***********************
Your mail has been scanned by InterScan.
PT. AJ Central Asia Raya
08/01/08 08:33:03
***********-***********
> Mahalnya sebuah karir untuk wanita 
> 
> Sundari_Nurhidajant i
> 
> 
> Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur
> sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk
> orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir
> namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya
> akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang
> dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.
> 
> Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang
> berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis
> narkotika. Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya,
> suaminya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena
> terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan
> musibah ini. Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami
> depresi berat dan Sekarang masih dalam perawatan intensif
> sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul
> dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya
> harapkan.
> 
> Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan
> kepergian Bik Inah pembantu kami. Hingga dia terjerumus
> dalam pemakaian Narkoba. Mungkin terdengar aneh kepergian
> seorang pembantu bisa membawa dampak Begitu hebat pada
> putri kami. Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti
> keluarga bagi kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20
> tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun. Bahkan
> bagi Maya dan Doni , bik Inah sudah seperti ibu kandungnya
> sendiri.
> 
> Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca
> setelah dia meninggal. Maya begitu cemas dengan sakitnya bik
> Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini. Dan
> ketika saya sakit saya pernah sakit karena kelelahan dan
> diopname di rumah sakit selama 3 minggu ) Maya hanya
> menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari
> ini Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja.
> 
> Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya
> akui ini semua karena kesalahan saya. Begitu sedikitnya
> waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya. Waktu saya
> habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang
> keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka. Berangkat jam
> 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian bahkan mungkin
> lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai
> untuk memikirkan urusan mereka. Memang setiap hari libur
> kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu
> hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba
> saya dan suami sudah seperti "robot" yang
> terprogram untuk urusan kantor.
> 
> Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya
> untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu
> saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya.
> . Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih
> membesarkan kami 6 orang anaknya. Padahal sebagai seorang
> sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik.
> Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja 
> 
> dari segi karir dan penghasilan.
> 
> Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti
> bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja
> perasaan bagaimana kebutuhan hidup 
> 
> bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya
> saya sekolah tinggi-tinggi ?. Meski sebenarnya suami saya
> juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan
> penghasilan. Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya
> menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak
> lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan
> kantor dan karir fokus saya.
> 
> Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu
> untuk mereka, toh 
> 
> teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan
> "kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari
> kuantitas " selalu menjadi patokan saya. Sampai
> akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan
> begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.
> 
> Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai
> Narkoba. Dan saya tidak mengetahuinya! !! Sebuah sindiran
> dan protes Maya saat ini selalu terngiang di telinga. Waktu
> itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan
> memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera
> satu-satunya, setelah dia ditinggal mati suaminya . Namun
> karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami putuskan
> agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.
> 
> Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan
> Maya. Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan.
> Akhirnya semua terjadi setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang
> lebih dua minggu, bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit.
> Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah
> pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit. Memang Doni
> pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke
> Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan
> bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya. Dan usul
> Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari
> sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka,
> sudah seperti ibu kandungnya! menggantikan tempat saya yang
> seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia.
> Tragis !
> 
> Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya
> sering saya amati Kalau lagi kangen dengannya. Beberapa
> bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah. Atas
> desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan
> Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai
> kuliah dan belajar di pesantren. Dan Doni pun begitu
> bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling
> susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau
> ayahnya. Dan difoto "keluarga" itu tampak bik
> Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama. Tak pernah
> kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat
> saya itulah foto terakhirnya.
> 
> Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan
> shock, kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog
> ternama di Jakarta. Namun sebatas itu yang kami lakukan
> setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor. Dan
> di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata
> tercurah.
> 
> Maya menulis :
> 
> "Ya Allah kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus
> siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya,
> siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, Siapa yang
> ngingetin Maya buat sholat, siapa yang Maya cerita kalau
> lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak
> bisa tidur....... ...Ya Allah, Maya kangen banget sama bik
> Inah "
> 
> Astagfirullah bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai
> ibunya, bukan bik Inah ? Sungguh hancur hati saya membaca
> itu semua,namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa
> kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela
> berkorban apa saja untuk itu. Kadang saya merenung
> sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV da n saya
> pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan
> kenyataan yang terjadi.
> 
> Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui
> siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang
> bisa mengambil pelajaran darinya. Biarkan 
> 
> saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada
> terbayang beratnya.Semoga siapapun yang membaca tulisan ini
> bisa menentukan "prioritas hidup dan tidak salah dalam
> memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya.
> 
> Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy
> dan mencoba aktif ikut dipengajian- pengajian untuk
> menentramkan hati saya. Berkat dorongan seorang teman saya
> beranikan tulis ini semua. Saya tidak ingin tulisan ini
> sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak
> mungkin!. Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya,
> tapi inilah faktanya. Hanya semoga ada yang memetik
> manfaatnya.
> 
> Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk
> suami dan Doni.
> 
> Dan semoga Allah mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan
> amanahNya pada saya. Dan disetiap berdoa saya selalu
> memohon "YA Allah seandainya Engkau akan 
> 
> menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah
> Ya Allah, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak,
> biarkan buah hatiku tentram disisiMu". Semoga Allah
> mengabulkan doa saya...
> 
> 
> 
> 
> Wallahualam bishshowab....

Kirim email ke