar suhu tubuh stabil (termostat) yaitu berkisar 37 +/- 1 derajat selsius.   

      Pengukuran Suhu 
      Suhu di daerah dubur (temperatur rektal) paling mendekati suhu tubuh 
sebenarnya (core body temperature). Suhu di daerah mulut atau ketiak (aksila) 
sekitar 0,5 sampai 0,8 derajat lebih rendah dari suhu rektal, dengan catatan 
setelah pengukuran selama minimal 1 menit. Tidak dianjurkan mengukur 
("menebak") suhu tubuh berdasarkan perabaan tangan (tanpa mempergunakan 
termometer)   

      Fisiologi Demam (Bagaimana Demam Terjadi) 
      Demam biasanya terjadi akibat tubuh terpapar infeksi mikroorganisme 
(virus, bakteri, parasit). Demam juga bisa disebabkan oleh faktor non infeksi 
seperti kompleks imun, atau inflamasi (peradangan) lainnya. Ketika virus atau 
bakteri masuk ke dalam tubuh, berbagai jenis sel darah putih atau leukosit 
melepaskan "zat penyebab demam (pirogen endogen)" yang selanjutnya memicu 
produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior, yang kemudian meningkatkan 
nilai-ambang temperatur dan terjadilah demam. Selama demam, hipotalamus cermat 
mengendalikan kenaikan suhu sehingga suhu tubuh jarang sekali melebihi 41 
derajat selsius.   

      DAMPAK DEMAM 
      Dampak Menguntungkan terhadap Fungsi Imunitas (Daya Tahan) Tubuh 
      Beberapa bukti penelitian 'in-vitro' (tidak dilakukan langsung terhadap 
tubuh manusia) menunjukkan fungsi pertahanan tubuh manusia bekerja baik pada 
temperatur demam, dibandingkan suhu normal. IL-1 dan pirogen endogen lainnya 
akan "mengundang" lebih banyak leukosit dan meningkatkan aktivitas mereka dalam 
menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Demam juga memicu pertambahan jumlah 
leukosit serta meningkatkan  produksi/fungsi interferon (zat yang membantu 
leukosit memerangi mikroorganisme).   

      Dampak Negatif 
      Pertama, kemungkinan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Ketika 
mengalami demam, terjadi peningkatan penguapan cairan tubuh sehingga anak bisa 
kekurangan cairan.   

      Kedua, kekurangan oksigen. Saat demam, anak dengan penyakit paru-paru  
atau penyakit jantung-pembuluh darah bisa mengalami kekurangan oksigen sehingga 
penyakit paru-parau atau kelainan jantungnya   infeksi saluran napas akut 
(Isakan semakin berat.   

      Ketiga, demam di atas 42 derajat selsius bisa menyebabkan kerusakan 
neurologis (saraf), meskipun sangat jarang terjadi. Tidak ada bukti penelitian 
yang menunjukkan terjadinya kerusakan neurologis bila demam di bawah 42 derajat 
selsius.   

      Terakhir, anak di bawah usia 5 tahun (balita), terutama pada umur di 
antara 6 bulan dan 3 tahun, berada dalam risiko kejang demam (febrile 
convulsions), khususnya pada temperatur rektal di atas 40 derajat selsius. 
Kejang demam biasanya hilang dengan sendirinya, dan tidak menyebabkan gangguan 
neurologis (kerusakan saraf). Lihat guideline kejang demam.   

      Demam seringkali disertai dengan gejala lain seperti sakit kepala, nafsu 
makan menurun (anoreksia), lemas, dan nyeri otot. Sebagian besar di antaranya 
berhubungan dengan zat penyebab demam tadi.   

      Demam pada Infeksi Virus 
      Demam pada bayi dan anak umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Pada 
demam yang disertai sariawan, ruam cacar, atau ruam lainnya yang mudah 
dikenali, virus sebagai penyebab demam dapat segera disimpulkan tanpa 
membutuhkan pemeriksaan khusus. Demam ringan juga dapat ditemukan pada anak 
dengan batuk pilek (common colds), dengan rinovirus salah satu penyebab 
terseringnya. Penyebab lain demam pada anak adalah enteritis (peradangan 
saluran cerna) yang disebabkan terutama oleh rotavirus. 

      Penyakit yang disebabkan virus adalah self-limiting disease (akan 
berakhir dan sembuh dengan sendirinya).   

      Demam pada Infeksi Bakteri 
      Di antara demam yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada anak, salah 
satu yang paling sering ditemukan adalah infeksi saluran kemih (ISK). Umumnya 
tidak disertai dengan gejala lainnya. Risiko paling besar dimiliki bayi yang 
berusia di bawah 6 bulan.   

      Infeksi bakteri yang lebih serius seperti pneumonia atau meningitis 
(infeksi selaput otak) juga dapat menimbulkan gejala demam. Namun demikian 
persentasenya tidaklah besar. Dari bayi > 3 bulan dan anak 1-3 tahun dengan 
demam > 39C, hanya 2% (1-3.6%) saja yang bakterinya sudah memasuki peredaran 
darah (bakteremia).   

      Pada golongan usia ini, program imunisasi HiB berhasil menurunkan risiko 
meningitis bakterial secara sangat signifikan. S. pneumoniae (penyebab utama 
infeksi bakteri yang cukup serius) hanya ditemukan pada < 2 % populasi. Dan 
sebagian besar anak dalam golongan usia ini dapat mengatasi S. pneumoniae tanpa 
antibiotika. Hanya 10 %-nya yang berlanjut menjadi pneumonia yang lebih berat 
dan 3-6 % menjadi meningitis.   

      Usia yang menuntut kewaspadaan tinggi orangtua dan dokter adalah usia di 
bawah 3 bulan. Bayi harus menjalani pemeriksaan yang lebih teliti karena 10 
%-nya dapat mengalami infeksi bakteri yang serius, dan salah satunya adalah 
meningitis. Untuk memudahkan penilaian risiko tersebut, Rochester menetapkan 
beberapa poin untuk mengidentifikasi risiko rendah infeksi bakteri serius pada 
bayi yang demam. Kriteria Rochester ini adalah:  

        a.. Bayi tampak baik-baik saja 
        b.. Bayi sebelumnya sehat : 
        c.. Lahir cukup bulan (? 37 minggu kehamilan) 
        d.. Tidak ada riwayat pengobatan untuk hiperbilirubinemia (kuning) 
tanpa sebab yang jelas 
        e.. Tidak ada riwayat pengobatan dengan antibiotika 
        f.. Tidak ada riwayat rawat inap 
        g.. Tidak ada penyakit kronis atau penyakit lain yang mendasari demam 
        h.. Dipulangkan dari tempat bersalin bersama / sebelum ibu 
        i.. Tidak ada tanda infeksi kulit, jaringan lunak, tulang, sendi, atau 
telinga 
        j.. Nilai laboratorium sebagai berikut  : 
        k.. Leukosit 5000 - 15000/µl 
        l.. Hitung jenis neutrofil batang 1500/µl 
        m.. ?10 leukosit/LPB di urin 
        n.. ? 5 eritrosit (sel darah merah)/LPB pada feses bayi dengan diare   
      Walaupun diketahui bahwa sebagian besar penyebab demam adalah infeksi 
virus, namun data menunjukkan bahwa justru sebagian besar tenaga medis 
mendiagnosisnya  sebagai infeksi bakteri. Dalam satu penelitian di Amerika 
Serikat, persentase ini mencapai 56 %. Dan pada penelitian yang sama masih 
ditemukan adanya pemberian antibiotik pada demam yang belum jelas 
diidentifikasi penyebabnya (virus atau bakteri).   

      Efek Obat Pereda Demam (Antipiretik) 
      Sebuah penelitian melaporkan relawan dewasa yang secara sukarela 
diinfeksi virus Rhinovirus dan diterapi dengan aspirin dosis terapetik (dosis 
yang lazim digunakan dalam pengobatan), lebih cenderung menjadi sakit 
dibandingkan yang mendapatkan plasebo. Hasil serupa (meski tidak signifikan), 
dilaporkan dengan penggunaan aspirin dan parasetamol. Lebih lanjut, penggunaan 
kedua obat ini, ditambah ibuprofen, meningkatkan penyumbatan di hidung 
(obstruksi nasal) dan menekan respon antibodi  Penelitian-penelitian lain belum 
menunjang temuan ini.   

      Pada sebuah survei terhadap 147 anak dengan infeksi bakteri, tidak ada 
perbedaan lama rawat inap pada mereka yang diberi dua atau lebih obat 
antipiretik, dibandingkan yang menerima satu, atau sama sekali tidak diberi 
antipiretik.   

      Sebuah penelitian randomized terhadap anak-anak demam yang diduga akibat 
virus, menunjukkan parasetamol tidak mengurangi lamanya demam dan tidak 
menghilangkan gejala-gejala yang terkait. Namun demikian, parasetamol membuat 
anak sedikit lebih aktif dan lebih bugar.   

      REKOMENDASI TATA LAKSANA DEMAM 
      Pengobatan dengan Antipiretik 
      Mekanisme Kerja 
      Parasetamol, aspirin, dan obat anti inflamasi non steroid (OAINS) lainnya 
adalah antipiretik yang efektif. Bekerja dengan cara menghambat produksi 
prostaglandin E2 di hipotalamus anterior (yang meningkat sebagai respon adanya 
pirogen endogen).   

      Parasetamol 
      Parasetamol adalah obat pilihan pada anak-anak. Dosisnya sebesar 10-15 
mg/kg/kali.   

      Parasetamol dikonjugasikan di hati menjadi turunan sulfat dan 
glukoronida, tetapi ada sebagian kecil dimetabolisme membentuk intermediet aril 
yang hepatotoksik (menjadi racun untuk hati) jika jumlah zat hepatotoksik ini 
melebihi kapasitas hati untuk memetabolismenya dengan glutation atau sulfidril 
lainnya (lebih dari 150 mg/kg). Maka sebaiknya tablet 500 mg tidak diberikan 
pada anak-anak (misalnya pemberian tiga kali tablet 500 mg dapat membahayakan  
bayi dengan berat badan di bawah 10 kg). Kemasan berupa sirup 60 ml lebih aman. 

      Aspirin 
      Merupakan antipiretik yang efektif namun penggunaannya pada anak dapat 
menimbulkan efek samping yang serius. Aspirin bersifat iritatif terhadap 
lambung sehingga meningkatkan risiko ulkus (luka) lambung, perdarahan, hingga 
perforasi (kebocoran akibat terbentuknya lubang di dinding lambung). Aspirin 
juga dapat menghambat aktivitas trombosit (berfungsi dalam pembekuan darah) 
sehingga dapat memicu risiko perdarahan). Pemberian aspirin pada anak dengan 
infeksi virus terbukti meningkatkan risiko Sindroma Reye, sebuah penyakit yang 
jarang (insidensinya sampai tahun 1980 sebesar 1-2 per 100 ribu anak per 
tahun), yang ditandai dengan kerusakan hati dan ginjal. Oleh karena itu, tidak 
dianjurkan untuk anak berusia < 16 tahun. 

      Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)
      Jenis OAINS yang paling sering digunakan pada anak adalah ibuprofen. 
Dosis sebesar 5-10 mg/kg/kali mempunyai efektifitas antipiretik yang setara 
dengan aspirin atau parasetamol. Sama halnya dengan aspirin dan OAINS lainnya, 
ibuprofen bisa menyebabkan ulkus lambung, perdarahan, dan perforasi, meskipun 
komplikasi ini jarang pada anak-anak. Ibuprofen juga tidak direkomendasikan 
untuk anak demam yang mengalami diare dengan atau tanpa muntah.   

      Jenis Lainnya 
      Turunan pirazolon seperti fenilbutazon dan dipiron, efektif sebagai 
antipiretik, tetapi jauh lebih toksik (membahayakan). 

      Terapi Suportif 
      Upaya Suportif yang Direkomendasikan 
      Tingkatkan asupan cairan (ASI, susu, air, kuah sup, atau jus buah). Minum 
banyak juga mampu menjadi ekspektoran (pelega saluran napas) dengan mengurangi 
produksi lendir di saluran napas. Jarang terjadi dehidrasi berat tanpa adanya 
diare dan muntah terus-menerus.. Hindari makanan berlemak atau yang sulit 
dicerna karena demam menurunkan aktivitas lambung. 

      Kenakan pakaian tipis dalam ruangan yang baik ventilasi udaranya. Anak 
tidak harus terus berbaring di tempat tidur)tetapi dijaga agar tidak melakukan 
aktivitas berlebihan. 

      Mengompres atau anak dengan air hangat dapat dilakukan jika anak rewel 
merasa sangat tidak nyaman, umumnya pada suhu sekitar 40 selsius. Mengompres 
dapat dilakukan dengan meletakkan anak di bak mandi yang sudah diisi air 
hangat. Lalu basuh badan, lengan, dan kaki anak dengan air hangat tersebut.   

      Umumnya mengompres anak akan menurunkan demamnya dalam 30-45 menit. Namun 
jika anak merasa semakin tidak nyaman dengan berendam, jangan lakukan hal ini.  
 

      Upaya Suportif yang Tidak Direkomendasikan 
      Upaya 'mendinginkan' badan anak dengan melepaskan pakaiannya, memandikan 
atau membasuhnya dengan air dingin, atau mengompresnya dengan alkohol. Jika 
nilai-ambang hipotalamus sudah direndahkan terlebih dahulu dengan obat, 
melepaskan pakaian anak atau mengompresnya dengan air dingin justru akan 
membuatnya menggigil (dan tidak nyaman), sebagai upaya tubuh menjaga temperatur 
pusat berada pada nilai-ambang yang telah disesuaikan. Selain itu alkohol dapat 
pula diserap melalui kulit masuk ke dalam peredaran darah, dan adanya risiko 
toksisitas.   

      KESIMPULAN 
      Pandangan masyarakat akan demam terus berubah. Kini demam dianggap 
sebagai respon 'sehat' terhadap penyakit dan dianggap wajar. Pengobatan secara 
'agresif' harus dibuktikan oleh bukti-bukti ilmiah. Sehingga terapi yang 
rasional adalah menenangkan pasien dan tenaga kesehatan, serta meyakinkan bahwa 
merekalah yang 'mengendalikan' penyakit anaknya, bukan 'dikendalikan' penyakit. 
  

      Upaya menangani demamnya bukanlah prioritas utama. Tindakan pertama 
adalah mengidentifikasi adakah infeksi bakteri (pneumonia, otitis media, 
faringitis streptokokus, meningitis, atau sepsis), dan kalau perlu merujuk ke 
RS untuk tindakan selanjutnya.   

      Baik orangtua maupun  tenaga kesehatan seharusnya tidak otomatis 
memberikan obat pereda demam pada semua anak demam. "Tangani anaknya, bukan 
termometernya". Usaha meredakan demam lebih ditujukan mengatasi ketidaknyamanan 
anak (jika memang signifikan), dan biasanya diperoleh melalui pemberian 
parasetamol secara oral pada anak yang hanya mengalami demam tinggi saja. Hal 
ini akan menciptakan layanan kesehatan (dan keluarga) yang efisien semata-mata 
ditujukan bagi kebaikan anak, menekankan pada upaya mencari penyebab serta 
melalui usaha mengurangi polifarmasi yang tidak perlu, serta memprioritaskan 
pengobatan esensial saja. 

      Catatan: Panduan / guideline ini dapat senantiasa mengalami perubahan 
seiring dengan ditemukannya perkembangan ilmiah terkini, dan adanya guideline 
terbaru yang dapat diadaptasi. 

      dr. Nurul Itqiyah H & dr. Arifianto

      Ke Atas 

       

       
     



  ----- Original Message ----- 
  From: unike christie 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, August 23, 2007 2:21 PM
  Subject: Re: [Ayahbunda-Online] kalau demam gimana ?


  Halo mama Kinta yg lg bingung....., horaasss! ;)
  jgn bingung deh bu....., kalo panik gitu kita pasti sulit berpikirnya....& 
biasanya kontak jg lho ke anak kita......yg pasti kalo mama Kinta tetep 
gelisah, sebaiknya saran saya cepet aja dibawa si kecilnya ke dokter..... tp 
gak ada salahnya kita tetep tenang dulu..., pertolongan pertama seperti biasa 
boleh koq kita kompres tp dg air hangat lho bu.....bukan air dingin. Trus 
menurut orangtua sih sementara blum dibawa ke dokter anak bs aja kita gendong 
terus ( dlm dekapan ) biar panasnya diserap badan kita yg menggendongnya (bener 
apa gak saya jg gak tau) yg jelas kalo anak sakit pasti saya gendong n temenin 
terus..... Obat penurun panas jg bs dikasih....tp kalo panasnya udah lbh dari 2 
hari gak turun2 ya segera dibawa ke dokter anak ya..... mudah2an bs membantu 
masukannya..., jgn panik lagi....;)

  salam kenal
  unike (mom russell)



  duma olivia siagian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Dear moms and dads,

  Saya Ibu seorang anak berusia 7 bulan, sblmnya anak
  saya belum pernah sakit,meskipun diimunisasi tapi
  kemarin dia demam sampai 38,5 derajat. Aduh, saya
  bingung banget .... kalau demam musti gimana ? saya
  sdh kasih obat penurun panas, tapi saya takut
  mengompres dengan air dingin, katanya ga baik buat
  pembuluh darah. Sebenernya boleh ga sih
  dikompres?Terus musti gimana dong ? 

  thanks...
  mama kinta

  __________________________________________________________
  Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search 
  that gives answers, not web links. 
  http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC

  ---------------------------------
  Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
  Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke