Mengendalikan Amarah


Sumber : www.e-psikologi.com

Kemarahan pada dasarnya merupakan suatu hal yang normal dan pasti pernah
dialami oleh semua individu. Di satu sisi manusia memang harus melepaskan
semua amarah yang ada di dalam dirinya agar diperoleh suatu kelegaan atau
terlepas dari adanya suatu beban berat. Namun di sisi lain tentu saja
dituntut cara-cara yang tepat untuk mengungkapkan kemarahan tersebut sebab
jika tidak maka hal itu bisa merusak sendi-sendi kehidupan yang mungkin
sudah tertata dengan baik. Dengan kata lain individu harus mampu
mengendalikan kemarahan tersebut sebelum kemarahan itu justru yang
mengendalikan hidupnya. Dalam ruang konseling di website ini banyak sekali
para member yang sudah mengalami bagaimana kemarahan sudah mengambil kendali
dalam hidup mereka. Beberapa diantaranya menjadi sangat frustrasi karena
menyadari bahwa dirinya begitu gampang terpancing untuk marah baik di kantor
maupun di rumah sehingga tidak lagi mampu berinteraksi secara baik dengan
orang lain (pacar, istri-anak, rekan kerja, maupun atasan-bawahan).

Dengan kondisi yang demikian tentu saja si "pemarah" tersebut harus
mendapatkan pertolongan dari para profesional sebab ketidakberdayaan untuk
mengendalikan amarah sudah menimbulkan masalah baru. Hal seperti ini tentu
amat disayangkan mengingat bahwa rasa marah (amarah) sebenarnya bisa
dikendalikan ataupun dicarikan cara yang tepat untuk mengeluarkannya. Inilah
yang akan dicoba untuk dibahas dalam artikel singkat ini dengan suatu
harapan bahwa para pembaca dapat mempraktekkannya dalam kehidupan
sehari-hari.

Amarah

Amarah adalah salahsatu bentuk emosi manusia yang sepenuhnya bersifat normal
dan sehat. Setiap individu pasti pernah marah dengan berbagai alasan. Meski
merupakan suatu hal yang wajar dan sehat, namun jika tidak dikendalikan
dengan tepat dan bersifat destruktif maka amarah akan berpotensi besar untuk
menimbulkan masalah baru, seperti masalah di tempat kerja, di keluarga, atau
pun hubungan interpersonal.

Faktor penyebab mengapa seseorang menjadi marah dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu: external dan internal. Faktor external adalah hal-hal yang datang
dari luar diri sang individu. Contoh: Anda marah kepada atasan atau bawahan
anda; anda juga bisa menjadi marah karena terjebak macet atau tertundanya
jadwal penerbangan. Di samping hal-hal external tersebut, kemarahan juga
dapat disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang ada di dalam diri anda.
Dengan kata lain ada unfinished business yang bisa memicu anda untuk marah.
Contoh: ketakutan atau kekuatiran terhadap suatu hal tertentu,
ketidakmampuan dalam berinteraksi, adanya pengalaman traumatik atau pun
kenangan pahit di masa lalu.

Pemberang vs Kalem 

Sehubungan dengan kemarahan, dalam kehidupan sehari-hari seringkali dijumpai
bahwa ada individu-individu tertentu yang sangat gampang marah. Mereka bisa
marah terhadap hal apa saja, dengan siapa saja dan kapan saja. Singkat kata
mereka ini lebih banyak menunjukkan kemarahan dibandingkan dengan
individu-individu lainnya. Individu-individu seperti inilah yang biasa di
sebut "Pemberang" atau sering pula disebut sebagai orang yang "emosional"
(meski istilah ini menurut saya kurang tepat). Individu-individu ini amat
sering terlihat mengomel, menggerutu, memboikot atau menarik diri dari
pergaulan, berteriak, bahkan sampai melemparkan barang-barang atau
mengeluarkan kata-kata tidak senonoh. 

Sementara itu kita juga menjumpai bahwa ada individu yang jarang sekali
terlihat marah bahkan seolah-olah tidak pernah marah. Mereka tidak meluapkan
kemarahan dengan cara meledak-ledak tetapi lebih terlihat tenang-tenang saja
(kalem) atau paling-paling hanya sebatas menggerutu atau mengeluh. 

Individu yang mudah sekali menjadi marah biasanya adalah mereka yang
memiliki tingkat toleransi yang rendah terhadap suatu tekanan atau hal-hal
yang menyebabkan rasa frustrasi (low tolerance for frustration). Individu
seperti ini menganggap bahwa mereka tidak selayaknya menerima kondisi yang
tidak menyenangkan. Mereka sangat sulit mengambil hikmah dari situasi yang
tidak menyenangkan dan menjadi marah ketika situasi "tidak berpihak" mereka
seperti ketika sedang dikritik atau ditegur karena melakukan suatu
kesalahan. 

Adapun faktor yang bisa menjadi penyebab mengapa individu tertentu gampang
sekali menjadi marah dapat dibagi dalam beberapa faktor sebagai berikut: 

1. Genetik

Fakta genetik menunjukkan bahwa beberapa anak memang terlahir dengan
karakteristik mudah marah. Hal ini bisa dilihat pada awal-awal tahun
kehidupan sang anak.

2. Sosial-Budaya

Dalam budaya masyarakat tertentu amarah atau marah sering dianggap sebagai
suatu hal yang negatif. Individu seringkali diajarkan bahwa mengungkapkan
atau melepaskan kecemasan, depresi atau emosi yang lain adalah baik kecuali
kemarahan. Akibatnya individu menjadi tidak pernah belajar bagaimana
mengatasi rasa marah ataupun mengekpresikan kemarahan secara konstruktif.

3. Latarbelakang Keluarga

Tak bisa dipungkiri bahwa faktor keluarga memainkan peranan yang signifikan
terhadap gampang atau tidaknya seseorang menjadi marah. Nampaknya pepatah
kuno yang mengatakan bahwa "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" masih
berlaku. Hasil penelitian membuktikan bahwa individu-individu yang gampang
marah seringkali berasal dari keluarga yang berantakan dan tidak trampil
dalam mengungkapkan emosi ataupun berkomunikasi. Selain itu dijumpai pula
bahwa orangtua yang "pemberang" cenderung menghasilkan anak yang pemberang
pula (workplaceblue.com). 

Beberapa Pendekatan 

Anda tidak mungkin menghilangkan atau menghindari sesuatu yang menjadi
penyebab kemarahan. Andapun akan sangat sulit (bahkan tidak mungkin) untuk
bisa mengubah orang lain agar tidak membuat anda marah. Satu hal yang bisa
ada lakukan adalah mnegndalikan emosi anda sendiri. Dalam rangka menyalurkan
dan mengendalikan kemarahan, maka ada tiga pendekatan yang bisa dipilih:

1. Mengekspresikan Kemarahan secara Asertif 

Mengekspresikan kemarahan anda dengan cara assertif - tidak agresif -
merupakan cara yang paling sehat dalam mengungkapkan kemarahan. Untuk bisa
melakukan hal ini maka anda harus belajar menentukan kebutuhan-kebutuhan
anda dan bagaimana cara mencapainya tanpa harus menyakiti orang lain. Dengan
bertindak asertif berarti anda menghormati diri anda sendiri dan orang lain.
(baca artikel:  <https://dennyhendrata.wordpress.com/DEWASA/assertif.htm>
Asertivitas) 

2. Menahan Amarah dan Mengalihkannya 

Hal ini terjadi ketika anda menahan rasa marah, berhenti memikirkannya dan
mencoba memfokuskan diri pada sesuatu hal yang positif. Tujuannya adalah
agar dapat mengurangi rasa marah yang sedang meluap dan mengubahnya menjadi
tindakan yang konstruktif. Contoh: ketika sedang marah maka anda justru
bekerja lebih lama dan produktif. Sayangnya cara ini bisa merugikan diri
sendiri. Artinya jika kemarahan yang ditekan tersebut sudah sangat banyak
dan tidak pernah dikeluarkan maka dapat mengakibatkan hipertensi, depresi
atau pun tekanan darah tinggi.

3. Menenangkan Diri 

Cara lain yang bisa ditempuh dalam mengendalikan kemarahan adalah dengan
cara menenangkan diri, menarik nafas dalam-dalam dan mencoba meredakan
emosi.. Dalam hal ini ketika amarah datang maka anda segera mengambil jarak
dari sumber penyebab kemarahan dan mencoba untuk mengendalikan emosi yang
sedang bergejolak di dalam diri anda sendiri. Dengan demikian diharapkan
bahwa amarah yang ada di dalam diri anda berangsur-angsur mereda.

Mengendalikan Amarah 

Beberapa hal berikut ini mungkin layak anda pertimbangkan untuk
mengendalikan amarah:

1. Relaksasi

Melakukan relaksasi terbukti dapat membuat seseroang menjadi tenang dalam
menghadapi berbagai situasi yang kurang menyenangkan atau penuh tekanan.
Relaksasi dapat dilakukan dengan berbagai variasi, misalnya menarik nafas
dalam-dalam, melakukan latihan-latihan ringan untuk mengendurkan otot-otot,
atau pun dengan kata-kata: "relaks; tenang aja; take it easy; gak apa-apa
kok".

2. Humor 

Meskipun amarah merupakan suatu hal yang serius tetapi jika anda mau
merenungkan atau mencermatinya secara mendalam maka tidak jarang di dalam
kemarahan seringkali tersimpan hal-hal yang bisa membuat anda tertawa.
Bahkan seringkali anda menemukan bahwa hal-hal yang menjadi penyebab
kemarahan adalah suatu hal yang lucu dan sangat sepele. Namun demikian dalam
penggunaan humor hendaklah perlu diperhatikan 2 hal: 1) jangan menggunakan
humor hanya untuk mentertawakan masalah yang sedang anda hadapi tetapi
gunakan humor sebagai suatu cara yang konstruktif untuk menyelesaikan
masalah; 2) jangan menggunakan humor-humor yang bersifat kasar atau
sarkastik sebab hal itu merupakan bentuk ekspresi kemarahan yang tidak
sehat.

3. Mengubah Cara Pandang 

Individu yang sedang marah cenderung mengumpat, mengutuk, menyumpah dan
mengucapkan berbagai macam kata-kata yang menggambarkan perasaan di dalam
hatinya. Ketika sedang marah maka pikiran anda dan tindakan bisa menjadi
berlebih-lebihan dan dramatis. Oleh karena itu cobalah mengubah
pikiran-pikiran yang berlebih-lebihan tersebut dengan suatu yang rasional.
Contoh: daripada anda mengatakan: "ah, ini sangat mengerikan, hancur
semuanya, ini adalah mimpi buruk bagi saya", cobalah mengubahnya dengan :
"ya memang hal ini membuat saya frustrasi, dan saya bisa memahami mengapa
saya menjadi marah, tetapi ini bukanlah akhir dari segala-galanya bagi saya
dan kemarahan tidak akan mengubah apa-apa".

Mengingat bahwa amarah seringkali berubah menjadi irasional maka untuk
mengendalikannya dibutuhkan pemikiran yang logis. Semakin anda bisa berpikir
logis (bisa mempertimbangkan akibatnya dan berpikir jauh ke depan, dsb) maka
akan semakin mudah anda mengendalikan amarah dalam diri. Ingatkan diri anda
bahwa apa yang sedang terjadi pasti tidak hanya dialami oleh anda seorang
diri dan dunia tidak pernah berpaling dari anda. Apa yang sedang terjadi
hanyalah merupakan suatu "tinta merah" dalam kehidupan anda. Ingat-ingat
akan hal ini setiap kali anda merasa marah supaya anda bisa mendapat
pandangan yang lebih seimbang.

4. Selesaikan Masalah secara Tuntas 

Mengingat bahwa kemarahan bisa dipicu oleh hal-hal yang datang dari dalam
diri seperti adanya masalah yang belum terselesaikan, maka akan sangat baik
jika anda menyelesaikan setiap masalah yang muncul sesegara mungkin dan
tuntas. Meskipun dalam hidup mungkin ada masalah yang bisa terselesaikan
tanpa campurtangan anda secara signifikan, namun alangkah baiknya jika anda
membiasakan diri menyelesaikan setiap permasalahan yang berhubungan dengan
diri anda. Dengan berkurangnya beban psikologis dalam diri anda maka
kemungkinan menjadi marahpun akan berkurang.

5. Melatih cara Berkomunikasi 

Dalam banyak kasus orang menjadi marah karena kegagalan dalam berkomunikasi.
Contoh: ketidaksiapan dalam menghadapi perbedaan pendapat, tidak bersedia
menjadi pendengar atau pun selalu berusaha memaksakan kehendak pada orang
lain. Hal-hal seperti inilah yang biasanya membuat orang yang marah
cenderung mengambil kesimpulan secara cepat dan kesimpulan tersebut
seringkali aneh dan tak terduga.

Meskipun setiap individu berhak untuk membela diri ketika dikritik atau
diajak adu argumentasi, namun untuk itu diperlukan ketenangan dan sikap
untuk tidak merespon secara terburu-buru. Ada baiknya anda mendengarkan
secara cermat apa yang ingin disampaikan oleh orang lain, bahkan ketika
orang tersebut mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan anda. Hal ini
memang memerlukan kesabaran dan sikap rendah hati dari anda, tetapi
dampaknya akan sangat bermanfaat sebab ketika tidak timbul amarah dalam diri
anda maka situasi yang ada pasti dapat dikendalikan. Hasil positifnya anda
menjadi lebih matang dalam berkomunikasi.

6. Mengubah Lingkungan 

Apa yang dimaksudkan dengan mengubah lingkungan dapat berupa penataan
kembali tempat tinggal ataupun tempat kerja anda. Mengubah lingkungan dapat
juga berarti merubah aturan main yang berlaku di lingkungan tersebut dan
juga termasuk mengubah kebiasaan diri anda sendiri untuk menghindari
lingkungan yang tidak menyenangkan atau keluar dari lingkungan tersebut
untuk sementara waktu. Contoh: daripada anda menjadi marah-marah kepada
rekan kerja karena jenuh dengan kondisi kerja yang ada, maka ada baiknya
anda mengambil cuti kerja dan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri.
Dengan cara ini maka pikiran anda akan menjadi fresh kembali dan siap
bekerja tanpa marah-marah.

7. Melakukan Konseling 

Mengingat bahwa setiap individu memiliki sumber daya yang berbeda dalam
menghadapi suatu situasi yang penuh tekanan maka ketika anda merasa bahwa
anda tidak lagi mampu mengendalikan amarah maka ada baiknya jika anda
melakukan konseling dengan psikolog atau para profesional lainnya. Melalui
bantuan para profesional ini anda mungkin akan diberikan bimbingan bagaimana
cara-cara yang tepat dalam mengendalikan amarah agar tidak merusak aspek
kehidupan yang lain. Tentu saja hasilnya tidak akan instant tetapi
setidaknya hal itu akan membantu anda menjadi lebih baik.

Disamping hal-hal yang telah disebutkan diatas, mungkin masih banyak cara
yang dapat dilakukan oleh anda untuk mengendali amarah di dalam diri.
Salahsatu yang patut dicatat adalah dengan semakin mendekatkan diri pada
TUHAN. Dengan kata lain ketika anda berada dalam situasi tidak menyenangkan
dan anda ingat bahwa hal tersebut adalah dari TUHAN maka saya yakin anda
pasti akan berpikir panjang untuk benar-benar menjadi marah. Akhir kata:
anda tidak akan pernah bisa menghilangkan amarah tetapi anda bisa
mengendalikannya. Hidup pasti akan selalu diwarnai oleh suka dan duka,
frustrasi, kepahitan dan kehilangan, serta tindakan yang tak terduga dari
orang lain atau lingkungan. Anda tidak bisa menghindari hal tersebut tetapi
anda bisa mengubah cara bagaimana hal itu bisa mempengaruhi diri anda.
Mengendalikan amarah akan membuat anda menjadi lebih tenang dan mampu
menikmati hidup selamanya. Semoga berguna...(jp) 

 

Brgds,

 

Hasan

 

 

 

 



::BCA::

Kirim email ke