jangan kecil hati bu, enggak ada kok anak yang punya perasaan benci, tapi
kalau kita terlalu keras apalagi dengan fisik, salah2 sianak yang udah
deluan punya pikiran 'IBUKKU MEMBENCIKU'

Saya setuju banget dengan Ibu Yusri Sabar, Tegas (bukan marah), dan
Konsisten, tapi saya lebih sering menaruh KONSISTEN paling depan. yang
paling penting juga memberi CONTOH.

jadi kalo si anak enggak boleh makan di depan tv, ya orangtuanya harus
juga makan di meja makan. jangan nyuruh doang :).

juga seringkali kita ngak konsisten, peraturan tergantung mood, kalau lagi
seneng anak boleh ngapain aja, kalo lagi suntuk pulang kantor ngeliat anak
lari dikit udah dibentak. akhirnya si anak juga enggak pernah tau alasan2
suatu tindakan boleh atau tidak boleh dilakukan karena semua tergantung
mood orangtua.

yang paling sering kejadian, anak ngerengek minta sesuatu didepan umum,
padahal sebenarnya enggak boleh tapi karena malu diliat orang banyak
akhirnya orangtua nyerah.

sepertinya ini hal kecil tapi ini bisa ngerembet kemana-mana. karena si
anak enggak pernah tau PASTI peraturan atau perilaku yang acceptable, maka
mereka berprilaku 'because their parents told them so' bukan karena 'i
know so'. karena ketidak tahuan mereka muncul deh perilaku-perilaku yang
memaksakan kehendak kalau keinginan mereka tidak tercapai.

terus masalah mencontoh perilaku dari temen. saya dulu guru preschool,
dulu sering banget deh dapet komplain gini dari orangtua. anaknya punya
perilaku jelek karena mencontoh dari temannya. bener sih suka kejadian,
dan saya selalu bilang perilaku ini sebatas si anak eksplore coba2,
sedangkan kalau dirumah sudah secara konsisten mengajarkan perilaku mana
yang boleh dan tidak, perilaku yang tidak diinginkan juga enggak akan
berkepanjangan kok dan sifat nyontoh ini umumnya sementara.

dulu dikelas saya ada anak spesial needs yang agresif secara fisik dan
verbal, di awal banyak orangtua yang komplain, tapi kenyataannya perilaku
tersebut cuman coba2 selama dirumahnya konsisten, di akhir cuman 1
orangtua yang masih komplain, tapi menurut saya bukan salah anak yang
special needs, wong dirumah anaknya didiknya juga dengan dipukul, belum
lagi tontonan yang enggak disortir sama orangtua tadi. kenyataannya kan
memang anak lebih banyak dirumah dari pada disekolah, terutama anak pra
sekolah paling maksimal 15 jam diluar rumah sisanya kan dirumah, ya
pastinya pendidikan dirumah yang akan lebih dominan.

tapi kalau anak kita yang jadi nya dilarang untuk sosialisasi ya kasihan
juga. biar gimana sosialisasi itu perlu, kalau ada yang tidak pantas biar
dia juga bisa belajar mana yang acceptable mana yang tidak. kalau si anak
udah usia sekolah (TK besar or SD) kan udah bisa diajak diskusi, nah bikin
deh peraturan dan konsekuensi  yang disepakati bersama jadi kalau dia
melanggar ada konsekuensinya, dengan begini anak belajar menerima
konsekuensi/resiko BUKAN HUKUMAN karena enggak nurut.

yang penting KONSISTEN terhadap peraturan yang diberikan dan KONSISTEN
antara ayah, ibu dan semua orang yang ada dirumah. CONTOH, SABAR enggak
ada anak yang dikasih tahu sekali langsung bisa wong kita aja yang udah
gede suka ngakalin peraturan yang udah jelas2 enggak boleh, terakhir TEGAS
tapi kalau yang tiga pertama udah dilaksanakan sebaik2nya biasanya enggak
akan sampe ke yang ini kok.

wah jadi panjang banget, mudah2an bisa bermanfaat.

'Bundanya Garda yang baru kenal mainan dan selalu mau bawa mainan yang
diliat di mall, dan selalu muka tebel kalau anaknya nangis di mall karena
enggak di kasih'



Kirim email ke