Permen Cokelat yang Bikin Fly Rida Wahyu (6 tahun), siswa Taman Kanak-kanak (TK) Sekar Bangsa, Pondok Labu, Jakarta Selatan, benar-benar tak menyangka permen cokelat yang dibawanya sebagai bekal ke sekolah, membuatnya celaka. Permen cokelat yang menjadikan dia bersama empat temannya satu TK terpaksa dirawat di RS Fatmawati. Bukan efek lezatnya cokelat yang membuat mereka masuk rumah sakit, tapi pengaruh zat psikotropika di cokelat itu yang mengharuskan anak-anak lugu itu diperiksa intensif. Memang, cokelat yang dimakan mereka bukan sembarang cokelat. Permen itu ternyata mengibuli mereka. Tampak luar memang cokelat, tapi sebenarnya zat psikotropika yang berbahaya bagi pengonsumsi, apalagi anak-anak belia. Cerita bermula ketika pada Senin (9/6) lalu, Rida dibekali ibundanya, Sri Sumarsih, permen cokelat. Kebiasaan di TK itu, pada jam istirahat, para siswa saling berbagi bekal makanan. Tak curiga dengan makanan yang memang digemari anak-anak itu, Rida pun membagikan permen cokelatnya kepada empat temannya, Adrian, Noval, Valerian Andre, dan Rushi Ilalang. Mereka pun lahap memakannya. Tak tanggung-tanggung, 11 butir permen cokelat mereka santap. Semula, Rida mengaku membawa tiga strip cokelat, yang masing-masing strip berisi 10 butir. Sebelas butir sudah masuk perut, 19 butir disisakan. Usai jam istirahat berlalu, mereka pun masuk kelas. Tak dinyana, bukan kelezatan cokelat yang mereka rasakan, justru rasa mengantuk yang teramat sangat. Layaknya orang mabuk, mereka berjalan sempoyongan masuk ke dalam kelas. Dan seolah lindu melanda, mereka tak kuasa menahan kaki tetap tegak. Bahkan, Adrian, yang paling parah, sempat menabrak dinding kelas. ''Di dalam cokelat seperti ada obat penenangnya,'' kata Rina, keluarga salah satu korban. Ibunda Rida, seperti diungkap Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Chairil Anwar, mendapatkan permen cokelat itu dari tas suaminya. Dia menemukan tiga strip pil di tas tersebut. Lalu, barang itu disimpannya di kulkas. Sebelumnya, dia simpan tiga strip itu ke bungkus permen cokelat. Esok paginya, Rida menemukan bungkus cokelat tersebut dan membawanya ke sekolah. Namun, setiba di sekolah, makanan itu justru membuanya teler dan fly. Apakah benar cokelat memabukkan itu narkoba? Sedikit menyibak misteri, Kapolres membenarkan jika makanan yang biasanya digemari anak-anak itu tergolong psikotropika golongan IV. ''Setelah diteliti, ternyata permen itu mengandung benzodiazepin yang termasuk psikotropika,'' katanya. Bila permen itu dimakan, terutama oleh anak-anak, akan menyebabkan efek mabuk dalam jangka waktu lama. Dari mana permen itu berasal? Kapolres mengakui saat ini sedang dalam penyelidikan, termasuk memburu ayah Rida, Rudi Muchtar. ''Kami sedang mencari keberadaannya.'' Rudi diketahui berprofesi sebagai sopir truk di sebuah perusahaan di Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang sering bepergian ke luar kota. Berdasarkan keterangan istri Rudi, Sri, kepada polisi, pil sebanyak 59 butir itu didapat dari suaminya. Pil sebanyak itu terdiri atas lima strip (papan). Pil itu dikemas menggunakan kertas timah berisi kalimat berbahasa Jepang. Kemasannya menyerupai permen. Sayangnya, ibunda Rida mengaku tidak mengetahui bahwa makanan itu mengandung zat terlarang. Kapolres menduga Rudi membungkus obat itu dalam balutan permen cokelat. ''Obat itu diduga pula diberikan oleh bos atau majikannya.'' Lalu, apa sebenarnya happy five? Penjelasan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Husniah Rubiana Thamrin Akib, lebih terang mengungkap. Husniah mengakui permen yang dimakan lima siswa TK itu adalah jenis pil psikotropika yang diduga sudah lama beredar di Indonesia. ''Itu produk Jepang. Di sana namanya Erimin. Nama jalanannya happy five,'' paparnya. Dia menduga, happy five sudah lama beredar di banyak negara Asia Tenggara, seperti Singapura, Laos, Hong Kong, termasuk Indonesia. Sebagai bukti, pada 28 Desember 2007, polisi menemukan 460 butir happy five di antara ribuan pil ekstasi yang disimpan di sebuah kamar di Jl Krekot Jaya Molek Blok G, Jakarta Pusat. Pil berisi bahan kimia nimetazepam itu merupakan keturunan dari benzodiazepin yang sering dipakai sebagai pengganti ekstasi dan opiat. ''Psikotropika jenis ini menyebabkan penggunanya rileks, mengantuk, teler, dan selalu ingin tidur. Bahan ini berbahaya, apalagi bila dikonsumsi anak-anak atau orang lanjut usia.'' Barang bukti 'permen' yang membuat sempoyongan lima siswa TK itu, kata Husniah, saat ini sedang diteliti. ''Jika permen cokelat itu memang modifikasi happy five, aparat akan semakin sulit mencegah peredarannya.'' Beruntung, kemarin sore, Rida sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Namun, kondisi buruk masih dialami Adrian, tangannya diinfus di lengan sebelah kiri. Meski, kemarin, Adrian sudah siuman, setelah hampir 15 jam tak sadarkan diri. Sehari sebelumnya, Noval, Valerian, dan Rushi sudah keluar dari rumah sakit. Kelima korban cokelat berbahaya itu sebelumnya sempat dibawa ke puskesmas terdekat. Merasa tak mampu menangani, mereka dirujuk ke RS Fatmawati. Saat tiba di RS, lima siswa itu tak sadarkan diri, empat terkulai lemas dan satu pingsan. Hasil tes urine, ungkap Wakil Kepala Bidang Pelayanan RS Fatmawati, dr Ugi Sugiri, memperlihatkan kelima siswa positif mengandung bahan psikotropika. Di setiap cokelat terkandung zat berbahaya itu sekitar lima miligram. Efeknya menyebabkan seseorang kecanduan, berhalusinasi, dan tak sadarkan diri dalam waktu lama. Bahkan, jika dikonsumsi melebihi dosis, dapat menyebabkan depresi susunan saraf pusat hingga berujung pada kematian. c68/c54/ant
