Mbak Angel,
Hal yang sama saya alami [mungkin lebih parah] ketika Razka belum berusia 2
bulan, sebulan pertama menjadi ibu rasanya 'nano-nano' deh antara excited yang
luar biasa tapi juga bingung gak karuan karena maksudnya sih mau dikerjain
sendiri semua yang berurusan dengan Razka tapi mungkin karena penat dan masih
'jet lag' sehabis melahirkan normal dengan 12 jam masa kontraksi dan kurang
tidur, emosi saya jadi malah gak keruan, bahagia, senang, sedih, stress
bergulir bergantian, apalagi waktu itu saya sepertinya menaruh harapan terlalu
tinggi kepada suami, maunya sih suami bisa kasih fully support dan menjadi
penghibur terutama ketika bangun malam hari, kenyataannya dia gak terbangun
meskipun Razka menjerit2, bahkan sampe saya teriak baru dia bergeming sedikit
setelah itu Zzzzzzz, och..... gubrak!!! Ternyata ada juga suami tipe 'ari'
alias asik sendiri.
Alhasil saya ikut menangis setiap Razka menangis tanpa alasan yang tidak saya
mengerti, saya menangis setiap menyusuinya juga tanpa alasan yang jelas, saya
merasa tidak berhasil sebagai ibu, saya sedih tidak dapat memberikan yang
terbaik justru di awal kehidupannya, saya gak bisa ditinggal sendirian bersama
Razka, terkadang saya merasakan kebosanan yang sangat berada di rumah, huk huk
huk.... bawaannya pengen ke kantor.
Mungkin ini yang menyebabkan kuantitas ASI pun sangat sedikit setiap di pompa
paling banyak 20cc itu pun setelah menunggu 2 jam lebih, lama2 Razka marah dan
menolak setiap ingin saya susui [selai susu sedikit saya juga perlu waktu untuk
mengeluarkan puting, biar pas dengan mulut Razka], dia selalu menoleh ke arah
yang berlawanan dengan payudara saya, huk huk huk.... akhirnya saya nangis lagi.
Tiba-tiba saya tergerak baca buku hadiah melahirkan dari seorang teman,
ternyata yang saya alami adalah baby blues, suatu hal yang tak pernah saya
nyana dan harapkan terjadi dalam kehidupan saya sebagai ibu lalu saya
ceritakan hal yang saya alami kepada ibu dan suami saya, tapi sepertinya
beliau2 tersebut gak ngeh dengan apa yang saya alami dan gak tau apa yang harus
mereka lakukan, apa jangan2 mereka juga merasakan hal yang sama dengan saya ya?
Melihat keadaan makin buruk saya bertekad untuk berdamai dengan keadaan
asalkan semua bisa happy terutama bayi saya, dan saya tidak lagi berusaha
menjadi SUPER MOM, dengan tidak berusaha melakukan semua hal sendiri, saya
berusaha mendelegasikan tugas dengan ibu dan si Mbak yang waktu itu masih jadi
pengasuh anak adik saya, tekad saya hanya ingin menjadi 'mesin susu' Razka,
saya usahakan tidur ketika Razka tidur, biar deh dibilang 'ibu banyak tidur',
perlahan2 saya melakukan relaktasi, meskipun tidak berhasil 100% karena sudah
keburu cutinya habis, selain itu ASI pun mengering dengan sendirinya :'(
Pokoknya gak bisa ASIX tuh menyedihkan banget, bersyukur ya... para bunda yang
berhasil ASIX, yang lebih sedih lagi kalau dibilang sebagai ibu yang malas
menyusui, och..... semoga mereka tau jerit hati saya......
Untuk 'adiknya' Razka saya sudah menyusun berbagai rencana dan kiat2 agar
kejadian lama tak terulang.
Mungkin ini bukan sebuah solusi, tapi semoga bisa diambil sebagai pelajaran
bersama, bagaimana pula dukungan suami dan lingkungan sekitar sangat
mempengaruhi kondisi 'ibu baru'.
Salam maniez,
-bundanya Razka-
Widya D. Setyawati
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
ph.: 021-31931935