***********************
Your mail has been scanned by InterScan.
PT. AJ Central Asia Raya
***********-***********


Hi Dokter Kennia...

Wahh dokter kennia spt ex bosku yg juga dokter. Do'i ga mau praktek lagi
gara2 pasiennya banyak yg minta Antibiotik. Padahal yg dokter sapa coba.
Masa' pasennya yg protes minta AB? Alasan pasiennya AB kan bikin cepet
sembuh. Dan mungkin juga my ex bos itu prakteknya bukan di tempat orang2
yang mau dikasi tau. Karena keseringan gitu akhirnya dia memutuskan
untuk tidak praktek lagi dan mengamalkan ilmunya dengan jadi dosen dan
kerja di asuransi..





Regards,

MegA

Corporate Communication and Legal



________________________________

From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Kennia
Sent: Wednesday, May 28, 2008 09:49
To: [email protected]
Subject: [Ayahbunda-Online] Dokter curhat............



Dear moms...



Alhamdulillaah..seneng deh kehadiranku dirindukan..hehehe.

Maaf sekali kalo jarang posting ya..



Thanx bgt buat mba kurnia, mba lupi, mba esti, mba heni, mba novia en
mba yusri atas responnya..

Bener2 masukan buat saya...



Sekali lagi "PEACE' buat moms yg pernah dikecewakan oleh tenaga medis,
esp.doctors...

Trust me...walo saya yg "dokter" , sy juga sering dikecewakan oleh teman
sejawat...

Saat periksa pribadi ataupun anak saya.

Biasanya saya sengaja tidak menunjukkan identitas ke'dokter'an saya...

sengaja, biar saya bisa tau aslinya tuh dokter...

Bila saya merasa oke..dgn "standar" tinggi saya sbg konsumen
medis....berarti saya cocok, en ga mau berpaling dari dokter itu...

Jadi apa yg moms curhatkan selama ini saya faham benar bagaimana
rasanya.



Maafkan mereka ya moms...

Itu murni..."individu" masing2....  bukan "dokter"nya.

Dalam kuliah, kita selalu diajarkan melayani kepuasan dan kesembuhan
pasien...

Masalah individu.....yah namanya juga dokter moms...

Mereka merasa "lebih" dibanding orang awam...

Habis..orang awam juga sih yg me"lebih"2kan dokter...iya ga?

Misal...ada mertua bilang ....."menantu saya dokter loh..." padahal, apa
bedanya sih sama yg bukan dokter.

Jadi bagi sebagian orang, "dokter" adalah prestise

Bukan lagi suatu profesi mulia.



Banyak hal dapat merubah sesorang..terutama karena materi.

Juga faktor kesibukan, tuntutan manajemen RS, kelelahan juga dapat
merubah karakter seseorang

Saya liat sendiri buktinya di kalangan teman dan senior....

Itulah sebabnya saya berniat mencari nafkah bukan dari praktek...

Jadi praktek hanya untuk menolong orang, misal bakti sosial, jaga klinik
dhuafa,dsb

Dan saya mencari nafkah / materi dari keahlian saya yg lain sebagai
dokter...

Entah konsultan, koordinator medis, dosen, tainer, instruktur medis,
dll....



Sekali lagi...saya faham..memang kita, konsumen medis memiliki hak dalam
pengobatan kita.

Kita jg seharusnya diposisikan sebagai partner..sejajar dengan
dokter...itu yg saya anut.

Memang banyak dokter "kuno" yg belum faham "aliran" terbaru ini.

Tetapi sebaiknya kita sebagai pasien juga tidak langsung menjudge dokter
itu malpraktek, dll

Karena bisa jadi dia punya alasan mengapa dia berlaku seperti itu (yg
sesuai ilmu kedokteran tentunya)

Dan sebagian besar masyarakat..ada yg ikut2an memvonis dokter
malpraktek...padahal setelah dianalisa oleh komite medis..apa yg ia
lakukan sudah sesuai dengan prosedur ilmu kedokteran.



Perihal puyer...banyak obat, dll..... saya faham benar maksud moms.

Saya rasa bagus bila moms memiliki informasi mendalam seperti terkutip
dalam artikel tadi.

Tetapi saya harap...masukan yg ada tidak bersifat Provokatif...

Sebaiknya memberikan solusi.

Misal...menurut artikel A... puyer tidak baik untuk bayi...nah sekarang
solusinya apa untuk bayi yg butuh banyak pengobatan karena gejalanya
berat?

Artikel tersebut tidak memberikan masukan yg positif...apakah sebaiknya
menggunakan obat sirup,dll.

Tetapi isi artikel tersebut hanya mengkritisi....dan sudah..tidak ada
solusi membangun atau memperbaiki.

Saya faham isi artikel puyer itu..karena yg berbicara adalah dosen saya
sendiri...

Menurut saya mungkin acara seminar itu ditujukan untuk kalangan
dokter/medis saja..sebagai sarana pengawasan agar mereka tidak
berlebihan memberikan obat tanpa indikasi.



Tetapi moms perlu telaah...puyer yg dimaksud tidak baik adalah bila
pengerjaannya tidak sesuai prosedur.

Beberapa kasus penyakit ringan seperti "self limitted disease" memang
tidak memerlukan obat..anak saya juga kalo pilek dikit, Cuma dikasih
transpulmin BB moms...

Tapi kalau dia rewel bgt, tandanya pusing dan gelisah..itu perlu lebih
dari 1 obat.

Karena biasanya dia rewel setelah 3 hari baru saya bawa ke DSA.

Jadi saya setuju saya kalo anak saya dikasih obat untuk pileknya, anti
alergi, obat nyeri, dan penenang...

Berarti jadi 4 obat yaa....

Gitu moms...



Memang ada yg bilang.. "jagn kebanyakan obat"...iya itu benar...

Tapi jujur saja, sy ga tega melihat anak saya menderita...ga bisa tidur,
makan, dll...

sayanya jg jadi drop kecapean...

untuk hal ini saya tidak mau ambil risiko menyesal kalo nanti anak saya
kenapa2...

Jadi intinya..kita tidak boleh berlebihan.... Tapi juga kita harus tetap
waspada....



Saya senang sekarang banyak moms yg smart..meanings...makin banyak
pasien yg kritis en care dgn kesehatan....itu salah satu tujuan akhir
ilmu kedokteran loh moms...

Semoga dokter indonesia makin berkembang dan maju karena kritikan dan
masukan dari pasien2 yg smart seperti moms semua...

Hidup smart moms!!! Hehehe...



PS: kalau saya tidak merespon beberapa postingan moms tentang medis..

berarti sudah ada jawaban yg benar..yg berasal dari smart moms yg lain
....

THANKS A LOT buat smart moms yg selama ini membantu saya menjawab
pertanyaan para moms yg bertanya...



Salam sayang

-kennia-

________________________________






Kirim email ke