Ibu, saya pernah baca artikel yang ditulis Mas Kirdi Putra dengan judul Anakku tidak punya rasa takut. Artikel ini bisa jadi kebalikan dengan kasus ibu yang anaknya justru takut orang ato keramaian.
Saya bisa ambil petikannya begini: " Seorang anak, masih dalam proses pembentukan nilai dan kepercayaan, yang semuanya itu merupakan proses bawah sadar seseorang, jadi ketika kita mau membentuk nilai dan kepercayaan, misalnya membedakan mana yang harus berani, dengan mana yang harus ditakuti, maka gunakan bahasa bawah sadar, yaitu komunikasi non verbal. Apa itu komunikasi non verbal? Begini, misalnya kita mau ajarkan anak kita untuk tidak takut pada gelap (sementara kebanyakan tayangan di televisi justru menakut-nakuti anak-anak dengan tayangan tentang hantu-hantu, sehingga langsung menyamakan bahwa kondisi gelap pasti berhantu), kita bawa buah hati kita ke depan ruangan yang gelap. Ketika dia ketakutan, katakan "di kamar gelap ini sama kayak kamar lainnya..", lalu yang kita lakukan, nyalakan lampu di ruangan itu, ajak si kecil masuk, kemudian ajak keluar lagi. Lakukan berulang ulang. Setelah dia mulai berani, berikan alat untuk dia bisa menjelajah ruang gelap itu, yaitu senter. Setelah berulang-ulang kali, dan sudah ada keberanian dari dirinya, ajak ia masuk bersama-sama, tanpa senter tentu saja." Coba ibu email ke [EMAIL PROTECTED] untuk konsultasi hal ini, ato kata teman saya bisa terapi di kliniknya ..ehm telponnya insya Allah masih sama 7397916 Semoga membantu ema muktar --- In [email protected], herlina reza <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Dear All... > Masih inget saya bundanya rafi, saya mau cerita dulu sebelumnya anak saya Rafi (11 bln) sangat takut sama orang dan rewel sekali jika berada di tempat yg sangat ramai. Pada hal kata bny orang biar anak kita tidak takutan sering2 dibawa keluar dan bertemu orang bny, nah rafi sejak >=3bln sering sekali saya bawa ketmp arisan, mall dan ngumpul dg sanak family tp koq skr kenyataannya dia malah sangat takut ya. Kalau ditempat ramai Anakku ga mau lepas dari saya bahkan dia juga tidak mau sama ayah or baby sitternya, klo digendong sama ayah or baby sitternya bisa nangis seperti orang habis dipukulin. > Dan berhubung saya masih tinggal sama ortu saya, rafi sangat dekat dengan kakek dan neneknya tp sekarang klo melihat saya dia nangis dan tidak mau lepas dari saya, pd hal dulunya klo sudah dg kakek or neneknya dia tidak mau lepas. > oh iya sejak 2 bln yg lalu saya pake baby sitter dulunya pake pembantu tp pul lebaran ga balik, nah penyesuaian dengan baby sitternya susah bgt s/ skr aja msh nangis dulu klo dipegang baby sitternya. > Terkadang saya malu deh klo lagi ngumpul dg sanak family, anak saya benar2 rewel dan tidak mau dideketin sampai ada yang berkomentar sejak rafi lahir aku ga pernah gendong deh . > Saya bener2 kerepotan neh dengan keadaan ini, gimana ya cara mengatasi rasa ketakutannya? > Maaf ya klo ceritanya kepanjangan, Thx. > > Bundanya Rafi > > > > --------------------------------- > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. >
