MOmsss 

Di Republika kemaren atau baca di webnya
http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=324244&kat_id=13
<http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=324244&kat_id=13>  serem
banget... Ini saya copykan artikelnya, semoga bermanfaat.

Rabu, 20 Februari 2008

40 Persen Makanan Bayi Terkontaminasi Bakteri

BOGOR -- Para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan
22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi
(dari 15 sampel) telah terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii.
Materi yang dijadikan sampel adalah yang dipasarkan antara bulan April
hingga Juni 2006.

Kontaminasi oleh E Sakazakii yang menghasilkan enterotoksin tahan
panas dapat menyebabkan enteritis (peradangan saluran pencernaan),
sepsis (infeksi peredaran darah), dan meningitis (infeksi pada lapisan
urat saraf tulang belakang dan otak). Ini berdasarkan pengujian yang
dilakukan pada bayi mencit (tikus percobaan).

Sri Estuningsih, jurubicara tim peneliti, Selasa (19/2) menyebutkan
bahwa sampel makanan dan susu formula yang diteliti berasal dari
produk lokal. Tim tersebut terdiri dari staf pengajar Fakultas
Kedokteran Hewan IPB, yakni Hernomoadi Huminto, I Wayan T Wibawan, dan
Rochman Naim.

Menurut Sri Estuningsih, penelitian itu dilakukan melalui dua tahap.
Tahap pertama, isolasi dan identifikasi E sakazakii dalam 22 sampel
susu formula dan 15 sampel makanan bayi. Pada tahap kedua, menguji 12
isolat E sakazakii dari hasil isolasi dan kemampuannya menghasilkan
enteroksin (racun) melalui uji sitolisis (penghancuran sel).

Dari 12 isolat yang diujikan terdapat enam isolat yang menghasilkan
enteroksin. Uji selanjutnya adalah menguji isolat tersebut pada
kemampuan toksin setelah dipanaskan. ''Terdapat lima dari enam isolat
tersebut yang masih memiliki kemampuan sitolisis setelah dipanaskan,''
katanya. Selanjutnya, ditentukan satu kandidat dari isolat tersebut
dan menguji enterotoksin serta bakteri vegetatifnya pada bayi mencit
berusia enam hari. Bayi mencit diinfeksi melalui rute oral (cekok
mulut) menggunakan sonde lambung khusus dan steril.

Setelah tiga hari, kemudian dilakukan pengambilan sampel organ mencit
tersebut. Hasil pengujian enteroksin murni dan enteroksin yang
dipanaskan dan bakteri mengakibatkan enteritis, sepsis dan meningitis.
Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan metode hispatologi menggunakan
pewarnaan hematoksilin eosin.

Dari hasil pengamatan histopatologis yang diperoleh masih dibutuhkan
penelitian senada yang lebih mendalam untuk mendukung hasil penelitian
tersebut. Ia menyatakan, amat penting dipahami bahwa susu formula bayi
bukanlah produk steril. Sehingga, dalam penggunaannya serta
penyimpanannya perlu perhatian khusus untuk menghindari kejadian
infeksi karena mengonsumsi produk tersebut.

Sri Estuningsih secara pribadi telah melihat langsung fasilitas salah
satu perusahaan makanan dan susu formula dengan omzet terbesar di
Indonesia. ''Sebagian besar fasilitas tersebut telah memenuhi standar
operasional prosedur perusahaan susu formula bayi, dan saat ini masih
terus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi tersebut,'' katanya.
n ant
( )

 

Kirim email ke