Hai mom,
Kalau saya ada diposisi mom, saya tidak akan masukkan si kecil ke TK. Biarkan 
si kecil "dimatangkan" secara emosi nya di playgroup dulu. 
Pertumbuhan fisik tidak identik dengan pertumbuhan emosi. Jadi jangan 
pertumbuhan badan menjadi acuan nya.
Apalagi kalau saya menilai sesaat dari cerita mom bagaimana dia mengalami 
kurang bisa fokus dalam belajar. Nanti malah akan kesulitan saat di TK nya. 
Dan kalau terus berlanjut seperti itu sampai TK B, nanti saat di TK B mom tetap 
harus menghadapi dua pilihan tetap di TK B (2thn di TK B seperti teman anak 
saya) atau "dipaksakan" masuk SD dengan berbagai konsekwensi yg lebih berat 
baik utk si kecil atau utk mom sendiri.
Si kecil akan mengalami stres akibat tekanan yg diterima utk mengikuti 
peraturan dan pelajaran  SD, dan  mom  akan menghadapi stres karena cara 
menghadapi anak dengan masalah seperti ini juga gak gampang.

Kalau kurang fokus nya si kecil terus berlanjut sampai TK A,  saya sarankan utk 
mencari psikolog anak yg cukup berpengalaman. Jangan sampai pengalaman saya 
dengan anak pertama saya juga menimpa mom.
Anak saya juga dulu kurang fokus. Persis seperti si kecil. Setelah di periksa 
oleh psikolog, anak saya mengalami rentang konsentrasi pendek. Selain anak 
saya, keponakan saya juga mengalami nya. Mereka terdeteksi saat TK. Hanya 
bedanya, anak saya diterapi tapi keponakan saya (sekarang kelas 3 SD) tidak 
diterapi.
Hasilnya......anak saya mengalami perubahan tapi keponakan saya sampai sekarang 
mengalami kesulitan dalam menyerap pelajaran.
Sampai saat ini, kakak saya masih mengalami kesulitan dalam membimbing anaknya 
belajar. Padahal disaat kelas 3 SD ini, nilai formal pelajaran sudah memegang 
peranan penting.

Anak yg mengalami rentang konsentrasi pendek bukan bodoh, malahan tergolong 
anak pintar (IQ tinggi). Tapi dia tidak akan berprestasi karena tidak bisa 
fokus. Akhirnya.....kalau kebetulan bertemu dengan guru yg tidak memiliki 
pengetahuan psikology anak, maka dia akan menganggap anak tsb anak yg "kurang 
pintar".

Jadi.......menurut saya, lebih baik mom biarkan si kecil di playgroup saja 
dulu. Bila perlu, supaya ada perubahan atmosfir dan pengalaman, mom cari saja 
playgroup yg lain, yg jauh lebih baik.

Sekarang pun saya akan masukkan anak ke 3 saya ke playgroup.
Menurut saya, PG yg baik adalah:
1. PG yg jelas arah kurikulum nya.
2. PG yg menerapkan peraturan "tidak boleh pake pampers" selama ke sekolah.
3. PG yg melarang ortu/BS ikut duduk di kelas.
4. Guru2 PG yg mengerti psikology anak.
5. Lingkungan PG cukup sehat. Kelas cukup terkena matahari. Tidak mengandalkan 
AC.


Nah.....mom, semoga cukup membantu ya.....



Regards,
YUSRI
email: [EMAIL PROTECTED]

Sent from my BlackBerry® wireless device

-----Original Message-----
From: Felicia Brittany <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Fri, 29 Feb 2008 21:11:06 
To:[email protected]
Subject: Bls: [Ayahbunda-Online] Re:FW: [asiforbaby] 22,73% SF & 40% makanan 
bayi terkontaminasi bakteri


Aku mau sharing nih bu...Anakku yg cwe umur 3 th (lahir tgl 30 jan 2005) skrg 
sudah sekolah playgroup. Saya bingung apa nanti thn ajaran baru 
mending naik ke tk A apa mending di playgroup lg?? 
<http://mail.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/06..gif>  Usianya tanggung 
buat msk sekolah, kalo ga kemudaan nti dia ketuaan dibandingkan teman 
sekelasnya. Di umur 3 th ini dia sepantar tingginya n besarnya sama teman2nya 
yang umurnya sdh 4 th, namun kemandiriannya msh krg dibanding temannya. 
Contohnya, kalo saya suruh dia belajar menulis atau mewarnai, dia mau tp cm 
sebentar plg 10 mnt trus kabur beralih perhatiannya. Klo di sekolah perhatian 
sm guru yg mengajar ga bs lama, tp anehnya kalo ditanya dia bisa jwb.Dia sdh 
bisa berhitung 1- 10, A s/d Z, menyebutkan wrn2 baik dlm bhs indo maupun 
english, menyebutkan nama hewan dlm indo maupun mandarin. Bicaranya sdh bnyk tp 
ada sebagian huruf yg belum jelas pengucapannya.Mis: huruf F, S, 
R..normal ga ya bu?? Sy udh konsultasi sm guru yg mengajarnya, beliau 
menyarankan anak sy tdk usah dinaikkan dl, berhubung anak sy belum fokus 
bljrnya, belum 
mandiri, usianya msh kcl.. Namun yg buat bingung situasi belajar n kelas 
playgroup bukan spt ruang belajar, disana berkumpul anak2 mulai dr umur 2 th yg 
msh di tunggu 
baby sitternya, ortunya, blm lg suara nangis anak2, ada yg muter2 dikelas, wah 
pokonya pusing deh.. <http://mail.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/22.gif> 
 Sy berpikir kalo anak sy msh di playgroup, takut ga berkembang 
kemandiriannya dan kemampuannya..nanti dia malah ikut2an pengen ditungguin di 
kelas spt anak2 lain, jerit2 spt anak2 kcl yg rewel. Namun kalo di naikkan ke 
Tk A, sy 
takut dia ga bisa mengikuti pelajaran di kelas (sekolah skrg kan lain sm dl ya 
bu..anak Tk udh belajar calistung, bhs english n mandarin), sy takutnya nti dia 
stress..Gimana 
baik nya ya bu... Menurut ibu bagaimana?? Saya tunggu sarannya.. 
<http://mail.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/05.gif> ,,Terima Kasih 
banyak bu..sorry kalo mengganggu..
 
----- Pesan Asli ----
Dari: - Yusri - <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jumat, 29 Februari, 2008 11:05:21
Topik: Re: [Ayahbunda-Online] Re:FW: [asiforbaby] 22,73% SF & 40% makanan bayi 
terkontaminasi bakteri

 
 

Sekedar curhat,..... .
Karena saya tidak tahu harus ke mana saya tujukan pertanyaan2 dalam kepala saya 
ini.

Rasanya kepercayaan saya pada pemerintah sangat menurun setelah mendengar 
komentar2 mereka yaitu pihak pemerintah (dalam hal ini Menkes dan Kepala BP 
POM) yang seharusnya mereka bisa melakukan dan mengambil beberapa tindakan utk 
sekedar menenangkan warga. Malahan mereka saling "mencuci tangan" dan saling 
"tuding", serta berargumentasi utk membela diri.

Semua itu semakin menunjukkan bahwa tidak adanya koordinasi antara mereka dan 
juga menunjukkan bahwa mereka kurang menguasai lapangan.

Beberapa komentar mereka (saat diwawancara) yang mengganjal pikiran saya :
Menkes : Tidak ada produk sufor yg bermasalah, karena saya tidak pernah 
mendapat laporan.
Kepala BP POM : Pernah ada produk susu yg bermasalah antara tahun 2003 tapi 
sudah ditarik dari pasaran.
Komentar saya : terlihat sekali tidak adanya koordinasi antara mereka.
Pertanyaan saya: mengapa produk yg bermasalah tidak diumumkan pada konsumen? 
Apakah sufor yg bermasalah itu dianggap tidak membahayakan anak2 kita?
Apakah kita sebagai konsumen tidak punya hak utk tahu?

Menkes : Yang saya dengar para peneliti itu "hanya" dokter hewan.
Komentar saya: Jelas saja yg melakukan penelitian ini harus dokter hewan karena 
susu formula berasal dari hewan (sapi) bukan berasal dari susu manusia. 
Mengapa menkes harus mengeluarkan penyataan yang merendahkan kemampuan seorang 
dokter hewan?.
Apakah seorang dokter manusia lebih pintar dan lebih diakui kemampuannya 
daripada dokter hewan?

Menkes : Penelitian ini dilakukan pada tikus. Apakah mau kalian (para wartawan) 
disamakan dengan tikus?
Komentar saya : Menkes lupa (apa tidak tahu....???) bahwa dimanapun, diseluruh 
dunia ini, segala bentuk penelitian akan dicobakan pada tikus atau kelinci. 
Karena tikus dan kelinci adalah binatang mamalia (seperti manusia) yg paling 
mudah melakukan perhitungan dan nanti akan dihitung berdasarka perbandingan 
berat badannya dengan berat badan manusia. Apakah pernah ada manusia yg mau 
dijadikan percobaan dalam suatu penelitian yg membahayakan tubuhnya?

Menkes : Sampai saat ini saya tidak pernah dilaporkan ada wabah yg disebabkan 
oleh susu formula.
Pertanyaan saya: Apakah harus menunggu wabah dulu, baru dilakukan suatu 
tindakan?
Apakah tidak pernah sekalipun pemerintah memikirkan preventif dalam berbagai 
masalah yg timbul?

Menkes : Apa maksud dari penelitian ini? Kenapa tiba2 dilakukan penelitian ini? 
Siapa yang membiayai penelitian ini?
Komentar saya : Kenyataannya penelitian ini dibiayai oleh pemerintah (nyata 
sekali "ketidakpahaman" beliau). Pernyataan ini keluar dari para peneliti. Dan 
saya yakin penelitian dilakukan pasti ada sebab yg melatarbelakangi nya, tapi 
bukan utk menjatuhkan produk lain.

BP POM : Saat ini BP POM sedang melakukan target waktu pada produsen susu 
formula utk menghentikan produksi susu yang mengandung DHA.
Komentar beliau ini saya rasa tidak sengaja tercetus.
Pertanyaan saya: ada apa dengan DHA? Mengapa tidak ada ketegasan tindakan kalau 
memang ada masalah? Mengapa ditutup2i dari konsumen dengan tidak mengumunkan 
dengan jelas. Dan menyerahkan sepenuhnya pada konsumen utk memilih?

BP POM : BP POM Indonesia punya komitmen dengan BP POM Internasional utk tidak 
mengumumkan setiap kasus jika tidak ada masalah yg terlalu serius seperti 
keracunan.
Pertanyaan saya: Apakah demi suatu komitmen mereka MENGORBANKAN anak bangsa 
sendiri? Apakan mereka tidak punya rasa bahwa ini adalah KEWAJIBAN MORAL mereka 
sebagai orang kepercayaan masyarakat?

Memang saat ini cara mengurangi efek bahkan mampu melumpuhkan bakteri dengan 
cara diseduh dengan air 75 derajat celcius. Dan itu sudah diterangkan dalam 
beberapa tayangan TV. Tapi mengapa mereka juga tidak mengumumkan dan 
menerangkan pada masyarakat bahwa efek bakteri nya mati dengan air dengan suhu 
75 derajat celcius tapi kandungan gizi dalam susu juga akan drastis berkurang 
bahkan hampir hilang?
Kalau para ibu melakukan cara seperti ini, ujung2nya tetap anak yg menjadi 
korban, karena anak2 kita yg terpaksa minum sufor ternyata minum air yang tidak 
ada kandungan gizinya. Mereka hanya minum air yg berwarna putih. 
Kembali..... .mereka lebih memilih mengorbankan KEPENTINGAN anak utk 
menenangkan KERESAHAN para ibu daripada mengorbankan KEPENTINGAN produsen dan 
mencegah KERESAHAN pada pihak produsen.

Sebenarnya, daripada berkomentar yg kurang tepat saat diwawancara, lebih baik 
Menkes dan BP POM mengambil moment ini utk lebih mengingatkan masyarakat utk 
kembali ke ASIX. 
Karena kita tahu perbandingan antara iklan sufor di TV dan iklan pemberian ASIX 
sangat tidak seimbang.
Di setiap supermarket akan banyak ditemui para salesgirl yg menawarkan berbagai 
merk sufor dan memberikan iming2 hadiah. Apakah ada "salesgirl" yang memberikan 
pengetahuan tentang ASIX di tempat2 strategis yg bisa dijumpai para ibu? 
Iklan pemberian ASIX paling2 kita temui di RS bersalin atau puskesmas2.
Jadi jangan salahkan masyarakat kecil, yang minim pengetahuan, yang tidak punya 
akses internet utk mencari tahu dan tidak punya waktu lebih utk menambah ilmu 
(karena waktu mereka tersita utk mencari makan demi kelangsungan hidup 
keluarganya) yang akhirnya lebih percaya pada iklan sufor.


Regards, 
YUSRI 
email: [EMAIL PROTECTED] co.id <mailto:yusribb%40yahoo.co.id>  

Sent from my BlackBerry® wireless device 

-----Original Message----- 
From: kiki razak <kiki_razak0509@
 yahoo.co. id <mailto:kiki_razak0509%40yahoo.co.id> > 

Date: Tue, 26 Feb 2008 14:16:10 
To:Ayahbunda-Online@ yahoogroups. com 
<mailto:Ayahbunda-Online%40yahoogroups.com>  
Subject: [Ayahbunda-Online] Re:FW: [asiforbaby] 22,73% SF & 40% makanan bayi 
terkontaminasi bakteri 


MINTA INFO SUSU FORMULA MERK APA AJA SH YANG BERMASALAH 
 

------------ ----
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia <http://sg.rd. yahoo.com/ 
mail/id/footer/ def/*http: //id.yahoo.. com/ 
<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.yahoo.com/> > yang baru! 


 
----------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers 
<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.answers.yahoo.com/>   

Kirim email ke