JANGAN MUDAH TERKECOH ICON DHA DAN KECERDASAN

BENARKAH PEMBERIAN SUPLEMEN AA-DHA BERMANFAAT ?

Dr Widodo Judarwanto SpA

RUMAH SAKIT BUNDA JAKARTA
PICKY EATERS CLINIC (Klinik kesulitan makan)
JL Rawasari Selatan 50, Cempaka Putih Jakarta Pusat
Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat
telp : (021) 70081995 - 4264126 – 31922005
email : [EMAIL PROTECTED] , htpp://www.childrenfamily.coM



Saat ini sebagian besar susu formula atau makanan bayi selalu ditambah
bahan DHA (docosahexaenoic) dan AA (arachidonic acid). Promosi makanan
bayi selalu didominasi oleh icon "formula kecerdasan" tersebut. Orang
tua pasti akan terhanyut dengan promosi ini. Sehingga susu dan makanan
bayi tanpa bahan tersebut pasti kalah bersaing di pasaran padahal
harganya relatif lebih mahal. Yang lebih tragis rayuan promosi ini,
kadang menenggelamkan kehebatan manfaat ASI. Benarkah AA dan DHA
berpengaruh terhadap kecerdasan ? Amankah pemberian AA dan DHA secara
jangka panjang pada bayi dan anak ?

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), British Nutrition Foundation,
ESPGAN (European Society for Pediatric Gastroenterology and
Nutrition), WHO (World Health Organization) dan FAO (Food Agriculture
Organization) merekomendasikan penambahan DHA dan AA hanya perlu untuk
susu formula bayi prematur. Sedangkan pemberian pada bayi cukup bulan
mungkin tidak didapatkan manfaat. Secara teoritis dan bukti klinis
penambahan tersebut hanya bermanfaat untuk bayi prematur. Sedangkan
Canadian Joint Working Group and US committee dan American Academy for
Pediatric belum merekomendasikan pemberiannya pada susu formula bayi,
karena keterbatasan pengalaman klinik dan saat ini sedang dilakukan
penelitian untuk jangka panjang. Terdapat beberapa penelitian yang
menunjukkan bahwa mungkin bermanfaat. Tetapi banyak penelitian lain
menunjukkan tidak terbukti manfaatnya untuk kecerdasan bayi.

LATAR BELAKANG PEMBERIAN
Kualitas manusia sangat ditentukan oleh pertumbuhan dan
perkembangannya sejak dini. Pemenuhan gizi yang baik dan benar
merupakan modal dasar agar anak dapat mengembangkan potensi genetiknya
secara optimal. Zat gizi yang diberikan harus tersedia secara tepat
baik kualitas maupun kuantitasnya. Mulai dari protein dengan asam
aminonya baik yang esensiel maupun non-esensiel, sumber kalori, berupa
karbohidrat ataupun lemak, vitamin, dan mineral.
DHA dan AA adalah komponen terbesar dari long-chain polyunsaturated
fatty acids (LC-PUFA), merupakan bahan yang sangat penting bagi organ
susunan saraf pusat. DHA penting untuk pembentukan jaringan saraf dan
sinap, sedangkan AA berperan sebagai neurotransmitter sebagai suatu
bentuk asam lemak yang essensiel LC-PUFA harus ditambahkan pada makanan.

Asam lemak esensiel sebenarnya terdiri dari asam linoleat (AL) atau
"linoleic acid" (LA), asam linolenat (ALN) atau "a-linolenic acid"
(ALA) serta asam arachidonic atau "arachidonic acid" (AA). Asam lemak
ini tidak bisa dibuat oleh tubuh baik dari asam lemak lain maupun dari
karbohidrat ataupun asam amino. Asam arachidonic dapat dibuat dari
asam linolenat (seri n-6), karenanya yang dianggap sebagai asam lemak
esensiel hanyalah asam lemak lenolenat dan asam lemak linolenat. Kedua
asam lemak esensiel ini tidak dapat saling berubah dari yang satu
menjadi yang lain serta berbeda baik baik dalam metabolisme maupun
fungsinya, bahkan secara fisiologik keduanya mempunyai fungsi yang
berlawanan.
Penelitian pemberian AA/DHA pada bayi prematur terbukti menunjukkan
bahwa pemberian LC-PUFA sebagai suplemen dapat meningkatkan kemampuan
visual dan perkembangan sistem saraf terutama pada bayi prematur.
Proses pembuatan DHA maupun AA difasilitasi oleh enzim desaturase dan
elongase. Aktifitas kedua enzim ini masih sangat kurang pada bayi
prematur bahkan pada bayi aterm sampai usia 4-6 bulan. Karenanya
penambahan DHA dan AA pada bayi prematur lebih relevan diberikan,
dengan dosis yang mengacu pada kandungan asam lemak dalam ASI.

PENELITIAN KONTROVERSIAL
Manfaat pemberian AA dan DHA pada bayi cukup bulan dan anak dianggap
masih kontroversial. Beberapa penelitian pendahuluan mengklaim bahwa
pemberian zat AA dan DHA meningkatkan perkembangan tingkat kecerdasan
tertentu dan kemampuan visual anak. Sebuah penelitian menunjukkan
adanya peningkatan fungsi penglihatan pada bayi yang mendapatkan susu
formula dengan suplementasi AA/DHA dibandingkan yang mendapatkan susu
formula biasa, dengan melihat indikator perilaku dan elektrofisiologi
mata pada bayi berumur 2 dan 4 bulan. Beberapa pakar menilai beberapa
penelitian suplementasi AA/DHA tersebut terdapat kelemahan sehingga
tampaknya tidak universal dapat digunakan sebagai acuan.

Banyak pakar berpendapat bahwa ensim yang berfungsi untuk proses
biosintesa asam-asam lemak esensial menjadi DHA dan AA sudah tersedia
di sistem syaraf pusat dan hati di janin dan bayi. Teori inilah yang
mematahkan pendapat bahwa AA dan DHA perlu diberikan pada anak dan
bayi. Sehingga banyak penelitian juga mengungkapkan bahwa penambahan
DHA dan AA pada susu formula, ternyata tidak terbukti meningkatkan
kemampuan penglihatan dan sistem saraf bayi.

Hasil penelitian Ross Paediatric Lipid Study di Amerika Serikat pada
tahun 1997 yang menunjukkan tidak adanya perbedaan pertumbuhan dan
fungsi penglihatan pada bayi yang diberi DHA dan AA di 12 bulan
pertama. American Council on Science and Health juga menyimpulkan
bahwa tidak ada cukup bukti-bukti ilmiah untuk mendukung penambahan
DHA dan AA pada formula untuk bayi yang lahir normal. Demikian juga
penelitian yang dilakukan David dkk ternyata pemberian AA dan DHA
tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada Bayley Mental Scale,
Bayley Motor Scale, Vocabulary Comprehension and Production Scale.
Meskipun demikian Food and Drug Administration (FDA) memberikan ijin
kepada Abbott Laboratories dan Mead Johnson Nutritionals untuk
mengedarkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA pada tahun 2002.
Tetapi perusahaan tersebut harus menyumbangkan sebagian keuntungannya
untuk penelitian efek samping dan manfaat pemberian AA/DHA dalam
jangka panjang yang belum diketahui dengan jelas.
Sampai saat ini tampaknya belum ada data ilmiah mengenai penggunaan
DHA dalam bentuk suplemen. Juga belum ada penelitian mengenai manfaat
pemberian DHA. bagi anak pra sekolah atau anak yang lebih besar.

WASPADAI PEMBERIAN AA DAN DHA
Meskipun saat ini pemberiaannya sementara dinyatakan aman. Tetapi pada
bayi cukup bulan atau anak besar pemberian suplemen DHA dan AA perlu
diteliti lebih jauh mengingat adanya kemungkinan efek samping yang
belum terdeteksi dan teruji. Pemberian lemak yang berlebihan dapat
menyebabkan kegemukan, serta penyakit jantung bahkan dapat menimbulkan
keganasan, dapat meningkatkan kadar kolesterol, dan LDL yang dapat
memacu terjadinya aterosklerosis dan penyakit jantung koroner. Hal ini
sangat tergantung pada jumlah enersi yang berasal dari lemak,
komposisi dari asam lemaknya, komposisi dari lipoprotein, diet serat
yang dikonsumsi, antioksidan, aktifitas, serta derajad kesehatannya.
Pada anak yang tidak aktif konsumsi lemak tidak boleh melebihi dari
30% kebutuhan enersi.

Penelitian yang dilakukan penulis terhadap 256 bayi dengan riwayat
alergi yang melakukan rawat jalan di Children Allergy Center Rumah
Sakit Bunda Jakarta didapatkan 34 (13%) bayi mengalami reaksi simpang
terhadap AA dan DHA. Setelah dilakukan eliminasi provokasi susu
formula AA/DHA dan susu tanpa AA/DHA dengan jenis yang sama. Gejala
yang ditimbulkan karena pengaruh reaksi simpang tersebut antara lain
adalah dermatitis, batuk malam hari atau gangguan saluran cerna berupa
muntah, diare, konstipasi dan gangguan tidur malam.

Beberapa penelitian menunjukkan, reaksi simpang makanan yang
berlangsung lama bukan hanya mengganggu pertumbuhan tetapi juga
mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak seperti hiperaktif,
gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan emosi dan gangguan
belajar dan gangguan perilaku lainnya.

Pemberian DHA pada formula bayi lanjutan ataupun pada makanannya perlu
dipertimbangkan lebih cermat. Pada bayi yang aterm ataupun anak besar
sudah dapat mensintesa DHA maupun AA dari LC-PUFA sesuai dengan
kebutuhannya. Sedangkan pemberian DHA yang berlebihan dapat menekan
proses pembentukan AA, serta dapat menekan aktifitas ensim
siklooksigenase yang memfasilitasi pembentukan prostaglandin PGH2 dan
PGH3 dari AA, sehingga dapat menghambat pembentukan prostaglandin
berikut tromboksan dan leukotrin, dapat menyebabkan terhambatnya
respons terhadap proses keradangan khususnya pada pelepasan
interleukin-1 dan TNF, memanjangnya masa perdarahan, menurunnya renin
yang turut dalam pengontrolan fungsi ginjal. Pemberian DHA tanpa
kombinasi ARA atau DHA dan asam linoleat dengan rasio yang tidak tepat
justru menghambat pertumbuhan.
Overdosis DHA pada manusia, sejauh ini baru terlihat dialami orang
Eskimo yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Gejalanya berupa
perdarahan, mirip flek-flek berwarna kebiruan di kulit. Efek yang lain
baru ditemukan pada monyet maupun tikus, tapi gejalanya berbeda.

BAGAIMANA MENYIKAPINYA
Pertimbangan utama dalam pemilihan susu formula yang terbaik adalah
yang sesuai dengan kondisi anak dan tidak mengakibatkan reaksi simpang
yang mengganggu fungsi organ tubuhnya. Pertimbangan lain adalah
masalah harga harus disesuaikan dengan ekonomi keluarga serta
kesediaan barang dan distribusi yang berkelanjutan di pasaran.
Kandungan zat tambahan (AA, DHA, dll), harga mahal, disukai bayi dan
merek terkenal bukanlah pertimbangan utama dalam pemilihan susu
formula pada anak. Secara umum semua susu formula yang beredar resmi
di Indonesia kandungan gizinya sama. Karena mengikuti standard RDA
(Recomendation Dietery Allowence) dalam jumlah kalori, vitamin dan
mineral harus sesuai dengan kebutuhan bayi dalam mencapai tumbuh
kembang yang optimal. Tetapi apapun juga, yang pasti ASI masih tetap
yang terbaik.

Bayi cukup bulan ataupun bayi yang besar yang sudah mampu mensintesa
DHA maupun AA sendiri dari AL dan ALN. Sehingga pemberian AA dan DHA
tidaklah terlalu perlu, bahkan mungkin perlu diwaspadai efek samping
yang belum terdeteksi untuk di kemudian hari.
Penambahan asam lemak cukup dengan memberikan asam linoleat maupun ALN
yang sesuai dengan kebutuhan dan rasio rasio yang optimal. Anak yang
sudah mendapat makanan keluarga akan mendapat asam linoleat, asam
linolenat, sebagai prekusor DHA dan ARA dari makanan sehari-hari
misalnya daging, ikan, telur minyak sayur dan lain-lain.
Manfaat pemberian AA dan DHA sangat mungkin tidak meningkatkan
kecerdasan anak. Kecuali pada bayi prematur kemampuan mensintesa
LC-PUFA dari asam lemak esensiel masih sangat rendah. Sehingga
penambahan AA dan DHA mungkin perlu ditambahkan dalam makanannya.
Jangan mudah terkecoh rayuan maut produsen susu tentang kehebatan
"formula kecerdasan" AA-DHA. Diet untuk kecerdasan yang tidak
terbantah lagi adalah pemberian ASI eksklusif.

Kirim email ke