Kalau saja kita menyadari dan komitment membagi waktu untuk anak dan karier, terutama bagi wanita bekerja mungkin hal demikian bisa dihindari. Dalam prakteknya sulit sekali, bahkan kondisi demikian cenderung meningkat diperkotaan. Mohon izin ya... saya share tulisan ini di blog saya, agar kita saling berbagi dan mengingatkan para orang tua
Wassalam http://rafidayan.multiply.com --- In [email protected], "Ni Luh Dharmawati" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah > dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. > Belum ada... > Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. > Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya > berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya. > Pukul 18.30, "Tiiinnn....... Tiiinnn.......!!!" > Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! > Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah. > > Sang papa langsung menuju ke kamar mandi. Sang mama menghempaskan > diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. > Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian mencari nafkah bagi keluarga. > Bagi si kecil Cassie yang tentunya belum mengerti banyak, di otaknya > yang kecil, > Cassie cuma tahu ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang. > > "Mama, mama... Mama, mama..." Cassie menggerak-gerakkan tangan Mama. > Mama diam saja. Dengan cemas Cassie bertanya, > "Mama sakit ya? Mananya yang sakit? Mam, mana yang sakit?" > > Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata. > Cassie makin gencar bertanya, "Mama, mama... Mana yang sakit? Cassie ambilin > obat ya? Ya? Ya?" > > Tiba-tiba..., "Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!" > Mama membentak dengan suara tinggi. Kaget, Cassie mundur perlahan. > Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung. Cassie salah apa? > Cassie sayang Mama... Cassie salah apa? > Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. > Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. > Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya, "Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka > dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama? Cassie tidak boleh sayang Mama?" > > Berbagai peristiwa hampir sejenis terjadi. Dan otak kecil Cassie > merekam semuanya. > Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah tinggi. > Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa. > "Tiiinnn....... Tiiinnn.......!!!" Mama pulang. Papa pulang. > Cassie menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas > ke kamarnya dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan. > > "Cassie mana?". > "Sudah makan duluan, Tuan & Nyonya." > Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian sang mama berpikir > dengan hati terluka, "Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan > susah payah, > dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu > bersama-sama denganku? > Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak zaman sekarang memang tidak tahu hormat sama > orangtua! Tidak seperti zaman dulu..." > > Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam > diam. Dari jauh. > Dari tempat dimana ia tidak akan terluka. > > Mama & Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak? >
