Maaf mbak, saya pernah dengar tentang alat ini yang katanya juga
meng-klaim dirinya bisa menyembuhkan alergi tanpa harus menghindari
pencetusnya. Canggih banget deh pokoknya...

Sedangkan seperti kita tahu, alergi itu gimana nyembuhinnya, ya cuma
satu, yaitu menghindari pencetusnya. Misalnya saya, alergi debu dan
dingin. Yang bisa saya lakukan yaa...kalo bersih2 pakai masker supaya
ga ketemu debu. Kalo menghindari dingin, ini yang saya sulit, jadi
"terima nasib" aja bersin2 kalau pagi2.

Memangnya mbak ga curiga kalau anaknya ternyata punya pencetus alergi
begitu buanyak...banget? Ga kasihan ma anknya, ga boleh ini, ga boleh
itu...?

Saya buat tahu anak saya alergi apa ya pakai sistem trial and error,
uji coba. Kok tega?
Ya bukannya tega, toh itu sekaligus mencoba tingkat ketahanan tubuhnya
terhadap suatu alergen. Akhirnya saya tahu pencetus alergi anak saya
adalah di makanan berprotein tinggi (makanan laut, telur terus menerus
dan ikan terus menerus). Repot...ya.
Tapi sebanding dengan tanpa harus mengeluarkan biaya transport untuk
uji coba, biaya untuk cek segala macam, dan menghindarkan anak saya
dari segitu...banyak alergen.
Halah...anak kan susah banget dilarang, pengen eksplorasi, makin
dilarang pasti makin membantah.

Tapi kembali lagi, ini adalah sisi pandang saya. Keputusan ada di
tangan masing2. Saya lebih setuju anak ditangani di dalam lingkungan
keluarga dulu, tanpa harus ke dokter, tanpa harus ke sinse, tanpa
harus ke alternatif, karena sebetulnya penanganan anak2 umumnya tidak
terlalu rumit.

Maaf kalau tidak berkenan
Kurnia. S

--- In [email protected], "vira" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Moms,
> sekedar usul nih, daripada bingung2 soal anak yg makannya picky,
gimana kalo
> sebelum diterapi ini itu, dibawa tes alergi makanan dulu. 

Kirim email ke