To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Mon, 22 Oct 2007 07:33:09 
+0000Subject: [keadilan4all] Serial Keluarga: Mencipta Anak Cerdas




Pagi itu Bu Ati sangat ceria. Walaupun raport putrinya, Arin sudah berada di 
tangan, tapi ia tidak segera pulang. Ia sempatkan ngobrol dengan beberapa ibu 
yang tengah menunggu jadwal pembagian raport anak mereka. Bisa ditebak apa yang 
menyebabkan Bu Ati begitu ceria. Ya, untuk kesekian kalinya, putrinya yang 
duduk di kelas III sebuah SD bergengsi di Jakarta, berhasil menggondol 
peringkat pertama.Fenomena yang dialami Bu Ati, bisa jadi pernah kita alami. 
Sangat wajar, memang. Orang tua senang ketika anaknya berhasil lulus atau 
mendapat nilai yang memuaskan. Sebaliknya, sangat bisa dipahami jika orang tua 
sedih dan kecewa lantaran anaknya tak lulus ujian atau raportnya `terbakar' 
karena nilainya banyak yang merah. Anak yang mendapat nilai bagus atau lulus 
dengan hasil yang memuaskan menjadi dambaan semua orang tua. Peringkat pertama 
menjadi segala-segalanya, bahkan seolah dianggap turut menentukan nasib masa 
depan seorang anak. Tapi benarkah demikian? Apakah hanya mereka yang memperoleh 
nilai bagus disebut cerdas? Apakah ukuran kecerdasan bisa ditentukan dengan 
besar kecilnya nilai di sekolah?Menurut Dini Rahmah Bintari, M.Psi, seorang 
psikolog Universitas Indonesia, kecerdasan intelektual (IQ) tidak cukup sebagai 
bekal kesuksesan seseorang. "Ada anak yang pintar, tapi rankingnya nggak bagus. 
Ini mungkin disebabkan kelemahan kecerdasan emosionalnya. Dia tidak bisa 
konsentrasi atau gampang marah," ujarnya. Sebab, kecerdasan akal atau-yang oleh 
para psikolog disebut Intellegence Quotient (IQ)-dihasilkan dari 
pengorganisasian saraf yang memungkinkan manusia berpikir logis, rasional dan 
taat asas.Diperlukan kecerdasan lain untuk menunjang kemampuan akal, yaitu 
kecerdasan emosional yang dalam ilmu psikologi dikenal dengan Emotional 
Intellegence (EQ). Kecerdasan akalnya biasa-biasa saja, tapi ia disukai 
temannya, membuat gurunya senang. Kesuksesannya akan terwujud jika bekerja sama 
dengan orang lain. Karena itu kesuksesan membutuhkan kedua kecerdasan itu. 
Kecerdasan emosional pertama kali diperkenalkan oleh Daniel Goleman. 
Menurutnya, kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk dapat memotivasi diri 
sendiri, bertahan menghadapi frustrasi, mengendalikan dorongan hati, mengatur 
suasana hati, berempati, dan kemampuan untuk menjaga stres dengan baik. Golemen 
menjelaskan, kecerdasan emosional dapat diukur dari kemampuan seseorang untuk 
mengenal dirinya sendiri, mengelola emosinya dan memotivasi diri. Selain itu 
kecerdasaan emosional juga dapat dilihat dari kemampuan seorang anak merasakan 
apa yang dirasakan orang lain (empati) dan keluwesan dalam hubungan dengan 
orang lain secara efektif.Begitu pentingnya kecerdasan emosional ini, sehingga 
sebuah riset menyebutkan, ternyata kecerdasan emosional 85% berperan dalam 
menentukan kesuksesan seseorang. Sedangkan kecerdasan akal hanya 15%. Ini kalau 
dia mempunyai kecerdasan akal yang sama.Dalam ajaran Islam sendiri Rasulullah 
saw menegaskan, "Tidak dinamakan orang kuat yang sanggup menang dalam bergulat. 
Orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan emosinya ketika marah," (HR 
Bukhari Muslim). Artinya, kecerdasan dan kemampuan mengendalikan emosi sangat 
penting.Namun demikian, kecerdasan tidak lahir begitu saja. Ia diawali dengan 
usaha besar. Sebut misalnya Sir Isaac Newton. Ia tidak begitu saja menemukan 
teori gravitasi bumi. Sebelumnya, keingintahuan dan perhatiannya tercurah untuk 
menyelidiki mengapa benda-benda itu jatuh ke bumi. Sebelum menemukan mikroskop, 
Leeuwenhock sering menghabiskan waktunya hampir 18 jam perhari. Dengan 
kesabaran kerja dan usahanya menggosok lempengan logam, akhirnya ia menemukan 
kaca pembesar yang dikenal dengen mikroskop.Ini artinya, kecerdasan bisa 
ditingkatkan sampai usia enam belas tahun. Perbaikan gizi dan 
stimulasi-stimulasi bisa membantu meningkatkan kecerdasan otak anak. Seperti 
kemampuan dia membedakan atau persamaan benda yang dilatih dari kecil.Tidak 
seperti IQ yang hampir tidak dipengaruhi oleh pengalaman, EQ malah sebaliknya. 
Ia dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang terjadi pada seseorang. Menurut 
Daniel Goleman, EQ dapat terus berkembang selama kita hidup. Pertumbuhan dan 
perkembangan kecerdasan emosi sangat dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, dan 
orang-orang terdekat. Karenanya, untuk mencapai kecerdasan emosional yang 
tinggi, emosi anak perlu diasah. Menyangkut masalah kecakapan pribadi, anak 
bisa diasah dengan menanamkan sifat percaya diri, mengembangkan sifat 
bertanggung jawab, menanamkan rasa optimis dalam diri, keinginan berinisiatif 
dan keinginan untuk berprestasi. Menyangkut masalah sosial, pada diri anak 
harus dikembangkan rasa berempati, mau menolong antar sesama. Sedangkan untuk 
belajar mengembangkan keterampilan sosial, salah satu caranya kita bisa melatih 
cara kita berkomunikasi. Menurut Dini, "Orang yang paling menentukan kecerdasan 
emosi anak, tentu saja keluarga. Anak bisa mengidentifikasi perasaannya; saya 
sedang marah, saya sedang sedih, takut. Perasaan-perasaan ini dari bayi, 
bahkan. Setelah mengenali dia tahu, saya marah karena takut kehilangan. Dari 
sana dia bisa mengontrol perasaannya. Kalau saya sedih apa yang bisa saya 
lakukan, misalnya. Kecerdasan ini banyak ditentukan oleh lingkungan, tidak 
terkait dengan gizi. Ada juga emosional yang tidak terkontrol. Mungkin ini 
bawaan dari bayi, atau sifat yang menurun dari orang tua."Namun, muncul 
pertanyaan, mengapa ada orang yang sukses dalam karir, keluarga yang baik dan 
memiliki IQ tinggi, tapi tertekan karena merasa hidupnya tidak bermakna? 
Ternyata kecerdasan akal dan emosianal saja tidak cukup. Karena IQ dan EQ hanya 
menyoroti hubungan antar sesama manusia yang berdimensi duniawi. Sedangkan yang 
berhubungan dengan ukhrawi belum dijelaskan. Ada orang yang berkelakuan baik 
dan ber-IQ tinggi, tapi tidak ada tujuan transedental yang mengarahkan 
hidupnya. Karenanya, untuk mengarahkan dua kecerdasan itu, manusia membutuhkan 
apa yang dalam ilmu psikologi disebut dengan Spiritual Intellegence (SI) atau 
kecerdasan spiritual. Kecerdasan inilah yang membuat seseorang mampu berpikir 
secara kreatif. Menurut Budi Darmawan, Psikologi SDIT Nurul Fikri, dalam 
pandangan Islam, kecerdasan itu hanya satu, yaitu kecerdasan spiritual. 
Emosional, menurutnya bukan kecerdasan, tapi kekuatan. Sedangkan akal lebih 
dipandang sebagai suatu kecermatan. Secara sederhana, ia menyimpulkan, "IQ 
adalah kemampuan untuk memahami situasi, EQ kemampuan untuk menghadapi situasi 
dan SI adalah kemampuan untuk mengubah situasi."Kalau kita lihat sejarah, 
sesungguhnya yang menyebabkan kesuksesan para pendahulu kita adalah ketiga 
kecerdasan itu. Kecerdasan akallah yang digunakan Rasulullah saw dan para 
sahabat untuk memahami keadaan musuh pada perang Badar. Kecerdasan emosionallah 
yang membuat mereka mampu mengatur posisi pasukan secara strategis. Dan, 
kecerdasan (kekuatan) spirituallah yang mampu mendorong mereka memenangkan 
pertempuran. Inilah yang menjadi bukti, mengapa ketika Khalid bin Walid dipecat 
dari jabatannya sebagai panglima perang oleh Umar, ia tetap mampu memenangkan 
pertempuran. Jawabannya, karena ia berperang bukan karena jabatan. Ada sebuah 
kekuatan besar yang mendorongnya, yaitu keimanan kepada Allah.Karenanya, di 
samping kecerdasan akal dan emosional, kecerdasan spiritual lebih dibutuhkan. 
Caranya, memperkenalkan Sang Pencipta kepada anak sejak dini. Hal-hal yang 
mengundang kekaguman anak, seperti pemandangan, beragam jenis hewan atau 
makhluk ciptaan-Nya, harus diperkenalkan kepada anak. Sehingga, mereka bisa 
menghayati dan mengagumi kebesaran Allah.Akhirnya, dengan menjaga kesehatan 
anak, melengkapi gizi mereka, mengajarkan cara-cara berkomunikasi yang baik, 
memelihara adab dan sopan santun, serta memperkenalkan mereka kepada Allah 
sejak dini, ketiga kecerdasan itu akan terwujud. Anak cerdas, permata hati dan 
pelipur lara yang kita dambakan menjadi kenyataan. Anak yang cerdas tidak hanya 
dimonopoli oleh orang tertentu saja. Tapi juga saya dan Anda. Ya, kita. 






_________________________________________________________________
Edit your photos like a pro with Photo Gallery.
http://www.get.live.com/wl/all

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke