satu sore, sehabis mandi dan dipakein baju keren, okta
saya, 18 bulan, belum bisa ngomong, saya ajak keluar
maen di depan rumah. kebetulan tetangga sebelah, tante
rifa dan keponakannya, sasa, 6 tahun, sedang maen
juga. biar ada temannya gitu.

okta senang sekali diluar. lari kesana-kemari tak
tentu arah. mengoceh dan menunjuk-nunjuk semua yang
menarik. kambing, bekas potongan rumput, tukang yang
pulang kerja dan sebagainya.

lalu kiki, 12 tahun, kakaknya sasa, ikut keluar dan
sempat negor okta juga. kiki langsung balik kedalam
rumah lagi dan tidak melihat okta yang ngikutin dia.
okta berusaha memanggilnya dengan bahasanya sendiri. 

lalu okta lari masuk kerumah kiki sambil heboh ah uh
ah uh. terus kiki keluar lagi. okta senang sekali.
beberapa kali dia bolak balik lari ke pagar rumah
sendiri sambil nunjuk kiki. maksude kiki diajak ke
rumah. kiki nggak ngeh.

kubilang, mbak kiki, dik okta ngajak maen kerumah tuh.
oh, katanya. terus kiki, sasa dan tantenya maen
kerumah.

okta tambah seneng. ngocehnya makin banyak. dia minta
disetelin vcd tasya. terus begitu ada musiknya, dia
langsung niruin penari latarnya sambil senyam-senyum.
terus mainannya dikeluarin. dikasih ke kiki. terus
bukunya juga. dia buka halaman favoritnya sambil sibuk
ngoceh nerangin ke kiki. kiki tentunya nggak ngerti
bahasanya. saya menjelaskan ceritanya sambil menahan
haru dalam hati.

karena kiki tidak tampak tertarik dengan buku
ceritanya, okta mengambil novel yang sedang saya baca.
dia buka-buka halamannya didepan kiki sambil terus
ngoceh. narik-narik saya. maksude minta saya ceritain
ke kiki juga.

hampir maghrib, papanya pulang, okta lebih senang
lagi. kiki cs mau pulang. okta nangis. tangan kiki
dipegangin terus. nggak boleh pulang katanya. pintunya
ditahan.  saya jelaskan, kalau mbak kiki sudah
sekolah. kalau maen nggak bisa lama. sebab sekolah kan
pagi sampai siang. ahrus ngerjain pe er dan belajar.
jadi sekarang pulang dulu. okta diam. matanya
berkaca-kaca. hati saya pedih tak terlukiskan.

aduh, sedih hatiku. anakku sudah besar. tidak cukup
lagi hanya mama dan papa. dia sudah butuh teman.

setelah diskusi campur marah dan sedih dengan cara
okta mencari teman, saya memutuskan untuk mengajaknya
ke taman kanak-kanak didekat rumah yang juga sekolah
sasa. 

satu pagi, saya kasih tahu okta. hari ini, kita mau
jalan-jalan jauh, nak. kita mau lihat sekolah mbak
sasa. sekarang anak mama mandi dulu, pake baju yang
rapi, makan pagi, minum susu dan setelah itu baru kita
berangkat ke sekolah mbak sasa. okta menurut selama
prosesi " ke sekolah mbak sasa" sampai tiba disekolah
itu. 

entah bagaimana dan dari mana asalnya, begitu sampai
di sekolah, saya merasa tidak dibutuhkan lagi sebagai
ibu. okta saya sudah pengen sekolah atau minimum butuh
orang lain lagi selain saya, mamanya. berat rasanya
melepaskan okta ke sekolah.

weleh weleh ... saya lupa sendiri kalau hari itu kami
hanya melihat-lihat saja. saya belum tahu apakah okta
benar-benar pengen sekolah. kan baru 18 bulan. jadi,
sampai di pintu disambut gurunya, saya sudah bisa
bernafas lega.

okta tampak homy di kelas. kebetulan tidak ada murid
yang masuk pada hari itu. dan setelah ditanyakan, okta
belum boleh masuk. yang diterima per juli 2008 adalah
yang lahir september 2006.

akhirnya okta pulang lagi. sampai rumah dia bercerita
ke si mbak heboh pokoknya. dia senang sekali
menunjukkan brosur sekolah ke papanya. dikasih bu guru
katanya. 

sedihnya, sudah 2 kali okta saya ini ngajak saya jalan
kaki jauh banget. semalaman saya mikir kenapa anakku
ngajak jalan sejauh itu. sebelum jalan dia sudah
nerusaha keras  nerangin kemana dia mau pergi. tapi
sayanya nggak sepenuhnya ngerti kemana.

dia keluar rumah dengan langkah pasti. jari tangan
saya digenggam erat. nggak pake nengak nengok. dia
minta dipakein kaus kaki dan sepatu juga topi. 

satu malam saya sadar, jalan yang dituju okta adalah
jalan ke sekolah mbak sasa. waduh nak, kamu belum
diterima di sekolah itu :( gimana musti nerangin ke
anak 18 bulan bahwa dia belum cukup umur untuk
sekolah? 

ditambah lagi, pas ketemu mbak sasa, dia nyeletuk :
dik ota nggak ketrima di sekolahku ya? weleh weleh ...
saya makin sedih.

saya dan papanya sudah berusaha membawa okta keluar
rumah ke tempat-tempat yang membantunya belajar
berteman. misalnya jamaah di masjid. sore maen ke
taman dekat rumah. biasanya banyak anak-anak maen
disitu. kadang-kadang dibawa berenang. kan banyak
teman juga. atau makan di restoran yang ada playground
pas hari minggu siang. disitu juga banyak anak-anak
dan permainan. maksud saya, dia tidak dirumah terus.
memang dirumah ada mainan dan bacaan. tapi tidak cukup
hanya itu kan.

tapi bagaimana niy? okta masih suka narik saya jalan
jauh ke arah sekolah mbak sasa. 

mama yang sedih dan bingung,


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Kirim email ke