Dear moms and dads,

Mau nambah sedikit... Selain itu, diperlukan pengertian yang besar dari
pasien juga, bahwa setiap penyakit punya "perjalanan" sendiri.. Contoh,
penyakit virus biasanya memang sembuh sendiri dalam beberapa hari.. selama
itu, pengobatan yang diberikan hanya bersifat "suportif" yaitu mengurangi
gejala, karena tidak ada "antibiotik" yang bisa membunuh virus... jadi,
kalau memang agak lama, ya ditunggu agar lebih sabar.  Sering orang tua
memiliki preferensi untuk datang ke dokter tertentu, karena obatnya "manjur
sekali" begitu diminum langsung sembuh! Padahal, kita tidak sadar bahwa
mungkin obat yang diberikan tidak sesuai dengan penyakit tersebut, dosisnya
berlebih, dan terlalu banyak (polifarmaka).. Seorang dokter pernah
menganjurkan "minum jeruk nipis + kecap saja" pada orang tua yang membawa
anaknya yang sakit flu biasa (virus).. pulang dari dokter tersebut, sang
orang tua membawa ke dokter lain yang memberikan bermacam-macam obat..

Jadi, mungkin salah satu penyebab dokter menjadi "tidak percaya diri", juga
didorong oleh faktor pasien, yang notabenenya klien dari dokter tersebut...

Demikian moms and dads, tambahannya... maaf jika tidak berkenan...

-nia-

2008/5/27 upiet_naya <[EMAIL PROTECTED]>:

>   setuju sama mom heni...
>
> aku cm seorang ibu yg sangat concern sama kesehatan anak, jd aku
> banyak belajar & update ilmu soal kesehatan anak, terutama dimilis
> sehat, web sehat yang memang berpegang pada guideline WHO, EBM, dan
> RUM (Rational Use of medicine)
>
> klo dulu wkt msh blm melek informasi anak sakit trus diresepin yang
> aneh2 ama DSA nya, manut aja...
>
> tp sekarang klo ke DSA untuk imunisasi dan kebetulan anak lg batpil,
> trus DSA nya ngasih resep puyer yg kadang dikasih AB, ya udah
> diterima aja abis malas berdebat sih, tp pas keluar dari ruang
> praktek, aku dengan PD nya aku buang tuh resep DSA, he..he...
> tapi alhamdulilah anakku sehat dengan sendiri karena aku tetap
> berpegang pada guideline WHO
>
> Suatu penelitian skala besar di beberapa negara maju menunjukkan
> sedikitnya tiga alasan mengapa para dokter cenderung abusive dalam
> pola peresepannya:
>
> 1. Kurangnya kepercayaan diri (lack of confidence). Dokter sering
> kurang percaya diri untuk menyatakan bahwa penyakit pasien
> disebabkan infeksi virus dan tidak memerlukan antibiotika. Dokter
> juga khawatir pasien akan pindah ke dokter lain yang justru akan
> memberikan antibiotika. Saat pasien sembuh ia
> akan menganggap antibiotikanya lah yang menyembuhkan. Padahal,
> setiap penyakit memiliki pola perjalanan penyakit. Saat berobat ke
> dokter kedua, penyakitnya diambang kesembuhan. Jadi, sama sekali
> tidak ada hubungan dengan antibiotika yang diberikan.
> 2. Desakan pasien (patient pressure). Tidak sedikit pasien yang
> meminta antibiotika atau menuntut obat cespleng. Di lain pihak,
> tidak sedikit pasien yang bersikap pasif, tidak bertanya atau
> mencari informasi perihal pengobatan yang diberikan.
> 3. Desakan perusahaan (company pressure).
>
> maaf klo tidak berkenan
> say NO to puyer
>
> fitri
>
> --- In [email protected]<Ayahbunda-Online%40yahoogroups.com>,
> "heni_nur" <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
>
> >
> >
> > LATAR BELAKANG
> > Seminar "Puyer: Quo Vadis?"
> >
> > Seminar "Puyer: Quo Vadis?" dilaksanakan atas dasar keprihatinan
> > beberapa pihak akan maraknya pengobatan tidak rasional di
> Indonesia.
> > Dalam technical briefing seminar WHO awal tahun 2004 perihal
> > Kebijakan Obat Esensial dikemukakan bahwa di negara berkembang,
> > jumlah obat yang diresepkan yang sebenarnya tidak perlu diberikan
> > mencapai 39% – 59%. Hal ini mencerminkan tingginya uang untuk
> membeli
> > obat yang sebenarnya tidak perlu alias pemborosan.
> >
> > K. Holloway dalam technical briefing seminar WHO 2004 di Geneva
> > menyatakan bahwa dari 30% – 60% pasien yang memperoleh
> antibiotika,
> > hanya 10% – 25% saja yang benar-benar memerlukannya. Sementara
> obat-
> > obatan ini jika diberikan kepada pasien memiliki efek samping yang
> > tidak diinginkan.
> >
> > Yayasan Orangtua Peduli (YOP) mengadakan dua penelitian cross
> > sectional dengan mengumpulkan resep yang dikirim melalui e-mail ke
> > mailing list SEHAT atau resep dan kwitansi yang dikirim ke YOP.
> Resep
> > yang ditelaah adalah resep untuk anak dengan 4 kondisi yaitu
> batuk,
> > pilek, demam (ISPA); demam, diare akut (dengan atau tanpa muntah);
> > dan batuk tanpa demam lebih dari 1 minggu. Dari 160 anggota
> mailing
> > list, temuan kunci penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
> > • Jumlah obat. Median jumlah obat yang diresepkan adalah 5
> > (dengan rentang 2 – 11 obat). Batuk merupakan kondisi yang jumlah
> > obat dalam peresepannya paling tinggi yaitu 11 obat. Tingkat
> > peresepan puyer mencapai 55,4% pada diare akut, 72,6% pada demam,
> > 77,4% pada ISPA, dan 87% pada batuk.
> > • Antibiotika. Tingkat pemberian antibiotika paling tinggi
> pada
> > anak demam yaitu 87% disusul dengan diare 75%, ISPA 54,5%, dan
> pada
> > anak batuk tanpa demam sebesar 47%.
> > • Generik. Tingkat peresepannya sangat rendah yaitu 0% pada
> > kasus demam, 5% pada diare akut, 7% pada ISPA dan 10,5% pada batuk
> > tanpa demam.
> > • Steroid. Obat yang mengandung steroid diberikan pada anak
> > batuk sebesar 60,9%, pada ISPA sebesar 50,9%; sebesar 53,5% pada
> > demam dan bahkan pada diare 18,5%. Tingginya tingkat pemberian
> > steroid sangat memprihatinkan, terlebih karena tidak sesuai tata
> > laksana (guideline) penanganan penyakit-penyakit tersebut dan
> steroid
> > yang diberikan merupakan steroid yang cukup "keras".
> > • Suplemen. Peresepan multivitamin, ensim, "perangsang nafsu
> > makan" atau "imunomodulator" cukup tinggi yaitu 21,9% pada ISPA,
> pada
> > demam 34,9%, pada batuk 2,4% dan paling tinggi pada diare yaitu
> > 61,9%.
> > • Biaya. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli obat-obatan pada
> > ISPA berkisar antara Rp 15.000 – Rp 747.000 (median Rp 117.500);
> > demam Rp 20.800 – Rp 137.000 (maksimum Rp 326.000); diare akut Rp
> > 56.000 – 161.000 (maksimum Rp 349.000). Analisis biaya pada
> peresepan
> > pediatri di Jakarta menunjukkan tingginya biaya ketika dokter
> tidak
> > bekerja sesuai tata laksana. Apalagi mengingat biaya bukan sekedar
> > rupiah, tetapi juga harm atau potential harm yang ditimbulkan.
> >
> > Penelitian menunjukkan adanya dua hal yang berperan dalam
> pengobatan
> > tidak rasional, yakni keterbatasan pengetahuan petugas profesional
> > kesehatan mengenai bukti-bukti ilmiah terkini, sehingga tidak
> jarang
> > tetap meresepkan obat yang tidak diperlukan (misalnya antibiotika
> dan
> > steroid untuk penyakit infeksi virus). Kedua, keyakinan dan
> perilaku
> > pasien sangat berperan dalam penetapan obat yang diberikan.
> >
> > Salah satu contoh pengobatan tidak rasional adalah pemberian
> campuran
> > berbagai obat yang diracik dan dijadikan "puyer" (obat bubuk) atau
> > dimasukkan ke dalam kapsul atau sirup oleh petugas apotek (lazim
> > disebut compounding).? Peresepan obat puyer untuk anak di
> Indonesia
> > sangat sering dilakukan karena beberapa faktor:
> > • Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak secara
> > lebih tepat
> > • Biayanya bisa ditekan menjadi lebih murah
> > • Obat yang diserahkan kepada pasien hanya satu macam,
> walaupun
> > mengandung banyak komponen
> >
> > Menurut Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK dari Farmakologi FK-
> UI,
> > peresepan obat puyer membawa risiko untuk pasien dan berbagai
> dampak
> > negatif lainnya. Di negara maju, praktik ini sudah sangat
> berkurang
> > karena:
> > 1. Kemungkinan kesalahan manusia dalam pembuatan obat racik
> > puyer ini tidak dapat diabaikan, misalnya kesalahan menimbang
> obat,
> > atau membagi puyer dalam porsi2 yang tidak sama besar. Kontrol
> > kualitas sulit sekali dapat dilaksanakan untuk membuat obat
> racikan
> > ini.
> > 2. Stabilitas obat tertentu yang dapat menurun bila bentuk
> > aslinya digerus, misalnya bentuk tablet salut selaput (film
> coated),
> > tablet salut selaput (enteric coated), atau obat yang tidak stabil
> > (misalnya asam klavulanat) dan obat yang higroskopis (misalnya
> > preparat yang mengandung enzim pencernaan)
> > 3. Toksisitas obat dapat meningkat, misalnya preparat lepas
> > lambat bila digerus akan kehilangan sifat lepas lambatnya.
> > 4. Waktu penyediaan obat lebih lama. Rata-rata diperlukan 10
> > menit untuk membuat satu resep racikan puyer, 20 menit untuk
> racikan
> > kapsul, sedangkan untuk mengambil obat yang sudah jadi hanya perlu
> > kurang dari 1 menit. Kelambatan ini berpengaruh terhadap tingkat
> > kepuasan pasien terhadap layanan di apotek.
> > 5. Efektivitas obat dapat berkurang karena sebagian obat akan
> > menempel pada blender/mortir dan kertas pembungkus. Hal ini
> terutama
> > terjadi pada obat-obat yang dibutuhkan dalam jumlah kecil,
> misalnya
> > puyer yang mengandung klopromazin.
> > 6. Pembuatan obat puyer menyebabkan pencemaran lingkungan yang
> > kronis di bagian farmasi akibat bubuk obat yang beterbangan ke
> > sekitarnya. Hal ini dapat merusak kesehatan petugas setempat.
> > 7. Obat racikan puyer tidak dapat dibuat dengan tingkat
> higienis
> > yang tinggi sebagaimana halnya obat yang dibuat pabrik karena
> > kontaminasi yang tak terhindarkan pada waktu pembuatannya.
> > 8. Pembuatan obat racikan puyer membutuhkan biaya lebih mahal
> > karena menggunakan jam kerja tenaga di bagian farmasi sehingga
> asumsi
> > bahwa harganya akan lebih murah belum tentu tercapai.
> > 9. Dokter yang menulis resep sering kurang mengetahui adanya
> > obat sulit dibuat puyer (difficult-to compound drugs) misalnya
> > preparat enzim.
> > 10. Peresepan obat racik puyer meningkatkan kecenderungan
> > penggunaan obat irasional karena penggunaan obat polifarmasi tidak
> > mudah diketahui oleh pasien.
> >
> > Untuk rumah sakit yang ingin mencapai standar internasional,
> > khususnya dalam melindungi keselamatan pasien, maka penulisan
> resep
> > dan pembuatan obat racikan ini perlu dihapus. Kelak diharapkan
> semua
> > kebutuhan obat untuk anak dapat dipenuhi berdasarkan obat
> formulasi
> > pabrik.
> >
> > Peran Organisasi Profesi Kedokteran dan Kebijakan Pemerintah
> > Ada 3 agenda tindakan untuk meningkatkan penggunaan obat yang
> > rasional. Pertama, pendekatan edukasi: konsep obat esensial dan
> > aplikasinya serta pendidikan preskripsi yang rasional kepada
> > mahasiswa kedokteran. Selain itu rumah sakit pendidikan punya
> > tanggung jawab etis terhadap masyarakat untuk mempromosikan
> peresepan
> > yang rasional melalui contoh konkret dari para staf pengajarnya.
> > Sayangnya, justru rumah sakit pendidikan di Indonesia adalah
> tempat
> > mengajarkan peresepan yang tidak rasional.
> >
> > Agenda kedua adalah skim manajerial: melalui siklus pengadaan
> obat.
> > Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang diimplementasikan secara
> > konsisten dan diikuti dengan baik oleh setiap tingkat pelayanan
> > kesehatan sangat penting artinya. Estimasi pengadaan obat harus
> > didasarkan pada morbiditas (angka kesakitan), bukan atas dasar
> > penggunaan sebelumnya. Agenda ketiga, intervensi regulasi.
> >
> > Peran Dokter dan Industri Farmasi
> > Suatu penelitian skala besar di beberapa negara maju menunjukkan
> > sedikitnya tiga alasan mengapa para dokter cenderung abusive
> dalam
> > pola peresepannya:
> > • Kurangnya kepercayaan diri (lack of confidence). Dokter
> > sering kurang percaya diri untuk menyatakan bahwa penyakit pasien
> > disebabkan infeksi virus dan tidak memerlukan antibiotika. Dokter
> > juga khawatir pasien akan pindah ke dokter lain yang justru akan
> > memberikan antibiotika. Saat pasien sembuh ia akan menganggap
> > antibiotikanya lah yang menyembuhkan. Padahal, setiap penyakit
> > memiliki pola perjalanan penyakit. Saat berobat ke dokter kedua,
> > penyakitnya diambang kesembuhan. Jadi, sama sekali tidak ada
> hubungan
> > dengan antibiotika yang diberikan.
> > • Desakan pasien (patient pressure). Tidak sedikit pasien yang
> > meminta antibiotika atau menuntut obat cespleng. Di lain pihak,
> tidak
> > sedikit pasien yang bersikap pasif, tidak bertanya atau mencari
> > informasi perihal pengobatan yang diberikan.
> > • Desakan perusahaan (company pressure).
> > Peran Apoteker
> > Seorang apoteker di Kanada menceritakan tugasnya di sana, yang
> antara
> > lain meliputi:
> > 1) Pengecekan apakah resep dari dokter tidak salah untuk
> > penyakit tertentu dan apakah dosisnya sudah tepat. Kalau resepnya
> > salah, apoteker harus menghubungi dokter, sehingga kalau ada
> > kesalahan, masih bisa diperbaiki.
> > 2) Pengecekan kemungkinan interaksi obat. Setiap pasien
> > mempunyai arsip di komputer apotek berisi obat-obat yang pernah
> > dipakainya. Jadi kalau obat/resep baru bisa menyebabkan interaksi
> > obat, apoteker harus memberitahukan dokter yang bersangkutan untuk
> > mengganti obat, bila perlu.
> > 3) Mengawasi apakah pasien adalah pengguna obat yang berlebihan
> > atau drug's/narcotic's abuser. Walaupun pasien pindah ke apotek
> lain,
> > kalau membeli obat jenis narkotika, riwayat pemakaian obat
> narkotika
> > dapat diketahui sebab pemakaian obat narkotika disimpan di
> komputer
> > sentral yang bisa di akses setiap apotek.
> > 4) Konseling. Memberikan konsultasi kepada pelanggan adalah
> > tugas yang sangat penting bagi apoteker.
> > 5) Dari segi ekonomi, apoteker dianjurkan mengganti obat
> > bermerek yang dianjurkan dokter dengan obat generik.
> >
> > Peran Pasien
> > Era informasi ini telah menggulirkan pergeseran di berbagai aspek
> > kehidupan termasuk aspek kesehatan khususnya di sisi pengetahuan
> dan
> > kesadaran kesehatan. Khalayak umum dengan mudah memperoleh akses
> ke
> > pengetahuan kesehatan. Kemudahan ini seperti mengisi kehausan ilmu
> > kaum muda Indonesia yang sudah semakin menyadari haknya dan sudah
> > mulai memposisikan dirinya sebagai konsumen.
> >
> > Hal ini tercermin dari semakin meningkatnya upaya masyarakat
> dalam
> > membekali diri dengan pengetahuan kesehatan. Mereka juga
> mencermati
> > iklim layanan kesehatan baik di luar Indonesia dimana konsumen
> > terbukti berhasil membantu mewujudkan iklim layanan kesehatan yang
> > lebih baik dan rasional. Mereka juga gencar mencari dan berbagi
> > informasi perihal siapa-siapa saja dokter yang rasional. Mereka
> bisa
> > saja mengunjungi dokter dengan membawa artikel dan pedoman yang
> > diperoleh dari berbagai sumber, seperti internet, atau sudah
> memahami
> > tatalaksana pemberian obat yang tepat (evidence-based
> medicine/EBM)
> > dan pedoman (guidelines) yang ada.
> >
> > Lalu bagaimana dokter menyikapi fenomena dan kondisi seperti ini?
> > Penerapan pedoman dalam praktek sehari-hari, cepat atau lambat,
> akan
> > membantu mengangkat citra profesionalisme dokter sebagai tenaga
> > medis.
> >
> > Peran Media Massa
> > Media massa memainkan peranan sangat besar sebagai sarana
> sosialisasi
> > pengetahuan dan kebijakan baru bagi masyarakat. Sayangnya, banyak
> > media massa yang tanpa disadari telah dimanfaatkan pihak-pihak
> yang
> > tidak bertanggung jawab untuk menyesatkan masyarakat dengan
> informasi
> > yang tidak seimbang dan tidak tepat.
> >
> > Peran Institusi Pendidikan Kedokteran dan Farmasi
> > Dokter, perawat, dan farmasis merupakan sumber bagi orang awam
> ketika
> > membutuhkan informasi tentang obat. Sebagai konsekuensi, profesi
> ini
> > dituntut untuk selalu memperbaharui ilmu yang mereka miliki dengan
> > menghadiri berbagai konferensi, pelatihan, dan seminar tentang
> > kedokteran termasuk penggunaan obat yang rasional. Kurangnya
> > pengetahuan mengenai penggunaan obat yang rasional dapat
> mencerminkan
> > kualitas pelayanan. Diperlukan program tentang penggunaan obat
> yang
> > rasional yang meliputi pelatihan dalam praktek peresepan dan
> > dispensing yang tepat dan sistem yang mengatur pengawasan
> > (monitoring) secara berkala terhadap tindakan-tindakan yang
> dilakukan
> > untuk mempromosikan penggunaan obat yang rasional.
> >
> > Institusi kedokteran dan farmasi juga berperan dalam
> menyelenggarakan
> > berbagai pendidikan berkelanjutan untuk tetap mempertahankan
> > kompetensi yang dimiliki para dokter dan farmasis.
> >
> > Suryawati dan Santoso tahun 1997 melakukan pelatihan untuk
> mahasiswa
> > kedokteran yang akan menjalani magang klinik untuk mengenali klaim
> > yang berlebihan atau indikasi yang diperluas tanpa didukung dasar
> > ilmiah, infomasi yang salah tentang efek samping, rekomendasi yang
> > tidak tepat untuk dosis dan penggunaan obat, informasi yang salah
> > tentang profil farmakodinamik dan farmakokinetik, dan kurangnya
> > informasi tentang peringatan dan pencegahan. Pelatihan ini
> terbukti
> > efektif bahkan hingga 12 bulan setelahnya, pelatihan ini terbukti
> > merupakan metode yang berguna untuk membekali mahasiswa dengan
> > pengetahuan dan ketrampilan agar dapat menilai informasi tentang
> obat
> > dan iklan secara kritis.
> >
> > Penutup
> > Jelas sekali terlihat bahwa masalah penggunaan obat yang rasional
> > bukan hanya tanggung jawab satu atau dua pihak saja (lihat diagram
> di
> > bawah ini). Diperlukan kerja sama yang saling mendukung antar
> > berbagai pihak.
> >
> >
> > Akhirnya, mari bergandengan tangan memperbaiki pola layanan
> kesehatan
> > di Indonesia dengan menjunjung tinggi dua warisan filosofis.
> Pertama,
> > warisan dari jaman Roma ketika Hippocrates mengingatkan para
> dokter
> > untuk senantiasa mendahulukan kepentingan pasien. Kedua, warisan
> dari
> > jaman Yunani ketika Galen meminta dokter untuk senantiasa
> menjunjung
> > tinggi "PRIMUM NON NO CERE" atau Above all do not harm (harm di
> sini
> > maknanya sangat filosofis).
> >
> > Semoga profesi dokter bukan hanya mampu bertahan melainkan semakin
> > berjaya dan profesional atas dasar etika tinggi, kompetensi dan
> > transparansi. Semoga semua pihak dapat bergandengan tangan
> memberikan
> > yang terbaik bagi masyarakat Indonesia umumnya, dan buat anak-anak
> > Indonesia khususnya. Semua anak, termasuk anak Indonesia, berhak
> > memperoleh layanan kesehatan yang terbaik.
> >
> > -Selesai-
> >
>
> 
>

Kirim email ke