dear sps and smart parent

Kebetulan saya tinggal deket banget ma RS ini..
Setahu saya memang penanganan medis di Rs sakit ini buruk banget.
Dan saya serta anggota keluarga saya lainnya ga suka check up atau rawat 
inap di Rs ini.... Ya karena tadi. itu pelayanan yang sangat buruk dan 
lambat banget.... Lbih baik saya check di RS Tugu Ibu pal. yang notabene 
lebih jaug lokasinya dari rumah saya..
RS. Tugu Ibu penganannya cepat dan Dokter jaganya cekatan.


Pokoknya reputasi RS sakit ini jelek sekali saya ga suka dengan RS ini. ( 
maaf )
Semua anggota medisnya termasuk para dokter2nya juga ga bagus jiwanya ( 
maaf para dokter yang ada di milis ini )

Mohon untuk para dokter2 disini. Kira2 harus diapakan ya RS ini and Tim 
medis yang ada didalamnya??

Saya salut dengan ibu yang telah berani memberberkan kejadian ini ke dunia 
maya ini. Semoga ada tindak lanjutnya dari TIM kedokteran Indonesia.
saya ayakin ini bukan kejadian yang pertama kali di UGD Sentra Medika ini. 
Mungkin sudah yang ke ratusan kali.. and baru kali ini saja ada insan yang
mengungkapkan nya di public...

Mohon tanggapan para dokter disini....





Best Regards

Yayuk



"Putu Prapti Utami" <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [EMAIL PROTECTED]
12/12/2007 05:52 PM
Please respond to
[EMAIL PROTECTED]


To
<[EMAIL PROTECTED]>
cc

Subject
[sehat] dokter yang kejam.... Fw: [parentsguide] Fw: Episode UGD: Bukan 
Urusan Saya...










dari milis sebelah....yang kaya begini mestinya diapain ya????

----- Original Message ----- 
From: Rika Verdiani A 
To: parentsguide 
Sent: Wednesday, December 12, 2007 2:51 PM
Subject: [parentsguide] Fw: Episode UGD: Bukan Urusan Saya...

Mudah2an rekan2 yg udah jadi DOKTER ga seperti kebanyakan dokter2 jaman 
skrg yg sombong & matre-nya selangit , lebih mentingin duit drpd nyawa 
orang .
Be a good doctor ya guys..! 

Rgds,
K i k a 

----------------------------------------------------------

From: fatma [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, December 12, 2007 1:48 PM
To: fatma
Subject: Episode UGD: Bukan Urusan Saya...

Ck..ck...dokter jaman sekarang...

Mentang2 mahal dapet titelnya..

Episode UGD: Bukan Urusan Saya...

22.28
Bulan sedang menuju tepat ke jantung malam...
sayup suara orang berbincang di jalan terdengar riang dalam gelut malam 
minggu
untuk beberapa puluh menit mata terfokus ke arah monitor setelah melirik 
jam
dan peluh mulai mengharuskan badan dibersihkan untuk memulai ritual 
istirahat
baru saja resluiting terperancah dan jaket di kebas untuk digantung
ketika diluar sana terdengar kegaduhan, sekitar 15 meter dari pusat syaraf
bunyi roda motor berdecit dengan rem, beradu dengan aspal...
seketika dalam sepersekian detik otak langsung mengirim sinyal ramalan
bahwa yang terjadi selanjutnya adalah seperti biasa, tumbukan besar...
entah antara motor dengan aspal, motor dengan tiang listrik, atau...
kemungkinan terburuk adalah daging dengan sesuatu...

dan ketika suara tumbukan terakhir dengan efek suara dramatis,
berhasil menghentikan untuk sesaat seluruh jalan darah,
menyedot semua kesadaran reflek untuk bergerak,
akhirnya datang juga imajinasi itu...
gambaran terburuk di luar sana ...

Tolong jangan sampai sesuatu terburuk yang terjadi, 
hanya itu pinta dalam batin, sambil bergegas kembali menyambar jaket,
dan kotak P3K.

=====================================

Tulisan ini ditulis sebelum tulisan ini, dan akhirnya gue posting untuk 
everyone, setelah menimbang-nimbang baik dan buruk resiko-nya. 
Mudah-mudahan resiko negatif lebih kecil daripada resiko positif-nya. Dan 
mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi tambahan pengetahuan kita, terutama 
bagaimana menghadapi peristiwa serupa kelak.

Emang paling enak 'tuh 'numpahin uneg-uneg di blog, daripada media massa. 
Dan uneg-uneg ini 'udah terpendam ratusan tahun eh maksud gue... pokoknya 
'udah terpendam sejak lama, jaman gue masih bocah cilik gitu 'lah. Yang 
gue maksud dengan uneg-uneg disini adalah kekesalan gue terhadap sikap 
dokter yang tindakan-nya tidak mencerminkan profesi yang dipilih mereka 
sendiri. Sorry... tulisan ini sama sekali tidak ditujukan untuk 
mendiskreditkan profesi tertentu, atau untuk tujuan mencemarkan nama baik, 
atau untuk tujuan cari popularitas *kalo dokter yang gue maksud baca blog 
gue ini yah*, atau untuk menebar kebencian terhadap profesi tertentu. 
Enggak.

Tulisan ini semata murni UNEG-UNEG.
Kalau ada yang sampai protes terhadap tulisan curhat gue ini, mohon 
disampaikan melalui jalur pribadi, dan mohon maaf juga nih, gue pasti baca 
tapi 'gak janji akan gue layani.

=====================================

Setelah dulu waktu kecil pernah mengalami tindakan dari dokter yang 
menyebabkan surutnya kepercayaan gue terhadap profesi satu ini, beberapa 
kali situasi yang sama terjadi dan terlewatkan begitu aja dalam hidup gue, 
termasuk kejadian yang menurut gue termasuk malpraktek yang dilakukan 
dokter RS ***tuuuttt**** terhadap rekan gue satu rumah yang mengalami luka 
bakar hebat sehingga harus segera dilakukan tindakan operasi. Berhubung 
aja temen gue orang-nya pasrah-an dan mohon2 ke gue untuk 'gak cari 
gara-gara sama dokter-nya, maka gue 'gak tulis deh kisah-nya di sini.

Dan episode terakhir berhubungan dengan dokter yang bikin gue naik darah 
ini terjadi malam ini, Sabtu 8 Desember 2007. Ketika terjadi kecelakaan di 
depan rumah yang mengakibatkan seorang gadis 18 tahun bernama Wulan sempat 
'gak sadar beberapa saat setelah kejadian.

+/- 22.50
Begitu terbiasa dengan suara-suara motor di depan rumah yang jatuh 
terguling entah karena jalanan licin dan kurang hati-hati pengendara-nya, 
atau karena bertabrakan dengan motor lain, membuat gue sedikit hapal 
dengan perkiraan hasil akhir kejadian tersebut, dari suara yang 
ditimbulkan. Kali ini sungguh dramatis, dan gue 'gak yakin sendiri apakah 
kotak P3K yang gue sambar dalam kalut menghambur menuju ke jalanan depan 
rumah akan berguna.

Wulan masih tergeletak di tepi jalan ketika orang-orang mulai mengerumuni. 
Gue segera minta tolong ke orang-orang yang ada entah itu siapa, untuk 
segera 'mindahin Wulan ke dalam rumah, paling enggak membaringkan di sofa 
ruang tamu akan membuat dia sedikit lebih nyaman. Walaupun gue sendiri 
khawatir karena Wulan 'nggak merespon cubitan di tangan dan tepukan di 
pipi, akhirnya gue sedikit lega waktu akhirnya beberapa menit kemudian 
Wulan mulai membuka mata. Waktu ditanya bagaimana rasanya, Wulan diam aja 
'gak ada reaksi, hanya bola mata yang berputar dan juga kepala terkulai. 

Heran dengan cukup banyak noda darah di lengan baju, akhirnya gue dan 
rekan mulai memeriksa sekujur tubuh Wulan yang 'gak ada luka sama sekali 
kecuali lecet bekas kena aspal yang mengeluarkan darah di kaki. Segera gue 
semprot spray anti infeksi itu luka, dan cukup lega mendengar Wulan 
merintih "sakiiiiiittttt", waktu luka-nya disemprot. Tapi tetap aja kami 
heran dari mana noda-noda darah di lengan itu...

Setelah sibuk meneliti dan memastikan 'gak ada masalah dengan patah 
tulang, akhirnya kami memberanikan diri untuk membalikkan badan Wulan, dan 
dari situ baru kami menyadari... luka di kepala Wulan cukup besar. Dan 
genangan darah beku di rambut panjang-nya mendukung perkiraan kami. 
Gunting rambut dan handuk basah segera melakukan tugasnya, rambut 
panjang-nya sangat lebat. Namun kejadian selanjutnya sungguh membuat kami 
takut... Wulan mulai muntah-muntah dengan hebat-nya...

+/- 23.20
Berbekal seadanya tanpa persiapan memadai kami langsung menuju rumah sakit 
yang terletak sekitar 400 meter dari rumah. Dan Wulan masih muntah-muntah 
di dalam mobil. Sampai di UGD RS Permata Bunda yang letaknya di perempatan 
jalan, perawat jaga yang ditemui menyatakan tidak sanggup menangani, 
membuat kami harus bergegas menuju RS berikutnya di daerah menuju Depok 
Timur. RS Hermina yang cukup besar sempat menerima Wulan di dalam UGD, dan 
dokter jaga di dalamnya menyarankan untuk segera dilakukan CT Scan, 
melihat luka yang besar di kepala dan tonjolan hitam di mata Wulan. Kami 
oke saja mengangguk menyetujui. Dan ternyata... di RS inipun alat CT Scan 
tidak ada... *sigh*... Terpaksa Wulan kami pindah lagi dari bed ke dalam 
mobil untuk mencari rumah sakit yang cukup besar dan mempunyai alat CT 
Scan.

+/- 00.00
RS Sentra Medika,Jl. Raya Bogor Km. 33, Cisalak, Depok.
Wulan cukup cepat dipindah dari mobil menuju bed. Walaupun perawat jaga 
yang ada juga kurang dibantu oleh rekan-rekan mereka di rumah sakit, malah 
akhirnya kami sendiri yang turun tangan. Dokter jaga saat itu langsung 
memeriksa Wulan dan perawat mulai menginterogasi kami bagaimana 
kejadian-nya. Sampai disini gue masih merasa tidak ada masalah, sampai 
ketika dokter jaga yang memeriksa kepala Wulan berkata, "ini luka-nya 
cukup mengkhawatirkan juga, perlu CT Scan..." 

"Iya dokter, mohon segera diambil tindakan aja" , kami langsung 
mengiyakan. Selanjutnya, dokter bertanya ulang, "Mau langsung di CT Scan, 
atau di rawat dulu?"

Lho... menurut gue aneh pertanyaan-nya sih, tapi... ya sudahlah berhubung 
lagi panik dan khawatir keadaan Wulan, kami langsung menjawab ulang, 
"langsung CT Scan aja dok". Untuk tambahan informasi, dalam perjalanan 
menuju rumah sakit yang juga mendebarkan itu, gue menghubungi keluarga dan 
kerabat Wulan untuk memastikan bahwa tindakan gue tidak menyalahi dan 
melanggar hak-hak orang lain. Ketika gue tanya, "mas, dokter di rumah 
sakit menyarankan dilakukan CT Scan, apakah diperbolehkan Wulan di CT 
Scan, dan bagaimana mengenai biayanya, maaf?" dan mereka bilang silahkan 
ambil tindakan terbaik & 'gak masalah dengan CT Scan... akhirnya menurut 
gue ya cukup wajar, ketika gue menyampaikan kehendak keluarga ke pihak 
rumah sakit. Yang penting gue tidak merasa melanggar hak orang lain, itu 
aja.

Menit-menit berikutnya, gue mulai mondar-mandir antara UGD - Radiologi, 
mengisi formulir, dan 'agak mengganggu perawat di ruang Radiologi yang 
entah sedang apa di balik tirai, sebelum akhirnya gue menerima tagihan 
biaya CT Scan... Rp. 600.000,-

Gue agak berperang dalam batin ketika menerima tagihan itu, antara 
menyesal 'nggak well prepared pergi ke rumah sakit *ya begimana lagi 
namanya juga buru-buru yah... masih bisa bawa mobil menuju rumah sakit dan 
sampai dengan selamat aja 'udah untung alhamdulillah*, dan membayangkan 
kalau 'nggak cepet dilakukan CT Scan 'emang seberapa parah sih, keadaan 
Wulan? 

Akhirnya gue berinisiatip langsung tanya lagi ke dokter jaga di UGD:
"dokter, pasien apa harus segera di CT Scan sekarang atau 'nunggu keluarga 
dahulu?" 
Dokter menjawab, "sebaik-nya segera" ...
Gue bilang lagi, "kalau gitu bisa 'ngga dokter, kalau pembayaran dilakukan 
sebagian dahulu atau setelah dilakukan CT Scan, karena uang sedang dibawa 
keluarga dalam perjalanan?"... 
"Wah itu terserah bagian radiologi, coba anda tanya ke sana, kami hanya 
melaksanakan CT Scan atau tidak, tapi kebijaksanaan administrasi yang 
menentukan ada di bagian radiologi langsung", 
kata dokter itu lagi sambil 'nulis2 sesuatu di meja tanpa melihat ke gue.
"Oh, oke dokter, saya ke sana lagi", gue bilang sambil melirik ke Wulan 
yang 'teronggok' di bed dan agak bingung... *kog belum diapa-apain dokter 
yah*... sementara itu gue lihat ada beberapa dokter dan perawat yang 
sedang santai-santai sms dan 'ngobrol dalam ruang UGD ini, yang pasien-nya 
hanya Wulan seorang.

Terpacu oleh kenyataan bahwa kalau gue 'nggak cepet ke bagian Radiologi 
lagi, nanti Wulan kenapa-kenapa, gue mempercepat langkah dan tanya suster 
di Radiologi:
"mbak, mmm... kalau pembayaran-nya nanti setelah keluarga dateng atau 
sebagian dulu bisa 'nggak? Jadi pasien di CT Scan dulu sekarang..."

"Wah kalau itu terserah bagian UGD mba, saya cuma jalanin mesin CT Scan 
aja disini...", kata suster bikin jantung gue mak nyossssss... dan 
langsung menyadari cepat... gila ada apa ini kog gue dilempar-lempar 
begini. Dengan wajah agak memelas dan mohon supaya suster mengerti 
akhirnya gue bilang:
"mbak, mmm tadi saya baru dari UGD dan dokter di sana minta supaya saya ke 
sini minta persetujuan mbak, apa mbak bisa konfirmasi telepon ke UGD aja 
daripada saya bolak-balik lagi?"
Dengan muka jelas langsung asem, suster tersebut menelepon bagian UGD, dan 
kembali menjelaskan ke gue bahwa prosedur tindakan memang begitu, bahwa 
gue harus bayar dulu, baru CT Scan dilaksanakan. 
"Walaupun saya bayar sebagian dahulu apa 'gak bisa juga mbak?", tanya gue 
lagi.
"Wah kalau itu masalahnya silahkan mbak tanya ke bagian kasir...", yang 
mana ketika gue ke sana juga dibilang gue harus minta persetujuan dokter 
jaga dahulu.

Weks...
Buru-buru gue menuju UGD lagi, dan bertanya:
*sambil melirik bed Wulan... loh kog belum diapa-apain juga nih Wulan, 
masih teronggok aja di bed?*:
"Dokter, saya benar-benar bingung... sebaiknya Wulan harus cepat di CT 
Scan atau tidak, saya dan keluarga berharap cepat ada tindakan, tapi terus 
terang uang yang ada belum cukup. Saat ini keluarga sedang menuju kemari 
bawa uang. Bagaimana dokter?"
"Ya kami hanya menjalankan prosedur di rumah sakit ini saja, ibu...", kata 
dokter itu lagi.
"Saya mengerti dok, tapi saya bingung, CT Scan itu benar-benar dibutuhkan 
atau tidak untuk Wulan? Kalau persoalan-nya uang, kami mau membayar 
sebagian dahulu, tapi tetap katanya harus persetujuan dokter. Saya sendiri 
khawatir tadi dia muntah-muntah begitu hebat", dengan nada agak mulai naik 
dikiiitttt... *gimana 'gak naik suara dikit, dilempar kesana kemari kayak 
pingpong gitu... tengah malem pulak*
Dan dokter itu mulai membentak gue di depan Wulan dan beberapa REKAN 
SEJAWAT-nya: 
"Bagaimana mau di CT Scan kalau pendarahannya belum berhenti!!! Ibu 
mengerti !!!??!!!"

Kesadaran langsung terhempas. 
Tapi gue masih punya harga diri sedikit:
"Kalau pendarahan-nya harus dihentikan sebelum CT Scan, kenapa tidak dari 
tadi dihentikan, dokter? Mungkin tidak di-CT Scan dahulu tidak masalah, 
tapi saya lihat terhadap pasien ini masih belum diambil tindakan apapun 
dari tadi, sejak saya mondar-mandir ke Radiologi?", 
dengan suara mulai agak tersendat, kalut dengan emosi dan airmata yang 
hampir tumpah. Dan gue berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertanya 
lagi:
"Maksud saya, apakah dokter tega, kalau misalnya nanti pasien ini mati 
tanpa penanganan di sini?", 
suara gue makin lirih...
"ITU BUKAN URUSAN SAYA!!!!!"

Gelegar kata-kata dokter itu semakin menghempas gue ke pojokan yang 
betul-betul berupa pojokan ruang UGD. Untuk sesaat gue sulit bernafas, 
mencoba mencerna dengan kerongkongan tercekat dan pandangan nanar ke arah 
dokter itu. Mencoba meraba untuk mengenali jenis spesies apa yang 
bersembunyi di balik jubah putih itu. Tumpahan emosi semua orang yang 
bercampur-aduk di ruangan itu sangat terasa aroma-nya dalam diam. 
Kenyataan memang pahit, tapi sangat terasa kental-nya pahit ketika elu 
mencoba menerima kenyataan, bahwa kepercayaan yang selama ini dibangun, 
untuk percaya bahwa profesi dokter, yang selama ini dipuja-puji, adalah 
penolong sesama MANUSIA, hancur berkeping-keping. Ruang kepercayaan itu 
masih ada kog, tapi lantai-nya malam ini kembali dinodai. Sulit untuk 
menghapus noda-noda yang melekat dalam kenangan itu.

+/- 00.40
Detik-detik selanjutnya adalah episode drama ketika:
"Bukan... urusan... dokter...", gue mengucap lirih terbata dalam perih 
yang tersendat pahit menguar, mengulang kata-kata dokter yang terdengar 
jumawa di telinga. Lalu, bagai tersengat lebah dokter-dokter lain dalam 
ruangan UGD tersebut mulai berhamburan menghampiri Wulan yang teronggok 
bagai daging tanpa harga di bed UGD. Bagai kupu-kupu yang mulai menyadari, 
ada sekuntum bunga elok di balik semak berduri, yang wajib dikerumuni. 
Bagai para penambang emas yang tiba-tiba menemukan sebongkah emas dalam 
tambang. Well, daging sapi yang masih berdarah-darah aja di supermarket 
masih berlabel HARGA, yang jelas menunjukkan BENDA BERHARGA. Dan manusia 
bernama Wulan ini sama sekali tidak ada harga-nya di mata dokter yang 
'udah membentak gue.

dr. Abraham, dr. Sanny, dr. Della & perawat Fauziah,
serta dokter yang membentak gue, membelakangi kamera.

Sementara gue masih tersendat di pojokan UGD, berusaha menghimpun 
kepercayaan yang terserak atas apa yang telah terjadi, mencoba mencari 
pondasi kekuatan lewat pandangan menghujam lantai. Entah... mungkin para 
dokter yang tadi asyik nongkrong tidak mempedulikan Wulan, mulai sadar 
bahwa mereka adalah dokter, yang harus menolong sesama, yang kesulitan 
dalam fisik yang terluka. Tapi gue 'udah 'nggak peduli kenyataan itu. 
Kenyataan-nya yang ada sekarang adalah... dokter jaga yang satu itu entah 
siapa namanya... yang seperti-nya berwenang disitu... dalam kata-kata yang 
diucapkan dengan jelas... 'nggak peduli sama nasib Wulan, sebagai sesama 
MANUSIA. 

Dan episode selanjutnya, adalah ketika luka di kepala Wulan yang sudah 
mencapai tahap pembengkakan hampir sebesar bola tenis, akhirnya dijahit.

gambar ini gue ambil disela proses penjahitan yang belum selesai, 
ketika ada dokter yang menyingkir sebentar dan akhirnya menyelesaikan 
jahitan.
Luka pertama ini cukup besar dibanding luka kedua di belakang telinga 
kanan.

Dan gue hanya bisa pasrah, di pojokan UGD sambil berucap dalam hati... 
apakah harus melalui ini semua, setiap tindakan dalam ruang UGD dilakukan? 
Apakah harus ada pembuktian jumawa seorang dokter di balik jubah 
putih-nya, dengan kata-kata yang dikeluarkan? Apa yang hendak dibuktikan 
dari semua ucapan dokter itu? Dan berapa banyak sudah pasien yang mungkin 
mati infeksi karena telat ditangani dokter yang belum mengumbar 
jumawa-nya, seperti yang telah dilakukan dokter ini di depan kami?

Kematian atau cacat mungkin adalah takdir, tapi 'nggak perlu campur tangan 
kita untuk mempercepat kematian itu atau memperburuk keadaan. Usaha 
semaksimal mungkin untuk mencegah yang terburuk, itu yang penting.

Gue bukan hendak sok pahlawan atau sok tahu dengan semua teori kedokteran 
bahwa ini dan itu, yang jelas dalam pikiran gue sebagai MANUSIA, ketika 
ada seseorang terlihat terluka di depan elo, entah elo dokter atau bukan, 
entah manusia itu hampir mati atau hanya merintih, entah manusia itu musuh 
atau sahabat kita, harus segera diambil tindakan untuk mencegah supaya 
manusia itu tidak tambah menderita. Itu aja. Gak perlu teori harus CT 
Scan-lah, rontgen-lah, MRI-lah...

Sedangkan kucing aja disayang-sayang & ditangisi kalau luka dikit... 
manusia bernama Wulan ini, hanya teronggok di UGD sementara kepala 
bocor-nya mulai membengkak dan terus mengeluarkan darah dan cairan yang 
entah apa lagi...

Untuk sesaat memejam mata, gue berharap ini semua cuma mimpi. Perlahan gue 
keluar ruang UGD dan agak terduduk bersandar di pagar taman. Masih seperti 
mimpi, gue mulai tersadar ketika bed Wulan didorong melewati gue, oleh 
suster dan satpam *mungkin untuk memastikan kita 'gak kabur kali... gapapa 
deh yang penting langsung ada tindakan* dan menuju... Ruang Radiologi. 
Yes.... thanks God... batin gue sambil mengusap muka.

+/- 01.15
Begitu keluarga datang, gue langsung menuju tempat parkir dan segera 
pulang untuk melupakan episode mimpi ini. Menurut kerabat yang gue 
telepon, Wulan harus dalam pengawasan dokter. Dan sampai sekarang, 
kondisi-nya belum pulih kesadaran-nya. Gue cuma bisa berdoa yang terbaik 
untuk Wulan...

==========

.... sekali lagi, tulisan ini murni curhat, uneg-uneg.
.... kalau ada yang tersinggung, mohon dimaafkan, namun demikian bila ada 
reply, mohon untuk tidak bernada membela dokter yang sudah membentak gue 
di depan Wulan. Karena itu sangat menyakitkan dan belum bisa gue lupakan, 
apapun alasan-nya,...
.... semata hanya agar tidak terulang kembali episode ini, maka gue tulis 
di sini.
.... semoga dari tulisan ini kita bisa memetik hikmah pentingnya kesehatan 
& keselamatan dalam perjalanan, dimanapun berada.
.... dan semoga rekan-rekan yang berprofesi sebagai dokter dan membaca, 
tidak sama dengan dokter yang sudah membentak gue.
.... gue yakin, masih banyak rekan-rekan dokter di luar sana yang baik dan 
berdedikasi tinggi kepada kemanusiaan. Paling tidak, untuk semua dokter 
dan tenaga paramedis lain yang telah gue sebut nama-nya dan gue pajang 
foto-nya di jurnal ini, gue mengucapkan terima kasih atas penanganan awal 
yang akhirnya diusahakan cepat kepada saudari Wulan, walaupun harus 
melalui episode yang kacau ini. Semoga amal ibadah anda semua dibalas 
berlipat ganda oleh Yang Maha Kuasa. Trims...

=======================
*Detil jam pada catatan ini disesuaikan dengan log pada hp ketika ada 
percakapan & pemotretan. 
Berdasarkan catatan ini dapat diketahui, Wulan baru dikenai tindakan medis 
setelah kira-kira 30 menit dibiarkan. Tidak lama memang, tapi siapa yang 
bisa memperkirakan dampak-nya?
Mohon maaf bila salah. 

*Berhubung ada perkembangan tak terduga bahwa jurnal ini di-link oleh 
banyak rekan, bila ada yang merasa dirugikan dengan adanya catatan dalam 
jurnal ini, dapat langsung menghubungi gue di: 0818-848499 atau 
[EMAIL PROTECTED], tanpa melibatkan pihak lain terutama pasien. 
Semua akibat dari penulisan jurnal ini tanggung jawab-nya ada pada gue 
pribadi.
Terima kasih.

Dec 8, '07 1:50 PM
for everyone


----------------------------------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

 

<<image/gif>>

Kirim email ke