Wah, ngeri juga ya bacanya ....
Anak saya, Valerie, kemarin baru aja suntik imunisasi Hib& Infantrix yg
terakhir...
Trus DSA suggest 2 bulan lg utk suntik Hepatitis A dan demam Tifoid,
IS IT REALLY NECESSARY ?
sekedar info, umur anak saya skr 1 thn 6 bln ....
Ttg MMR, sjk awal, saya sdh wanti2 istri utk tdk ikut2an "trend" suntik MMR
ke anak...
bkn apa2, saya dgr, (di Amerika sendiri yg notabene negara maju), ada bbrp
kasus anak yg pernah suntik MMR jd kena autis...
so, krn "mudharatnya" lbh keliatan jls drpd manfaatnya, jd ya saya pilih utk
tdk suntik MMR ke anak ...
Sbg ortu, otomatis kita mau YG TERBAIK utk anak...
Tp saya tergolong ortu yg "konservatif", saya lbh memilih utk ikut program2
imunisasi yg di rekomendasikan DEPKES RI aja, kalo vaksin2 lain, saya hrs cari
tau dulu ttg positif/negatifnya, dan byk bertanya ke 2nd, 3rd, 4th opinion bila
perlu ....
bkn ga menghargai input dari DSA, cuma ga da salahnya kan kita lbh protektif
ke anak kita sendiri....???
Papanya Valerie ....
Dicky Sumarsono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Berikut ini cerita agar menjadi pertimbangan Ayah Bunda dalam memilih
vaksin:
Vaksin penyebab autisme?
(dari buku "Yang orang tua harus tahu tentang
vaksinasi pada anak" karangan Stephanie Cave & Deborah
Mithchell, terbitan Gramedia Pustaka Utama thn. 2003)
Hasil penelitian yang dituangkan dalam buku ini cukup
mengerikan, vaksin yang kita berikan demi kesehatan
sang anak menjadi bumerang yang dapat memberi efek
negatif yang tidak diinginkan. Mudah-mudahan informasi
berikut berguna terutama bagi generasi muda kita.
Ada beberapa zat kimia yang ditambahkan kedalam
vaksin (vaksin sendiri adalah bakteri/virus dari
penyakit yang ingin di imunisasikan) antara lain:
- Aluminium (dalam vaksin DPT, DaPT dan Hepatitis B)
- Benzetonium klorida - bahan pengawet (dalam vaksin
anthrax)
- Etilen glikol (dalam vaksin DaPT, polio, Hib,
hepatitis B)
- Formaldehida - cairan untuk menonaktifkan kuman,
bahan penyebab kanker
- Gelatin - pemicu alergi (dalam vaksin cacar air dan
MMR)
- Glutamat (dalam vaksin varicella)
- Neomisin - antibiotik yang dapat menyebabkan reaksi
alergi(dalam vaksin MMR dan polio)
- Fenol (dalm vaksin tifoid)
- Streptomisin - antibiotik penyebab alergi (dalam
vaksin polio)
- Timerosal - bahan pengawet yang mengandung mercury
Selain itu bakteri mati yang ada dalam vaksin itu
sendiri bisa melepaskan racun ke dalam aliran darah.
Jika racun ini mencapai otak, bisa terjadi masalah
persarafan, termasuk autisme, kesulitan memusatkan
perhatian dan masalah perilaku. Sedangkan untuk virus
hidup seperti dalam vaksin polio, MMR dan cacar air,
ternyata bisa menyebabkan
penyakit yang seharusnya dicegahnya.
Untuk orang-orang yang memiliki riwayat auto-imun
seperti rematoid arthritis, diabetes, asma dan
multiple sclerosis, vaksin yang disuntikan akan
menyebabkan sistem imun tubuh mereka menyerang lebih
banyak dari yang seharusnya. Terutama untuk vaksin
campak, tetanus dan flu.
Efek sampingan suatu vaksin dapat terjadi segera
setelah anak menerima suntikan, tapi juga baru
terlihat setelah beberapa jam, beberapa hari atau
bahkan beberapa bulan.
Berikut ini bahaya mercury yang terdapat dalam vaksin
yang diberikan kepada anak-anak:
1. Kadar mercury yang tinggi dapat menyebabkan matinya
sel-sel otak, sedangkan kadar yang rendah
mengakibatkan efek yang lambat yang mempengaruhi
sistem imun di tingkat sel, seperti ketidakmampuan
untuk mengusir flu, bronchitis, infersi jamur atau
bahkan kanker.
2. Bila vaksin diberikan kepada bayi yang belum bisa
membuang mercury dengan benar, mercury akan memasuki
otak dan melekat pada serebelum (otak kecil) yang
mempengaruhi ketrampilan motorik termasuk penglihatan
dan keseimbangan, pada hipokampus yang menyerang
saraf, dan pada amygdala yang mempengaruhi fungsi
emosional dan mental, termasuk sikap pemalu dan
halusinasi ( gejala ini mirip dengan autisme). Pada
bayi yang sedang mengalami perkembangan otak yang
cepat, mercury bisa merusak sel otak secara menetap.
Untuk mendeteksi kadar mercury dan logam beracun
lainnya, dapat dilakukan dengan memeriksa contoh darah
dan rambut. Untuk menghilangkannya, dilakukan terapi
dengan pemberian DMSA (asam 2,3 dimerkaptosuksinik),
dimana mercury dikeluarkan bersama urine. Pada saat
detoksifikasi ini, anak dipantau fungsi ginjal dan
hatinya, dan ditambahkan gizi (vit. B,A, mineral dan
asam amino) ke dalam diet anak.
Gangguan autisme melibatkan otak, sistem imun dan
saluran pencernaan. Berarti selain gangguan
psikiatrik, hiperaktif, disleksia, masalah bicara dan
bahasa, ketidak normalan sensorik, kesulitan kognisi
dan perilaku yang tidak biasa, penderita autis juga
memiliki masalah sistem imun yang berakibat alergi,
asma dan infeksi, dan dalam saluran usus mereka
ditemukan kelebihan virus, jamur dan organisme
penyebab penyakit lainnya - yang menyebabkan masalah
diare dan masalah penyerapan bahan gizi.
Vaksin Hepatitis B biasanya diberika segera setelah
bayi lahir, padahal vaksin ini mengandung 12.5
mikogram mercury yang lebih dari 25 kali batas aman
yaitu 0.1 mikogram per kg berat tubuh per hari,
Lagipula vaksin ini dilanjutkan dengan dua dosis
tambahan . Selain hepatitis B, bayi juga mendapat 4
dosis vaksin HIB dan 4 dosis vaksin DPT yang
semuanya mengandung mercury, padahal fungsi empedu
yang mengeluarkan racun dari tubuh belum berkembang
pada bayi dibawah usia 4 sampai 6 bulan.
Vaksin MMR selain mengandung mercury juga mengandung
virus hidup yang mungkin sekali terbawa ke saluran
pencernaan dan menggandakan diri dan menyebabkan
infeksi campak yang menetap. Infeksi ini menyebabkan
radang dinding saluran usus dan membuat lubang-lubang
kecil disitu yang menyebabkan bahan yang berbahaya
dalam usus masuk kedalam aliran darah.
Bahan yang berbahaya tsb adalah kasomorfin dan
gluteomorfin, yang bila terbawa aliran darah ke otak,
menyebabkan perilaku yang tidak normal.
Dalam vaksin DPT, sel bakteri pertusis mempengaruhi
anak-anak yang satu atau kedua orang tuanya memiliki
cacat protein G-alfa yang diwariskan secara genetika
(rabun senja, penyimpangan kelenjar paratinoid, tiroid
dan pituiter), menyebabkan autisme dan penurunan
penglihatan, persepsi sensorik, pemrosesan bahasa dan
pemusatan perhatian. Anak -anak ini dapat diberikan
terapi vitamin A dan Urokholin.
Beberapa penelitian sedang dilakukan untuk membuktikan
bahwa vaksin gondong dalam MMR, vaksin Hib, vaksin
Hepatitis B dan vaksin pertusis menyebabkan diabetes
tipe 1 (IDDM) yang tergantung pada insulin. Penelitian
lain juga sedang berlangsung untuk mengungkap peran
vaksin terhadap asma dan alergi, rematoid arthritis,
kelumpuhan syaraf (polio),
sindroma kematian bayi mendadak (SIDS).
Dengan efek samping yang terjadi, muncul pro - kontra
penggunaan vaksin, bagaimanapun kita memerlukan vaksin
untuk melindungi diri dari beberapa penyakit. Beberapa
solusinya antara lain:
- Berikan ASI kepada bayi paling sedikit 6 bulan,
supaya bayi menerima imunitas pasif dari ibunya.
- Gunakan vaksin yang bebas timerosal (mercury), tunda
vaksin hepatitis B hingga usia anak sekolah, kecuali
bila anak berada dalam resiko tinggi. Berikan suntikan
kedua sebulan sesudah yang pertama dan suntikan ketiga
paling sedikit 4 bulan setelah suntukan pertama.
- Selama hamil, hindari vaksin yang mengandung mercury
dan perawatan gigi yang menggunakan mercury /amalgam.
Hindari pula makanan laut selama hamil dan menyusui,
minumlah air yang bebas mercury.
- Ibu yang negatif HbsAg nya, bisa menunda vaksin
hepatitis B untuk bayinya dari saat lahir sampai usia
6 bulan.
- Bayi premature dengan ibu yang HbsAg nya negatif,
bisa menunda vaksin hepatitis B sampai bayi paling
sedikit mencapai 2.5 kg dan mencapai usia kandungan
lengkapnya.
- Bayi dengan ibu yang HbsAg nya positif, harus
menerima vaksin hepatitis B pada saat lahir.
- Hib dapat dimulai pada usia 4 bulan, besama dengan
vaksin polio yang disuntikan (IPV), seri kedua pada
usia 6 bulan, seri ketiga Hib pada usia 8 bulan, seri
keempat Hib dan IPV pada usia 17 bulan dan suntikan
ulangan IPV pada usia 4 atau 5 tahun.
- DaPT diberikan pada usia 5 bulan, kemudian usia 7,
9 bulan dan 18 bulan, ulangannya dapat diberikan pada
usia 4 atau 5 tahun. DaPT adalah vaksin DPT versi
baru dimana sebagian besar racun dalam bakteri
Bordetella pertusis dihilangkan.
- Vaksin cacar air tidak dianjurkan pada anak umur 1
tahun. Sebaiknya diberikan menjelang usia sekolah,
sekitar umur 4-5 tahun, setelah sebelumnya dites
apakah anak sudah imun terhadap virus cacar air.
- Vaksin MMR sebaiknya diberikan secara terpisah dan
bertahap:
campak usia 15 bulan, rubella 12 bulan kemudian dan
gondong 12 bulan setelah rubella. Suntikan ulangan
dapat diberikan kira-kira 6 bulan sebelum sekolah,
setelah sebelumnya memeriksa titer imunitas terhadap
MMR.
- Jangan biarkan anak menerima vaksin dalam keadaan
sakit, yang ringan sekalipun.
- Jangan biarkan anak menerima vaksin untuk 6 atau
lebih organisme dalam satu hari.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]