Hi, Arie...
Lam kenal ya, aku Like (mama Fawwaz)..
Aku ikut prihatin baca curhatmu, tapi kamu emang gak sendirian koq yang
ngalamin kayak gitu. Gak usah jauh2 aku juga pernah tuh punya story yang sama
dgn 'prt' (untungnya doi dah gak ikut aku sekarang)..
Kalo boleh kasih masukan buat ibu2 yang pengin punya 'prt' gak neko-neko
mungkin cara ini bisa dipake...berdasarkan pengalamanku berulang kali punya
'prt' yach?!
1. Dari awal kerja aku bilang gak ada waktu nonton tv (terutama nonton
sinetron&infotainment) selama waktu kerja dari pagi s.d. maghrib! Kami serumah
pun melakukan hal yg sama lho.. Why..? karna berdasarkan survey aku dan suami,
selama ini jika kita tidak membatasi sejak awal maka akan susah mengendalikan
'prt' itu mencuri-curi waktu kerja untuk nyetel tv, padahal kita gak mau kan
mereka momong anak kita sambil nonton sinetron yang begitu membius perhatian,
pendengaran, shg gak fokus mengawasi anak kita(apalagi anakku anak yg aktif,
gak boleh 'meleng' dikit dia dah naik turun tangga or dia dah nyamperin kolam
renang di rumah?). Efek nonton sinetronnya (tp gak semua sinetron ya..)lebih
parah lagi yaitu mereka mengadopsi bulat2 gaya hidup tokoh2nya, cara berbicara,
berpakaian, dsb. tanpa filter dan maaf..tidak menyesuaikan diri bahwa mereka
kan bekerja di atas rumah kita? termasuk gaya2 tokohnya menggunakan hp
lho...walhasil kalo mereka nyontoh tokoh2 abg yg over 'pd' atau
'sangat gaul' ya jadilah mereka seperti itu yg dimana tempat dan waktu
seenaknya ngangkat 'hp' dg bahsa gaul ala tokoh2 abg di tv..
Kita kan bukan ortu mereka yg berkewajiban mendampingi mereka saat nonton tv
sambil menjelaskan bahwa ini tidak benar or itu tidak seperti dalam kehidupan
nyata, dsb.
Tapi kita merasakan dampaknya kan? Makanya simple aja..keluarlah undang2
(he..he..) dilarang nonton tv sampai maghrib, setelah itu boleh liat tv bentar
tapi cuma acara musik, berita, tetap bukan sinetron (mohon maaf pada para
penggiat sinetron...), jam 9 malam mereka semua harus tidur.
2. Dari awal mereka kerja pun aku bilang kpd 'prt' untuk tidak memainkan 'hp'
selama jam kerja, silakan mereka menyimpan 'hp' di dalam kamar, memasang
setelan bunyi yang pelan atau getar shg suara2 deringnya tidak mengganggu
teling seisi rumah. Aku himbau mereka untuk memberi pengertian kpd keluarga,
teman2nya supaya menghubungi mereka pada waktu istirahat jam 12-13 siang atau
malam hari. Kalau sekedar sms silakan saja tapi dibaca tetap pada jam istirahat
atau malam hari. 'Hp' boleh dibawa saat mereka pergi keluar rumah sore hari
untuk jalan2 sebentar di sekitar cluster sama anakku (jadi aku bisa memantau
anak dari manapun) dan saat mereka diajak pergi dengan aku (juga supaya bisa
dihubungi jika terpisah jarak).
3.Di luar itu aku sekeluarga menjaga komunikasi yg baik dgn 'prt', manusiawi,
menghargai tapi tetap bisa menunjukkan ketegasan di kala mereka membuat
kesalahan or melanggar kesepakatan dg kita. Aku dulu sempat sungkan menegur, dg
alasan susah kan cari 'prt', berharap mereka akan berubah, gak enak jdnya
situasi di rumah kalau kita tegur.., dsb.
Tapi yang ada malah mereka semakin jadi ulahnya karna mereka pikir toh ibu
gak sering menegur..atau yg parahnya mereka sadar punya kartu 'as' bahwa kita
akan sangat kelimpungan jika mereka tinggalkan? Wah..wah semoga Arie tidak
mengalami seperti aku dulu ya?
Kesimpulanku sih mungkin agak susah menasehati atau merubah tata cara di
rumah jika dari awal kita tidak seperti itu, tp coba aja Arie merubahnya sesuai
dgn kebutuhan dan kenyamanan seisi rumah..mungkin teguran2 tetap diperlukan, tp
kalo ndak mempan jgn jadi stres ya? Kan memang butuh waktu adaptasi peraturan
baru...
Kalo ndak bisa berubah juga ya terpaksa siap2 cari aja orang baru ya? Memang
susah dan capek mengajari lagi dari awal, tapi siapa tahu hidup kita bisa lebih
nyaman dan tidak stres kan? Itu jauh lebih berharga lho...
Moga2 ada sedikit manfaat buat Arie dan teman2 lain yg kebetulan baca tulisan
ini.
Aku msaih punya banyak pengalaman gak enak dgn 'prt'...lain waktu bisa
disambung lagi.
Bye,Arie...jgn kesel lagi yah...
>>Like (mama Fawwaz)