--- Begin Message ---
benar-benar malu saya setelah membaca e-mail ini....
terima kasih karena telah mengingatkan...
----- Original Message ----
From: Shinta Sari Dewi Wilaar <[EMAIL PROTECTED]>
To: RDI Groups <[EMAIL PROTECTED]>; Cita Cinta Groups <[EMAIL PROTECTED]>; Reny
Agnatje Pijoh <[EMAIL PROTECTED]>; alienda <[EMAIL PROTECTED]>; ari wibawa
<[EMAIL PROTECTED]>; arline lukito <[EMAIL PROTECTED]>; awi sularto <[EMAIL
PROTECTED]>; B. Suharkat <[EMAIL PROTECTED]>; bismo wibisarto <[EMAIL
PROTECTED]>; boyke d sutarman <[EMAIL PROTECTED]>; budyanto <[EMAIL
PROTECTED]>; Charisma_Mandom <[EMAIL PROTECTED]>; dado <[EMAIL PROTECTED]>;
daery <[EMAIL PROTECTED]>; david <[EMAIL PROTECTED]>; dessy palandi <[EMAIL
PROTECTED]>; dewi <[EMAIL PROTECTED]>; Dian Sihombing <[EMAIL PROTECTED]>;
Djoko Sriharto_Chandra Asri <[EMAIL PROTECTED]>; donny tahapary <[EMAIL
PROTECTED]>; erna rostiana <[EMAIL PROTECTED]>; Erwin <[EMAIL PROTECTED]>;
farah <[EMAIL PROTECTED]>; harley
<[EMAIL PROTECTED]>; Herawati <[EMAIL PROTECTED]>; heriadi sugito <[EMAIL
PROTECTED]>; Herry Andi_SMI <[EMAIL PROTECTED]>; hery_akpi <[EMAIL PROTECTED]>;
inne haryati <[EMAIL PROTECTED]>; Iqbal <[EMAIL PROTECTED]>; Iwa_Cikarang
Listrindo <[EMAIL PROTECTED]>; jestro <[EMAIL PROTECTED]>; jimmy <[EMAIL
PROTECTED]>; jonn aldi <[EMAIL PROTECTED]>; lulu <[EMAIL PROTECTED]>; meylani
suhandini <[EMAIL PROTECTED]>; naeny <[EMAIL PROTECTED]>; Nelvi Mauna <[EMAIL
PROTECTED]>; paul matondang <[EMAIL PROTECTED]>; Randi <[EMAIL PROTECTED]>;
retno sujono <[EMAIL PROTECTED]>; rini <[EMAIL PROTECTED]>; rismaUSembassy
Fadersair <[EMAIL PROTECTED]>; Rita_Asia Energy <[EMAIL PROTECTED]>; sita
dewanti <[EMAIL PROTECTED]>; sudrajat sagita <[EMAIL PROTECTED]>; tedy
herlambang <[EMAIL PROTECTED]>; uya <[EMAIL PROTECTED]>; wina
<[EMAIL PROTECTED]>; Wisularto <[EMAIL PROTECTED]>; yuke jelita <[EMAIL
PROTECTED]>
Sent: Friday, July 11, 2008 10:21:36 AM
Subject: [readersdigest_indonesia] Makan Siang of The Day
MAKAN SIANG OF THE DAY
Siang itu, setelah menghabiskan waktu berjam-jam di warnet terdekat dari tempat
kos, saya berjalan pulang menyusuri emperan ruko-ruko yang kelihatannya tak
berujung. Di salah satu sela ruko ada sebuah gang kecil, dan di gang tersebut
ada sebuah warung nasi.
Sebenarnya warung nasi itu bukan warung favorit orang-orang yang ngekos di
dekat-dekat sini. Yang jadi pelanggan warung itu pun kebanyakan para tukang
ojek, supir-supir yang numpang minum kopi sejenak, bahkan tidak sedikit juga
para peminta-minta yang beroperasi di sekitar sini membeli makanan di warung
tersebut. Kalau bukan karena uang di saku sudah menipis karena keenakan di
warnet, ditambah rasa perih di perut yang sudah mulai menyengat, ditambah lagi
rasa malas bolak-balik untuk mengambil uang di tempat kos kemudian pergi ke
rumah makan padang langgananku, saya mungkin ogah mampir di warung nasi kecil
ini.
"Yaah... yang makan di sini juga kan manusia semua.. ", pikirku.
Saya pun masuk ke warung yang atapnya kelihatannya agak rendah. Palang pintunya
sebenarnya cukup tinggi, tapi ada entah itu sugesti atau gerak reflek yang
menyuruhku membungkukkan badan ketika masuk ke sana. Walaupun setelah saya
perhatikan dari dalam, tanpa membungkuk pun kepala ku tidak akan terantuk di
atas sana.
Warung itu agak sepi. Wajar saja, soalnya ini hari Minggu. Walopun demikian,
saya terpaksa ngantri karena di depan saya ada seorang lelaki tua yang juga
sedang memesan makanan. Daripada lama berdiri, saya tarik sebuah kursi makan
yang terdekat, kemudian mulai melirik ke susunan lauk yang tertata rapi di
depan, sambil menyusun rencana "formasi" makan siang yang tepat untuk kondisi
saat ini, murah.
Ketika menyisir bagian tepi barisan lauk tersebut, pandanganku terhalangi oleh
tubuh si pak tua yang juga sedang sepertinya melakukan hal yang sama denganku.
"Nasinya satu ato stengah, pak?", suara si mbak pelayan bergema dengan mantap.
"Setengah aja, mbak.. tapi dua bungkus", jawab pak tua itu.
Usianya sekitar 50an, tapi bisa jadi dia lebih tua dari itu, atau bisa juga
lebih muda. Ah,.. saya memang nggak terlalu hebat dalam menebak usia orang.
Engineer yang baru bergabung masuk minggu lalu di tempat saya kerja aja saya
pikir lebih tua 5 tahun dari saya dan sudah berkeluarga, eh ternyata 2 tahun
lebih muda, padahal nggak ada yang salah dengan tampangnya. Kembali ke
warung..., pak tua itu memeluk sebuah topi lusuh di tangan kirinya, sementara
tangan kanannya menggenggam erat lembaran uang 5000-an. Kemeja yang dipakainya
sangat familiar, batik biru lusuh dengan logo dan tulisan "KORPRI". Ah.. hari
gini? Saya terakhir melihat orang tua saya memakai seragam Korpri sewaktu saya
masih SD.. :) Entah bapak tua ini memang pegawai negeri, atau pensiunan, atau
ada sodaranya yang pegawai negeri, atau mungkin kemeja ini dia peroleh dari
kardus sumbangan pakaian bekas..? Ah.. ada-ada saja pikiran saya.
"Pakai sayur yang itu... telur dadar, sama tempe..", kata si bapak sambil
menunjuk makanan pilihannya satu per satu.
Dengan cekatan si mbak pelayan mengambil sayur dan lauk dan membungkusnya
dengan profesional. Iya.. profesional. . coz saya yakin tidak semua orang bisa
membungkus dengan rapi dan cekatan seperti itu. :)
"Yang satu juga sama ya, mbak..", request si bapak itu kemudian.
Sementara si mbak pelayan menyiapkan nasi bungkusan kedua, pak tua tersebut
menanyakan harganya sambil melihat uang yang ada di genggamannya, "Berapa
smuanya, mbak?"
"satunya tiga rebu, jadinya smua enam rebu pak", jawab si mbak.
Setelah sadar ada ketidakcocokan antara uang yang dibawanya dengan jumlah yang
barusan disebutkan oleh si mbak, wajah si pak tua sedikit berubah. "Nggak lima
ribu aja, mbak?", tawar si pak tua.
"Harga telurnya naik, pak. Jadi seribu sekarang..", jawab si mbak.
"Kalo gitu yang satu nda usah pake telur, mbak", kata si bapak. Dia tidak
terlihat kecewa sama sekali. Entah kenapa. Padahal kalau saya membeli barang
yang saya tau harganya naik, reaksi pertama pasti ngomel atau menggerutu.
Setelah membungkus, si mbak menuangkan air putih ke dua buah plastik pembungkus
gula sesuai permintaan si bapak, kemudian mengikatnya dengan karet gelang, dan
menggabungkannya dengan dua bungkus nasi yang sudah siap nongkrong di sebuah
kantong plastik hitam. Air putih gratis ternyata. Ya iyalah...
Kantong plastik berisi nasi bungkus + air minum dan selembar uang lima ribuan
akhirnya berpindah tangan. Ucapan "terima kasih" yang tulus juga mengalir
dengan spontan dari mulut si bapak tua tersebut.
"Hmmm.. lumayan murah nih..", pikirku.
Tibalah giliranku. Agak lama juga.. soalnya rencana menu pilihanku awalnya agak
mirip dengan pilihan si bapak tadi, tapi karena budget sisa warnet yang
tersedia di saku masih cukup, saya pun akhirnya mulai memilih-milih lagi jenis
lauk yang "kelas"nya agak-agak di atas.
Daging empal... perkedel... capcay... tempe. Dikombinasikan dengan kerupuk, dan
es jeruk yang dikemas di plastik pembungkus gula yang sama dengan air putih
yang dipesan si bapak tadi.
Uang yang saya sodorkan pun ternyata masih berlebih 500 rupiah.
"Ambil pisang aja ya, mas?", si mbak menawarkan.
Ya udah... nggak rugi ini kok. Wuih.. makan siang yang sempurna..!
Saya pun keluar dan kembali menyusuri emperan ruko yang sebagian besar tertutup
rapat. Sempat heran juga.. justru hari Minggu kan orang-orang kantor pada libur
sehingga mereka punya waktu untuk "berkunjung" ke kawasan pertokoan ini, tapi
kenapa ruko-ruko ini malah tutup ya?.. Ah.. itu urusan mereka.. mungkin mereka
juga butuh libur kali ya?..
Asyik-asyiknya memikirkan tentang ruko-ruko yang pada tutup, hampir saja saya
menendang sebuah tongkat yang membujur di emperan tersebut. Ternyata tongkat
itu milik peminta-minta yang cacat dan sedang duduk di situ.
"Oh.. maaf pak.. maaf..", katanya sambil membungkuk dan segera menarik
tongkatnya dan memindahkan ke tempat yang lebih aman.
Setelah saya perhatikan, pengemis itu sedang makan rupanya. Perhatianku
teralihkan kepada makanannya. Nasi putih setengah porsi, tempe goreng, sayur,
dan telur dadar. Sementara di lantai tergeletak air putih di dalam kemasan
plastik gula. Persis sama dengan pesanan bapak tua di warung tadi!
Masih keheranan, saya melanjutkan perjalanan dengan langkah yang diperlambat,
sambil menoleh ke sepanjang jalan, ke depan, ke belakang, ke seberang jalan,
mencari sosok tua berseragam Korpri. Namun.. nihil..
10 meter... 20 meter... yang dicari-cari tidak juga ketemu. Pikiranku masih
menebak-nebak. . si bapak itu mungkin kerabat si pengemis.. orang tuanya
mungkin.. atau sodaranya?.. Ah, ngapain dipikirin. Paling juga kerabatnya atau
yaaa setidaknya orang dekatnya lah. Tapi pertanyaan nggak penting lainnya masih
terus hinggap di kepalaku,.. "kalo emang kerabatnya, kenapa si bapak tidak
kelihatan di situ ya?.. harusnya kan mereka makan sama-sama.." . Berkali-kali
saya berusaha mengacuhkan pertanyaan "aneh" tersebut.
Ketika berbelok ke jalan menujur tempat kos, jalanan mulai agak teduh sebab di
sana banyak pohon-pohon yang rindang di tepi jalan. Tiba-tiba rasa penasaranku
terjawab. Di seberang jalan, bapak tua berseragam korpri itu baru saja
menyelesaikan acara makan siangnya. Dia kemasi bungkusan nasinya, meletakkannya
di kantung plastik hitam, dikepal-kepal kemudian dimasukkannya ke gerobak di
dekatnya. Dia pun bergegas menyiapkan gerobaknya yang sepertinya dipenuhi
barang rongsokan, dan mulai mengayunkan langkahnya mendahuluiku memasuki area
perumahan di mana tempat kos ku berada.
Glek... otakku mulai berputar. Mencoba menganalisis apa sebenarnya yang
terjadi. Bapak tua itu adalah pemulung barang rongsokan... trus, pengemis
tadi?.. Sepertinya tidak ada hubungannya dengan bapak pemulung. Jadi..? Makanan
si pengemis tadi?.. Apa si bapak pemulung sengaja membeli 2 bungkus nasi untuk
dirinya dan untuk pengemis itu? Mungkin si bapak pemulung sengaja "memarkir"
gerobaknya di sini karena lebih sejuk, kemudian berjalan ke warung nasi dan
melihat pengemis tersebut.
Setengah tidak percaya, pikiran bawah sadarku membawaku lebih jauh ke detail
kejadian di warung tadi. Si bapak pemulung membeli 2 nasi bungkus, yang satu
pake telur dadar, yang satu terpaksa tidak pake telur karena uangnya tidak
cukup. Yang pake telur dadar diberikannya ke pengemis.. artinya dia makan yang
tanpa telur dadar?.. Deg.. jantungku mulai berdegup. Dia rela memberikan yang
lebih baik buat orang lain?
Belum lagi sikapnya selama di warung,.. tidak ada keluhan sewaktu mendengar
harga makanan naik... ucapan terima kasih yang begitu "nyaman" terdengar.
Padahal di kantor, ucapan terima kasih yang sering saya dengar sangat
berbeda,.. pelan, cenderung berbisik, agak berat, kelihatannya dipaksakan, dan
kadang dalam bahasa keren.. "thanks" atau "trims". Ungkapan "terima kasih" yang
kayaknya mulai naik juga harganya, ternyata diobral habis-habisan oleh si bapak
pemulung tadi.
Duh... langkahku semakin lambat. saya menunduk, melihat kantong bawaanku yang
penuh dengan "makan siang of the day"... Rasa laparku hilang. Makan siang ini
terlalu berat buatku.. Saya pikir menghabiskan belasan ribu di warnet ditambah
makanan murah dan banyak sudah bisa memberikan kepuasan dan kesenangan buat
saya. Ternyata, si bapak pemulung hanya dengan lima ribu rupiah dia bisa
bersemangat kembali, sekaligus berbagi dengan orang lain, padahal lima ribu itu
pasti susah dapatnya.
"Bang udin kayaknya masih mangkal di pos sana deh.. Yaa.. mudah-mudahan aja dia
belum makan siang", pikirku kemudian.
"Hari ini 'puasa' ajalah.. Makasih ya Allah.. seandainya saya nggak ke warnet,
mungkin saya nggak dapat pelajaran seperti ini. Ternyata bapak itu lebih kaya
daripada saya.. nasinya aja dibagi-bagikan. .. Malu rasanya.."
Kagum.. sedih.. kecewa.. semangat untuk berubah.. menemaniku menyelesaikan sisa
perjalanan yang singkat itu namun penuh makna.
Allah memang Maha Pemberi Petunjuk... kalo Dia mau memberi rejeki, Dia akan
memberi lewat jalan yang tak terduga. Kalo Dia mau memberi hikmah dan
pelajaran, Dia juga akan memberi lewat jalan yang tak terduga.
..
Tuhan Maha Besar
--- End Message ---