hi .. saya juga kepikiran begitu dari beberapa lama. tetapi sama juga. belum keluar ide yang tokcer dan mudah diterapkan untuk bisnis. kemudian beberapa waktu yang lalu saya maen ke sahabat saya jaman sma dulu. di cikarang juga. waktu saya kesana, dia sedang memperbaiki rumah disebelahnya. katanya mau bikin warung nasi. biasa saja. level tukang becak, sopir angkot, dan sebagainya. rumah dia sendiri hanya 60m2. tak ada halaman sama sekali. sebagian rumahnya dijadiin toko kecil. jualan beras, gula, teh, dan keperluan sehari-hari. cuma 3X4 meter saja. tapi katanya, omzetnya sehari bisa 500 ribu rupiah lho. saya sendiri mengamati tokonya hanya biasa. diatur-atur sendiri. tidak dikasih nama. polos saja. sangat sederhana. kemudian saya mampir ke rumah sahabat saya yang lain di bekasi timur. tantenya, sang pemilik rumah, usahanya menjahit sprei dan perlengkapannya. alkisah, jaman masih kuat dulu membuat segala rupa yang bisa dijahit. sprei, sarung bantal, bedcover, tirai dan sebagainya. sekarang karena sudah umur, dan dia menjahit sendiri tidak ada karyawan, hanya menjahit yang ringan saja. semua yang ada dirumahnya - setumpuk kain sprei- ternyata sudah dipesan. awalnya suka menjahit sprei. terus ditawarkan ke tetangga dan teman kerja. makin lama makin banyak. saat krisis moneter, tantenya ini ikut kena gelombang PHK. akhirnya menjahit sprei yang semula hobi dan sampingan menjadi nafkah utama sampai sekarang. satu lagi tante saya di yogya bikin bakpia. yogya sudah terkenal dengan bakpia. tante saya memberi sentuhan yang berbeda pada kulit bakpia yang mirip croissant dan isinya selain kacang hijau kupas ditambah dengan irisan keju. kalau sedang musim durian, ada yang spesial dikasih rasa durian. rupanya pembedaan ini manjur. bakpia keju tante makin dikenal dan dicintai sebab berbeda. dari segi kemasan sangat sederhana. tanpa nama dan tidak ada sentuhan artistik.hanya kotak karton biasa. untuk membuat bakpia keju ini tante dibantu 2 orang karyawan. mereka bekerja mulai jam 9 pagi - 4 sore. untuk usaha baru ini, tampilan rumah dan dapur tante saya sama sekali tidak berubah. tidak ada penambahan barang dapur yang luar biasa. tante memakai oven rumahan yang besarnya kalau tidak salah 40X40X40 cm. loyang kecil-kecil. pakai kompor biasa 2 mata. tidak ada yang istimewa sama sekali. seperti membuat kue untuk keluarga saja. hanya dipojok dapur ada rak berisi bahan pembuat kue. itu saja. setiap harinya tante saya membuat bakpia yang sudah dipesan orang. kalau tiba-tiba datang kesana dan ingin membeli dalam jumlah besar - 4 kotak misalnya. tante saya pasti berpikir dulu. jadi kalau pengen bakpia tante, saya menelpon sebelum berangkat ke yogya. belajar dari mereka, saya jadi terbuka mata dan pikiran. ternyata untuk membuka usaha dari awal tidak perlu bermodal besar. kemudian tidak memakai ilmu yang rumit-rumit. seiring berjalannya waktu, teman saya pemilik toko kelontong jadi tahu mana tempat kulakan yang harganya bersaing. dan tempat kulakan juga menandai mana pelanggannya yang makin banyak pembeliannya. jadi lama-lama mereka bisa ditelpon dan mengirimkan barang isi toko. tante saya juga begitu. awalnya beli di toko bahan roti biasa. kemudian lama-lama tahu mana yang lebih murah dengan kualitas yang baik. tante teman saya dulu juga keliling tanah abang mencari bahan sprei yang murah dan bagus. sekarang sudah punya langganan. jadi kalau ada motif atau model baru, tokonya menelpon memberitahu. tante teman saya bisa memesan berapa meter dan mengambilnya kemudian. hanya saja semua perlu waktu dan kesabaran. semoga cerita saya bisa memberi ide. saya sendiri sedang mencari ide untuk membuka usaha yang paling sederhana yang bisa dilakukan dirumah. saya pengen bikin kue yang mudah dan disukai banyak orang. mudah dibuat dan mudah mencari bahannya. mudah dikemas juga. he he he .. salam usaha mandiri,
