Turut berduka cita sedalam2nya ya...

smoga keluarga terutama ibunda ancillo di beri
ketabahan yang luar biasa.

GBU
--- - Yusri - <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> 
> Turut berduka cita utk Pak Hasan dan keluarga.
> Semoga selalu diberi ketabahan oleh Tuhan YME.
> 
>  
> Regards,
> YUSRI
> email: [EMAIL PROTECTED]
> YM: yusri_smpn1
> 
> Sent from my BlackBerry® wireless device
> 
> -----Original Message-----
> From: "Hasan" <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> Date: Wed, 28 May 2008 08:40:19 
> To:<[email protected]>
> Subject: [Ayahbunda-Online] In Memoriam Ancillo
> Dominic ( Malaikat kecil yg menanti orang tuanya di
> pintu surga )
> 
> 
> In Memoriam Ancillo Dominic 
> Malaikat kecil yg menanti orang tuanya di pintu
> surga. 
>   
> Lahir dan meninggal : 17 April 2008, 14.30 di Rs
> Family Pluit 
> Misa : 18 April 2008, 11.00 di Rd Atmajaya, Rm. John
> Lefteuw Msc. 
> Kremasi   : 18 April 2008, 13.00 di Nirvana 
>   
>  NY,YENNY CUSAN_76 
>   
>  ad2 
>   
>  ad3 
>   
> Cerita ini ditulis untuk : 
> -          Orang tua yang ingin
> menggugurkan bayinya karena cacat 
> -          Vincent (6 thn) dan Francis (4
> thn), yang belum mengerti kenapa adiknya dipanggil
> Tuhan begitu cepat 
> -          Jc, suami yang penuh cinta
> menemani dalam suka dan duka 
> -          Dr. Tjien Ronny, SpOG, many
> thanks 
>   
>   
>   
>   
>   
>   
>   
>   
>   
>   
>   
>   
> Bayi yang dinantikan 
>   
> Setelah Vincent berumur 5,5 tahun dan Francis
> berumur 3,5 tahun,  saya merindukan seorang baby
> lagi. Perlu waktu setahun sampai akhirnya Jc setuju
> dengan keputusan saya untuk hamil lagi.  Dia selalu
> menunda memberikan jawaban, alasannya menunggu tahun
> tikus, biar shionya sama seperti dia. 
> Sebenarnya, ketakutannya adalah saat melahirkan
> Francis,  saya sempat pendarahan hingga tak
> sadarkan diri dan perlu waktu dua bulan lebih untuk
> pulih. Saat itu tidak ada satu dokterpun baik dokter
> pengganti melahirkan maupun dokter merawat yang
> menjelaskan penyebabnya. 
>       Jc meminta saya untuk memberikan alasan
> yang meyakinkannya kenapa harus punya anak tiga,
> kenapa dua anak tidak cukup. 
>       Setahun saya mencari jawabannya, tapi
> tidak ketemu, mungkin karena saya dan Jc sama-sama
> anak ketiga. Alasan lain, dua anak yang lucu dan
> nakal, kalau tambah satu lagi rasanya tidak masalah.
> Membesarkan dua anak atau tiga anak sama saja.
> Akhirnya Jc menyerah karena saya begitu menginginkan
> seorang baby. 
> Kami pun pergi ke Dr. Yani Toehgiono, dokter
> langganan keluarga kami, untuk cek pra-kehamilan.
> Sebelumnya saya sudah minum asam folat selama
> setahun untuk mencegah bayi DS. 
> Setelah cek darah dan bersih dari segala virus
> TORCH, kami meminta dokter untuk sekalian program
> baby girl. Sebenarnya saya lebih suka baby boy
> karena sudah terbiasa, tapi sekeliling saya ribut
> untuk satu lagi harus girl. 
> Ternyata untuk baby girl harus melewati beberapa
> kali pemeriksaan dalam untuk memastikan kematangan
> telur dan saat yg tepat. Kami tidak mau karena kalau
> terlalu banyak aturan nanti  malah susah hamil. 
> Bulan pertama gagal karena tidak ada telur yang
> bagus, banyak telur tapi kecil-kecil. Dokter
> menyarankan untuk skip telur bulan ini. “Nggak
> buru-buru, kan? Kita coba lagi bulan depan.” 
> Dokter meresepkan Provula agar bertelur kemudian
> dokter menjadwalkan kapan harus  kontrol lagi untuk
> melihat kematangan telur disamping itu kami diminta
> untuk mengisi grafik harian suhu tubuh. 
>   
>   
> 5 s/d 10 minggu 
>   
> Kami tidak balik ke dokter sampai bulan depannya
> test-pack positif.  Saya sangat gembira karena ini
> merupakan hadiah ulang tahun terindah untuk saya. 
> Ketika kami kontrol, dokter langsung bertanya,
> “kemarin ‘bikin’nya pakai cuka nggak?” 
> “Nggak,” jawab saya heran. 
> “Kemarin saya jadwalin datang hari ke sepuluh,
> kenapa nggak datang?” tanyanya lagi. 
> Saya cuma senyum, takut dokter marah kalau saya
> memberi jawaban malas. 
> “Kalau lihat dari grafik, kemungkinan besar udah
> hamil,” kata dokter sambil senyum-senyum. “Cowok
> lagi nih, bikinnya pas hari subur sih.” 
> “Apa aja deh, Dok. Yang penting sehat. Bisa hamil
> aja udah syukur.” 
> Ketika di USG sudah terlihat satu bintik hitam, tapi
> kantong kehamilannya belum kelihatan. 
> “Dok, kira-kira bisa kembar nggak? Kalau kembar,
> repot juga,” kata saya. 
> “Belum kelihatan,” jawab dokter. “Kembar juga
> apa-apa, biar satu orang jaga satu, adil.” Dokter
> tertawa. 
> Dokter lalu menasehati untuk hati-hati menjaga
> baby.  Dokter belum meresepkan obat penguat, hanya
> asam folat. 
> Untuk memastikan kehamilan, kami diminta kembali ke
> dokter seminggu kemudian. Ketika berumur 6 minggu, 
> baby sudah terlihat lebih besar di monitor tapi
> belum terdengar suara jantungnya. 
> Umur 8 minggu, jantung baby sudah terdengar seperti
> baling-baling pesawat, di monitor sudah terlihat
> detak yang stabil. 
> Umur 10 minggu, baby sudah kelihatan bergerak-gerak,
> tangan dan kaki sudah terlihat, masih berbentuk
> kecil, ukurannya masih 2.5 cm. 
> Lega rasanya ketika dipastikan hamil, walaupun harus
> melewati mual di pagi dan sore hari, di luar jam
> kantor. Benar-benar anak yang mengerti orang tuanya.
> 
>   
>   
> 12 Minggu. 
>   
> Kami memutuskan untuk pindah ke Dr. Tjien Ronny.
> Kebetulan Rs. Family hanya lima menit dari rumah dan
> dokternya terkenal bagus. Julukannya di kantor
> ‘dokter sejuta umat’. Sebagian besar teman di
> kantor konsultasi dengan dia dan semuanya bilang oke
> banget. 
> Sebelum bertemu dokter, di luar suster mengisi
> catatan medik dan data-data kehamilan sebelumnya,
> sempat berpesan kalau kontrol dengan dokter ini
> musti sabar, soalnya dokter periksanya lama dan
> teliti. 
> Kesan pada pertemuaan pertama, dokternya sangat
> simpatik, muda, ganteng, mau mendengarkan, tidak
> buru-buru dan vitaminnya tidak aneh-aneh. 
> Saat itu dokter mengecek tengkuk leher baby untuk
> memastikan tidak ada penebalan cairan, semuanya
> bagus, tidak DS. Dokter dengan teliti memperlihatkan
> tangan dan kaki baby yang semuanya sudah
> proporsional.  Saya senang sekali, setelah menunggu
> beberapa minggu, sekarang bisa melihat cukup lama
> baby yang mengagumkan di monitor. Tangannya seakan
> melambai-lambai dan kaki-kaki kecilnya belajar
> menendang. Panjangnya sudah 6 cm. Dokter juga sangat
> sabar menjawab pertanyaan kami. 
> Saking kinclongnya dokter, Jc berkata ke saya,
> “pasti deh si dokter minum vitamin yang jutaan,
> kalau nggak gimana bisa segar gitu.” 
> Jc langsung setuju untuk seterusnya pakai Dr Ronny
> walaupun hari Sabtu harus menaruh buku dari jam 6
> pagi dan mengantri cukup lama, toh cuma sebulan
> sekali. 
> Saya sempat bertanya ke suster di luar, hari apa
> yang pasiennya lebih sepi. Kata suster, tiap hari
> ramai sampai tengah malem. Lalu saya diajarkan untuk
> menaruh buku dulu, tensi dan telpon ke extention
> untuk menanyakan nomernya sudah dekat belum. 
> Suster menambahkan, dokter apa-apa sendiri, jahit
> caesar pun dilakukan sendiri, tidak pakai asisten. 
> Saat teman saya melahirkan, dia pernah menghitung,
> dari 35 baby yang lahir, 15 diantaranya lahir di
> tangan dokter.  
> Dokter punya begitu banyak waktu dan perhatian untuk
> pasiennya, apa masih punya waktu untuk keluarganya.
> Entahlah. 
>   
>   
> 17 Minggu. 
>   
> Dokter riang sekali pagi itu, menyalami kami lalu
> bernyanyi-nyanyi 
=== message truncated ===



      

Kirim email ke