Dear mom's and dad

Terima kasih atas doa dari mom's and dad, mengenai kronologis penyakit anak
saya ini adalah sebagai berikut :

Anak saya kembar keduanya perempuan usia 2 tahun 11 bulan (desember nanti
usianya 3 tahun), yang terkena penyakit ini adalah kakaknya bernama Maureen
Hiu, sedangkan adiknya Michelle Hiu sampai dengan saat ini Puji Tuhan masih
sehat-sehat saja.

KRONOLOGIS Penyakit Anakku (MAUREEN HIU)

 

Tgl. 05 Nov' 2007 hari Senin pagi jam 05.00, anak saya mendadak bangun
dengan keluhan sakit perut, sudah diobati dengan menggunakan baluran balsam
maupun bawang merah, tetap tidak sembuh, tiba-tiba anak saya muntah-muntah
sehingga langsung dibawa ke RS Hermina Jatinegara untuk diperiksa. Setelah
diperiksa dan obat dicoba untuk diminumkan, kondisinya terlihat tidak
terlalu mengkhawatirkan sehingga kita memutuskan untuk pulang ke rumah. Tiba
di rumah +/- jam 10 hingga sore jam 4 anak saya tidak mau makan, minum air
putih maupun susu dan tetap mengeluh sakit perut, sehingga istri saya
memutuskan untuk rawat inap dengan pertimbangan anak saya sudah terlihat
lemas dan hanya mau tiduran terus di rumah.

 

Tgl. 06-07 Nov' 2007, setelah diinfus ± 2 hari, anak saya mulai terlihat
lebih segar dan sudah ceria/badung lagi, meskipun sesekali masih tetap
mengeluh perutnya sakit dan makannya pun hanya sedikit sekali. 

 

Tgl. 08 Nov' 2007, hari Kamis pagi setelah cabut infus, ternyata kondisi
anak saya drop lagi, lantaran perutnya yang makin sakit dan nafsu makan yang
berkurang. Malam harinya pun anak saya tidak dapat tidur karena
sebentar-sebentar bangun dan merintih/menangis karena sakit perut. 

 

Tgl. 09 Nov' 2007, hari Jumat pagi anak saya agak mengantuk dan lemas karena
semalaman tidak tidur. Mempertimbangkan bahwa sakit perutnya tak kunjung
reda, istri saya minta ke dokter agar diperiksa urinenya untuk meyakinkan
apakah anak saya terkena infeksi saluran kencing, dan ternyata hasilnya
semuanya normal. Istri saya juga meminta agar anak saya dikonsultasikan ke
dokter pencernaan, yang dikatakan bahwa anak saya terkena radang lambung.
Namun setelah minum obat, anak saya tetap tidak ada perubahan, malah mulai
muncul keluhan sakit kepala, yang oleh dokter dikatakan normal lantaran efek
sakit perutnya yang tak kunjung sembuh. Akhirnya Jumat malam hingga Sabtu
pagi kami mengalami nasib yang sama seperti malam sebelumnya (anak saya
tidak bisa tidur karena sakit perut) dan mulai jam 3 pagi anak saya mulai
muntah dan demam (37-38 C), sehingga akhirnya saya memutuskan untuk
memanggil dokter anaknya untuk datang segera.

 

Tgl. 10 Nov' 2007, setelah dokter datang ± jam 06.00, anak saya kembali
diinfus dan diambil darahnya untuk pemeriksaan lengkap. Setelah diambil
darahnya, anak saya tiba-tiba kejang (2x) dan akhirnya dokter memutuskan
agar anak saya dirawat di ICU mengingat kondisinya yang parah. Setelah di
ICU baru diketahui penyebab kejang adalah karena tekanan darah yang tinggi
(170/100). Menjelang siang anak saya mulai hilang nafas sehingga harus
menggunakan ventilator/respirator. 

 

tgl. 11-12 Nov' 2007  penanganan anak saya di ICU dilakukan oleh tim dokter
yg terdiri dr dokter2 spesialis (jantung, saraf, darah, enkologi, dan dokter
anak yang pertama menangani anak saya). Pada saat itu para dokter masih
merasa aneh atas penyakit anak saya ini. Namun dugaan terkuat adalah infeksi
selaput otak (manginitis) yang dibuktikan dengan hasil pemeriksaan cairan
otak lewat tulang belakang yang menunjukkan jumlah lekosit 40.000. Ini juga
dirasa dokter sebagai hal yang tak wajar karena selama menjadi dokter tidak
pernah diketemukan jumlah lekosit setinggi itu, paling top juga 1000 itu
sudah maksimal.

 

Satu lagi keanehan penyakit anak saya, hari senin tgl. 12 Nov' 2007 kemarin
anak saya sempat shock lagi, dimana nadi melemah dan detak jantung melemah
juga. Sementara menurut dunia medis hal yang wajar adalah nadi melemah
karena kekurangan cairan sehingga seharusnya akan menyebabkan detak jantung
makin tinggi karena harus bekerja lebih cepat agar nadinya tetap dapat
berdenyut. Lebih anehnya lagi, begitu dokter akan menyuntikkan obat agar
nadi menguat, obat yang masuk hanya 5 cc saja, karena nadi sudah menguat dan
detak jantung yang semakin cepat, sementara untuk kasus-kasus gawat serupa
umumnya obat yang harus disuntikkan minimal 50-100 cc. 

 

Tgl. 13-14 Nov' 2007, perkembangan terbaru, menurut suster jaga semalam anak
saya ada pergerakan sedikit saat akan diambil darahnya, namun dokter tidak
bisa menjanjikan apa-apa karena tidak melihat secara langsung dan hasil
pemeriksaan medis masih belum menunjukkan angka/hasil yang memuaskan.
Meskipun pada saat itu hasil pemeriksaan lekosit darah menunjukkan angka
normal (8000) sementara sebelumnya sempat menunjukkan angka 32.000, namun
kondisi lainnya masih belum membaik, seperti gula darah masih terus tinggi
sehingga harus dipacu dengan insulin, kencing masih belum normal yang
terkadang banyak terkadang terlalu sedikit, tekanan darah yang juga masih
naik turun, dan suhu tubuh yang terkadang normal namun terkadang juga
terlalu dingin (dibawah 36 C).

 

Tgl. 15 Nov' 2007 kemarin, kondisi anak saya menurun lagi, yang ditunjukkan
dengan jumlah lekosit darah yang meningkat lagi menjadi 21.000, pct yang
naik dari 0,5 (normal) menjadi 10, dan ph yang menurun sehingga harus
dilakukan transfusi darah. mengingat infeksi dalam darah mengalami
peningkatan lagi, maka akhirnya dokter memutuskan untuk mengganti
antibiotiknya dengan antibiotik "gram positif" tipe lainnya yaitu tiennam
(sebelumnya Maxipim dan meronem dirasa bagus / sensitif untuk membunuh kuman
seratia yang ditemukan dalam darah anak saya - setelah darah anak saya
dikultur selama ± 5 hari - namun karena kemudian lekosit dan hasil test pct
nya naik lagi, maka antibiotiknya harus diganti karena hal tersebut artinya
antibiotik yang lama sudah tidak efektif membunuh kuman seratia tersebut).
Urine anak saya juga mulai ada darahnya, sehingga akhirnya dokter ahli darah
menyatakan anak saya harus diberi obat hibernin yang harganya ± Rp 4
juta/ampul. Menurut dokter ahli darahnya, obat tersebut berguna untuk
mencegah pendarahan di dalam. Jumlah trombosit anak saya juga mengalami
penurunan, namun dokter masih belum dapat memastikan apakah penurunan
trombosit dikarenakan adanya infeksi, ataukah disebabkan karena telah
terjadi pendarahan di dalam yang oleh dunia medis disebut sebagai CDI.

 

Sampai dengan hari ini, dokter masih terus memantau perkembangan/efek dari
pemberian antibiotik yang baru (tiennam) maupun pemberian obat hibernin,
yang harganya setinggi langit itu.

 

Saya terus berharap dan memohon bantuan doa dari Moms and Dads agar obat
yang terakhir diberikan dokter tersebut adalah benar-benar obat yang tepat
untuk membunuh kuman seratia tersebut, dan tidak ada kuman lagi ditemukan
selain kuman seratia tersebut.

 

Seandainya ada di antara peserta milis adalah dokter spesialis, saya juga
mau bertanya apakah penanganan dokter terhadap anak tersebut sudah tepat
atau belum ?Apakah dokter pernah menangani kasus maningitis serupa dengan
yang anak saya alami ? Apakah memang gejala-gejala yang menyertai maningitis
seperti gula darah tinggi, hipertensi, dan suhu tubuh yang terkadang dingin
(< 36 C) normal diketemukan pada pasien penderita maningitis ?

 

Demikian sharing dari saya. Sekedar informasi saja (hanya informasi saja
perlu diwaspadai tapi tidak boleh terlalu takut yang penting berserah kepada
Tuhan) bahwa di Bandung sudah sering ditemukan anak-anak yang awalnya hanya
menderita batuk, pilek, demam, maupun sakit perut biasa yang tak kunjung
sembuh, dan ternyata buntut-buntutnya adalah terkena penyakit maningitis.
Jadi saran saya, jika memang anak Moms and Dads ada yang mengalami gejala
serupa, segeralah untuk memeriksakan darahnya secara lengkap, sehingga dapat
segera diketahui apakah hal tersebut suatu yang normal atau tidak.

 

 Brgds,

 

Hasan

 



::BCA::


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke