Dear Moms,

Membaca postingan ibu-ibu sekalian, saya juga jadi ingin sharing. 
Alasan saya ingin memasukkan anak ke pre-school kurang lebih sama 
dengan ibu-ibu sekalian. Apalagi saya baru pulang ke Indonesia 
setelah sekian tahun di luar negeri. Si kecil juga sejak umur 3 bulan 
saya masukkan daycare. dia jadi banyak temannya dan sosial banget. 
Sejak pulang ke Indonesia, saya malah jadi ibu rumah tangga. jadinya 
ya teman-teman si kecil itu teman-teman saya juga (yang belum pada 
punya anak). Kalau jalan di mall ada "kakak", anak saya selalu 
berusaha ngajak ngobrol.

Pernah di carrefour pas saya membayar di kasir, ada anak yang duduk 
sendirian. Anak saya langsung lari menghampiri dan berusaha ngajak 
ngobrol dengan vocabnya yang cuma sedikit plus belepotan (anak saya 
ini baru 21 bulan). Saya jadi kasihan dia ngga ada teman and berusaha 
mencarikan pre-school buat dia.

Tapi samapai saat ini saya baru coba masukkan dia ke 1 pre-school. 
Agak kapok juga sih. Pertama, uang pangkalnya itu loh. Muahalnya ngga 
karuan. padahal cuman dikasi seragam 1 (kayak seragam olahraga gt) 
trus masuknya juga cuman 2x seminggu @ 1 jam. Pre-schoolnya juga 
rumahan. Emang ratio guru-muridnya bagus ( 1 guru 2 toddler gt). Tp 
setelah saya pikir-pikir lagi. Kayaknya kemahalan. Jadi sekarang saya 
putuskan untuk menunggu anak saya umur 2 tahun dan memasukkan dia ke 
toddler class yang dibuka Yayasan Penabur tempat saya sekolah dulu. 
Selain lebih murah, lokasinya juga lebih luas.

Soal kurikullum, saya lihat-lihat sih semua pre-school mirip. Anak 
banyak diajak bermain, dilatih buang air sendiri, dsb. Jadi saya 
pikir ngga apa-apa juga kalau anak saya ngga masuk pre-school 
termahal yang ada. Habis, termahal bukan perarti bagus seh. Orang pre-
school yang saya lihat, uang pangkal 1 juta sama 3 juta kurikulumnya 
sama, ratio guru-murid kurang lebih sama.  

-Nina (Mamanya Andrew)

--- In [email protected], sean rizantha <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
>  
>   Dear All. 
>    
>   Putri saya,hampir berusia 2 thn....
>   Krn skr pre school sdg menjamur, dan sdg menjadi 
semacam "lifestyle" di kalangan ortu2 masa kini, saya pun "tergerak" 
hati utk mencari tahu, apa aja sih keunggulan dr sistem yg diajarkan 
di pre school....
>    
>   Saya pun kemudian dtg ke Preschool Fair ....
>    
>   Dr sana, saya mendapat banyaaaaaaak sekali info ttg pre school yg 
skr sdg jd trend....
>   (plus metode pembelajaran yg diajarkan pd preschool2 tsb) .....
>    
>    
>   Singkat  cerita, saya mulai hunting dan mengklasifikasi 
preschool2 yg bagus utk putri saya....
>   entah itu dr segi lokasi yg dekat dgn rumah, tuitition fee-nya yg 
masih "masuk diakal",standar kenyamanan dan keamanan sekolahnya, 
KUALITAS ataupun ltr blkg pendidikan guru2nya, dan yg terpenting 
adalah METODE yg diajarkan....
>   (sejauh mana sih metode mrk sanggup "efektif" diajarkan pd anak 2 
thn)...
>    
>   akhirnya, saya pun dtg ke bbrp free trial class...
>   saya lihat, byk sekali ortu2 baru seperti saya, yg (mgkn) 
hny "latah" ikut2an trend memasukkan anak ke preschool yg saat ini 
sdg mewabah....
>    
>   mgkn sebagian alasannya adalah krn ingin anak bs bersosialisasi 
dgn kawan sebayanya, krn selama ini hny dijaga oleh 
suster/babysitter/pembantu/ atau bhkn neneknya saja....
>   sebuah alasan yg rasional, bkn ? 
>   (apalagi mengingat, umumnya, ortu masa kini adalah ortu yg 
dua2nya bekerja)....
>    
>   
**********************************************************************
************************************
>    
>   30 menit pertama puteri saya berada didlm free trial class tsb, 
saya byk mendengar suara tangisan2....
>   dan juga kerepotan guru2 yg berusaha menenangkan anak didik mrk, 
membujuk nya, dan bahkan menggendongnya agar bs bnr2 "enjoy" dgn 
suasana baru tsb .....
>    
>   well, pikiran saya kemudian berada pada titik praduga, bahwa....
>   "ooo mgkn krn baru pertama kali berada didlm lingkungan 
yg "asing/baru" bagi mrk, jd wajar2 saja kan kalo anak2  bertingkah 
spt itu?"
>    
>   dan ketika, jam pelajaran hmpr usai,barulah terlihat, bhw semua 
anak sdh bs bersosialisasi satu sama lain.... Walopun blm sepenuhnya 
terlihat bnr2 enjoy !!!
>    
>   
**********************************************************************
**********************************
>    
>   Dr hal tsb, saya mendapat semacam kesimpulan ...
>   Saya tdk mau utk sekedar menjadi korban trend, dgn ikut2an latah 
menyekolahkan anak saya ke preschool....
>    
>   The most important thing for me is....
>   Anak saya nyaman atau tdk dgn "suasana" sekolah tsb ....
>    
>   Btw, Ada hal yg sedikit "lucu" ...
> Saya pernah membaca iklan preschool yg berada di lokasi perumahan2 
dikawasan elit jkt...
>   sekedar memuaskan nafsu keingintahuan, saya pun menelp sekolah 
tsb, utk minta di fax tutition fee berikut metode pembelajaran yg 
dipergunakan disekolah tsb .....
>    
>   And u know what ?
>   Mrk menolak, bhkn dgn nada yg sangat tdk simpatik ! 
>    
>   Hal ini pernah saya ceritakan ke PemRed majalah Ayahbunda, and 
ternyata, beliau juga pernah mengalami hal yg krg lbh mirip dgn apa 
yg saya alami...
>    
>   Heran!  
>   (Kok bs gitu ya? )
>   Gmn kita bs yakin anak kita dpt pelajaran budi pekerti yg baik 
(di usia dini) dgn sekolah di preschool tsb, kalo tenaga pengajarnya 
aja punya masalah dgn "etika" komunikasi?
>   
>    
>    
>   Langsung saya blacklist nama preschool tsb!   
>    
>   Ok,lets say,  in the name of competition, mgkn preschool2 itu 
ingin metode mrk tdk "terdeteksi" oleh pihak kompetitor, shg mrk pny 
brand image sendiri.... 
>   tp bkn berarti mrk justru mematikan "target potential market" dgn 
begitu menutup diri penuh kecurigaan, pdhl yg menelp adalah ortu yg 
kemungkinan besar ingin menyekolahkan anaknya dipreschool tsb ....  
>    
>   
**********************************************************************
**********************************
>    
>   Hmmmh, saya bnr2 jd ilfil....
>   Apalagi, saya lihat, metode preschool itu, "ah,begitu2 aja"!
>   nothing special.....
>   mgkn alasan mrk, anak seusia balita, memang ga usah terlalu 
dijejali dgn "beban" pelajaran...
>   toh sebenernya yg diutamakan adalah agar anak2 itu bs "mingle" 
satu sama  lain...
>   dan yg lbh ditekankan adalah, bagaimana menstimulasi motorik 
anak2 agar bs berkembang sesuai taraf usia nya.... 
>    
>   whatta very good reason!
>   i agree with that kinda reason .....
>    
>   
**********************************************************************
**********************************
>   Jd, kesimpulan final saya adalah, saya blm berminat utk 
menyekolahkan anak ke preschool....
>   (bkn karena tuition fee nya yg rasanya kok ga logis!)
>   ada lho, preschool yg uang pangkal nya tnyata hampir sama dgn 
uang pangkal utk masuk PTS ternama ibukota !
>   
**********************************************************************
********************************
>    
>    
>    
>   Saya baca di internet, akan lbh baik apabila kita, sbg ortu, yg 
totally meluangkan waktu utk mengajarkan anak kita sendiri dgn 
berbagai macam games, pelajaran, budi pekerti, ataupun story 
telling....
>   toh, dah banyak dijual buku2 ttg metode home schooling kan ?
>   Selain lbh mendekatkan hub antara anak dgn ortu (krn quality time 
yg bnr2 efektif  sudah tergilas oleh kemacetan jalan2,sehingga byk 
ortu yg sampai kerumah, late at night ...)
>    
>   lagipula, kan yg kita ajarin itu, anak kita sendiri tho ?
>    
>   dan kalo mau lbh jujur lagi, kita2, para ortu masa kini, perasaan 
dulu ga pake sekolah di preschool deh....
>   zaman memang tdk bs disamakan, lain dulu lain skr....
>   tp toh ada diantara kita2, para ortu, yg bisa tembus UMPTN, bs S2 
beasiswa keluar negeri, atau bisa kerja diperusahaan bonafid kan ?
>   .
>   dan , seinget saya, ortu kita dulu juga ngajarin kita biasa2 
aja....
>   kita ga dijejali dgn metode2 yg "kebarat2an", (spt program2 
sekolah zaman skr), yg kesannya malah terlalu "memaksakan diri".....
>    
>    
>   well, itu aja sharing story nya....
>   maaf kalo ada yg krg berkenan.....
>   akhirnya semua berpulang kpd pribadi kita juga, sejauh mana 
tingkat urgensi kita utk menyekolahkan anak, apa krn sekedar 
ingin "ikut2an", atau kita bnr2 merasa penting utk menyekolahkan anak 
kita di sana....
>    
>   well, d choice is yours ..................
>    
>    
>    
>    
>    
>    
>    
>    
>   
> 
> bunda Inna <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           
> 
> Note: forwarded message attached.    
> ---------------------------------
>   Looking for last minute shopping deals? Find them fast with 
Yahoo! Search.  
> 
>                            To: [EMAIL PROTECTED], majalah-
[EMAIL PROTECTED],
> [email protected]
> From: bunda Inna <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Mon, 3 Mar 2008 22:15:59 -0800 (PST)
> Subject: [majalah-AdInfo] Child Education Plan - always starts early
> 
>     To. all Moms & Dads
> 
> Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, begitulah nasehat orang tua 
kepada anaknya, dengan maksud untuk memberikan dorongan agar anak 
mereka mengejar ilmu setinggi mungkin.
> 
> Moms&dads, jika anak-anak kita cukup pintar & bersemangat menuntut 
ilmu, apakah kita para orang tua juga cukup pintar untuk menyediakan 
dananya?
> 
> Mempersiapkan biaya sekolah anak tidaklah semudah membalikkan 
telapak tangan. Besar atau kecil tetap harus diperhitungkan. Apabila 
Moms& dads sudah memperkirakan kebutuhan biaya pendidikan anak dari 
mulai TK hingga Perguruan tinggi, maka persiapkanlah dananya dengan 
cara menabung atau berinvestasi. Persiapan yang dilakukan dalam waktu 
7-10 thn tentu lebih ringan daripada persiapan yang hanya 2thn atau 
spontan.
> 
> Asumsi biaya pendidikan di perguruan tinggi lebih besar 
dibandingkan biaya pada saat anak TK - SMA. Karena umumnya anak sudah 
lebih leluasa memilih bidang ilmu/jurusan atau Perguruan Tinggi yang 
dia sukai. Bila kebetulan bidang yang dipilih dananya cukup mahal 
atau anak ingin kuliah di luar negeri, maka kita harus lebih 
mempersiapkan kebutuhan dananya.
> 
> Moms&dads, jika anak-anak kita rajin belajar hari ini untuk 
menyongsong masa depan mereka, adilkah bagi mereka bila masa depan 
itu telah datang kita hanya mampu berucap "Maaf nak, pilihlah 
bidang/jurusan yang lebih murah..." 
> "Maaf nak, ayah&bunda hanya bisa menyekolahkanmu sampai tingkat ini 
saja..."
> "Maaf nak..."  dan beribu kata maaf lainnya hanya karena kita lalai 
mempersiapkan masa depan mereka.
> 
> Nobody plan to fail but they fail to plan
> 
> 
> regard,
> 
> Yulia Dinamanti
> Pruplanner Financial Advisor
> 
> 
>     
> ---------------------------------
>   Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.   
> 
> 
> 
>        
> ---------------------------------
> Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.
>


Kirim email ke