Mba, Mungkin supaya nggak sedih, daripada fokus pada kekurangannya - kekurangan waktu, perhatian, dll, mungkin lebih baik fokus ke yang positif2 aja. Misalnya, bersyukur dipercaya mendapat anak lagi - banyak lho yang jangankan 2, 1 aja belum dapat padahal sudah bertahun-tahun menikah. Trus nanti rumahnya nggak bakalan sepi, akan ramai karena anaknya 2 dan si kakak nggak bakalan kesepian karena akan ada adiknya jadi mereka punya teman.
Sementara untuk masalah waktu ini, coba dipertimbangkan lagi apakah ibunya betul2 harus bekerja. Mungkin nggak dia cuti panjang, setahun tanpa bayaran misalnya, atau kalau itu terlalu ekstreme, bisa nggak dia kerjanya jadi paruh waktu atau kerjanya dibagi ada yang dikerjakan dirumah - paling enggak kan kalau kerja dirumah bisa mengawasi anak2 meski tetap nggak bisa main2 sama mereka. Tapi kalau tidak memungkinkan karena masalah ekonomi atau hal2 yang lain ya sudah, jalankan saja apa yang harus dijalankan, relakan bahwa anak2nya perlu pengasuh/diasuh dengan orang lain dan maksimalkan waktu yang dia punya untuk anak2nya. Oh ya jangan lupa apapun yang dipilih sebaiknya atas kesepakatan bersama sehingga teman mba dapat dukungan penuh dari suami. Ini menurut saya adalah salah satu faktor penentu kebahagiaan keluarga. Selama suami istri kompak, biasa apapun bisa diatasi. Salam, sas On 1/16/08, Estiningtyas Widiasih <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear Moms, > > Teman saya sedih & bingung, pasalnya dia hamil lagi saat menyusui bayinya > yang masih berusia 8 bulan. Dia sangat khawatir tidak bisa memberi perhatian > kepada si sulung yang memang sedang banyak membutuhkan perhatian sedangkan > dia ibu bekerja (full time 8-5). Dia juga takut jika terus menerus sedih, > bayi di dalam kandungan akan merasa kehadirannya tidak di butuhkan. Please > share pengalamannya mom... > > Thks a lot, > Esti (Mama Arya) > > > > -- "Iqra, Iman, Ilmu, Amal" Civilization is defined by the presence of cats - Unknown agatogata.multiply.com agatogata.blogspot.com
